Jingga di Ujung Senja

Jingga di Ujung Senja
PINGSAN


__ADS_3

Pagiku cerahku, Matahari bersinar


Kugendong tas merahku di pundak


Kayak lagu anak anak ini. Langkahku terasa lebih ringan pagi ini, tanggal 1 waktunya terima gaji 😀


Bisa dipastikan nanti sore ATM ATM sebuah bank pemerintah dekat kantor akan ada antrian. Terkadang ada rasa bangga menjadi bagian dari perusahaan ini, terkadang ada rasa malu saat mengantri di ATM.


Bangga karena perusahaan tempat Kami bekerja terkenal sangat memperhatikan kesejahteraan karyawannya, malu karena ngètok ngètoki kalau lagi gajian sampe ngantri ngantri.


Di saku sudah tersimpan kertas berisi deretan nomer rekening nomer rekening yang harus Aku kasih transferan 😇


Rekening Ibu, meskipun beliau tidak pernah meminta dan sering mengingatkan Aku supaya tidak usah dipikirkan karena masih ada Bapak yang memiliki penghasilan. Transferanku sekedarnya saja hanya untuk menunjukkan baktiku sebagai anak.


Rekening Ibu Kos, wajib pol kalau ini. Kalau nggak bisa bisa tidur di emperan.


Rekening sedekah, rekening masa depan, dan sisanya buat hidup sehari hari.


Harapan akan terima gaji membuat semangat kerjaku meluap luap.


"Bim, ngko ke ATM e bareng yak" ajak Pak Tikno yang kelihatannya menyempatkan diri menyambangi.


"Kadingaren Pak, meh utang po?" ejekku


"Ngece! ki lho sibune akon mbayar internet umah. Aku ra mudheng. Ajari po o" jawab Pak Tikno.


"Yooohh beres! asal ono upah e we oke oke wae" jawabku slengean.


"Komersil!" bibir mencibir Pak Tikno yang mbikin jijik.


Sorenya sepulang kerja ATM terlihat ramai. Aku dan Pak Tikno ikut mengantri.


"Bim, iku kan bocah wedok sing oyak oyak awakmu to?" tunjuk Pak Tikno pada seseorang di barisan depan.

__ADS_1


"Wes jar no ae Pak, ngko marai ribet" jawabku. Tapi harapanku supaya Gina tidak melihatku tidak terkabul.


"Bim!" Gina berteriak sambil dadah dadah.


Aku cuma mengangkat tanganku membalas lambaiannya.


Tak berapa lama ...


"Bim!" seseorang menyapa sambil menarik narik bajuku dan Aku tahu kalau pelakunya si Gina.


"Eh, piye Gin?" responku malas


"Habis ambil gaji anterin Aku pulang ya Bim" lhaaa ini sing mbikin Aku males tu ya yang kayak gini ini.


"Biasane yo pulang sendiri, napa to?"


"Lagi meriang Bim, lemes" wajah memelas terpampang di depanku.


"Pake ojol aja to, tak panggilke!" inisiatifku


"Lhaaa gene!" gerutuku.


Gina lebih dulu masuk ATM, dia datang lebih dulu daripada Aku.


Setelah urusannya selesai Gina berpamitan padaku.


"Bim, duluan ya" tangannya melambai.


"Yo" sahutku


Baru saja Aku menengok mau menghitung kurang berapa orang sampai giliranku, ada yang berteriak.


"Eeehhh Mbak! mbak! toloong!"

__ADS_1


Ternyata ada yang pingsan.


"Bim, kesayanganmu semaput!" lapor Pak Tikno.


"Kono ditulungi" lanjutnya.


"Bim! cewek Lo tuh pingsan! gimana sih!" seseorang meneriaki Aku.


Enak aja cewekku, ogah bangged! bathinku.


"Terke bali ge, sak no" Pak Tikno membujukku. Aku lihat semua mata memandangku. Adaaa aja!


Terpaksa Aku menghampiri Gina yang sudah ditidurkan di pos satpam dekat ATM. Dia sudah mulai siuman.


"Bim antar pulang pakai taxi aja gih, kasihan" Mbak Astari yang menolong Gina, bagian Front office. Aku mengangguk.


Sampai rumah Gina yang menyambut Papa nya


"Gina kenapa kok sampai pingsan?" tanyanya. Whahduh meneketehe! kok tanya Saya ( bathinku 😊 )


"Nggak tahu Om, tahu tahu pingsan terus Saya yang disuruh nganter pulang" jawabku. Si Om manggut manggut.


"Tapi dia sudah transfer kan?" pertanyaan berikutnya dari si Om.


"Waahhh maaf Om nggak tahu Saya, tapi tadi dia sudah masuk ATM"


"O, sudah berarti" simpil si Om


"Tas e Gina mana? kok nggak ada?" tanyanya lagi.


"Itu Om, di atas meja" tunjukku


"Oh, ya sudah. Kalau Kamu mau pulang silahkan lho!" ujar si Om.

__ADS_1


Asem! ngono thok! sugatan minum aja nggak! malah nombok uang taxi, gerutuku tapi dalam hati.


__ADS_2