
"Bim, bisa nggak kalau besok temenin Aku kondangan?" pagi pagi Gina sudah nyamperin ke meja ku saat belum ada lima menit ini bokong mendarat.
"Lah, males Aku Gin kalo kondangan kondangan" entah kenapa Aku paling males kalau ke kondangan.
"Sebentar aja Bim, cuma setor muka doang terus pulang" bujuknya.
"Aku nggak punya baju buat kondangan" alasanku lagi.
"Ntar pulang kerja kita beli dulu, aku yang traktir" duh segitunya kalau punya mau.
"Aku nggak punya sepatu kondangan"
"Kalau celana kondangan sama tas kondangan punya kaaannn?" selorohnya gemas.
"Lebay" sungutnya lagi. Aku masih diam.
"Ayolah Bim, sebentaaaarrrr aja. Dateng, salaman terus pulang. Ya ya? plisss..." mukanya memelas sambil ngatupin tangan.
"Sama Junjun aja ya, eh Jun Lu mau diajak kondangan si Gina bisa nggak?" Ku tepuk lengan Junjun yang lagi lewat samping mejaku.
"Eh, nggak nggak Jun. Sori Bima lagi kesambet!. Nggak Jun sori" spontan Gina, tangannya sambil dadah dadah tersenyum kikuk.
"Hah ya ... ya nggak pa pa Gin, santai aja" jawab Junjun ngelihatin Aku kasih kode kode naikin alis. Aku cuma angkat bahu.
"Ish Kamu tuh malah ngempanin Junjun" dipukulnya lenganku seiring berlalunya Junjun.
"Lha po karo Pak Tikno?" tanyaku lagi waktu Pak Tikno melintas yang langsung menoleh.
__ADS_1
"Emoh Aku emoh!" Pak Tikno langsung ngacir meskipun belum tau masalahnya.
"Heh ngawur!" sungutnya. Sejenak Dia diam melihat Aku yang masih mengerjakan tugasku.
"Ya wes lah kalau Kamu nggak mau" lesu Gina beranjak pergi dari depan mejaku.
"Gin, tak anter aja ya? Aku nggak ikut masuk" akhirnya Aku nggak tega.
"Sipp trims Bim" Gina langsung berbalik tersenyum sumringah mengacungkan jempolnya.
Besok sorenya Kami pergi ke kondangan teman si Gina. Aku jemput Dia di rumahnya.
"Assalamualaikum, Om Tante. Gina nya ada?" Aku salami kedua orangtua Gina.
"Ada" pendek sahutan Papanya sambil memindai Aku dari atas ke bawah kaya nge cek uang palsu aja 🥺.
"Siapa namamu? pernah kesini kan ya? waktu nganter Gina pulang?" Papa nya masih intimidasi mode on.
"Bima Om" sahutku singkat padat.
Melihat gelagat dari kedua orangtua Gina, Aku jadi males meski hanya untuk sekedar berbasa basi.
Untung nggak berapa lama Gina keluar kemudian menyalami orangtuanya untuk berpamitan.
"Pah, Mah, Gina berangkat dulu" pamit Gina
"Ya" Mama Gina yang menjawab, Papa nya hanya mengangguk saja.
__ADS_1
"Naik apa Kalian?" tanya Mama Gina sesaat setelah Kami membalikkan badan.
Aku berhenti dan menoleh ke Mama Gina.
"Lhoh! pake motor?" lanjut Mama Gina sebelum Aku sempat menjawab.
"Ya Tante" jawabku
Raut wajah terkesan menghina ( menurut perasaanku ) tergambar di wajah Mamanya Gina saat melihat motorku yang terparkir di halaman.
Emang kenapa sama motorku, perasaan Aku beli cash nggak ngredit dan selalu kinclong 😊 hartaku satu satunya soale 😀. Rasanya gemes, panas hati lihat wajah Mamanya Gina.
Tapi ya sudahlah Aku harus menghormati yang lebih tua meskipun ndongkol sebesar kelapa.
"Yuh cepet Gin, keburu kebelet Aku!" ajakku.
"Kebelet apa?" tanya Gina.
"Nampol Mama Mu" cuma dalam hati Aku jawabnya 😛🙏
Aku berjalan cepat dan buru buru nangkring di motor menghindari omongan sengak selanjutnya yang mungkin dilontarkan Mama Gina.
Motor Aku nyalakan karena kesal Aku blayer sedikit sebagai penyaluran emosi.
Gina yang tahu Aku lagi menahan emosi, menepuk tanganku pelan.
"Maaf"
__ADS_1
Aku hanya meliriknya sebentar dan melajukan motor.