
Agus, sebutlah Dia sebagai mantan terindahku. Aku sempat hendak bunuh diri saat diputuskan secara sepihak olehnya. Tanpa alasan tanpa basa basi tiba tiba dia memberiku surat putus hubungan.
Beruntung saat itu ada Bima yang menolongku.
Flash back on
Duluuu Aku dan Agus sempat berpacaran selama hampir 3 tahun. Dari kuliah semester akhir sampai Kami bekerja di perusahaan yang sama di kantor pusat Jakarta. Memang hubungan Kami belum mendapat restu dari orang tua Agus. Alasannya Agus nantinya akan jadi tulang punggung di keluargaku, menanggung kehidupan biaya orang tua dan ketiga adikku. Karena Papa hanya seorang pensiunan pegawai rendahan yang penghasilannya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluargaku.
Awalnya Aku dan Agus sepakat untuk berjuang bersama mempertahankan hubungan ini. Tapi ternyata Agus menyerah.
Sore itu Aku ke mess karyawan laki laki, karyawan dari luar kota diberikan fasilitas mess untuk tempat tinggal Kami. Aku di mess perempuan dan Agus di mess laki laki. Aku datang ingin minta penjelasan soal surat yang disampaikan OB kantor yang ternyata adalah surat putus dari Agus.
"Sore Pak, Agus nya ada?" tanyaku ke Pak Abu satpam mess.
"Ada Mbak, silakan masuk saja" kuberikan senyum sebagai balasannya.
Aku langkahkan kaki ke gedung mess yang mirip rumah susun ini. Agus ada di lantai 3.
Tok ... tok ... tok
Sejurus kemudian pintu terbuka, sesosok kepala cantik menyembul dari balik pintu.
__ADS_1
"Ya? cari siapa ya?" sapanya.
Aku masih bengong karena terkejut. Tidak biasanya Agus menerima tamu perempuan dengan pintu tertutup.
"Mbak!" sapanya lagi dengan menggerak gerakkan tangan di depan muka ku.
"Oh, A-Agusnya ada?"
"Mas Agus lagi mandi tuh, mau ditunggu?" aku dengar gemericik suara air di kamar mandi dan suara perempuan itu yang berubah jadi manja dan sedikit genit.
"Mmm, Saya tunggu saja"
"Ada tamu Yang?" teriak seseorang dari dalam kamar mandi.
Dengan lenggak lenggok entah memang itu gaya jalannya atau sengaja dibuat buat perempuan itu menghampiri kamar mandi.
"Dicari cewek Mas" gestur yang manja perempuan itu sambil memilin dan mempermainkan rambutnya.
"Siapa?" Agus melongok dari pintu dengan handuk di kepalanya. Habis keramas kelihatannya.
Ekspresi terkejut aku tangkap dari sikapnya ketika Dia tahu Aku yang bertamu. Segera ditutupinya keterkejutan itu dengan mengalihkan pandangan ke perempuan itu.
__ADS_1
"Air mu sudah siap, gantian gih Kamu mandi"
Deg! apa yang telah mereka lakukan sehingga harus mandi?.
"Hai, sudah terima suratku kan?" sapanya santai kayak di pantai, mendengar sapaannya aku jadi lemas.
"Oh, sudah. Dan tolong jelaskan semuanya" kutegakkan dudukku di kursi.
"Aku nulis surat itu pakai bahasa Indonesia, pakai huruf biasa bukan braille bukan steno. Dan Kamu juga seorang sarjana. Kurang jelas apanya?" senyum sinis mengiringi kata katanya.
"Apa alasanmu?" air mata sudah mulai menggenang di sudut mataku.
"Alasanku? Aku bo-san! paham?" mulutnya mendekat ke telingaku, suara pelan dengan penekanan kata terdengar seperti petir di siang hari.
"Sayang, tolong ambilkan handuk aku lupa bawa tadi" seruan mesra terdengar dari kamar mandi.
Agus beranjak menuju lemari dan mengambil handuk. Aku lihat pintu kamar mandi tidak tertutup rapat. Tanpa memperdulikan aku dia masuk ke kamar mandi. Dan kemudian aku mendengar suara suara desahan saling bersahutan yang sontak membuatku mual.
Terhuyung aku keluar dari petak mess Agus, aku pegangi pagar pembatas lantai tiga ini. Aku menangis tanpa suara, luruh ke lantai depan kamar mess nya.
Pelan kuhapus air mata kakiku melangkah mendekati tong sampah di pojok lorong ini. Mungkin dengan cara ini aku bisa mendapat perhatian dari Agus lagi, mendapat kasih dan cinta. Berpijak di tong sampah Aku mulai memanjat dinding pembatas yang tidak seberapa tinggi.
__ADS_1