Jingga di Ujung Senja

Jingga di Ujung Senja
BIMA 3


__ADS_3

"Sik tak nyarap sik yo, mumpung ono panganan enak" Santuy sekali beliau ini menyuap jatah sarapanku yang dikasih Virginia.


"Hehhh sisihke to nggo Aku ... Sing duwe malah entuk siso" gerutuku sambil masuk kamar mandi.


"Wess adus dhisit bar gek ndang sarapan" timpal Pak Tikno.


Selesai mandi Aku sarapan kiriman Virginia yang sudah disisihkan Pak Tikno.


"Opo wae Pak kirimannya?" tanyaku


"Enak kok Bim, sego ayam" jawabnya sambil ngerokok.


"Gimana Pak ceritanya kok sampai tukaran sama Indah?"


"Kamu tanya Indah aja piye ceritane, aku ra mat siale"


Aku hanya manggut manggut sambil menghabiskan sarapan. Alhamdulillah ... enak juga 😀


Esoknya di kantor Aku menemui Indah di ruangannya bagian pengadaan.


"Ndah, istirahat Gue mau ngomong" to the point sesampainya Aku di meja si Indah.


"Paling soal wedokan kae toh?" sungut Indah


"Wedokan kok mbanyaki wong lanang. Ora duwe isin" gerutu Indah lagi. Aku hanya bengong menanggapi gerutuan Indah. Nggak biasanya Indah seperti ini, wahh pasti ini luarr biasa. Batinku.

__ADS_1


"Ho oh Mas, Saya yang sama sama perempuan aja malu denger dia tanya tanya ke Indah. Sok banget" timpal Dena tetangga kubikel Indah.


"Ya wes ntar istirahat aku ceritani yo Ndah" Aku segera berlalu setelah kulihat kelebat bayangan Pak Tama masuk ke ruangan.


"Yoh" jawab Indah


"Mari Pak Tama" kuanggukkan kepala padanya dan dia hanya tersenyum.


Siangnya sengaja Aku langsung ke kantin mencari tempat strategis di pojok dekat tangga.


"Ndungaren Mas Bima gasik" sapa Bu Nur penjaga kantin.


"Ho oh Bu Luwe ( lapar )" jawabku.


"Pecak lele opo ayam Mas?" tawarnya


"Janjian tah?"


"Iyo Bu"


Tak berapa lama Indah dan Dena datang bergabung.


"Wooo ambekan cewek cewek tah janjiane?" kikik Bu Nur


"Lah ambekan cewek to Bu mosok apeh pedang pedang an" cengirku

__ADS_1


"Hiss saru!" Indah menegurku


"Wes gek ndang critakno" ujarku


"Sek tak madang sek luwen aku ( bentar aku makan dulu, kelaparan aku )" Indah memesan makan siangnya bersama Dena.


"Nek ngono Aku sisan. Bu pecak lele ae" teriakku ke Bu Nur. Beliau hanya mengangkat jempolnya.


Sambil makan Indah menceritakan kejadian pertengkaran nya dengan Virginia.


"Istirahat wingi ndek nen nyamperi aku takon soal awakmu. Lha tak jawab takon wong e dewe lah. Maksudku ngko ndak aku kesalahan karo kowe, eeeee ... malah ngamuk" diteguknya es teh


"Ngomong e Aku wong wedok serakah wes duwe bojo isih ngarah bujang. Daripada ribut isin aku! aku ngalah ... tak tekok i. Lha kowe apeh takon opo?" disruputnya lagi es teh sampai hampir separo.


"Omonge Bima iku wong e model e piye? lha yo tak jawab to ... model e kan wes ketok koyo ngono kae .... weeee tambah ngamuk" suapan besar pecak lele pedas masuk ke mulutnya diiringi desis kepedasan.


"Muni muni gak karuan, leh aku sombong lah aku serakah aku lanangan tok ... aku juengkel tak popoki sambel enek rai ne ... wes ben" suapan pecak lele terakhir masuk mulutnya bersamaan berakhirnya cerita 😀 Es teh ku jadi di embat juga karena semangatnya cerita. Biarlah yang penting aku sudah tau inti permasalahan nya.


Virginia kepo soal pribadi aku. Okelah besok gantian aku tanya dia.


"Heh Kamu tak ceritain sampe ndower ngene kok cuma manthuk manthuk!" samber Indah galak.


"Lha aku suruh bilang wow gitu?" kelakarku yang disambut dengan sambitan kulit pisang.


"Bu Nur! tambah pisang dua. Dia yang bayar!" seru Indah menunjukku sambil beranjak keluar kantin bersama Dena.

__ADS_1


"Heh sing bener ae Rek!" aku berdiri cuma kalah cepat sama pandangan Bu Nur yang menggoyang goyangkan telunjuknya di depanku. 🤦


__ADS_2