Jingga di Ujung Senja

Jingga di Ujung Senja
VIRGINIA


__ADS_3

Huft .... ku lepaskan nafas panjang untuk melepaskan beban berat yang selama ini aku panggul. Lega plong itu yang aku rasakan sekarang. Hatiku lega, pikiranku jadi jernih usai Hakim membacakan putusannya.


Ya, hari ini aku resmi menyandang status Janda usai putusan cerai Kami disahkan. Bima sudah menjadi mantan suamiku sekarang.


Setelah sidang yang berbelit karena Bima tidak ingin menceraikan ku karena anak anak yang masih balita masih membutuhkan sosok Ayah untuk perkembangannya. Aura si sulung yang berumur 4 tahun dan adiknya Buana yang baru berumur 2 tahun. Akhirnya Dia mengalah menyetujui keputusanku untuk tetap bercerai.


Aku ingin bebas dari rasa bersalah, ingin bebas mengungkapkan rasa suka, sayang, cinta, atau apalah namanya untuk laki laki yang aku suka. Aku tidak mau dikekang lagi dalam hal apapun. Aku sudah dewasa sudah bisa memenuhi kebutuhan hidupku, keluargaku dan anak anakku sendiri tanpa campur tangan orang lain.


Namaku Virginia, anak pertama dari tiga bersaudara. Aku sudah bekerja di sebuah perusahaan real estate terkenal di kotaku. Aku menduduki jabatan yang cukup penting di sana sebagai Kepala Bidang Keuangan. Sehingga aku menjadi tulang punggung dari keluargaku karena Ayah sudah tidak bekerja karena memasuki masa pensiun. Sedang adik adikku masih membutuhkan banyak biaya untuk kuliah mereka.


Sesuai keputusan sidang, hak asuh anak anak jatuh ke tanganku dan Bima wajib memberikan nafkah untuk anak anak dan berhak bertemu dengan mereka kapan pun Dia mau.


Dan Kami sudah sepakat di depan Majelis bahwa setiap Sabtu dan Minggu tugas Bima untuk menemani Mereka.


"Gin, gimana perasaanmu sekarang?" tanya Mama menepuk lembut punggung tanganku. Setiap sidang Papa atau Mama salah satu dari mereka selalu mendampingiku. Karena keputusanku untuk bercerai salah satunya adalah dari permintaan mereka.

__ADS_1


"Lega Mah", jawabku sambil tersenyum.


"Ya sekarang Kamu bebas, nggak ada lagi orang yang suka menghakimi Kamu, menjerat langkahmu" wajah Mama berbinar saat mengatakan itu.


"Iya Mah, sekarang kita pulang. Aku ingin istirahat, nanti sore Kita harus packing semua barang Bima" sahutku sambil beranjak dari kursi di lobby gedung Pengadilan Agama.


Sampai rumah Papa yang membukakan pintu.


"Assalamualaikum, Pa" kucium punggung tangannya.


"Lancar Pa, anak anak sama aku" kuhempas kan pantatku di sofa.


"Tapi Bima wajib kasih nafkah kan?" serius sekali wajah Papa.


"Iyalah harus, enak aja!" sahut Mama bersungut.

__ADS_1


"Berapa per bulannya?"


"Lima Juta seorang jadi total Sepuluh Juta per bulannya" jelas Mama


"Oh, ya lumayanlah" jawab Papa sumringah.


"Pah Mah aku ke kamar dulu" Aku berlalu menuju kamarku.


Inilah salah satu alasan lagi kenapa Aku ingin bercerai dari Bima. Menurutku Dia terlalu perhitungan dengan keluargaku. Alasannya barang atau hal yang diminta keluargaku nggak penting dan tidak diperlukan. Yang penting menabung untuk masa depan.


Seperti saat adik laki laki ku merengek minta dibelikan motor sport baru karena diejek teman temannya kayak banci pake motor matic yang biasa dipake perempuan.


"Yang penting fungsinya bukan gayanya. Tinggal niat Kamu itu kuliah atau gaya gayaan?" itu kata Bima dulu.


Terpaksa Aku membelikan adikku dari kantong ku sendiri, yang akhirnya diganti oleh Mas Agus saat aku mengadukan hal itu padanya.

__ADS_1


Mas Agus mantan pacarku yang jadi sahabat dekatku. Tempat aku berkeluh kesah tentang segala hal.


__ADS_2