Jingga di Ujung Senja

Jingga di Ujung Senja
BIMA 2


__ADS_3

"Bisa naiknya?" Aku miringkan sedikit motorku untuk mempermudahnya membonceng.


"Bisa"


"Pegangan ya" Aku lihat dari spion dia hanya mengangguk lemah.


"Hem"


"Kamu tinggal di mess kan?" tanyaku


"Iya" Aku lihat dari spion air matanya mengalir perlahan.


"Sudah nggak usah dipikirin, Kamu lanjutin hidup Kamu. Toh kebutuhan hidup bisa Kamu penuhin sendiri, Kamu juga punya keluarga yang pasti sayang sama Kamu. Emang kalau Kamu mati Agus bakal sedih gitu? enggak Kan? tapi orangtuamu? sudah pasti sedih kehilangan Kamu. Betul nggak?" panjang lebar Aku bicara sok jadi dewasa 🤭


Dihapus air matanya, diusap ingusnya pake krah baju ... iiiuuuuhhh tapi biarlah baju dia sendiri.


"Iya, Aku nyesel nglakuin hal bodoh" akhirnya bunyi juga dia.


Sampai di mess nya, beberapa teman sudah menyambut di depan pintu. Berita cepat menyebar.


"Aku cabut dulu ya, sayangi dan hargai diri Kamu sendiri" pesanku sebelum balik ke mess. Dia mengangguk mantab sambil tersenyum.


Huffttt ... capek sekali rasanya hari ini. Ada aja ... putus cinta? ... bunuh diri .... banyak utang? ... bunuh diri .... penyakitan? ... bunuh diri ... kayak gampang aja cari nyawa. Nggak habis pikir aku sama orang orang yang punya pendek pikir kayak gitu.

__ADS_1


Besok harinya di kantor ruame berita soal si Virginia mau bunuh diri plus bumbu bumbu penyedap soal percintaan nya dengan Agus. Aku nggak luput dari cecaran teman teman, secara Aku yang menggagalkan acara bunuh diri itu.


Dan berita sampai ke telinga pimpinan perusahaan. Virginia dan Agus dipanggil yang kemudian kabar beritanya Agus dipindah tugaskan di kantor cabang di luar kota.


Aku masih tetap dengan akitivitas ku sebagai jomblo bahagia 😀 sampai suatu hari :


Tok ... tok ... tok ...


Seseorang mengetuk pintu kamarku pagi2 di hari Minggu. Hari spesial buat jomblo bahagia kayak aku, dimana aku bisa tidur sepuasnya. Tapi terganggu dengan ketukan pintu.


Halah!! paling Pak Tikno minta deterjen buat cuci sarung gerutuku. Sambil menaikkan sarung dan nyawa yang belum terkumpul sempurna aku buka pintu.


"Ono opo to Paakk?"


"Eh, Kamu! sori ya masih belekan" sapaku


"Ada perlu apa?" tanyaku lagi.


"Eh, nggak ... mmmm cuma mau ngasih ini" dia mengangsurkan kresek ke tanganku.


"Apa ini?"


"Buat sarapan" jawabnya singkat sambil menunduk.

__ADS_1


"Eh, makasih ya. Tapi sori nggak tak suruh masuk ya. Mess lagi sepi" aku celingak celinguk dan minta pengertiannya.


"Iya nggak pa pa, ya sudah ya Aku pulang dulu" pamitnya.


Aku hanya menganggukkan kepala. Setelah dia tidak terlihat di ujung lorong pintu kamar aku tutup dan berencana melanjutkan tidurku.


Baru akan kurebahkan badan ....


Tok ... tok .. tok .... ceklek ... pintu kamar kembali terbuka sesosok badan ceking dengan cerutu menggantung di bibir hitam.


"Le ... Bim ... Lah opo Virginia mrene?" tanyanya.


"Nganter sarapan Pak" jawabku sambil merem dan menunjuk kresek di atas meja.


"Weehh ono isu lho Bim kalau dia kepo sama Kamu"


"Hehh mbok ben Paaakkk karep karepe" masih dengan cuek aku meladeninya.


"Sampe direwangi tukaran karo Indah goro goro kepo!"


Mataku langsung terbuka, kok Indah nggak bilang ya ... batinku.


Indah sahabat tomboy ku, luar dalamnya aku dia yang tahu. Dia sudah punya suami si Prasetyo, kakak kelas Kami dulu waktu SMA.

__ADS_1


"Lha piye to Pak critane?" aku mulai bangkit ke meja makan nyusul Pak Tikno yang sudah nggrathil buka sarapan yang dikirim Virginia buat Aku.


__ADS_2