
Valen turun dari taksi dengan membawa tas ransel dan koper kecil, tidak lupa kue tart
yang sudah dipesannya tadi malam. Hari ini ulang tahun ibunya dan dia ingin
memberi kejutan spesial dengan terbang dari Australia kemarin pagi dan semalam sudah
menginap di hotel dekat rumahnya.
Dari dalam pos security, Pak Agus, salah satu security rumahnya, malah melongo
menatap Valen yang kedua tangannya masing-masing sedang memegang barang. Tangan
kiri memegang dus kue tart, sementara tangan kanan memegang gagang kopernya.
Valen ingin melambaikan tangannya, tetapi dia tidak memiliki tangan ke-tiga, tidak
sopan jika menggunakan kakinya. Mana cuaca lumayan panas, sengatan matahari
juga menyilaukan, mungkin itu alasan Pak Agus memakai kacamata reyben.
"Masa iya Pak Agus tidak mengenalku. Apa penampilanku mirip Bu Aminah, tukang kredit
pakaian yang sering mondar-mandir di jalan ini?" Valen spontan memindai
penampakan dirinya mulai dari bagian dada hingga ujung kaki.
"Semuanya normal, tak ada yang aneh," desis Valen dengan dahi mengerut. "Pak
Agus, tolong bantuin," ucap Valen dengan gemas karena Pak Agus pakai acara
menurunkan kacamata reybennya dulu, sementara tangan kanan Valen sudah
kesemutan karena memegang dus berisi tart.
"Owalaah, Non Valen, toh? Biasanya 'kan dijemput Tuan atau Nyonya, Non," ujar Pak
Agus membela diri. Untung mereka masih berada di luar gerbang, jadi keributan
kecil di antara mereka tidak sampai terdengar di dalam.
Valen semakin gemas karena Pak Agus malah membuka pagar dulu, bukannya membantu
mengambil dus tartnya, atau ambil kopernya yang hanya ditahan Valen menggunakan
kakinya agar tidak meluncur di permukaan yang miring.
"Mari kopernya, Non. Pak Agus yang bawakan." Pak Agus menawarkan diri di
tengah-tengah kejengkelan yang dirasa Valen.
"Kopernya Saya bawa sendiri saja, Pak, dusnya saja tolong dipegang dulu,” kata Valen
dengan raut wajah kesal karena gerah dan juga mengikis waktu agar tidak ketahuan
dari dalam rumah, bisa rusak acara surprisenya.
Setelah sudah menemukan posisi tangan yang lebih nyaman, dus tart di tangan kanan dan
koper ditariknya dengan tangan kiri, Valen melangkahkan kakinya. Wajahnya sudah
memerah seperti tomat, keringat juga terlihat melele di sisi kiri dan kanan
pipinya yang berdekatan dengan telinga. Tinggal empat tahun di Australia
membuatnya tidak terbiasa lagi dengan panasnya sengatan matahari di Indonesia.
"Aduuh, Non. Cepat masuk, di sini panas, nanti kulit Non jadi seperti saya,"
celoteh Pak Agus dengan wajah yang benar-benar terlihat khawatir. Pakai acara
menunjuk kulit di lengannya juga, menandakan security rumah itu serius dengan
rasa khawatirnya.
Valen tersenyun gemas melihat Pak Agus yang polosnya minta ampun, sukses membuat otak
Valen terasa mentok, inginnya menimpuk kepala Pak Agus pakai sandal jepit. Valen
masuk ke dalam rumah melalui pagar yang dibuka Pak Agus selebar-lebarnya,
padahal dia masuk tanpa mobil. Harusnya buka saja pagar yang khusus akses
masuk-keluar orang tanpa kendaraan, lebih ringkas dan cepat.
Setelah sudah di dalam halaman rumah, rencananya Valen akan masuk melalui pintu samping
karena dia lihat mobil ibunya masih ada di rumah.
__ADS_1
"Sudah jam segini, Mama kenapa masih di rumah? Biasanya 'kan kalau ulang tahun, Mama
adain makan siang dengan ibu-ibu ceriwis itu,” keluh Valen sambil terus melangkah
menyusuri pinggiran yang ada tanaman-tanamannya.
Valen rupanya datang di jam yang kurang tepat. Di saat Valen melewati taman samping,
suara langkah yang sangat dikenalnya dengan
jelas ditangkap pendengarannya.
"Haduuh, Mama baru mau berangkat rupanya," desis Valen yang langsung merunduk di
balik jejeran bonsai kerdil yang sengaja dibentuk bagai pagar.
"Pak Agus," teriak Nyonya Alea yang bingung kenapa gerbang pagar dibuka selebar
itu.
"Haduuh, mampus, bisa gagal nih surprisenya kalau Pak Agus cerita aku datang."
Valen mengerutkan dahinya dan berpikir bagaimana caranya bisa masuk ke rumah
tanpa ketahuan.
Pak Agus tergopoh-gopoh mendekati Nyonya Alea, "Iya, Nyonya."
"Itu pagarnya dibuka, kenapa? Kemarin ''kan sudah dibilang, acaranya nanti pas makan
malam," protes Nyonya Alea.
"Oh, iya, Nya. Tadi saya buka biar Non Valen bisa masuk," jawab Pak Agus dengan
polosnya sambil tersenyum.
"Valen? Mana Valen? Jangan ngaco ah Pak Agus."
"Lha benar, Nyonya. Itu tadi sudah masuk Non Valen-nya," sanggah Pak Agus
sambil tertawa kecil dan kedua telapak tangannya saling menggesek setelah jari
jempolnya menunjuk ke arah dalam rumah.
"Pak Agus, saya pecat kamu nanti kalau ngaco lagi. Valen itu di Australia, kamu
membuat Pak Agus bingung dan jadi takut.
Mendengar suara ibunya marah, Valen yang masih berada di balik tanaman bonsai harus
menutup mulutnya dengan kuat agar suara tawa cekikikannya tidak terdengar.
"Betul, Nyonya. Saya tidak bohong." Pak Agus terus membela dirinya di tengah kebingungannya juga. Pak Agus yang usianya sudah hampir enam puluh tahun, pensiunan aparat pemerintah, menggaruk-garuk
kepalanya karena bingung.
"Mataku 'kan masih bagus untuk mengenali orang. Saya masih bisa mengenali kalau tadi
itu benar Non Valen," pikir Pak Agus.
"Bi'Inaaah, Surtiii," Nyonya Alea kembali berteriak memanggil dua asisten rumah
tangganya.
Valen pun bisa mendengar sahutan dan langkah kaki mereka yang terdengar tergesa-gesa.
"Surti, tolong bikinkan Pak Agus teh manis. Bi'Inah, tadi pagi Pak Agus sarapan
tidak?"
"Sarapan, Nyonya." Bi'Inah dan Pak Agus hampir bersamaan menjawab pertanyaan Nyonya
Alea.
Wajah Bi'Inah nampak ketakutan, sementara Pak Agus semakin bingung, "Apa
hubungannya kedatangan Non Valen dengan sarapan saya, Nya?" tanyanya
dengan polos.
"Non Valen? Memangnya Non Valen pulang, Nya?" Bi'Inah juga ikutan bingung dan
bertanya, semakin memperberat tingkat kepercayaan Nyonya Alea terhadap
pembelaan Pak Agus.
"Makanya Bi'Inah tolong ambilkan makanan untuk Pak Agus. Mungkin dia lapar sampai-sampai
__ADS_1
berhalusinasi di siang bolong begini," beber Nyonya Alea dengan kesal lalu
berjalan kembali masuk ke dalam ruang tengah rumah.
Bi'Inah langsung menarik lengan Pak Agus untuk membawanya ke dapur.
"Kalau lapar itu mbok ngomong toh, Pak!"
"Lha wong saya belum lapar, Nah," protes Pak Agus.
“Sekarang Nyonya suruh makan." Bi'Inah juga tidak mau kalah dari Pak Agus, lagian
itu untuk menghindari Nyonya Alea marah.
Bi'Inah tetap saja menarik Pak Agus untuk ke dapur, tak peduli dengan penolakan
pria tua itu.
"Ealaah, sebentar toh Nah', saya tutup pagarnya dulu," seloroh Pak Agus dengan
menunjukkan wajah kesalnya pada Bi'Inah.
Valen mengintip dari tempat persembunyiannya, ternyata di dekat pagar terjadi tarik
menarik antara Bi'Inah dan Pak Agus. Lalu Surti dengan gelas teh manisnya hanya
melongo melihat tingkah dua orang tua itu.
Saat mereka bertiga sedang sibuk dengan perdebatan, bergegas Valen masuk melalui
pintu samping dan menuju paviliun tempat tinggal para asisten rumah tangga,
termasuk tempat tempat tinggal Pak Agus dan Pak Manto, security rumah.
Di antara jejeran paviliun, ada salah satu pintu yang terbuka, Valen langsung masuk
ke sana dengan gaya mengendap-endap.
"Hei, kamu siapa?" tanya seorang gadis muda dengan wajah yang berniat
mengintimidasi Valen. Valen terperanjat, kaget hingga dus tartnya nyaris jatuh.
"Buju buseeet, harusnya aku yang tanya, siapa kamu? Kenapa ada di rumahku? "
seru Valen dengan sengit.
Riska memicingkan matanya, dan mendekati Valen, menatapnya lekat-lekat, "Oh iya,
sepertinya foto Kakak sering kulihat, tetapi di mana ya?" Riska
menepuk-nepuk pipinya dengan jari telunjuknya.
"Kakak artis ya?" Wajah Riska berseri.
"Aku anak bungsunya Bi'Inah, Kak. Riska. Baru datang dari kampung dua hari yang lalu,"
sambung Riska dengan mengulurkan tangannya dan disambut Valen dengan wajah
kesal.
“Kakak benar artis ‘kan ya?” kejar Riska lagi untuk memastikan bahwa dugaannya benar.
Tak mau kalah juga si gadis muda ini, idealisme masih sangat tinggi untuk
mempertahankan apa yang diyakininya benar.
"Artis gundulmu?" desis Valen dengan wajah gemas, "Pasti kau lihat fotoku di
rumah ini." Valen menjawab Riska sambil menepuk jidatnya sendiri dan
menggeleng-geleng.
"Oohh, ho'oh, Kak. Benar, benar. Di rumah ini." Riska berucap dengan polosnya
sambil tertawa terpingkal-pingkal sendiri, tidak peduli dengan wajah Valen yang
sudah seperti monster yang siap menerkam.
"Tapi, kenapa Kakak di kamar sini?" lanjut Riska lagi.
"Panjang kalau kujelaskan, mending kamu bantu aku ya, siapa tadi namanya?"
"Riska, Kak. Aku harus bantu apa?”
“Oke, namamu Riska. Bantu aku jadi wanita penyusup di rumah ini,” kata Valen dengan
wajah serius.
__ADS_1
“Penyusup??”