
Nyonya Alea menarik nafas panjang lalu mulai berkisah bak pujangga di zamannya.
"Masalahnya umur Mama waktu itu sudah pas menikah, dua puluh dua tahun, Sayang. Kamu sekarang sudah berapa?" Pertanyaan Nyonya Alea seperti skakmat untuk Valen. Valen tidak punya bahan sanggahan, ayahnya pun sama, hanya tersenyum pasrah, menghapus harapan Valen akan mendapatkan pembelaan.
Valen menatap ayahnya dengan kesal. Ekspetasinya, seorang ayah sebagai kepala keluarga, bisalah mengendalikan istrinya yang terlihat mulai memaksa anak. Sayangnya, harapan seperti itu tidak mudah di dunia nyata. Bagi suami pekerja keras, istri adalah penguasa di rumah dan dirinya penguasa di kantornya.
"Kelak suamiku tidak mau kalau seperti ayah, hanya bisa tersenyum, angguk-angguk, dan manggut-manggut sama Mama. Aku harus dapat suami yang punya pendirian, tegas, dan tidak semua keinginanku diikuti." Valen bergumam dalam hatinya sambil menatap ayahnya. Kasihan sebenarnya, tetapi melihat cara ibunya mencintai ayahnya, Valen juga salut.
“Atau aku kembali ke Australia dulu barang setahun sambil mematangkan otakku untuk menerima dijodohkan dan dinikahkan,” tawar Valen sambil mengangkat-angkat alisnya dan tersenyum-senyum penuh harap.
Nyonya Alea terdiam sambil menatap tajam ke arah suaminya, seolah sedang memerintahkan suaminya untuk mengambil alih Valen yang kesannya terlalu memaksakan kehendak. Tuan Teddy sangat paham dengan tatapan itu, tapi dia pun tidak tega terhadap putri kesayangannya itu, jadi dia memilih untuk mengunci mulut saja. Diam itu emas ya, kata sang Pujangga.
"Jadi, gimana, Mam?" Valen mendesak, dia butuh jawaban dan Mike menunggunya, setidaknya itu yang dia yakini.
“Kembali ke Australia sebelum menikah?” tanya Nyonya Alea yang terdengar hanya semacam ingin mengkonfirmasi kembali permintaan putri semata wayangnya itu.
Valen mengangguk dengan bersemangat, dia terlalu yakin jika tawarannya akan diterima ibunya.
"Kamu boleh kembali ke Australia hanya untuk bulan madu, dengan Karel." Nyonya Alea menjawab dengan tegas sambil tersenyum dan memegang punggung tangan Valen, tidak merasa ada yang salah dengan pemaksaan yang baru saja dilakukannya.
"Mam," protes Valen. Wajahnya makin cemberut. Seperti apapun bentuk cemberutnya Valen, tidak akan mengubah keputusan menikahkannya dengan Karel.
Ingin bilang sejujurnya jika dia menyesal sudah memutuskan beri kejutan untuk ibunya dengan pulang ke Indonesia, tetapi Valen tidak sanggup membuat Mamanya sakit hati. Rasa sayangnya jauh melebihi apapun juga. Biar dikata dia kesal dengan keputusan ibunya kali ini, tetapi dia tidak mau jadi anak pembangkang pada orangtua.
"Pria macam apa sih yang namanya Karel itu, sampai Mama kepincut bener seperti ini?" Valen membatin dengan penasaran.
Diskusi ditutup, meski kesimpulan tidak dibacakan secara resmi dengan Bi'Inah dan Surti sebagai saksi, tetapi semua sudah paham dengan sendirinya. Valen akan dinikahkan dengan Karel, untuk teknisnya akan dijelaskan Nyonya Alea kemudian, demikian kira-kira hasilnya.
__ADS_1
***
Nyonya Sophia dan Nyonya Alea yang sudah mendapatkan mandat dari suami masing-masing untuk mengatur teknis perjodohan Karel dan Valen, langsung mengadakan rapat terbatas empat mata di cafe langganan mereka, di salah satu mall.
"Aku masih tidak percaya kita akan menjadi besan, Phia," ujar Nyonya Alea dengan sumringah setelah mereka menyelesaikan pesanan.
"Aku juga masih berasa ini mimpi, apa dulu kita pernah bercita-cita jadi besan ya? Rasanya tidak pernah ya, Alea?" tanya Nyonya Sophia dengan wajah heran, kemudian diakhiri dengan tawa mereka berdua.
"Jodoh tidak ke mana, Phia. Kalau sudah jodoh, walaupun jauh pasti didekatkan." Mereka berdua kembali tertawa senang sambil saling menepuk lengan menggunakan kipas kesayangan yang selalu dibawa mereka bagai pedang di serial silat.
"Baiknya kita pertemukan mereka secepatnya." Nyonya Alea mengangguk tanda setuju dengan usul Nyonya Sophia.
"Agar kesannya mereka tidak dijodohkan, maka kita jangan saling memberikan foto, biar mereka seolah-olah bertemu secara alamiah," beber Nyonya Sophia dengan gaya andalannya, seperti sedang deklamasi.
"Setuju. Jadi, kesannya adalah mereka dipertemukan oleh semesta karena mereka memang jodoh." Nyonya Alea menambahkan.
Setelah kesepakatan tempat selesai, selanjutnya kesepakatan waktu. Nyonya Alea meminta untuk dilakukan secepatnya, mengingat Valen yang selalu merengek minta diijinkan kembali ke Australia. Nyonya Alea menduga jika Valen sudah dekat dengan pria lain, tetapi Nyonya Alea memang sengaja tidak mau menanyakan itu. Untungnya Valen juga belum mau menceritakan.
"Bagaimana kalau besok malam, aku sudah cek pada Peter, dan di kantor tidak ada rapat atau pertemuan klien untuk besok." Nyonya Sophia menawarkan opsi pilihan waktu.
Nyonya Alea yang memang mengejar waktu, tanpa alasan sana-sini langsung mengiyakan. Maka lengkaplah sudah rapat terbatas empat mata ini dengan memutuskan tempat dan waktu pertemuan anak-anak mereka. Tugas mereka selanjutnya adalah meneruskan informasi ini kepada anak mereka masing-masing, serta tidak boleh gagal.
"Karel, besok malam kamu akan bertemu dan makan malam dengan Valen di Royal restaurant pukul tujuh malam. Jangan sampai terlambat!" Nyonya Sophia memberikan titah bak ibu suri di serial kerajaan Korea. Titah yang tidak bisa dilanggar, ditolak, dan atau apapun bentuk katanya yang maknanya demikian.
"Waduh, besok sudah janjian dengan Viona. Gawat," gumam Karel yang cukup membuatnya gelisah. Nyonya Sophia yang memperhatikan gelagat Karel semakin menajamkan pandangannya ke arah wajah Karel.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Aku besok sudah ada janji dengan teman, Mom." Tidak berani menyebut nama Viona di depan ibunya, bisa panjang urusannya.
"Siapa? Viona??" Tajam dan tegas suara Nyonya Sophia ketika bertanya, membuat Karel terkesiap kemudiam tergugu, bingung dan heran ketika ibunya bisa tahu tentang Viona.
"Wiih, siapa yang kasih tahu Mommy? Perasaan yang tahu cuma Sigit, apa Sigit berani mengkhianatinya? Sepertinya tidak mungkin, dia sudah berjanji dan dia selalu memegang janjinya." Karel bermonolog dengan dirinya yang penasaran siapa yang beritahu perihal Viona.
"Kenapa? Kaget karena Mommy bisa tahu nama wanita itu?" Nyonya Sophia melanjutkan pertanyaannya, membuat Karel mati kutu tidak berdaya. Lagian Karel tidak berani main-main dengan ibunya, orang ayahnya saja tidak berkutik di depan ibunya.
"Mommy kayak mafia saja, gangster lebih tepatnya," sindir Karel.
Ibunya menurunkan kacamatanya hingga hampir ke ujung hidung.
"Mau tahu lebih banyak tentang Viona?" tanya Nyonya sophia dengan wajah serius.
"Mommy iih, kesannya kayak serius," ujar Karel sambil tertawa kecil, mencoba santai padahal dia jadi agak ngeri juga dengan ibunya yang ternyata bisa bertindak lebih jauh dari yang dikiranya.
"Mommy serius. Viona itu wanita malam di salah satu club di daerah selatan, dekat denganmu hanya mengincar kekayaan Mommy dan Daddy. Kalau kamu berniat menikah dengannya, Mommy coret kamu dari kartu keluarga. Jangan coba-coba, atau ...." Ungkapan Nyonya Sophia yang hampir membuat Karel semaput karena diikuti dengan gaya tangan horisontal di leher, seperti akan memotong leher.
"Astaga, my mom is a gangster," lirih Karel.
Nyonya Sophia kemudian tertawa kecil melihat Karel yang memasang wajah bingung ketika menatapnya, "No a gengster. Mommy mu ini hanya menjadi ibu yang akan melindungi anaknya dari mereka yang mau merugikan atau mencelakakan anaknya."
Karel mengangguk, tidak berani lagi menambah bicaranya, sudah cukup jelas. Persis seperti Valen yang akhirnya menerima meski di hatinya masih saja mengomel.
"Aku harus cari cara, bagaimana ya biar bisa menghindar dari perjodohan gila ini. Aku tidak mencintai mahkluk bernama Karel itu, apalagi menikahinya." Valen berdesis sambil mondar mandir di kamarnya, mencari ilham untuk mendapatkan cara.
Seketika Valen teringat dengan Riska, anak Bi'Inah, yang beberapa hari lalu membantunya hingga sukses membuat kejutan ulang tahun untuk ibunya.
__ADS_1
"Riska bisa kuandalkan untuk menangani ini. Anaknya cukup cerdas saat menerima perintah."