
Karel langsung berjalan menuju pintu mobil, membukanya, lalu masuk ke dalamnya dengan mimik jengkel, membiarkan ibunya yang masih ketawa-ketiwi dengan temannya.
"Meladeni Mommy saja ribet, apalagi ditambah temannya yang seperguruan. Curiga aku, Valen itu anaknya Tante Alea, pasti sama rewelnya," desis Karel sambil memegang kepalanya, rumit.
Karel menyandarkan dahimya ke stir mobil karena melihat ibunya dan Nyonya Alea yang masih saja memamerkan susunan rapi gigi mereka di antara bibir mereka yang merah bagai lampu lalu lintas.
"Untung tidak ada di antara mereka berdua yang memakai gigi emas, kalau ada satu saja, pasti di luar situ sudah berkelap-kelip bagai lampu disco."
Karel membatin sambil tertawa cengengesan sendiri. Menghibur dirinya yang mati kutu di antara dua wanita sambil membayangkan bagaimana daddynya bisa meninggalkan Belanda demi ibunya yang cerewet itu.
Akhirnya, Nyonya Sophia membuka pintu mobil dan masuk ke mobil dan disambut dengan senyum senang di wajah Karel.
"Alhamdulilah, syukurlah, berita baik, akhirnya tiba di penghujung acara," desis Karel dengan menarik nafas lega lalu menegakkan badannya, siap melesatkan mobilnya menuju rumah.
"Karel, bagaimana cara membuka kacanya?" Tangan Nyonya Sophia panik, sibuk mencari tombol untuk menurunkan kaca mobil, tetapi tidak kunjung menemukan. Ibunya Karel itu nampak kesal karena akan kehilangan moment sesi pamitan paling akhir dengan sahabat masa kecilnya. Hanya gara-gara kaca mobil yang sulit diturunkan.
"Mobil apa ini? Kaca mobil saja susah dibuka, heran." Nyonya Sophia terlihat kesal karena Nyonya Alea masih saja dengan semangat melambai-lambaikan tangan padanya, tetapi dia tidak bisa membalasnya dan dilihat sahabat karibnya itu.
Karel cuek saja dengan ibunya yang masih saja terus mengomel. Anggapannya sedang mendengar radio rusak, satu-satunya cara adalah melajukan mobilnya agar cepat tiba di rumah.
Syukurlah jalanan mulai sepi karena sudah hampir pukul sepuluh malam. Ibunya turun dari mobil dan masuk duluan ke dalam rumah, kemudian diikuti oleh Karel.
"Ney, Honey ...." Nyonya Sophia sudah memanggil-manggil Tuan Peter semenjak dia baru saja masuk ke rumah. Wajahnya terlihat berseri, sementara Karel wajahnya nampak seperti tomat lisut, merah karena marah tetapi layu karena tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
Tuan Peter keluar dengan kacamata berbingkai kecil yang dipasangkan di wajahnya yang gempal, hingga kacamatanya hanya terlihat seperti dua kismis di atas roti.
Nyonya Sophia langsung duduk di sofa import mereka yang bisa mantul-mantul empuk saat diduduki tubuh gempalnya. Tuan Peter juga ikut duduk, hingga mereka berdua terlihat seperti dua angka nol yang saling berdempetan.
"Aku menemukan calon istri untuk Karel, Honey," jelas Nyonya Sophia dengan antusias, terlihat dari semakin kuatnya dia mengayun-ayunkan kipasnya.
Melihat suaminya sudah memasang wajah serius, artinya sudah siap mendengar penjelasannya, Nyonya Sophia mulai menjelaskan dengan gaya seperti sedang mengikuti lomba deklamasi. Bersemangat dan dengan dua tangan yang terus bergerak, nyaris mengalahkan Bapak Proklamator saat menggugah semangat anak muda Indonesia.
Terlihat Nyonya Sophia sangat menguasai objek yang sedang dia ceritakan, gerak matanya yang kadang terpejam sambil menghayati, sesekali menatap ke atas dan tidak jarang sambil menatap Tuan Peter dengan tersenyum. Semua gerakan mata itu demi menambah tingkat kepercayaan orang yang mendengar penjelasannya.
"Namanya Valen. Gadisnya cantik, manis, lembut, penyayang, baik hati ...." Lalu Nyonya Sophia terdiam sambil berpikir apa lagi yang lain, sementara wajah Tuan Peter terlihat tidak sabar menunggu hal lain lagi tentang calon istri Karel yang katanya baru bertemu istrinya itu.
"Lalu?"
"Ah, pokoknya banyak, Daddy. Kamu setuju ya jika Karel kita jodohkan dengan Valen, Honey?" Nyonya Sophia langsung menodong suaminya dengan pertanyaan yang sesungguhnya tidak butuh jawaban, karena jawabannya sudah ditentukan sendiri oleh Nyonya Sophia.
Tuan Peter hanya formalitas saja mengangguk tanda setuju. Apalagi jika istrinya sudah memanggilnya dengan sebutan 'honey', pria tua itu sudah kehilangan kekuatan untuk menolak.
"Oke, Mommy saja yang atur, Daddy setuju saja. Besok kita bicara lagi, Daddy masih ada kerjaan." Tuan Peter betul jika istrinya itu hanya akan berhenti mengoceh jika keinginannya sudah diiyakan. Sebelum ada kata 'oke', maka dia tidak boleh beranjak dari tempatnya dengan kuping yang harus siap mendengar siaran ulang.
"Ehm, Honey. Kamu selalu jadi suami yang terbaik untukku, tidak ada yang lain. I love you, Honey." Nyonya Sophia menggencarkan serangan pujian hingga Tuan Peter dengan mangap hanya mampu manggut-manggut senang. Dia memang tidak salah pilih istri, tidak sia-sia dia meninggalkan negaranya demi istrinya. Nyonya Sophia beranjak dari sofa, masuk ke kamar, sementara Tuan Peter kembali ke ruang kerjanya.
Hal yang sama juga terjadi di rumah Nyonya Alea dan Tuan Teddy. Mereka berdua sedang membicarakan tentang Karel, calon menantu di rumah itu.
__ADS_1
"Mam, akan lebih baik jika dibicarakan dulu dengan Valen, yang mau menjalani pernikahan itu 'kan dia, bukan Mama." Tuan Teddy mencoba mencari jalan tengah antara putri semata wayangnya dan istri tercintanya. Begitu sulit bagi Tuan Teddy jika hanya memilih keinginan salah satu dari mereka.
"Menunggu bicara dengan Valen malah jadi lama, Sayang. Usianya sudah tambah banyak, masa nunggu lumutan. Terus kita berdua, kapan nimang cucunya?" Nyonya Alea bersikeras dengan keinginannya.
"Ya sudah. Terserah Mama," ujar Tuan Teddy sambil memperbaiki letak selimut di dekat dadanya lalu memutar badannya membelakangi istrinya. Nyonya Alea spontan menoleh dengan kesal.
"Jadi, Papa marah? Tidak suka dengan rencana Mama?" Nada suara Nyonya Alea terdengar horor di pendengaran Tuan Teddy, hingga dia langsung kembali berbalik badan menghadap istrinya lagi.
"Tidak, Mam. Bukan juga tidak suka. 'Kan Papa cuma minta Mama bicarakan dulu dengan Valen," kilah Tuan Teddy sambil mengusap-usap lengan istrinya yang sekarang sudah dua kali lebih besar dari pertama kali dia mengusap lengan itu. Perdebatan selesai.
Keesokan harinya, di rumah Karel …
Aroma menu sarapan sudah menyeruak di ruang makan keluarga Nyonya Sophia. Pagi ini dia terlihat berseri, asisten rumah tangganya pun ikut senang karena majikan mereka ini akan memasak dan menyiapkan sendiri sarapan untuk keluarganya saat hatinya senang seperti ini.
"Apa Mommy yang menyiapkan ini semua?" tanya Karel dengan was-was, karena artinya pagi ini ibunya sedang senang. Tuan Peter datang mendekati meja makan dengan senyum yang tersungging dan ucapan terima kasih, saat kursi ditarik istrinya dari bawah meja untuk dia duduk. Karel semakin curiga telah terjadi kesepakatan di antara mereka.
"Ehhmm." Tuan Peter berdehem sambil terbatuk-batuk karena salah menarik nafas, maksud hati mau meminta perhatian sebelum mengumumkan hal penting, malah tersedak hingga wajahnya memerah, maklum kulit kebarat-baratan.
Nyonya Sophia dengan sigap langsung menyodorkan air putih di gelas dengan wajah khawatir, hingga suasana kembali normal. Hanya wajah Karel yang kelihatan masih tidak normal karena gelisah menunggu ucapan ayahnya.
"Jadi, begini Karel, mengingat usiamu yang - "
"No, Daddy, nooo. Aku tidak mau dijodohkan," pekik Karel dengan wajah kalut yang memotong pembicaraan ayahnya. Tuan Peter dan Nyonya Sophia saling berpandangan.
__ADS_1