Jodoh 100 Persen

Jodoh 100 Persen
Trik Menghindar


__ADS_3

Setelah memikirkan tentang melibatkan Riska untuk membantunya, akhirnya bulat sudah keputusan Valen. Dia bergegas keluar dari kamarnya dan menuju dapur untuk menemui Bi’Inah, ibunya Riska.


"Bi, Bi'Inah, tolong panggilkan Riska untuk ke kamarku ya," minta Valen pada asisten rumah tangga tertua di rumahnya itu. Bergegas Bi'Inah ke paviliun belakang lalu menyuruh anaknya itu menemui Valen.


Riska dengan senang hati menuruti titah ibunya. Dia senang dengan Valen yang menurutnya cantik dan baik hati meski orang kaya. Berbeda dengan orang kaya di kampungnya yang ketinggian hatinya melebihi tinggi badan mereka.


"Kak Valen memanggil aku?" tanya Riska dengan sopan setelah tadi mengetuk pintu.


"Sini, Ris. Duduk!" titah Valen pada Riska yang mulai besok akan dimanfaatkannya.


Riska pun duduk sesuai perintah, wajah gadis delapan belas tahun itu terlihat bingung dan penuh tanda tanya, apa yang akan dilakukan Valen padanya.


"Berjanji dulu padaku kalau kamu tidak akan bicara apapun, siapapun yang nenanyakan. Kamu hanya akan patuh pada perintahku." Valen mulai menguraikan perintah utamanya sambil mondar mandir di depan Riska yang duduk di sofa kamar.


"Mengerti?" Valen tiba-tiba berbalik menghadap Riska dengan jari telunjuk yang menunjuk tepat di depan wajah Riska.


"I - iya, Kak," jawab Riska tersentak. Raut wajahnya jelas menunjukkan jika dia bingung karena sudah disuruh berjanji tetapi belum tahu seperti apa perjanjian itu.


"Oke, good."


"Haah, apa, Kak? Good?" Riska kembali bingung.


Valen menarik nafas panjang lalu menghembuskan perlahan-lahan diikuti kedua tangannya di depan mengikuti durasi tiupan nafas.


"Baik, good, baik," jawab Valen.


"Sudah paham?"

__ADS_1


Riska menggaruk tengkuk lehernya, gerak spontannya saat bingung, lalu mengangguk dalam kebingungan.


"Baik, Kak." Riska menjawab takut-takut.


"Nah, itu dia, baik." Valen tersenyum puas karena merasa Riska sudah paham apa arti good.


"Terus, goodnya Kak?" Tanya Riska lagi dengan polos.


Valen meringis, ingin menangis mendengar Riska bertanya lagi tentang kata 'good'. Terbayang rencananya bisa gagal total jika Riska seperti ini. Di pikirannya Karel itu sekolah di luar negeri, pasti bahasa Inggrisnya bagus. Lalu Karel juga tahu jika Valen lulusan luar negeri, tidak mungkin tidak bisa bahasa Inggris.


"Oke, oke. Kita gunakan bahasa Indonesia. Ingat kamu jangan memancing Karel menggunakan bahasa Inggris yaa!"


"Karel? Siapa dia, Kak?" Semakin bingunglah Riska dengan maksud majikan mudanya ini.


"Jadi, begini Riska. Karel itu pria yang akan Mama jodohkan denganku. Besok kita ada janjian, tetapi kamu yang akan menggantikan aku untuk bertemu dengannya. So - "


"Ya ampun, pake acara pingsan lagi," desis Valen yang segera ke kotak obatnya, mengambil minyak kayu putih dan menggosokkan ke hidung Riska.


"Aduh, Kak. Aku takut." Baru saja sadar dari pingsan, Riska langsung mengeluh dengan memohon.


"Eehh, cuma kamu yang bisa bantu aku. Tidak mungkin aku suruh Ibumu atau Surti 'kan? Apalagi Pak Agus atau Pak Manto." Valen menatap Riska sambil tersenyum dengan maksud membujuk.


Riska kelihatan masih ragu, tepatnya takut.


"Aku takut kalau ketahuan Nyonya Alea, Kak. Nanti kalau Ibu dipecat Nyonya, kami hidupnya bagaimana." Jujur Riska mengatakan alasan ketakutannya.


"Tidak usah khawatir, Mama tidak akan mungkin pecat Bi'Inah. Mama 'kan nggak bisa masak, kalau pecat Bi'Inah nanti Mama yang nangis. Percaya deh, Ris." Valen meyakinkan Riska begitu rupa hingga gadis muda itu tidak punya alasan untuk menolak.

__ADS_1


Setelah Riska mengangguk sebagai tanda setuju. Valen meneruskan acara pembekalannya untuk Riska. Valen mulai menjelaskan kira-kira seperti apa pria bernama Karel itu. Valen pun sebenarnya hanya menduga-duga karena dia sendiri belum pernah bertemu dengan Karel, sementara Riska tahunya Valen sudah mengenal Karel. Oleh karena itu, dia percaya dengan semua penjelasan Valen.


Karel, anak orang kaya, pria ganteng, kulitnya putih, tinggi, badannya bak atlet dengan otot terbentuk dengan baik, bicaranya bisa jadi dengan aksen kebarat-baratan juga karena ayahnya orang Belanda asli. Begitu kurang lebih penjelasan Valen pada Riska, Riska cukup terpesona dengan sosok Karel seperti yang dijelaskan Valen padanya.


"Bisa dimengerti, Ris?" tanya Valen untuk lebih meyakinkan dirinya sendiri jika keputusannya sudah tepat memilih Riska.


Riska mengangguk, entah dia mengerti atau tidak.


Jika Valen sudah mendapatkan jalan keluar, beda dengan Karel. Dia masih berpikir keras untuk mendapatkan solusi agar bisa menghindar. Apalagi di saat dia masih syok dengan informasi dari ibunya tentang Vania. Kepalanya tambah pusing memikirkan Vania, maunya tidak percaya tetapi informasi dari ibunya itu jika dikaitkan ada hubungannya dan logis.


"Haduuh, tambah pusing," desis Karel sambil memegang kedua kepalanya dan menunduk di meja kerjanya dengan disanggah dua tangannya. "Siapa sih yang bisa bantu aku?" tanyanya sambil  meremas rambut bagian belakangnya.


"Pak, ada telepon dari Nona Viona. Dia menelepon di ponsel saya karena ponsel Pak Karel tidak aktif."  Sigit, sopir pribadi merangkap teman bicara Karel memberitahukan pesan itu dekat dengan telinga Karel untuk menghindari dinding bertelinga.


. Karel memang sudah memblokir nomor Viona sejak ibunya memberitahu siapa sebenarnya Viona. Cintanya untuk Viona pun ikut terblokir oleh dirinya sendiri, tetapi bukan berarti dia akan setuju dengan perjodohan itu. Wanita di luar sana bukan hanya Viona dan tidak sulit bagi Karel untuk menemukannya.


Viona menunggu dengan gelisah, besok adalah hari pentingnya untuk memamerkan mobil sport pacarnya, Karel, yang adalah keluaran terbaru dengan harga fantastis. Viona ingin mendapatkan pengakuan hakiki dari komunitas wanita club yang paling bergengsi di kota. Karel tidak pernah jujur mengakui jika komunitas itu berisi wanita-wanita malam, Viona menyebutnya komunitas sosialita muda. Viona mengaku kalau dia adalah Public Relation sebuah hotel mewah di kota itu.


"Katakan padanya, aku sibuk, tidak bisa." Karel mengatakan keputusannya. Sigit terbelalak, berpikir jika tuannya itu apa tidak salah bicara? Oleh karena itu, Sigit kembali mengkonfirmasi sebelum memberitahu pesan Karel untuk Viona. Resikonya bisa pemecatan jika salah bicara sementara Neneknya di kampung harus dia hidupi.


"Tentu saja benar. Katakan seperti yang tadi kukatakan!" Karel memberi konfirmasi dan Sigit jadi yakin.


"Dia bisa untukmu saja, tetapi lebih baik jangan karena Nenekmu bisa mati berdiri kalau tahu siapa dia." Karel setengah berkelakar dengan Sigit dan Sigit hanya mengulas senyum. Viona memang cantik, tetapi tidak pernah Sigit lihat sholat. Sigit akan langsung mencoret dari daftar listnya, wanita yang tidak tahu ibadah, bikin seret rejeki suami.


Terlihat Sigit menjauhkan ponsel dari kupingnya dan terdengar suara wanita di speaker ponsel itu sedang mengamuk dengan mengumpat-umpat dan bersumpah serapa dengan menyebut nama Karel. Itu suara Viona yang sedang emosi tingkat dewa karena Karel membatalkan keinginannya, bahkan menyudahi sepihak hubungan mereka. Viona pasti batal mendapat gelar wanita club termahal, orang mobil sport milik Karel hanya satu-satunya di negara ini.


Karel kembali fokus pada rencananya menghindari makan malam. Ditatapnya Sigit dengan saksama, dari ujung rambut hingga ujung kaki, membuat pemilik tubuh itu keki karena takut dengan tatapan itu. Tatapan itu sedikit horor, ups ... bukan horor, tapi agak bermakna mengagumi, agak kurang cocok jika yang saling memandang sesama jenis.~~~~

__ADS_1


"Haduuh, jangan-jangan Pak Karel sudah jadi gay, dan jatuh cintanya padaku hingga menolak Viona." Sigit benar-benar cemas hingga ingin segera berlalu dari ruangan itu, tidak tahan dengan tatapan Karel padanya."Boleh saya permisi, Pak?" Tanya Sigit takut-takut, berharap yang terbaik.


__ADS_2