
Melihat Riska yang dikiranya Valen itu masih berdiri, Sigit semakin yakin jika dia salah bicara. “Waduh, jangan-jangan aku salah mengucapkan lagi, makanya Nona Valen ini jadi bingung dengan apa yang kuucapkan,” gumam Sigit dalam hatinya sambil mengingat-ingat bagaimana Karel, majikannya itu, mengajarinya tadi.
“Sit down, sepertinya sudah benar yang kuucapkan. Oh iya, harusnya pakai kata ‘please’, aku lupa.” Sigit memejamkan matanya karena khawatir akan kesalahannya, dan juga malu pada gadis yang dikiranya Valen itu.
“Sit down, please.” Sigit mengulang kembali kata-katanya, kali ini sudah ditambahkan sesuai dengan apa yang diajarkan Karel padanya. Senyumnya terlihat dipaksakan sambil dahi mengernyit. Untung saja Sigit mengucapkan sambil menunjukkan kursi, menurut Sigit agar lebih mudah dimengerti jika dia masih saja salah mengucapkan.
“Astaga, apa lagi yang diucapkan Pak Karel ini? Aku semakin bingung,” gumam Riska dengan wajah seperti orang yang akan menangis. Untung petunjuk dengan jari yang dilakukan Sigit sangat membantunya untuk paham bahwa yang dimaksud adalah mempersilahkan duduk.
Setelah mengucapkan terima kasih, Riska langsung duduk di kursi yang berhadapan persis dengan Sigit yang dikiranya Karel itu. Melihat gadis itu sudah duduk, Sigit langsung menarik napas lega. Dia seperti baru saja melepaskan buntalan beras seratus kilogram dari pundaknya.
Sekarang mereka bingung ketika pelayan restaurant menyerahkan buku menu untuk mereka berdua, masing-masing dapat satu buku. Menu-menu di buku itu ditulis dalam bahasa yang sangat asing bagi mereka. Riska sengaja mengangkat tinggi-tinggi buku menunya itu agar bisa menutupi wajahnya yang meringis, benar-benar seperti ingin menangis karena bingung melihat menu makanan yang semuanya tidak dipahaminya.
Hal yang sama juga dilakukan Sigit, rasanya ingin berlari keluar dari restaurant itu daripada nanti ketahuan, tetapi lagi-lagi senyum neneknya melintas di pikirannya, Membuat dia menunduk lesu, tidak sanggup menghilangkan senyum dari wajah itu.
Pelayan restaurant sampai berdiri dengan berbagai macam gaya karena lamanya menunggu pesanan dari Riska maupun Sigit. Pelayan itu pun sudah gusar karena lelah menunggu, tetapi mengingat keluarganya di rumah butuh hasil dari pekerjaannya ini maka rasa gusarnya dengan terpaksa harus dia ganti dengan senyum manis yang menyiksa raga.
Sementara di meja yang tidak terlalu jauh, sudah duduk Valen dan Karel yang tidak saling tahu. Karel sudah lebih dulu menempati meja, tetapi karena suasana restaurant yang sedang sangat ramai, Valen yang datang kemudian, tidak mendapatkan meja lagi. Akhirnya dengan terpaksa harus duduk di meja yang sama dengan Karel.
__ADS_1
Valen yang malam itu tampil dengan gaya casual namun modis, langsung menarik perhatian Karel yang sedang gundah gulana karena Viona, kekasih yang baru saja diketahuinya sebagai gadis club malam, masih ditambah dengan kencan yang diatur ibunya.
“Maaf, Mas. Apa bisa aku duduk semeja denganmu?” Valen tersenyum manis pada Karel, suaranya yang lembut berhasil menarik perhatian lebih lagi dari Karel.
“Kebetulan pelayan restaurant merekomendasikan saya untuk duduk semeja karena katanya Mas datang sendirian dan hanya memakai meja ini sendirian,” sambung Valen lagi dengan sopan. Valen masih saja berdiri mematung, menunggu ijin dari Karel.
“Owh, tentu saja, Nona. Mari silahkan duduk.” Senyum manis Valen dibalas dengan ramah dan senyum menawan Karel yang tidak kalah menariknya. Setelah Valen sudah duduk, pelayan langsung menyodorkan buku menunya untuk pesanan Valen.
“Chicken Cordon Bleu and Fruit tea dominant Lychee.” Demikian Valen memberitahu pesanannya.
“Benarkah?”
Karel mengangguk, “Kita lihat saja saat pesananku tiba. Hanya minuman kita yang berbeda.” Valen pun tersenyum. Rasanya nyaman berada dengan pria yang kebetulan harus satu meja dengannya, terlalu dini untuk menyebutnya jatuh cinta pada pria di depannya itu. Perasaan Valen saat ini, tidak jauh berbeda dengan Karel. Dia pun merasa nyaman berada dekat dengan Valen. Tanpa saling tahu jika sebenarnya merekalah yang dijodohkan, bukan Sigit dan Riska yang sedang memerankan peran pengganti. Dikasih jalan yang mudah, malah mau memilih jalan yang sulit-sulit.
Valen dan Karel akhirnya memutuskan untuk kenalan. Karel mengakui namanya sebagai Chairil, nama khas Betawi yang sangat ingin diberi ibunya, tetapi ayahnya selalu kesulitan untuk menyebut Chairil. Ayahnya selalu menyebut namanya dengan Karel, akhirnya digantilah nama Chairil dengan Karel. Sedangkan Valen, berkenalan dengan menggunakan nama panjangnya Valencia. Mereka berdua sama-sama senang karena berhasil menghindar dari perjodohan ibu mereka, dan sekarang merasa sudah bersama dengan orang yang tepat. Lupa dengan Riska dan Sigit yang sedang menikmati berbagai kebingungan karena ulah mereka berdua.
Di tempat yang berbeda, Nyonya Sophia dan Nyonya Alea juga sedang makan malam bersama. Mereka sengaja bertemu untuk sama-sama memantau makan malam yang dilakukan Karel dan Valen. Tidak jarang mereka tertawa sangat gembira karena merasa yakin pasti akan berhasil menyatukan Karel dan Valen.
__ADS_1
Pelayan datang membawakan pesanan mereka. Karel dan Valen sama-sama tertawa ketika melihat pesanan mereka yang ternyata memang sama untuk jenis makanan. Benar kata Karel, hanya minuman saja yang berbeda. Mereka pun mulai menikmati hidangan mereka dan juga kebersamaan mereka, bahkan mereka terlihat lebih seru dan sangat dekat dibandingkan Riska dan Sigit yang makan dengan tersiksa karena menu yang mereka pesan itu tidak biasa mereka makan sehingga terasa sangat menyiksa setiap kali menyuapkan sendok ke mulut mereka.
Selesai makan malam, Nyonya Sophia dan Nyonya Alea bersekapat untuk meminta bukti dari Valen maupun Karel untuk pertemuan makan malam mereka. Valen dan Karel yang hampir secara bersamaan menerima pesan chat dari ibu mereka masing-masing, langsung merasa gugup. Bingung sendiri bagaimana caranya bisa mendapatkan bukti.
“Haduuh, bagaimana caranya bisa dapat bukti kalau aku benar-benar makan malam bersama Karel?” gumam Valen bingung. Sementara Karel juga sama, dia pun tidak kalah bingungnya seperti Valen.
Valen yang bingung karena permintaan ibunya, meraih ponselnya sambil tertawa kecil ketika Karel menatapnya, “Maaf ya, aku butuh balas pesan chat,” ungkap Valen. Dia berpikir untuk menjadikan pria yang semeja dengannya itu sebagai bukti makan malamnya. Saat Karel sedang memegang sendok untuk mengambil ayamnya dengan garpu, Valen langsung menyalakan kameranya dan mengambil gambar Karel. Gambar tanpa wajah, hanya tangan Karel dan Karel tidak menyadarinya.
Karel lalu kembali menatap Valen dan lagi-lagi wanita yang ada di depannya itu tersenyum manis. Senyum yang sebenarnya untuk menutupi kecurigaan Karel. Gambar tangan Karel langsung dikirimkan Valen kepada Nyonya Alea, ibunya.
“Ini, Mam, buktinya. Sudah yaa, jangan minta yang macam-macam lagi!” protes Valen di pesan chatnya.
Nyonya Alea dengan senyum-senyum membuka foto yang dikirimkan Valen. Dia terkejut karena tidak ada wajah Karel, hanya ada tangan Karel saja, “Foto apaan ini, Valen?”
Valen dengan jengkel kembali membalas pesan chat ibunya, “Pokoknya aku sudah mengirimkan buktinya ya, Mam. Titik.” Lalu Valen tersenyum saat Karel menatapnya.
“Bagaimana, Alea, apakah Valen sudah mengirimkan bukti fotonya?” tanya Nyonya Sophia antusias yang disambut dengan anggukan lesu Nyonya Alea dan menunjukkan foto yang dikirimkan Valen di ponselnya.
__ADS_1