Jodoh 100 Persen

Jodoh 100 Persen
Kencan Berikutnya


__ADS_3

Valen juga tanpa berlama-lama, melajukan mobilnya, membelah lalulintas ibukota untuk pulang ke rumah. Valen terus saja tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita Riska yang dengan polos menguraikan apapun yang dirasakannya dan dibicarakannya dengan pria bernama Karel itu.


Karel dan Sigit juga demikian, sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Karel tidak berhenti tertawa mendengar cerita Sigit. Hanya saja, ekspresi Sigit yang terlihat menyedihkan. Wajahnya semakin sedih ketika melihat majikannya bisa tertawa terpingkal-pingkal saat dirinya tadi merasa sangat tersiksa di hadapan gadis yang bernama Valen.


“Ya Allah, miris seperti ini nasib pegawai biasa seperti aku,” batin Sigit yang pasrah menerima kenyataan jika dia hanya seorang sopir pribadi yang beruntung karena selalu dianggap sebagai keluarga oleh keluarga Karel, upahnya juga tidak sedikit selama bekerja bersama Karel.


“Semuanya demi membeli sawah nenek,”sambung Sigit lagi dalam hatinya. Entah untuk menghibur diri dari tersiksanya jadi aktor pengganti untuk Karel atau karena memang niatnya sudah sangat bulat sempurna ingin membelikan sawah yang diincar neneknya.


Tiba di rumah, Karel dan Sigit sudah disambut oleh wajah sumringah Nyonya Sophia dan Tuan Peter. Nyonya Sophia bahkan bertepuk tangan dengan gembira untuk memuji Karel.


“Anak Mommy malam ini membuat Mommy dan Daddy-nya bahagia.” Nyonya Sophia terlihat benar-benar sangat gembira.


Karel juga ikut tertawa senang karena melihat ibunya dan ayahnya gembira. Sigit juga ikut bahagia dengan harapan akan mendapatkan bonus meski ala kadarnya, biasanya Nyonya Sophia seperti itu. Benar saja, Nyonya Sophia mengeluarkan dua lembar uang ratusan ribu lalu menyerahkannya pada Sigit, “Kamu juga membawa keberuntungan untuk Karel malam ini.”


Sigit tertawa sumringah sambil terus berterima kasih pada Nyonya Sophia dan Tuan Peter.


“Karena malam ini sukses besar, maka saat weekend nanti, Mommy dan Daddy serta orangtua Valen sudah berrencana untuk kalian keluar nonton lagi berdua, agar kalian semakin akrab.”


Mendengar penuturan Nyonya Sophia, Sigit langsung semaput, membuat mereka yang di situ kaget dan bingung.


“Hei, Karel, apa dia sedang akting?” tanya Nyonya Sophia yang masih kaget ketika Sigit meleyot lalu jatuh tersandar di sofa.


Karel dengan sigap menepuk-nepuk kedua pipi Sigit secara bergantian, masih berharap jika Sigit hanya akting seperti yang diduga ibunya. Melihat tidak ada perubahan kesadaran dari Sigit, Karel berkesimpulan jika sopir pribadinya itu pingsan.

__ADS_1


Nyonya Sophia menjadi panik dan berteriak memanggil asisten rumah tangganya. Dua orang asisten rumah tangga datang tergopoh-gopoh mendekat ke ruang tengah, “Ambilkan dia air minum dan teh manis, cepat!” perintah Nyonya Sophia.


Kepanikan Nyonya Sophia membuat dia heboh sendiri, sementara Tuan Peter ikut-ikutan panik tetapi seperti biasa, ayah Karel itu akan bingung jika panik, malah tidak bisa berbuat apa-apa selain menonton kehebohan istrinya.


Segelas air putih disodorkan asisten rumah tangga pada Nyonya Sophia, bukannya diberikan untuk Sigit minum, dia malah memercikkan air putih itu ke wajah Sigit. Namun, usaha itu ternyata sukses menyadarkan Sigit dari pingsannya.


Sigit terkesiap ketika sebagian besar penghuni rumah itu sedang mengelilinginya, “Aku kenapa, Pak?” tanyanya masih dengan ekspresi bingung.


“Kamu kerasukan,” ucap Nyonya Sophia sambil menepukkan kipasnya ke bahu Sigit.


“Kenapa bisa pingsan? Kamu belum makan malam?” Tuan Peter dengan pelafalan Belanda-nya bertanya sambil menurunkan kacamata kecilnya hingga ke ujung hidung bangirnya.


Sigit langsung menggelengkan kepalanya, begitu juga kedua telapak tangannya yang digerak-gerakkan, memberi isyarat bahwa bukan itu alasan pingsannya, “Bu – bukan, Tuan,” ujar Sigit meski dengan terbata-bata dan menatap Karel.


Karel mengedipkan matanya dengan membisikkan satu kata yang paling ditakuti Sigit, “Nenek.” Satu kata itu mampu membungkam mulut Sigit tanpa perlawanan.


Sopir pribadi Karel itu sudah membayangkan akan menjadi korban Karel lagi, sementara tadi dia sudah cukup tersiksa dengan sandiwara itu. Sayangnya, dia tidak punya kekuatan untuk bisa menolak permintaan Karel.


“Besok kita bicarakan di kantor,” bisik Karel yang langsung diiyakan Sigit dengan anggukan kepala pelan, nyaris tidak bertenaga.


“Ini teh manisnya, Nyonya.” Asisten rumah tangga yang satunya lagi datang untuk menyodorkan permintaan majikannya tadi. Tanpa perlu diperintah, Sigit langsung mengambil cangkir dari tangan asisten rumah tangga itu dan sekalian pamit untuk kembali ke kamarnya. Nyonya Sophia dan Tuan Peter juga mempersilahkan dia untuk istirahat.


“Jangan lupa, Karel, akhir minggu ini kamu ada jadwal nonton berdua dengan Valen,” perintah Nyonya Sophia yang terdengar tidak ingin dibantah apalagi ditolak.

__ADS_1


Karel dengan senyum dipaksa, beranjak dari sofa dan naik ke lantai atas untuk beristirahat.


***


Di rumah Valen, kehebohan tidak jauh berbeda dengan di rumah Karel. Nyonya Alea adalah biang kerok kehebohan, seperti biasanya. Valen juga dipuji-puji ibunya, membuat Riska sedikit cemberut karena merasa dia yang tersiksa, tetapi majikan mudanya yang mendapatkan pujian.


“Valen, nanti akhir minggu kamu sudah punya jadwal nonton berdua dengan Karel,” ujar Nyonya Alea dengan senyum sumringah. Membuat bahu Valen terkulai lemas di sofa ruang keluarga.


“Kenapa harus nonton berdua, Mam? ‘Kan tadi sudah makan malam berdua,” protes Valen dengan bibir manyun. Dia sudah kepincut dengan pria bernama Chairil tadi, bahkan dia sangat senang ketika pria itu meminta nomor kontaknya, tentu saja dengan senang hati dia memberikan.


“Kalau hanya makan malam sekali, lalu kapan kalian bisa menikah?” jawab Nyonya Alea dengan tawa bahagia, membuat Tuan Teddy hanya bisa menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, lebih memilih untuk menatap langit-langit ruang keluarga daripada menatap mata Valen yang pastinya sudah melotot meminta pembelaannya sebagai ayah.


“Ya ampun, pasti akhir minggu aku akan kembali jadi korban,” gumam Riska dengan menepuk dahinya. Membuat ibunya menatapnya dengan heran karena Riska terlihat ikut-ikutan pusing seperti Valen. Bi’Inah langsung mengajak putri satu-satunya itu untuk ke paviliun mereka, tidak mau anaknya terlibat lagi.


Valen merasa percuma jika menolak dan membantah ibunya itu. Harapannya hanya satu, anak teman ibunya itu juga menolak dengan keras perjodohan ini. Valen akan lebih tertarik jika yang mengajaknya nonton adalah pria di restaurant tadi, pria bernama Chairil. Lihat saja malam ini, Valen masih terus terbayang-bayang wajah pria itu. Karel juga sama, dia terus mengingat wajah gadis bernama Valencia.


“Harusnya aku itu makan malamnya dan nontonnya dengan Valencia, bukan dengan anaknya teman Mommy itu. Hadeeuh, pusing aku,” desisnya sambil memeluk gulingnya dan menutup kepalanya dengan selimutnya.


***


Dua hari kemudian, akhir minggu akhirnya tiba. Dugaan Sigit tidak meleset sama sekali, Karel kembali memaksanya untuk menggantikan posisinya sebagai Karel untuk menemui gadis bernama Valen, jodoh dari ibunya. Sigit awalnya ingin menggeleng untuk menolak permintaan Karel.


“Kamu yakin akan menolak permintaanku?” Pertanyaan Karel yang cenderung mengancam. Karel juga menggoyangkan lembaran uang seratus ribuan di hadapan Sigit, membuat mata sopir pribadi itu mendadak hijau karena uang. Bukan untuk foya-foya, dia ingin membelikan sawah untuk neneknya di desa. Akhirnya, pilihan teraman dalam posisi ini adalah mengangguk tanda setuju.

__ADS_1


Sama halnya dengan Riska, Sigit  juga menghadapi masalah yang sama, permintaan Valen yang tidak bisa dia tolak.


“Kenapa lagi Riska harus ikut?” protes Nyonya Alea, memposisikan Riska serba salah di hadapan majikan ibunya itu. Kali ini Nyonya Alea terlihat agak cemberut.


__ADS_2