Jodoh 100 Persen

Jodoh 100 Persen
Make A Wish


__ADS_3

Riska kaget dengan permintaan Valen hingga suaranya meninggi secara spontan langsung membuat Valen ikut kaget dan meletakkan vertikal jari telunjuknya di depan bibir seksinya.


"Sssttt …, jangan berisik, nanti kamu merusak rencanaku. Oke,  namamu Riska. Daripada banyak kaget, mending kamu bantu aku. Tolong ambilkan handuk dari kamarku, aku mau mandi, badanku


sudah gerah dan lengket."


Riska mengangguk-angguk, hendak berjalan keluar dari kamarnya, tetapi kembali terhenti karena dipanggil Valen.


"Jangan bilang pada siapa pun kalau aku ada di sini. Aku akan mencekikmu jika sampai


ketahuan aku ada di sini."  Valen


sengaja membuat wajahnya garang dengan mata melotot dan menirukan adegan


mencekik orang.


Mata Riska spontan melebar, mulutnya ternganga dan kedua tangannya memegang lehernya


ketika mendengar ancaman Valen, bahkan mau menelan ludah pun dia seperti


ketakutan. Cepat-cepat dia menutup pintu kamar lalu bergegas masuk ke rumah


melalui dapur.


Valen tertawa terpingkal-pingkal begitu Riska sudah di luar kamar. Valen kemudian


duduk di salah satu kursi sofa mini yang ada di kamar itu sambil memijit-mijit


paha dan betisnya yang pegal karena berjongkok di dekat bonsai.


 Riska berjalan dengan ekspresi wajah datar sambil terus memegang lehernya. Di dapur sudah ada Pak Agus yang sedang adu mulut dengan Bi’Inah. Pak Agus sedang menolak dipaksa makan oleh Bi'Inah,


sementara ibunya Riska itu terus memaksa karena takut kalau Nyonya Alea marah.


Tinggallah Surti yang tetap saja bengong menonton dua orang tua itu.


"Bu, bisa aku ke kamar Kak Valen dan mengambilkan handuknya?" Riska bermohon


dengan wajah kaku dan tangan masih tetap memegang leher. Pak Agus, Bi'Inah dan


Surti bersamaan menatap Riska, mereka terbelalak mendengar permintaan Riska


yang menurut mereka sangat aneh.


Bi'Inah yang masih percaya dengan dunia-dunia takhyul langsung berlari mengambil sapu


lidi yang digantung di belakang pintu dapur lalu mengibas-ngibaskannya sambil


meracau membaca mantra. Surti terlihat tegang dan takut melihat Bi'Inah yang


penampakannya sudah seperti nenek sihir pembaca mantra yang bersiap mengubah


siapa yang ada di dekatnya menjadi kodok.


"Pergi, pergi, jangan gunakan Non Valen sebagai wujudmu untuk mengganggu rumah


ini." Bi'Inah memukul-mukulkan sapu lidi itu ke pojok-pojok ruangan dan


kursi-kursi kosong di dapur.


Pak Agus berdiri dari kursinya lalu menepuk jidat Bi'Inah hingga wanita tua itu


terkejut, kepalanya mendongak ke atas dan kakinya mundur dua hingga tiga


langkah ke belakang.


"Kamu itu sudah seperti dukun tidak waras," tegur Pak Agus dengan kesal sambil


merebut sapu lidi dari tangan Bi'Inah hingga Bi'Inah bengong menatap Pak Agus,


sedangkan Riska dan Surti tertawa terpingkal-pingkal.


Pak Agus lalu menarik Riska ke belakang dapur untuk bertanya, "Non Valen, di

__ADS_1


mana sekarang?"


Riska terkejut, hampir keceplosan, tetapi kemudian teringat ancaman Valen.


Riska menggeleng dengan cepat sebagai jawaban tidak tahu.


"Sudah, kamu tidak usah bohong pada saya, saya sudah tahu." Pak Agus terlihat


serius hingga Riska menjadi percaya dan menunjuk ke arah kamarnya tanpa


mengeluarkan suara.


Pak Agus langsung bernafas lega karena akhirnya yakin jika dia tadi tidak


berhalusinasi. Tadi, Pak Agus sempat sedikit percaya dan meragukan dirinya


ketika Nyonya Alea menyebutnya berhalusinasi.


"Ya sudah, ambilkan saja yang disuruh Non Valen," perintah Pak Agus pada


Riska.


Pak Agus kembali ke pos di depan rumah dan Riska masuk kembali ke dapur. Pak Agus


tidak peduli lagi dengan makanan yang tadi dipaksakan padanya.


Hari semakin gelap, pukul enam sore tepatnya. Valen sudah masuk ke kamarnya dengan


bantuan Riska yang mengalihkan perhatian Surti dan Bi'Inah.


Valen tinggal menunggu aba-aba dari Riska lalu dia akan segera keluar memberikan


kejutannya untuk ibu tersayangnya.


Tamu undangan yang sebagian besar adalah ibu-ibu sosialita, teman Nyonya Alea,


ditambah dengan teman-teman sekolahnya dulu sudah mulai berdatangan. Pak Agus


dan Pak Manto mulai kewalahan mengatur parkiran di halaman rumah karena mobil


depan pagar rumah.


Untung tadi mobil catering sudah keluar dari halaman rumah, kalau belum, maka mereka


akan semakin kesulitan untuk keluar. Sebuah mobil sport berwarna merah maroon,


dikendarai seorang pria muda yang ke sana dalam rangka mengantar ibunya yang


akan memenuhi undangan sahabat lamanya yang ulang tahun.


Karel mendekatkan mobilnya ke pos security karena tidak bisa masuk lagi. Nyonya


Sophia, ibunya, terus saja mengomel karena terlalu lama menunggu Karel


siap-siap.


"Ohmaygat, Mam, yang penting 'kan sudah menghadiri, lagian teman Mama itu tidak akan


mengusir Mama hanya karena terlambat beberapa menit." Karel mengomentari


omelan ibunya dengan santai.


"Kamu memang harus segera menikah agar tidak jadi cuek begini," gerutu Nyonya Sophia.


"Ampun deh, Mam. Apa-apa dikaitkan dengan menikah," protes Karel dengan kesal.


Nyonya Sophia turun dari mobil dengan kesal karena masih harus berjalan beberapa meter


untuk sampai di rumah teman lamanya itu.


Pesta sudah dimulai, MC acara yang disewa sudah memberikan kalimat-kalimat pengantar


acara. Nyonya Alea dan Tuan Teddy yang mengenakan setelah batik sarimbit

__ADS_1


besutan perancang batik sutra dari Solo, terlihat serasi dan sangat elegan


dengan setelan itu.


Tuan Teddy akan memberikan sambutan untuk tamu undangan. Tuan Teddy memulai dengan


mengucapkan terima kasih atas kehadiran tamu undangan, kemudian ucapan selamat


ulang tahun yang spesial untuk Nyonya Alea, istri tercintanya.


Riuh tepuk tangan tamu undangan menggema di ruangan itu. Di saat itu, Valen masuk


dengan membawa tart yang sudah diberi lilin berangka lima puluh lima. Valen


yang memang bersuara emas, masuk dengan tersenyum manis sambil menyanyikan lagu


Happy Birthday.


Nyonya Alea dan Tuan Teddy terkejut bukan main karena surprise Valen. Valen berhasil


membuat ibunya sangat terharu hingga meneteskan airmata meski sambil tetap


tertawa bahagia.


Riska yang mengintip dari pintu yang antara ruang tengah dan ruang makan ikut


terrenyuh melihat moment mengharukan itu. Setidaknya dia sudah berperan penting


di acara mengharukan ini. Surti seperti biasa, melongo tanpa bisa bicara karena


kaget, sementara Bi'Inah malah semaput karena kaget melihat Valen benaran ada


di acara itu. Bi'Inah membuat kehebohan di dapur, hingga petugas catering juga


ikutan panik, untung tanpa mengganggu acara yang sedang berlangsung di depan


hingga akhirnya kondisi di dapur kembali normal. Rupanya Bi’Inah masih terbawa


dengan takhyul.


"Make a wish dulu, Mam," ucap Valen ketika Nyonya Alea dan Tuan Teddy terlihat


akan segera meniup lilinnya.


Make a wish dipanjatkan, lilin sudah ditiup, riuh tepuk tangan kembali menggema,


menambah kemeriahan acara makan malam itu. Nyonya Alea dan Tuan Teddy memeluk


Valen, mereka bertiga berpelukan melepas rindu setelah hampir satu tahun tidak


bertemu.


Tiba-tiba Nyonya Alea meminta waktu kepada MC untuk berbicara. Semua perhatian tertuju


pada Nyonya Alea. Nyonya Alea memulai dengan memperkenalkan putri semata


wayangnya, Valentina Ekaputri yang kuliah dan sekarang bekerja di Australia.


Eskpresi para tamu undangan banyak yang terlihat memandang Valen dengan tatapan kagum.


Valen yang cantik, manis, cerdas dan mandiri, sayangnya masih belum menikah di


usianya yang memasuki dua puluh sembilan tahun.


"Kami sebagai orangtua, tentu ingin segera menimang cucu," ungkap Nyonya Alea


dengan wajah bersemu merah, sementara Tuan Teddy tersenyum datar berkesan


dipaksa karena melihat ekspresi wajah Valen yang terlihat masam.


"Kami sedang mencari calon suami untuk putri semata wayang kami ini. Tadi make a wish


nya itu." Nyonya Alea mengungkapkan pengakuan dan keinginan dengan

__ADS_1


polosnya.


"Heeeh, Mam??"


__ADS_2