
Riska kaget dengan permintaan Valen hingga suaranya meninggi secara spontan langsung membuat Valen ikut kaget dan meletakkan vertikal jari telunjuknya di depan bibir seksinya.
"Sssttt …, jangan berisik, nanti kamu merusak rencanaku. Oke, namamu Riska. Daripada banyak kaget, mending kamu bantu aku. Tolong ambilkan handuk dari kamarku, aku mau mandi, badanku
sudah gerah dan lengket."
Riska mengangguk-angguk, hendak berjalan keluar dari kamarnya, tetapi kembali terhenti karena dipanggil Valen.
"Jangan bilang pada siapa pun kalau aku ada di sini. Aku akan mencekikmu jika sampai
ketahuan aku ada di sini." Valen
sengaja membuat wajahnya garang dengan mata melotot dan menirukan adegan
mencekik orang.
Mata Riska spontan melebar, mulutnya ternganga dan kedua tangannya memegang lehernya
ketika mendengar ancaman Valen, bahkan mau menelan ludah pun dia seperti
ketakutan. Cepat-cepat dia menutup pintu kamar lalu bergegas masuk ke rumah
melalui dapur.
Valen tertawa terpingkal-pingkal begitu Riska sudah di luar kamar. Valen kemudian
duduk di salah satu kursi sofa mini yang ada di kamar itu sambil memijit-mijit
paha dan betisnya yang pegal karena berjongkok di dekat bonsai.
Riska berjalan dengan ekspresi wajah datar sambil terus memegang lehernya. Di dapur sudah ada Pak Agus yang sedang adu mulut dengan Bi’Inah. Pak Agus sedang menolak dipaksa makan oleh Bi'Inah,
sementara ibunya Riska itu terus memaksa karena takut kalau Nyonya Alea marah.
Tinggallah Surti yang tetap saja bengong menonton dua orang tua itu.
"Bu, bisa aku ke kamar Kak Valen dan mengambilkan handuknya?" Riska bermohon
dengan wajah kaku dan tangan masih tetap memegang leher. Pak Agus, Bi'Inah dan
Surti bersamaan menatap Riska, mereka terbelalak mendengar permintaan Riska
yang menurut mereka sangat aneh.
Bi'Inah yang masih percaya dengan dunia-dunia takhyul langsung berlari mengambil sapu
lidi yang digantung di belakang pintu dapur lalu mengibas-ngibaskannya sambil
meracau membaca mantra. Surti terlihat tegang dan takut melihat Bi'Inah yang
penampakannya sudah seperti nenek sihir pembaca mantra yang bersiap mengubah
siapa yang ada di dekatnya menjadi kodok.
"Pergi, pergi, jangan gunakan Non Valen sebagai wujudmu untuk mengganggu rumah
ini." Bi'Inah memukul-mukulkan sapu lidi itu ke pojok-pojok ruangan dan
kursi-kursi kosong di dapur.
Pak Agus berdiri dari kursinya lalu menepuk jidat Bi'Inah hingga wanita tua itu
terkejut, kepalanya mendongak ke atas dan kakinya mundur dua hingga tiga
langkah ke belakang.
"Kamu itu sudah seperti dukun tidak waras," tegur Pak Agus dengan kesal sambil
merebut sapu lidi dari tangan Bi'Inah hingga Bi'Inah bengong menatap Pak Agus,
sedangkan Riska dan Surti tertawa terpingkal-pingkal.
Pak Agus lalu menarik Riska ke belakang dapur untuk bertanya, "Non Valen, di
__ADS_1
mana sekarang?"
Riska terkejut, hampir keceplosan, tetapi kemudian teringat ancaman Valen.
Riska menggeleng dengan cepat sebagai jawaban tidak tahu.
"Sudah, kamu tidak usah bohong pada saya, saya sudah tahu." Pak Agus terlihat
serius hingga Riska menjadi percaya dan menunjuk ke arah kamarnya tanpa
mengeluarkan suara.
Pak Agus langsung bernafas lega karena akhirnya yakin jika dia tadi tidak
berhalusinasi. Tadi, Pak Agus sempat sedikit percaya dan meragukan dirinya
ketika Nyonya Alea menyebutnya berhalusinasi.
"Ya sudah, ambilkan saja yang disuruh Non Valen," perintah Pak Agus pada
Riska.
Pak Agus kembali ke pos di depan rumah dan Riska masuk kembali ke dapur. Pak Agus
tidak peduli lagi dengan makanan yang tadi dipaksakan padanya.
Hari semakin gelap, pukul enam sore tepatnya. Valen sudah masuk ke kamarnya dengan
bantuan Riska yang mengalihkan perhatian Surti dan Bi'Inah.
Valen tinggal menunggu aba-aba dari Riska lalu dia akan segera keluar memberikan
kejutannya untuk ibu tersayangnya.
Tamu undangan yang sebagian besar adalah ibu-ibu sosialita, teman Nyonya Alea,
ditambah dengan teman-teman sekolahnya dulu sudah mulai berdatangan. Pak Agus
dan Pak Manto mulai kewalahan mengatur parkiran di halaman rumah karena mobil
depan pagar rumah.
Untung tadi mobil catering sudah keluar dari halaman rumah, kalau belum, maka mereka
akan semakin kesulitan untuk keluar. Sebuah mobil sport berwarna merah maroon,
dikendarai seorang pria muda yang ke sana dalam rangka mengantar ibunya yang
akan memenuhi undangan sahabat lamanya yang ulang tahun.
Karel mendekatkan mobilnya ke pos security karena tidak bisa masuk lagi. Nyonya
Sophia, ibunya, terus saja mengomel karena terlalu lama menunggu Karel
siap-siap.
"Ohmaygat, Mam, yang penting 'kan sudah menghadiri, lagian teman Mama itu tidak akan
mengusir Mama hanya karena terlambat beberapa menit." Karel mengomentari
omelan ibunya dengan santai.
"Kamu memang harus segera menikah agar tidak jadi cuek begini," gerutu Nyonya Sophia.
"Ampun deh, Mam. Apa-apa dikaitkan dengan menikah," protes Karel dengan kesal.
Nyonya Sophia turun dari mobil dengan kesal karena masih harus berjalan beberapa meter
untuk sampai di rumah teman lamanya itu.
Pesta sudah dimulai, MC acara yang disewa sudah memberikan kalimat-kalimat pengantar
acara. Nyonya Alea dan Tuan Teddy yang mengenakan setelah batik sarimbit
__ADS_1
besutan perancang batik sutra dari Solo, terlihat serasi dan sangat elegan
dengan setelan itu.
Tuan Teddy akan memberikan sambutan untuk tamu undangan. Tuan Teddy memulai dengan
mengucapkan terima kasih atas kehadiran tamu undangan, kemudian ucapan selamat
ulang tahun yang spesial untuk Nyonya Alea, istri tercintanya.
Riuh tepuk tangan tamu undangan menggema di ruangan itu. Di saat itu, Valen masuk
dengan membawa tart yang sudah diberi lilin berangka lima puluh lima. Valen
yang memang bersuara emas, masuk dengan tersenyum manis sambil menyanyikan lagu
Happy Birthday.
Nyonya Alea dan Tuan Teddy terkejut bukan main karena surprise Valen. Valen berhasil
membuat ibunya sangat terharu hingga meneteskan airmata meski sambil tetap
tertawa bahagia.
Riska yang mengintip dari pintu yang antara ruang tengah dan ruang makan ikut
terrenyuh melihat moment mengharukan itu. Setidaknya dia sudah berperan penting
di acara mengharukan ini. Surti seperti biasa, melongo tanpa bisa bicara karena
kaget, sementara Bi'Inah malah semaput karena kaget melihat Valen benaran ada
di acara itu. Bi'Inah membuat kehebohan di dapur, hingga petugas catering juga
ikutan panik, untung tanpa mengganggu acara yang sedang berlangsung di depan
hingga akhirnya kondisi di dapur kembali normal. Rupanya Bi’Inah masih terbawa
dengan takhyul.
"Make a wish dulu, Mam," ucap Valen ketika Nyonya Alea dan Tuan Teddy terlihat
akan segera meniup lilinnya.
Make a wish dipanjatkan, lilin sudah ditiup, riuh tepuk tangan kembali menggema,
menambah kemeriahan acara makan malam itu. Nyonya Alea dan Tuan Teddy memeluk
Valen, mereka bertiga berpelukan melepas rindu setelah hampir satu tahun tidak
bertemu.
Tiba-tiba Nyonya Alea meminta waktu kepada MC untuk berbicara. Semua perhatian tertuju
pada Nyonya Alea. Nyonya Alea memulai dengan memperkenalkan putri semata
wayangnya, Valentina Ekaputri yang kuliah dan sekarang bekerja di Australia.
Eskpresi para tamu undangan banyak yang terlihat memandang Valen dengan tatapan kagum.
Valen yang cantik, manis, cerdas dan mandiri, sayangnya masih belum menikah di
usianya yang memasuki dua puluh sembilan tahun.
"Kami sebagai orangtua, tentu ingin segera menimang cucu," ungkap Nyonya Alea
dengan wajah bersemu merah, sementara Tuan Teddy tersenyum datar berkesan
dipaksa karena melihat ekspresi wajah Valen yang terlihat masam.
"Kami sedang mencari calon suami untuk putri semata wayang kami ini. Tadi make a wish
nya itu." Nyonya Alea mengungkapkan pengakuan dan keinginan dengan
__ADS_1
polosnya.
"Heeeh, Mam??"