
“Mama ‘kan tahu apa tugas Riska jika ikut denganku?” Valen tidak menjelaskan panjang lebar untuk membuat Riska bisa ikut dengannya. Meski dengan wajah cemberut, akhirnya Nyonya Alea tidak punya pilihan lain selain mengijinkan Valen membawa Riska juga.
Sampai di parkiran, Riska langsung disuruh Valen untuk berjalan duluan. Dia sudah menjelaskan pada Riska untuk langsung menuju studio tempat menonton sesuai dengan yang perintah ibunya. Karel dan Sigit juga sama, Karel menyuruh Sigit untuk jalan duluan menuju studio. Dia pun sudah menyerahkan tiket yang harusnya dipakainya bersama Valen kepada Sigit.
Sigit dan Riska kembali dalam sandiwara, bertingkah sebagai Karel dan Valen. Hitung-hitung, lumayan juga bisa berpura-pura menjadi orang kaya. Mungkin hanya itu hiburan untuk Riska dan Sigit. Kelas VVIP sesuai tiket yang diberikan Karel kepada Sigit, membuat Sigit dan Riska bisa mengambil paket pop corn jumbo. Riska sangat ingin makan itu, tetapi ibunya tidak pernah bisa membelikan untuknya. Pop corn yang dibelikan untuknya selalu hanya yang dijual di pasar dan rasanya pas-pasan.
Pertemuan kedua ini, membuat Riska dan Sigit jadi lebih santai, meski itu memang perlu kerja keras, membuang rasa cemas dan rasa khawatir jika sampai ketahuan. Mereka berdua masuk ke studio dengan pop corn dan minuman di tangan Sigit, Riska jadi sering tersenyum ketika mereka mendapat tempat yang mewah menurut ukuran mereka. Menonton bisa dengan santai, daripada stres maka Sigit maupun Riska diam-diam mencoba untuk menikmati saja. Kapan lagi bisa menikmati fasilitas seperti ini.
Karel dan Valen yang kemudian kembali bertemu, tidak bisa menyembunyikan rasa meletup-letup di dada mereka masing-masing. Rasa kagum mulai naik kelas menjadi rasa suka cenderung cinta. Untuk menyamakan kondisi, Karel dan Valen juga membeli tiket di studio yang sama dengan Sigit dan Riska.
Nyonya Alea dan Nyonya Sophia yang ternyata juga ke studio untuk memantau Karel dan Valen, langsung tertawa senang ketika melihat Karel dan Valen terlihat semakin dekat dan nampak menikmati kebersamaan mereka.
Saat Karel dan Valen menonton, Nyonya Alea dan Nyonya Sophia memilih untuk makan malam dengan suami mereka di salah satu restoran yang ada di dalam mall itu.
Jadilah orangtua Karel dan orangtua Valen seperti dua pasangan yang sedang double dating. Selesai makan malam, mereka langsung memilih untuk pulang, khawatir jika Karel dan Valen sampai tahu jika orangtua mereka ikut memantau mereka, bisa-bisa mereka malah akan menjadikan ini alasan untuk menolak perjodohan.
Suasana di dalam studio ..
“Kamu rupanya suka menonton?” tebak Karel yang bertanya dengan berbisik, membuat dia dan Valen semakin dekat. Valen hanya mengangguk kemudian kembali serius menonton film yang sedang ditontonnya.
Tangan Karel kemudian menggenggam tangan Valen, membuat Valen menegang. Konsentrasinya pada film langsung buyar, dadanya berdegup kencang, memasrahkan tangannya dalam genggaman Karel.
Karel yang merasa mendapatkan lampu hijau dari Valen, tetap menggenggam tangan gadis itu. Meski tanpa kata-kata, tetapi mereka sudah sama-sama tahu apa artinya itu. Valen malah membalas eratnya genggaman tangan Karel.
__ADS_1
Mereka berdua merasa usia mereka bukan lagi anak usia belasan yang masih harus menggunakan kalimat-kalimat resmi untuk memulai suatu hubungan. Mereka yang sudah sama-sama dewasa, sudah saling paham jika mulai saat ini hubungan mereka bukan lagi sekedar teman. Mungkin terlalu cepat, tetapi itulah semesta jika sudah mempertemukan dua hati.
Sigit dan Riska juga mengalami hal yang sama, mereka pun sedang dimabuk asmara hingga film selesai. Masih dengan sembunyi-sembunyi dan belum saling tahu, mereka berempat meninggalkan studio.
Riska kembali ke mobil Valen, sementara Sigit ke mobil Karel. Wajah mereka berempat sama-sama berseri, tidak seperti saat pertemuan pertama. Sepanjang jalan pulang, mereka masing-masing dengan kebahagiaan dan pemikiran sendiri sehingga tidak ada pembicaraan berarti di antara mereka.
Pagi hari kembali menyapa, Valen yang mulai berkantor di perusahan ayahnya mengawali harinya dengan sarapan. Nyonya Alea yang juga bahagia karena perjodohan yang nyaris mencapai target, langsung menyambut Valen di meja makan.
“Bagaimana acara menontonnya tadi malam?” tanya Nyonya Alea dengan antusias.
“Lumayan membosankan, untung masih bisa makan pop corn,” jawab Valen asal. Dia menjawab hanya berdasar apa yang diamatinya dari Riska yang kursinya berada sekitar enam baris di depannya.
Nyonya Alea hanya tersenyum-senyum senang dengan laporan Valen. Valen sekarang hanya memikirkan pria bernama Chairil, mereka janjian untuk makan siang bersama siang ini.
“Tadi Valen cerita jika acara nontonnya dengan Karel memang masih sedikit membosankan, tetapi mereka bisa menikmati waktu berdua dengan makan pop corn,” urai Nyonya Alea dengan bangga. Merasa ada perubahan ke arah positif cerita Valen.
“Haaah, makan pop corn? Tidak mungkin.” Nyonya Sophia terkejut dengan cerita sahabatnya itu.
“Ada apa rupanya?” tanya Nyonya Alea yang juga bingung.
“Karel itu alergi jagung, Alea. Jadi ….”
"Jadi, apa, Phia?"
__ADS_1
"Ada yang tidak beres. Harus kita selidiki, nanti kita jadwalkan ketemuan ya Alea."
Nyonya Alea langsung mengiyakan ajakan sahabatnya itu lalu sambungan telepon berakhir. Menyisakan suasana hati yang gelisah.
Melihat suasana hati majikan mereka yang sepertinya sedang tidak baik, Bi’Inah memberi titah kepada Surti dan Riska untuk tidak membuat kesalahan hingga suasana hati Nyonya Alea kembali pulih.
“Khususnya kamu, Riska. Jangan macam-macam seperti cerita ngawurmu tadi malam. Ibu akan membawamu pulang ke desa jika sulit diberi tahu. Mengerti?” ancam Bi’Inah dengan sorot mata tajam pada Riska, putrinya.
“Hubungannya apa, Bu, antara suasana hati Nyonya Alea pagi ini dengan ceritaku tadi malam?” protes Riska pada ibunya. Ternyata Bi’Inah masih trauma dengan cerita Riska semalam itu. Bi’Inah terlalu takut jika Riska kembali bicara ngawur sehingga membangkitkan kemarahan Nyonya Alea lalu dia akan dipecat.
Flashback cerita Bi’Inah dan Riska semalam.
“Bu, sebentar lagi anak Ibu ini akan dinikahi pria kaya raya. Jadi, Ibu tidak perlu lagi capek kerja di rumah Nyonya Alea dan Tuan Teddy ini. Riska akan membuatkan Ibu rumah yang besar dan mewah.” Demikian celoteh Riska tadi malam, sebelum mereka berdua tertidur.
“Ris, jadi orang itu jangan terlalu muluk-muluk. Pria kaya mana yang akan datang menikahimu? Pria berkuda seperti film cinderela itu? Sudah, hentikan omong kosongnya, kita tidur!” hardik Bi’Inah ketika Riska bercerita tadi malam. Riska cemberut karena ceritanya tidak dipercaya ibunya.
“Riska tidak bohong, Bu. Ibu tunggu saja, calon suami Riska akan datang melamar. Soalnya orangtuanya itu ingin anaknya segera menikah,” ujar Riska masih berusaha menyakinkan ibunya.
“Ya Gusti, salahku dan suamiku apa hingga anak kami harus seperti ini? Istighfar, Riska. Ibu paham kamu dari kecil harus melihat miskinnya Ibu dan Ayah, tetapi tidak harus kamu jadi mengkhayal terlalu tinggi seperti ini.” Bi’Inah menegur Riska sambil menangis dan mengusap-usap wajah Riska.
Riska malah bingung dengan Ibunya, “Lha Ibu kenapa? Aku bercerita yang serius, Bu,” protes Riska. Bukannya percaya, Bi’Inah malah semakin keras menangis. Membuat Riska panik karena Surti dan Pak Agus di paviliun bisa bangun dan heboh karena ibunya menangis.
“Bu, ada apa? Kenapa menangis, Bu? Ibu nakutin Riska.”
__ADS_1
Pernyataan Riska membuat Bi’Inah menatap putrinya itu tajam dengan wajah sendu, entah apa yang ada di pikiran wanita tua itu.