Jodoh 100 Persen

Jodoh 100 Persen
Riska dan Sigit


__ADS_3

“Maafkan aku, Phia,” ucap Nyonya Alea lirih karena malu dengan foto yang dikirimkan Valen.


Nyonya Sophia kemudian tertawa senang karena melihat foto itu ada tangan Karel, “Ini Karel, Alea. Ini jam tangan hadiah dariku dan Peter saat dia ulang tahun dua tahun yang lalu.”


“Serius, Phia? Kamu tidak sedang bercanda ‘kan?” tanya Nyonya Alea sumringah. Akhirnya dia bisa dengan berani mengangkat wajahnya yang tadinya ditekuk karena malu.


Nyonya Sophia dan Nyonya Alea kemudian saling berpelukan dengan senang, membuat pengunjung café juga spontan menatap ke arah mereka berdua. Sementara pelayan café tertawa dengan menutup mulut mereka, khawatir jika diprotes dua pelanggan setia mereka itu.


“Sekarang giliranku, Alea. Aku tadi sudah meminta bukti dari Karel, tetapi bocah itu masih belum mengirimkan buktinya,” sungut Nyonya Sophia dengan wajah cemberut dan menghadap layar ponselnya.


“Karel, mana bukti darimu? Kamu makan malam dengan Valen, tidak?” Pesan chat yang dikirimkan Nyonya Sophia dikirimkan bersamaan dengan emoticon marah yang berentetetan, membuat Karel semakin frustasi.


“Ada apa, Ril?” tanya Valen yang melihat Karel sepertinya sedang kalut sehingga rambut bagian belakangnya terus ditariknya, lalu layar ponselnya juga ditatap Karel terus.


Karel tertawa kecil sambil menatap Valen dengan ekspresi yang dibuat untuk menutupi rasa kesal sekaligus kebingungannya, “Diih, si Mommy, apa lagi pakai acara kirimin bukti segala. Menyebalkan,” batin Karel.


Saat Valen sedang mengaduk-aduk minumannya dengan stir di gelasnya, Karel dengan cepat mengambil gambar Valen. Sama seperti Valen tadi, Karel juga hanya mengambil gambar tangan Valen. Karel lalu segera mengirimkan kepada Nyonya Sophia.


“Ya ampun, anak-anak ini, kenapa tidak mau mengirimkan wajah mereka? Tadi Valen hanya mengirimkan gambar tangan Karel, sekarang Karel juga begitu. Ada apa sih dengan anak zaman sekarang?” Nyonya Sophia mengomel dengan meletakkan ponselnya dengan kasar di atas meja makan.

__ADS_1


Nyonya Alea ikut tertawa melihat tingkah dan ekspresi sahabatnya itu, “Sudah, Phia, tidak perlu terlalu dipikirkan, yang penting mereka mau makan malam bersama dan kita bisa segera jadi besan,” hibur Nyonya Alea sambil menepuk-nepuk punggung tangan sahabatnya itu.


“Bagaimana tidak kesal, Alea. Mereka mengirimkan foto seperti itu.” Nyonya Sophia sepertinya belum puas jika belum mengomel. Nyonya Alea meraih ponsel Nyonya Sophia lalu melihat foto yang dikirimkan Karel. Melihat cincin yang melingkar indah di jari Valen, dia kemudian tertawa sambil mengipasi badannya dengan kipas yang terus ada di tangannya.


“Lihat, ini tangan Valen. Dia mengenakan cincin bermata berlian yang kami hadiahkan padanya saat dia wisuda tahun kemarin. Ya ampun, putriku, jari tangannya saja sudah terlihat manis.” Nyonya Alea memuji anaknya sendiri.


“Nanti cucu kita pasti akan sangat cantik seperti Mommynya atau kalau tidak, dia ganteng seperti Daddynya. Atau kalau perlu mereka akan segera punya anak kembar,” celoteh Nyonya Sophia yang disambut dengan tawa riang Nyonya Alea.


“Dan kita akan jadi Eyang super sibuk karena harus bergiliran menjaga cucu-cucu kita.” Mereka kemudian tertawa terbahak-bahak, membuat seisi café kembali kembali memusatkan pandangan mereka ke meja Nyonya Sophia dan Nyonya Alea. Untungnya tidak ada yang mengajukan protes, mengingat yang mengunjungi café malam itu para anak muda yang melihat Nyonya Alea dan Nyonya Sophia sudah seperti ibu mereka atau nenek mereka.


Sementara Nyonya Sophia dan Nyonya Alea sedang gembira, Karel dan Valen juga sepertinya cukup menikmati kebersamaan mereka, Sigit dan Riska sedang pusing tujuh keliling.


“Ibu, tolong selamatkan Riska dari meja ini. Riska sudah sangat tersiksa,” keluh Riska yang dalam hatinya terus memanggil Bi’Inah, ibunya. Sigit maupun Riska menjadi dua sejoli yang sedang sangat tersiksa gara-gara Valen dan Karel.


Wajah Riska maupun Sigit tinggal dipaksa-paksa mereka untuk tersenyum meski wajah mereka sudah sama-sama memerah karena menahan perut mulas dan perut mual. Riska dan Sigit juga sama-sama bingung bagaimana caranya mengakhiri pertemuan makan malam ini.


“Maaf, Karel. Apakah kamu baik-baik saja?” Riska yang melihat wajah Sigit sudah sangat memerah, sepertinya sedang menahan sakit, memberanikan diri untuk bertanya.


Sigit hanya menggeleng, tidak berani mengeluarkan suara. Ternyata dia sedang menahan rasa buang angin yang sepertinya jika dia bergerak sedikit saja maka aroma menyengat dari dalam tubuhnya akan merebak ke seluruh penjuru restoran ini. Di saat-saat tersiksa seperti itu, Sigit masih saja terbayang wajah neneknya di kampung yang tidak ingin dikecewakannya.

__ADS_1


Riska juga yang kekenyangan dan makanannya terasa sudah ada di ujung lehernya, bergegas untuk pamit ke toilet, Riska sudah tidak tahan. Sigit juga hanya mengangguk dan memang sangat berharap gadis di depannya itu untuk enyah dulu dari hadapannya dan dia akan mengeluarkan angin yang tertahan di perutnya.


Langkah dipercepat Riska meski sepatu yang dikenakannya tidak jarang membuat dia harus terseok-seok dan berpegangan di sandaran kursi sepanjang arah ke toilet. Telapak tangan satunya dipakai untuk menutup mulutnya, para pelayan restaurant nampak langsung paham jika Riska sedang mencari toilet. Oleh karena itu, mereka pun dengan sigap menunjukkan arah toilet.


Riska yang sedang ke toilet membuat Sigit tidak ingin membuang waktu, dia segera berjalan ke arah taman samping restaurant untuk membuang angin yang sudah sangat menyiksa perutnya, sekalian menghubungi Karel, majikannya.


Karel kaget ketika Sigit menghubunginya dengan nada suara memelas untuk segera mengakhiri sandiwara malam ini, dia sudah tidak tahan dalam kondisi yang penuh kecemasan. Sejujurnya Karel sudah lupa jika malam ini dia menerjunkan Sigit untuk menggantikan posisinya untuk bertemu dengan Valen. Karel yang sudah keasikan dengan Valen yang sebenarnya, rasanya masih belum bersedia untuk mengakhiri pertemuannya dengan Valen.


[“Bagaimana, Pak? Apakah pertemuan ini belum bisa diakhiri?”] Rasanya Sigit ingin menangis, wajahnya meringis, mungkin bisa membuat Karel juga ikut menangis jika mendengar penuturannya langsung berhadap-hadapan.


Karel meminta ijin pada Valen dengan menunjuk ponselnya lalu berjalan menjauh dari meja mereka. Sementara Valen juga langsung mengambil kesempatan untuk menghubungi Riska. Riska sampai terharu ketika dihubungi Valen.


“Ya Tuhan, Kak, aku hampir saja pingsan karena menahan mual. Acara makan malamnya sampai jam berapa, Kak?” Riska yang masih berusia belasan, sudah hampir pecah tangisnya saat bertanya dengan gaya mengadu pada Valen di ponselnya.


“Oke, oke. Kita akhiri makan malamnya. Kamu bilang pada Karel itu jika kerjaanmu di rumah masih banyak,” titah Valen yang kasihan mendengar suara Riska. Riska pun langsung menarik napas lega, memperbaiki gaunnya, lalu berjalan kembali ke meja yang didudukinya bersama Sigit. Sigit juga sudah ada duduk kembali di sana.


Karel dan Valen yang sesungguhnya masih belum ingin berpisah, terpaksa harus saling berpamitan. Valen dengan cepat bergegas menuju mobilnya, kemudian Riska juga sesaat kemudian masuk ke dalam mobilnya dengan napas terengah-engah. Gadis kecil itu langsung menyandarkan tubuhnya ke sandaran jok mobil, seperti orang yang baru saja dibebaskan dari sekapan penculik.


Valen merasa kasihan juga melihat Riska, tetapi dia juga jadi kepikiran dengan Karel, pria yang mengaku namanya sebagai Chairil.

__ADS_1


“Jangan-jangan dia jodohku?”


__ADS_2