Jodoh 100 Persen

Jodoh 100 Persen
Curiga


__ADS_3

"Sebentar dulu, jangan ke mana-mana dulu, ada yang harus aku sampaikan dan kamu harus membantuku melakukannya. Aku tidak mungkin melakukannya sendiri," beber Karel dengan tatapan serius, semakin membuat kecemasan Sigit menumpuk banyak.


Karel berdiri dari kursinya dan mendekati Sigit. Karel berjalan mengitari Sigit dengan tatapan lekat. Bulu kuduk Sigit menegang setiap kali Karel menyentuh tubuhnya. Salah satu sentuhan yang membuat Sigit bergidik adalah ketika Karel menegakkan bahunya.


"Boleh juga kalau dia yang akan gantikan aku makan malam dengan gadis bernama Valen itu," pikir Karel dengan tersenyum datar begitu mengamati badan Sigit yang lumayan bermassa otot, terlihat maskulin. Senyum Karel yang dirasa Sigit memberi sensasi horor di tubuhnya.


Aku tinggal bawa dia ke salon, dibikin sedikit lebih kinclong biar jauh dari kesan sopir, diberi pakaian yang bagus. Bahasa Inggrisnya sudah lumayan satu-satu kata dia paham, buktinya dia bisa jawab meski aku memerintahnya dengan bahasa Inggris. Hanya sesekali saja dia salah pengertian," gumam Karel yang menyandar di meja kerjanya dengan tatapan tetap ke tubuh Sigit.


"Ya Allah, tolong berikan Pak Karel pencerahan darimu untuk niatnya yang tidak terpuji. Engkau tidak menginginkan umatmu jadi jahat dengan menjadi penyuka sesama jenis. Sadarkan Pak Karel, ya Allah. Melalui tangannya ada rejekiku dan nenek dariMu. Amin Amin." Sigit terus berdoa di dalam hatinya.


"Sigit, apa ac nya kurang dingin? Kenapa kamu berkeringat begitu, nanti menurunkan penampilanmu," tegur Karel dengan mata melotot. Sigit terhenyak dengan teguran Karel.


"Saya jadi bingung, saya ada tugas apa, Pak?" Sigit tidak tahan lagi hingga harus bertanya, lagi-lagi nasibnya dan neneknya sedang dipertaruhkan.


"Besok malam, kamu gantikan aku untuk bertemu dengan Valen. Wanita yang dipilihkan Mommy untukku. Kamu tidak boleh melakukan kesalahan dan mulutmu harus dikunci rapat-rapat dari Mommy dan Daddy. Nanti ada tambahan bonus untukmu."


Mendengar kata tambahan bonus, mata Sigit langsung berbinar. Kepikiran dengan keinginan Neneknya untuk membeli sawah di belakang rumah mereka. Sekarang Nenek Sigit yang mengelola sawah itu dengan status buruh.  Demi keinginan Nenek, Sigit menerima pekerjaan itu.


Hari dan waktu pertemuan pun tiba. Valen sudah siap bersama Riska, sementara Karel dengan Sigit.


"Kenapa tidak berangkat sendiri, sih, Val?" tanya Nyonya Alea dengan tatapan heran.

__ADS_1


"Ehh, kita harus berjaga-jaga. Bagaimana kalau ternyata anaknya Tante Sophia itu genit dan nakal. Valen tidak ada saksi dan tidak ada yang belain." Alasan yang kesannya mengada-ada, tapi cukup masuk akal juga.


Riska menelan ludah dengan kecemasan tingkat tinggi, wajahnya dipaksa tersenyum oleh Valen yang menyikut lengannya. tadi di kamar dia juga sudah diinterogasi ibunya. Untung Valen sudah membekali dia dengan trik-trik beralasan dan berkelit. Bi'Inah percaya ketika nama majikan mudanya disebut.


Setelah pamitan dari Nyonya Alea, berangkatlah Valen dan Riska menuju Restaurant Royal, sesuai petunjuk. Valen turun duluan dan Riska mengekor di belakangnya.


“Ingat ya, jangan gugup! Nanti si Karel curiga.” Valen mengingatkan Riska sementara mereka berjalan semakin dekat ke lobby restoran. Riska mengangguk meski Valen tidak bisa melihat anggukannya.


"Meja pesanan atas nama Tuan Karel?" Valen bertanya pada pelayan resto setelah tadi dia menggunakan jasa valet parking. Riska ternganga melihat mewahnya restaurant itu. Bisa jadi ibunya harus bekerja bertahun-tahun tanpa makan untuk bisa sekali makan di restaurant itu.


"Ini mengesankan," celoteh Riska pelan.


"Itu dia pria yang namanya Karel. Kamu temui sana. Ingat,  jangan sampai ketahuan ya." Valen mewanti-wanti Riska yang mulai berjalan mendekati meja pria itu.


"Haduuh, aku kok ya gugup begini sih?" Riska menyatukan kedua tangannya seperti orang yang sedang berdoa.


"Lha, apa ini tidak salah meja?" kekhawatiran semakin intens menyerang Riska begitu dia sudah bisa menghirup aroma parfum yang datang dari pria yang disebut sebagai Karel.


Riska terkejut ketika menghadap ke belakangnya, Valen sudah tidak ada di sana. Setelah jaraknya semakin dekat, Riska malah bingung karena pria yang disebut Valen sebagai Karel, dari belakang tidak nampak seperti perawakan yang diberitahu Valen.


Harusnya kulit pria bernama Karel itu  putih, tapi yang ini tidak nampak ada putih-putihnya, sawo matang baru benar. Oleh karena itu, dia berpikir jangan-jangan mereka salah meja. Maksud hati mau bertanya pada Valen, tetapi majikannya itu sudah menghilang entah ke mana.

__ADS_1


“Mbak, apa benar itu mejanya Tuan Karel?” Riska akhirnya memberanikan diri untuk kembali bertanya pada pelayan restaurant yang bertugas di meja reservasi. Setelah kembali mendapatkan keyakinan bahwa meja itu tidak salah, barulah Riska memberanikan diri untuk semakin mendekat. Sementara di meja itu, Sigit sudah gelisah sekaligus gugup menanti gadis yang bernama Valen.


Sigit terkejut ketika seorang gadis mendekatinya, berdiri persis di hadapannya dengan memasang wajah senyum yang terlihat kaku dan sepertinya masih dipaksa oleh pemilik senyum itu. Dada Sigit bergemuruh hebat, doa-doa terus saja dipanjatkan Sigit agar mulutnya bisa terbuka dan suaranya bisa keluar.


Jangan sampai kejadian dengan Sitti dua tahun lalu terjadi lagi. Saat di mana mulut Sigit sulit sekali terbuka, seperti ada kawat yang menahannya, giliran sudah terbuka, malah suaranya yang menghilang entah ke mana. Akhir dari semua itu adalah Sigit ditinggal menikah, membuat dia trauma mendekati gadis, apalagi mengajaknya menikah.


“Hai, benar dengan Pak Karel?” Riska yang berdiri dengan high heels sembilan sentimeter hampir saja ambruk persis di depan Karel jika Riska tidak dengan sigap berpegangan di sandaran kursi. Rasa gugup membuat kakinya gemetar, sehingga keseimbangan tubuhnya nyaris tidak terjaga.


“Walaah, Mbak. Hati-hati toh yoo.” Spontan mulut Sigit terbuka, suaranya juga lumayan nyaring, membuat Sigit jadi rileks dan senang karena tidak terjadi seperti dengan Sitti.


Sigit yang senang, berbeda dengan Riska yang kemudian bingung dan heran ketika untuk pertama kalinya mendengar suara Sigit yang dikira Karel itu.


“Kenapa suaranya malah terdengar seperti orang-orang di kampungku? Kata Kak Valen, Ibunya Betawi, ayahnya Belanda, lalu dia lama sekolah di luar negeri. Kenapa cara bicaranya seperti itu?” gumam Riska dengan heran, tetapi tidak berani untuk bertanya secara langsung, hanya berani bertanya pada dirinya sendiri.


“Haduh, salah lagi. Kalau kaget aku malah kembali dengan cara bicaraku seperti biasa.” Sigit yang menyadari sudah melakukan kesalahan yang bisa membuat Riska yang disebutnya Valen tahu siapa dia sebenarnya, lalu tertawa terbahak-bahak sendiri untuk menutupi rasa gugupnya sambil menepuk-nepuk pahanya sendiri. Berusaha sendiri untuk membuat otot-otot tubuhnya rileks. Dia takut kalau ketahuan, nasib kelangsungan hidup nenek dan dirinya tergantung juga pada misi malam ini.


“Sit down, sit down.” Sigit yang sudah mendapatkan pengarahan dari Karel jika Valen juga adalah lulusan luar negeri, maka Sigit juga harus bisa berimprovisasi dengan bahasa Inggris untuk lebih meyakinkan gadis bernama Valen itu.


“Haah? Dia bilang apa?” Riska mendadak cemas karena tidak tahu apa yang dimaksud pria yang disebut Karel itu. Sepintas Riska mendengar kata-kata dalam bahasa asing, bahasa Inggris tepatnya, tetapi dia tidak mengerti. Wajah gadis itu berubah masam untuk menutupi rasa takut dan rasa malunya.


“Tahukah dia kalau aku Kak Valen palsu?” Riska jadi cemas.

__ADS_1


__ADS_2