
Suara bisik-bisik tamu undangan yang terdengar seperti bunyi gerombolan lebah yang sedang mengibaskan sayapnya, membuat Valen tersenyum dengan wajah memerah. Dia malu ketika ibunya seperti sedang menawarkannya di sebuah pasar barang lelang. Kalau tidak ingat usianya yang sudah bangkotan, pasti Valen sudah tantrum di depan ibunya sebagai bentuk protesnya.
"Astaga, Mam, kenapa sih harus pakai session khusus hanya untuk memberitahu bahwa aku
belum menikah? Atau sekalian saja beritahu bahwa keluarga kami bersedia membeli menantu."
Valen menggerutu dalam hatinya sambil merutuki dirinya yang harus jatuh cinta pada
Mike, pacar bule yang baru seminggu ini dia pacari. Saat empat tahun lalu Valen
ijin untuk sekolah ke Australia, Nyonya Alea sudah berpesan bahwa dia menutup
pendaftaran untuk menantu bule.
Konsekuensi harus ditanggung Valen jika dia sampai melanggarnya, uang kuliah dan bulanan akan dihentikan otomatis. Itulah yang membuat Valen tidak berani jatuh cinta dan membuat pria bule jatuh cinta. Valen
yang masih manja, baru saja lulus SMA, yakin tidak sanggup jika harus memenuhi
kebutuhan hidupnya sendiri, di luar negeri lagi.
Flashback on …
"Mama egois banget, masa iya aku tidak boleh pacaran dengan bule? Itu sama saja
dengan Mama kirim aku kuliah di Jogja tetapi tidak boleh menikah dengan orang
Jawa," protes Valen kala itu.
"Mama tidak mau tau, sekali tidak maka seterusnya tidak," tegas Nyonya Alea
dengan kesal.
"Mama tidak asik," protes Valen dengan bahu terkulai dan menyandar di sandaran
sofa hingga tubuhnya seperti membentuk dua garis dengan sudut seratus dua puluh
derajat.
"Mamamu ini memang tidak asik biar kamu tidak keasikan, lalu membuat Mama dan Papa
semakin tidak asik karena kamu diboyong bule ke negaranya. Mana anak Mama dan
Papa cuma kamu lagi."
"Mama dan Papa 'kan bisa bikin anak lagi, nambah satu, biar aku tidak harus dapat
persyaratan seperti ini." Nyonya Alea malah tertawa terkekeh-kekeh dengan jawaban Valen.
"Mama dan Papa nunggu cucu dari kamu aja ya. Papa dan Mama sudah lupa cara bikin adik
untukmu." Wajah Valen memerah, dia merasa geli melihat ibunya yang juga tersipu malu ketika
menjawab Valen, "Tua-tua masih ada malunya, kocak," desis Valen
dengan menahan tawa.
"Walaupun anaknya cuma satu, bukan berarti Mama harus menentukan semuanya, sekalian saja
aku Mama pakaikan plastik biar terus terjaga, tidak ada yang boleh mendekat."
Valen yang keras kepala karena diturunkan bakat keras kepala dari ibunya itu, tetap saja
terus mengajukan alasan penolakan atas syarat itu.
"Ya tidak apa-apa kalau pemerintah mengijinkan Mama melakukannya." Nyonya Alea
pun tidak kehabisan akal untuk menangkal peenyataan-pernyataan Valen.
Nyonya Alea tetap berkeras dengan persyaratan yang sudah dia sampaikan. Makin tidak
asik 'kan suasananya? Suasana yang harusnya mengharu biru malah dibuat seperti
perdebatan gangster di lorong bawah tanah tanpa ada yang bisa melerai.
Akhirnya, Valen terdiam ketika Nyonya Alea menyampaikan alasannya tidak menerima menantu
bule. Kondisi yang tidak terbantahkan dan tidak ada hal lain yang dapat
__ADS_1
dilakukan selain pasrah menerima persyaratan.
Percuma meminta dukungan dari ayahnya. Ayahnya patuh setengah mati pada ibunya.
Disenyumin ibunya sekali saja, ayahnya bisa tanda tangan pengalihan semua
asetnya hingga bisa jadi gelandangan jika diusir ibunya.
Untung ibunya cinta mati pada ayahnya. Kata ibunya, "Mama tidak bisa hidup tanpa
Papamu. Papamu ke lubang semut pun, Mama akan ikut." Mendengar pengakuan
ibunya begini, tidak perlu ditanya bagaimana reaksi ayahnya, rumit untuk
dipahami akal sehat saking tidak masuk akalnya reaksi itu.
Flashback off …
Valen terus tersenyum untuk para tamu, Nyonya Alea juga antusias ketika ada yang
cerita jika dia punya anak cowok, punya ponakan cowok, punya adik cowok, hingga
punya tetangga cowok.
"Terima saja kenyataan, anggap saja kita sedang melaksanakan sayembara. Mama-mu memang
unik," bisik ayahnya.
"Sayembara? Papa juga unik," beber Valen, hingga membuat ayahnya mengernyitkan dahi,
"memangnya kita ada di jaman kerajaan Mataram?" sambung Valen. Tuan Frets akhirnya memilih
untuk bergabung dengan kolega-koleganya dari pada mendengar omelan Valen.
"Alea, apa aku boleh meminang anakmu?" tanya Nyonya Sophia dengan antusias.
Nyonya Alea juga tidak kalah antusiasnya, dia langsung mengajak teman sekolahnya itu
untuk sedikit keluar dari keramaian, "Bukan untuk suamimu 'kan, Phia?" tanya Nyonya Alea sambil mereka berdua tertawa terbahak-bahak dengan gerakan tangan mengayun-ayun memegang kipas.
"Nanti suamiku panggil kamu Mommy, Alea," kelakar Nyonya Sophia hingga mereka
tebal dengan lemak.
"Lalu kamu panggil aku Mommy madu, Phia," sahut Nyonya Alea.
Lagi-lagi dua wanita itu menyambung tawa mereka hingga salah satu dari mereka tidak dapat
menahan airmatanya karena tertawa, sementara yang satunya lagi mengeluarkan
sedikit air seni, untung menggunakan pantyliners.
"Untuk Karel, anakku satu-satunya. Usianya sudah hampir tiga puluh tiga, tetapi belum
pernah mengenalkan calon istrinya. Dia lulusan Singapura, sekarang ikut
Daddy-nya mengurus perusahan."
"Mereka sangat cocok, aku tidak sabar menunggu kita besanan, Phia." Mata Nyonya Alea
berseri-seri.
Dua wanita paruh baya itu seperti kembali ke masa sekolah tiga puluhan tahun lalu,
centil, ceria dan heboh. Sekilas tidak ada yang berubah dari mereka, kecentilan
mereka masih juga awet hingga sekarang.
"Ya sudah, kita bicarakan lagi. Pendaftaran menantu kututup hanya dengan satu
kontestan. Sekarang kita bisa makan dengan tenang." Nyonya Alea
menggandeng tangan Nyonya Sophia untuk menuju meja prasmanan.
Nyonya Alea melihat Valen sedang asik menikmati salad buahnya sendirian sambil
bersandar di dekat tangga, agak jauh dari keramaian. Nyonya Alea itu tidak mau
__ADS_1
buang waktu. Nyonya Sophia diarahkan untuk mendekat pada Valen sebelum mereka
ke meja prasmanan. Nyonya Sophia hanya patuh saya mengikuti ke mana dia akan
dibawa temannya itu.
"Valen, kenalkan, ini Nyonya Sophia. Beliau teman sekolah Mama waktu masih Sekolah
Dasar." Nyonya Alea mengenalkan temannya itu dengan bangga.
"Buseeet, teman SD? Aku teman SMP saja lupa. Ini si Mama sudah nenek-nenek masih temenan.
Hebat, hebat," pikir Valen.
"Cepat tersenyum dengan manis," bisik Nyonya Alea setengah memaksa. Valen pun tersenyum.
Nyonya Sophia terkagum ketika melihat Valen dari jarak dekat, dia tersenyum,
"Kamu cantik seperti ibumu." Nyonya Alea merasa dirinya seperti terangkat sekian mili karena mendengar pujian Nyonya Sophia.
"Terima kasih banyak, Tante Sophia," Valen merendah ketika dibilang cantik, sementara
Nyonya Alea meninggi hampir mengalahkan Monas, "ehm, pasti basa-basi karena ada maunya," gumam Valen.
"No, no, bukan Tante Sophia, tapi Mommy Sophia," tegas Nyonya Sophia dengan tersenyum manis. Tua-tua begini senyumnya masih saja manis, sisa-sisa kecantikannya masih banyak yang terawat.
"Mommy Sophia?" Valen mengulang permintaan Nyonya Sophia dengan bingung.Teman
ibunya itu menangangguk-angguk puas, hingga Valen merasa pasti ada sesuatu yang
direncanakan ibunya.
"Tolong layani Mommy Sophia dengan baik ya sayang," titah Nyonya Alea pada Valen.
"Jangan sengaja bikin badmood ya. Dia dan suaminya, calon besan Mama dan Papa," sambung Nyonya Alea lagi.
Valen meringis dalam hatinya, "Tuuuh 'kan Mama, sudah berasa aku, menyesal sudah
pulang untuk kejutan ini," gerutu Valen. Mana pria calon suaminya itu belum pernah dilihat seperti apa modelnya, bisa jadi tidak bermodel, tetapi ibunya itu sudah sangat yakin.
Ibarat angin yang tidak dapat kita tolak, begitulah Valen yang tidak bisa menolak permintaan ibunya. Berupaya ramah dan manis pada Nyonya Sophia.
"Lucu juga hidup ini, hanya dalam hitungan menit, aku sudah punya calon suami, Seandainya cari uang segampang itu, mesti aku sudah bawa pulang pria bule sejak dulu-dulu." Valen tidak habis pikir.
Tugas selesai, Valen menggembungkan pipinya lalu menghembuskan kembali udara yang
sengaja diperangkapnya itu. Dia pura-pura menerima sambungan telepon ketika ibunya
mengajak untuk mengantar Nyonya Sophia hingga ke mobil.
Di luar pagar, Karel sedang mengobrol santai dengan Pak Agus dan Pak Manto, tidak tahan juga menunggu di dalam mobil. Dia dianggap sebagai sopir oleh dua orang security rumah Valen itu. Pak Agus dan Pak Manto jadi curhat tentang rewelnya Nyonya Alea untuk menanggapi cerita Karel tentang ibunya yang disebutnya dengan majikan, sesuai dengan anggapan security rumah Valen itu. Mereka bertiga langsung bubar ketika melihat Nyonya Alea dan Nyonya Sophia mendekat.
"Alea, ini yang namanya Karel, anakku." Nyonya Sophia mengenalka Karel dengan bangga. Karel pun segera mengulurkan tangannya untuk menyalami Nyonya Alea.
Bentuk tubuh Karel yang atletis, tinggi, kulitnya putih, hidungnya bangir khas bule karena ayahnya orang Belanda, matanya juga agak kebiruan. Pokoknya Nyonya Alea sampai tidak berkedip menatap Karel.
"Gila, anakmu ganteng sekali, Phia," bisik Nyonya Alea memuji Karel.
"Karel itu untuk Valen ya," bisik Nyonya Sophia, hingga mereka berdua kembali tertawa terbahak-bahak. Membuat Karel bingung dan salah tingkah hingga membuat gerak leher spontan dengan menunduk, memindai dirinya dari sebatas dada hingga ujung kakinya.
"Kita harus segera membuat anak-anak kita menikah, Alea," ujar Nyonya Sophia.
Nyonya Alea pun ikut mengangguk-angguk mendukung penuh, "Aku tidak sabar menunggu cucu kita yang pastinya cantik atau ganteng."
"Cucu siapa, Mom?" tanya Karel dengan polosnya setelah sempat menangkap obrolan
ibunya itu.
"Ya cucu Mommy dan Daddy-lah."
Karel tambah bingung, anak Mommy dan Daddy-nya 'kan cuma dia seorang.
"Dari siapa cucunya, Mom?"
"Dari kamulah, dari siapa lagi?" seloroh Nyonya Sophia.
"Aku sama siapa?"
__ADS_1
"Kamu dan Valen," Nyonya Sophia dan Nyonya Alea mengucapkan itu bersamaan tanpa janjian, lalu mereka tertawa terbahak-bahak lagi.
"Valen? Siapa lagi itu? Hadeeh, pusing," desis Karel.