Jodoh 100 Persen

Jodoh 100 Persen
Menolak


__ADS_3

Wajah kalut Karel diganti-ganti juga dengan wajah memelas. Dia sungguh ingin bermohon untuk jangan dijodohkan. Dia sudah punya Vania, gadis yang baru dua bulan ini dipacarinya, tapi sudah banyak yang dia berikan untuk gadis itu. Gadis itu telah membentuknya jadi budak cinta. Menyedihkan sebenarnya, tapi namanya juga cinta, tolong dimaklumi saja.


“Pokoknya aku tidak mau dijodohkan!” Karel mengulang lagi penolakannya dengan suara lantang, hingga asisten rumah tangga yang ada di dapur bisa mendengar ketegasannya.


Tak perlu selesai menghitung hingga angka tiga, serbet makan yang dipakai Nyonya Sophia untuk memegang panci sop makaroni buatannya, sudah mendarat persis di wajah Karel.


“Dengerin dulu!” hardik Nyonya Sophia. Karel langsung menunduk, tak berani jika ibunya sudah seperti itu. Jangan Karel, bahkan ayahnya saja langsung mingkem tanpa diperintah. Di kantor, Tuan Peter memegang kendali penuh, tapi sungguh rumah berada dalam genggaman kekuasaan Nyonya Sophia.


“Lanjut, Honey,” celetuk Nyonya Sophia lagi begitu Karel telah berhasil dibungkamnya. Tuan Peter mengangguk dengan tersenyum manja ke arah istrinya. Romantis sekali sekaligus lebay sekali.


“Jadi begini, tiga resort kita di Manila menunjukkan trend perkembangan yang positif. Profit kita di sana tinggi, apalagi di daerah Cebu. Daddy akan mengirim kamu ke sana. Sudah saatnya kamu mengaplikasikan ilmu yang sudah kamu peroleh jauh-jauh ke USA.”


Karel tertegun dengan penjelasan ayahnya, “Ini sama buruknya dengan perjodohan,” gumamnya.


“Tapi, Dad, tanggung jawab itu terlalu besar. Aku belum cukup pengalaman untuk tanggung jawab sebesar itu. Tolong biarkan aku belajar lebih banyak dulu darimu, Dad, please,” mohon Karel.


“Jika tidak mulai belajar, kamu seterusnya tidak akan pernah bisa.”


“Setuju,” sambung Nyonya Sophia dengan senyumnya yang dianggap Karel sebagai senyum mengejek. Tuan Peter dan Nyonya Sophia sepakat untuk berada di pemahaman yang sama, yang sayangnya berseberangan dengan keinginan Karel.


“Bagaimana kalau di bawah kepemimpinanku resortnya malah bangkrut?” Karel tetap mencari-cari alasan untuk menghindar.


“Owwh gampang solusinya,” sahut Nyonya Sophia cepat dengan jari dijentikkan, “mobil sportmu yang akan lebih dulu dijual.”

__ADS_1


“Mobil kesayanganku?? Oh tidak, tidak, tidak bisa!” Tentu saja Karel akan mati-matian mempertahankan mobil itu, karena Vania tidak akan pernah mau diajaknya keluar jika tidak menumpangi mobil itu. Fix matre si Vania, tapi Karel pun entah kenapa seperti sudah dihipnotis.


“Makanya nanti kerja yang benar,” seloroh Nyonya Sophia.


“Tapi, Dad, biarkan aku belajar dari Daddy dulu. Mom, bantuin donk,” mohon Karel yang kali ini menatap Nyonya Sophia, berharap.


Lagi-lagi Nyonya Sophia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, “Daddy dan Mommy sudah memutuskan kamu yang akan mewakili Daddy di kantor pusat Manila. Titik.”


Habis sudah harapan jika Nyonya Sophia sudah mengatakan kata ‘titik’. Karel tersandar lesu di kursinya sambil tangannya masih memegang sendok dan garpu.


Tuan Peter tersenyum menatap mesra ke arah Nyonya Sophia dan berkata, “Darling.”


“Owh ya, sorry, Honey,” ucap Nyonya Sophia sambil membalas senyum suaminya yang sepertinya sedang mengingatkan sesuatu.


“Kecuali apa, Mom?” kejar Karel dengan antusias dan reaksi seperti itulah yang dinanti kedua orangtuanya. Akankah Karel masuk perangkap mereka?


“Kecuali kamu janji untuk melakukan apa yang Mommy minta.” Lagi-lagi ada syaratnya, begitu yang ada di pikiran Karel, yang sudah sangat dikenalnya tentang ibunya. Ada begitu banyak jalan ke Roma untuk setiap tujuan yang ingin dicapai ibunya dan pasti dia akan tertangkap basah, tapi semoga kali ini cukup memberinya keuntungan meski basah.


“Janji untuk melakukan apa, Mom?” desak Karel tak sabar. Asalkan masih bisa bertemu dengan Vania, dan masih bisa berkuasa atas mobil sportnya yang berharga fantastis itu.


“Tapi ini bukan memaksa lho yaa! Jangan sampai kamu protes besar-besaran karena ini. Janji?”


“Iya, Mom, janji. Katakan apa itu.” Karel terlihat semakin tidak sabar dan Tuan Peter hanya senyum-senyum sambil mengangguk-angguk. Lepas dari urusan perjodohan ini dalam kaitannya dengan perusahan, mungkin sebagai penerus perusahan keluarga, Karel harus diajarinya untuk bertahan dan tidak langsung gegabah hanya karena sesuatu yang berusaha ditolaknya tanpa menimbang apakah tawaran itu ada sisi baiknya atau tidak untuk dirinya.

__ADS_1


“Janji tidak akan marah!” sambung Nyonya Sophia lagi yang memang sengaja mengulur waktu agar Karel semakin tidak sabar.


“Iya, Mom. Janji!” tegas Karel lagi, rasanya tidak ingin pikir panjang asal bisa segera tahu apa rupanya pengecualian agar tidak dikirim ke Manila.


“Menikah dengan Valen.” Nyonya Sophia tersenyum, “bagaimana tawarannya?”


"Astaga, Mom. Itu sama saja dengan menjodohkan." Karel protes dengan wajah meringis, rasanya ingin menangis tetapi malu pada usia yang sudah banyak.


"Owh, tentu saja berbeda. Ini kamu tidak dijodohkan, kamu yang mau lho. Jangan salahkan Mommy dan Daddy donk." Nyonya Sophia juga tidak mau kalah membela diri dari Karel.


Anggap saja ini konspirasi yang dilakukan Tuan Peter dan Nyonya Sophia dengan inisiatornya adalah Nyonya Sophia, ibu Karel. Inilah salah satu alasan kuat Karel mencari wanita yang tidak cerewet dan terlihat mendominasi pria, pengalaman melihat ayahnya membuatnya tidak sanggup jika nanti harus menghadapi istri cerewet.


Kaki Karel terasa meleyot saat berdiri untuk berangkat ke kantor, karena melihat ayahnya sudah lebih dulu beranjak dari kursinya sambil jalan beriringan dengan ibunya, ibarat pasangan yang akan berjalan menuju altar pernikahan. Bukan hanya ini saja alasannya, tetapi karena dia final dijodohkan.


"Ternyata ngeri-ngeri sedap juga punya orangtua yang romantisnya tak terkira seperti ini." Karel bergumam sambil berjalan pelan mengekor di belakang orangtuanya seperti pengapit pengantin. Geli juga dia membayangkan kalau nanti istrinya setipe dengan ibunya, mengajaknya melakukan ritual seperti ini setiap habis sarapan.


Situasi yang dihadapi Karel tidak jauh berbeda dengan Valen. Di meja makan, Valen juga sedang negosiasi dengan orangtuanya. Wajah Valen kadang memelas, dan tidak jarang juga cemberut.


"Mama tidak adil kalau begitu, dulu Mama menikahi Papa karena cinta. Eyang tidak jodoh-jodohkan Mama, 'kan?" Valen merengek setengah protes.


"Ups, ralat. Mama menikahi Papa bukan cuma karena cinta, Val. Tetapi karena Papa kejar-kejar Mama. Papamu kebelet menikah waktu itu." Nyonya Alea tertawa kecil dengan raut wajah bangga sambil menatap suaminya. Tuan Frets dengan terpaksa juga ikut tersenyum, mengiyakan dengan terpaksa meski kesal juga karena aibnya dibuka.


Valen memegang kedua pipinya lalu berakhir dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya itu.  Entah akan malu atau harus bangga dengan kejujuran ayah-ibunya. Amazing juga punya orangtua dengan gaya komunikasi seperti ini, terlalu jujur.

__ADS_1


"Nah, berarti aku boleh donk cari pria yang mencintaiku? Seperti Papa dulu mencintai Mama, terus baru menikah," tuntut Valen dengan senyum memuji agar ibunya luluh hatinya. Nyonya Alea menatap tajam ke arah Valen, mungkinkah dia marah hingga malah mempercepat pernikahan?


__ADS_2