Jodoh Dengan Wanita Di Desa Sendiri

Jodoh Dengan Wanita Di Desa Sendiri
Bab 15 Kabar Duka


__ADS_3

Waktu pun terus berjalan ayah Lusi tak kunjung juga sembuh, sehingga sekitar dua Minggu kemudian ayah Lusi dirawat dirumah saja, karena biaya yang akan ditanggung akan lebih besar jika terus-menerus dirawat di rumah sakit dan saat itu kondisi keuangan keluarga Lusi tidak cukup, karena hanya mengandalkan babeh saja, apa lagi ditambah cicilan motor milik babeh saat itu.


"Maaf ya pak harus dirawat dirumah" ucap Lusi kepada ayah nya


"Iya nong gapapa, lagian entar juga kan di kasih obat sama dokternya" jawab ayah nya


Tidak lama saat ayah Lusi di rawat dirumah keadaan nya semakin memburuk meski sudah minum obat yang telah diberikan oleh dokter.


Saat itu sekitar pukul tiga sore Kaka dan Koko sedang berada dirumah Lusi dan kebetulan saat itu ayah Lusi sedang gelisah,


Namun entah mengapa saat adzan tepat saat adzan berkumandang ayah Lusi merasa seperti kedinginan dan ke sakitan


"Ko bantuin Ende ke kamar" ucap ayah nya Lusi, yang lalu Koko dan kaka segera membantu nya ke kamar, dan setelah itu justru ayah Lusi beranjak lagi ke ruang tengah, namun ingin kembali lagi ke kamar dan saat ke kamar dibantu Koko dan kaka.


Koko dan kaka saling menatap keheranan, saat itu koko pun teringat oleh salah satu Vidio yang ditontonnya diaplikasi handphone nya, yang saat itu tanda- tanda seseorang akan meninggal dunia, dan salah satu ciri-ciri nya ada di ayah Lusi tadi, koko yang teringat akan hal itu pun langsung menepis nya.


Lima hari kemudian sekitar pukul delapan malam terdengar suara teriakan ibunya Lusi


"Pak bangun pak" suara ibunya itu cukup keras dan agak menangis sehingga Lusi langsung menghampiri kekamar ibu nya


"Kenapa Mak?" Tanya Lusi dengan khawatir sekali saat itu dengan keadaan ayah nya


"Ini bapak kamu Lusi, gak tau kenapa" jawab ibunya Lusi sambil memeluk ayahnya dan menangis tersedu-sedu


"Bapak bangun pak!" Lusi yang juga teriak saat melihat ayahnya yang tidak sadarkan diri.


Keluarga Koko yang mendengar suara teriakan tersebut langsung menuju kerumah Lusi


"Bu kenapa itu si Lusi teriak- teriak manggil bapak nya" ucap ayah Koko yang membangunkan istrinya yang saat itu sudah tertidur


Ayah Lusi pun langsung bergegas menuju rumahnya Lusi dan langsung mengetuk pintu tersebut "Lusi, kenapa kamu? Buka pintu nya"


Lusi yang mendengar suara ayah Koko langsung bergegas ke depan


"Bapak kak Soleh bapak nggak sadarkan diri" ucap Lusi setelah membukakan pintu.


"Ko bangun, Ende kamu tu kenapa teriak-teriak" ucap ibunya Koko yang membangunkan Koko yang tengah tidur


Koko pun tersentak lalu bangun dan menuju keluar, ibunya serta nenek nya juga bergegas menuju rumah Lusi.

__ADS_1


Saat itu entah mengapa Koko tidur lebih awal, sedangkan biasanya ia selalu tidur diatas jam dua belas malam, namun malam itu ia sangat mengantuk dan tidak terasa ia tertidur dengan sendirinya.


"Kak kenapa kak" ucap ayahnya Lusi yang sudah berada disana dan memangku ayah Lusi, "ini Soleh kak, istighfar coba istighfar kak" ayah Koko menuntun ayah Lusi untuk beristighfar karena melihat ayah Lusi yang Seperti sedang menghembuskan nafas terakhir nya.


"Coba dibawa didepan dulu" ucap ayah Koko


Lalu Lusi membaringkan kasur di ruang tengah dan ayah Koko yang menggendong nya itu membaringkan ayah Lusi.


Tetangga yang lain pun berdatangan karena teriakan ibunya dan Lusi tadi terdengar oleh mereka, lalu ayah Koko menelpon kak jaen untuk memeriksa ayah Lusi.


"Hallo kak jaen"


"Kenapa Leh?"


"Ini bisa kesini sekarang nggak, kak adi nggak sadarkan diri"


"Iya Leh bisa"


"Yaudah ditunggu kak jaen"


"Iya Leh"


Tidak lama kemudian datang lah kak Jaen yang ditelpon ayah koko tadi dan langsung memeriksa ayah Lusi.


"Inalillahi wa innailaihi rojiun, udah pulang teh dari tadi" ucap kak jaen


Lusi, ibunya serta nenek nya Koko yang merupakan ibu dari ayah nya Lusi itupun menangis sejadi-jadinya.


"Ambil Yasin ko dimasjid" kak jaen yang menyuruh Koko yang kebetulan berada disampingnya.


Koko mengangguk dan bergegas menuju masjid dan ditemani oleh Amir,


"Kabarin kakak-kakak kamu Siti" suruh ibunya kepada Lusi, Lusi langsung masuk ke dalam kamar lalu menelpon semua kakak-kakaknya dan memberitahu kalau ayahnya sudah tidak ada.


"Udah nggak ada bah" ucap kak jaen saat itu  menelpon Abah nya


"Inalillahi wa innailaihi rojiun, Yaudah Abah kesana".


Kabar duka mengenai ayah lusi pun tersebar Langsung di desa nya tersebut, dan bapak-bapak pun berdatangan untuk memasang tenda kematian.

__ADS_1


"Beli air minum dulu sana" ucap kak jaen yang menyuruh Koko lagi setelah mengambil Yasin.


Miko pun langsung beranjak dan meminjam motor salah satu bapak-bapak yang ada disana dan menuju warung.


**


"Beh yang sabar ya, kamu disuruh pulang tadi sama Lusi, katanya bapak kamu udah nggak ada" ucap mang Udin yang kerja juga disana.


Babeh pun terkejut dan bergegas menuju pulang kerumahnya dan tidak perlu waktu lama ia pun sampai, babeh hanya bisa menahan kesedihannya, karena saat itu sudah ramai orang.


Kakak-kakak perempuan nya yang tidak lama kemudian itu datang pun langsung teriak dan menangis tersedu-sedu.


"Kak seni sama kak nur udah dikabarin belum lus?" Tanya teteh nya Lusi


"Kalau kak nur udah teh dan dia udah otw kesini, kalo kak seni masih Lusi coba hubungi karena dari tadi gak aktif" Jawabnya.


Setelah itu orang-orang pun bergantian untuk mengaji Yasin, begitu pula dengan Aceng, babeh, Koko, dan juga Lusi.


Karena sudah malam ayah Lusi pun dikuburkan esok hari, sebenarnya bisa saja malam itu juga, tapi karena masih ada yang tunggu yaitu kakak-kakak lelaki babeh dan juga Lusi yang berada jauh belum datang, sehingga memutuskan untuk besok saja, agar kakak lelaki nya tersebut bisa melihat ayah nya untuk terakhir kalinya.


Saat itu Aceng dan koko tidur disitu bersama babeh dan juga Lusi serta yang lainnya untuk menemani ayah Lusi.


"Nggak nyangka gua mah, padahal mah kemarin udah sehat" ucap Lusi


"Iya lus sama aja gua juga" sahut Koko


Dan mereka pun berbincang-bincang mengenai kenangan bersama almarhum hingga akhirnya mereka memutuskan untuk tidur, dan Lusi tidur disamping ayahnya.


Keesokan paginya semua orang yang menemani ayah Lusi termasuk Koko dan juga Aceng pun pulang, ibu Lusi pagi itu tak henti-henti nya menangis, seolah-olah tak percaya kalau suaminya itu akan tiada lagi.


Lalu kakak lelaki nya Lusi yang bernama kak nur datang lebih dulu, dan langsung menangis sejadi-jadinya didepan ayahnya itu, sama seperti kak nur, kak seni yang tidak lama kemudian datang pun melakukan hal yang sama.


Namun kak seni agak sedikit terpukul karena saat ayahnya itu sedang sakit ia tidak bisa pulang untuk melihat nya, tidak seperti kak nur yang waktu itu datang dan menginap sekitar seminggu.


Kak seni merasa sangat menyesal, kalau saja dia tau kalau tidak bisa bertemu ayahnya lagi, waktu itu sesibuk apapun ia kemarin pasti akan datang untuk melihat ayahnya.


Namun begitu lah rasa penyesalan selalu datang belakangan.


"Pak maafin seni pak, seni nggak bisa ngejenguk bapak waktu sakit dulu" ucap nya memeluk ayahnya yang sudah tidak ada sambil menangis terisak-isak dan agak sedikit kencang.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2