
Keesokan paginya Lusi pun bangun lebih pagi karena dia akan di rias, setelah di rias dia Foto untuk sebuah kenangan, setelah itu baru lah dia menunggu keluarga Asep datang.
Tidak lama kemudian pengantin pria pun datang bersama rombongan nya, setelah itu di sambut oleh pihak keluarga Lusi, setelah duduk baru lah acara akad nikah dimulai.
Beberapa menit kemudian tiba lah Asep mengucapkan ijab kabul nya.
"Saya terima nikahnya, Lusi nur Hidayati binti Adi Setiawan dengan seperangkat alat sholat dan emas 20 gram di bayar tunai".
"Sah!" Teriak semua orang
Lalu pak penghulu pun membaca doa, setelah itu Asep dan Lusi sungkeman kepada orang tua dan semua sodaranya yang Disana.
Tidak terasa waktu pun berlalu hingga sudah sore, acara tersebut lancar, meskipun tidak terlalu banyak orang yang di undang ataupun mewah.
**
Beberapa Hari kemudian, saat itu Asep sedang menatap buku nikahnya sambil rebahan di atas karpet bermain di rumah barunya, yang sudah resmi ia tinggali bersama Lusi, rumahnya sempit bila di bandingkan rumah Asep sebelum nya, dengan luas bangunan 1000 m², sementara sekarang harus tinggal di perumahan dengan tipe 36.
Tapi lain Arman lain lagi Sofia, rumahnya kali ini tetap terasa luas karena sebelumnya rumahnya tidak terlalu luas seperti sekarang yang ia tinggali dengan Asep.
Asep dan Lusi sama sama mulai meninggalkan kesenangan masa remajanya, masa masa perpindahan menuju kehidupan dewasanya.
Mereka berusaha mendewasakan diri satu sama lain dengan lebih cepat secara perlahan, bukan kedua nya, hanya Asep, karena Lusi memang sudah di Dewasakan oleh ke adaan semenjak ayah nya sudah tidak ada.
Asep pun berusaha keras membuat Lusi nyaman menjadi istri nya, apa lagi sekarang ini ia dan Lusi, sudah pindah dari rumah orang tua Asep ke rumah baru yang mereka tinggali bersama.
Benar- benar berdua, hanya ada Asep dan Lusi, mungkin akan di tambah pembantu rumah tangga bila mereka butuh nanti, saat bisnis yang mereka bangun, dapur Asep berjalan lancar.
**
"Aku pengen punya anak kalo kita udah siap... Ga harus buru- buru" ucap Lusi pelan
"Aku sih siap terus, mau kapan juga ayo" jawab asep enteng sambil tersenyum ceria
"Iiihhhh Asep" pekik Lusi
__ADS_1
"Kan ibadah" ucap Asep sambil nyengir
"Aku beneran serius ini, kalo kamu pengen punya anak, kapanpun kamu mau aku siap, aku ga cuma pengen bikin doang, aku mau anak dari kamu juga, aku beneran serius ini" sambung Asep yang tiba-tiba Serius menatap mata Lusi dengan intens.
Lusi mengangguk pelan lalu tersenyum lembut, "aku takut dikit...." Lirih Lusi
"Kenapa?" Tanya Asep lalu bangun agar bisa duduk setara dengan Lusi.
"Aku takut waktu di unboxing sama kamu, badanku gak sesuai ekspektasimu, aku takut kamu ga bisa sabar kalo punya anak, aku takut kamu ga suka aku lagi kalo badanku berubah waktu aku harus hamil" ucap Lusi sambil menundukkan pandangan.
Asep menangkup wajah sofia lalu mengecup bibirnya agar berhenti bicara, "emang tau ekspetasiku gimana?"
Lusi menggeleng kepalanya
"Terus Kenapa kamu Takut? Kamu tau dari mana kalo aku bakal berubah cuma gara- gara kamu hamil sama punya anak? Masa iya aku berubah jadi jahat gara- gara perbuatanku sendiri" ucap Asep meyakinkan Lusi.
"Kamu harus yakin dan percaya sama omonganku, aku bakal terus bertanggung jawab, sayang, setia ke kamu apapun yang terjadi" sambung Asep
Lusi mengangguk pelan lalu memegang tangan Asep yang menangkup wajahnya.
Lusi tersenyum sambil mengangguk lalu mengigit bibir bawahnya pelan, "mau tanya tapi aku malu..." Ucap Lusi pelan
"Tanya apa?" Arman menurunkan tangannya.
"Kamu suka yang botak apa enggak..." Lirih Lusi malu- malu kucing sambil menundukkan kepalanya.
Asep membelalakkan matanya kaget mendengar pertanyaan Lusi, "suka semuanya! Ayo sekarang aja kalo gitu!" Seru asep semangat lalu buru- buru keluar untuk mengunci gerbang juga pintu rumahnya sebelum menggendong Lusi masuk ke kamar.
"Asep! Astaghfirullah sabar!" Pekik Lusi kaget dengan Asep yang langsung gerak cepat.
"Kamu tanya aku jawab, udah ayo praktek aja!" Seru Asep semangat.
"Sabar! Aku belum siap" tahan Lusi
"Gapapa ga usah lama- lama!"
__ADS_1
"Aku ga tau doa niat jimak(berhubungan suami istri)".
Asep langsung mengambil ponselnya, lalu membaca doa tersebut, usai Asep membaca niat tersebut, bukan nya langsung membuka pakaian Lusi atau mencumbu nya, justru Asep malah jadi canggung.
Lusi belum siap karena masih merasa malu jika harus berhubungan, padahal dirinya dengan Asep sudah menjadi pasangan yang halal.
Apa lagi saat ini mereka berdua sudah mempunyai rumah sendiri, dan hanya ada mereka berdua saja di sana.
Asep dan Lusi pun memutuskan untuk nonton tutorial stelah itu justru mereka malam bosan, dan Lusi merasa lapar dan mengajak Asep untuk makan.
"Mau makan siang nggak?, Aku laper, makan dulu yukk" ajak Lusi lalu keluar dari kamar
"Boleh, Yaudah kita lanjut nonton di tv depan sambil makan aja"
Ucap Asep lalu menyiapkan tv dan film yang akan di tonton sementara Lusi mengambilkan makan siang untuknya dan Asep.
Asep dan Lusi makan dengan canggung, setelah menghabiskan makanannya dan film di putar juga belum selesai Lusi pergi ke kamar untuk Sikat gigi, tak lama Asep juga ikut ke kamar mandi untuk melakukan hal yang sama.
Lusi berpikir bila rasanya akan lebih enak bila berciuman setelah sikat gigi dari pada setelah makan sup, Asep juga berfikir seperti itu,
Asep ingin memberikan malam pertama yang baik dan berkesan agar Lusi bisa minta lagi dan lagi setelah nya.
"Ohh....mr. grey..." Suara desah kenikmatan terdengar dari film yang di tonton
Asep dan Lusi sama sama merinding dan jadi bingung harus mulai dari mana.
Asep akhirnya memutuskan menggunakan nalurinya sebagai seorang pria sejati untuk bercinta dengan gadis yang sudah sah menjadi istri nya itu.
Asep mencium bibir Lusi, awalnya hanya mengecup nya, tapi jelas itu tak cukup
Sebenarnya Asep sama sekali tidak berpengalaman dengan hal berhubungan seperti itu, tapi walaupun begitu setidaknya ia pernah beberapa kali menonton film dewasa dan saat ini tinggal ia praktek kan saja dengan istri nya yang sudah halal untuk nya.
Asep pun mulai ******* bibir Lusi dengan lembut sambil mempererat pelukannya dipinggang Lusi,
Tangan Lusi juga tak tinggal diam, meskipun Lusi belum benar- benar berani membalas ******* Asep, ia tetap mencoba mengimbangi sambil mengelus dada dan baju Asep.
__ADS_1
Malam pertama pun akhirnya bisa dilakukan oleh Asep dan Lusi, walaupun agak telat namun hal tersebut maklum, karena Asep dan Lusi satu desa, dan sering ketemu seperti teman sendiri, sehingga malam pertama yang harus nya dilakukan saat Pernikahan nya selesai, namun sempat tertunda beberapa hari saja.