
Kejadian seperti tempo hari terjadi tidak hanya pada hari itu saja. Belum ada seminggu setelah kejadian tersebut, hal sama terulang lagi. Percetakan tanpa konfirmasi menjadikan barang tercetak dobel, namun parahnya kali ini bahan yang masuk mesin cetak kurang sedikit. Padahal untuk pesanan yang kali ini sedang dikerjakan sangat panjang dan tidak bisa dipotong.
"Kok bisa kurang, padahal kemarin aku mengukur bahan masih sangat cukup." gumam Airin dengan bingung.
"Apa aku salah mengukur kemarin? ah enggak lah, aku sudah memastikan kok" sambungnya lagi.
Dia pun segera pergi ke depan melihat teman bagian cuting nya. Dan benar saja di depan sudah ada barang yang sama seperti yang ia akan cetak. Dia mengingat lagi, tapi dia merasa belum mencetaknya. Kemudian untuk memastikan dia segera bertanya pada teman yang sama bagian dengan dengan dia. Siapa lagi kalau bukan Maya.
Dengan membawa lembaran hasil cetak, Airin dengan segera menemui Maya. Dia menahan rasa geram karena lagi lagi merasa pekerjaannya dicampuri orang lain.
"May ini kamu yang nyetak?" sambil menunjukan lembaran Airin bertanya.
"Iya. Kenapa?" jawab Maya dengan santai.
""Kenapa??? jawab Airin dengan pertanyaan balik.
"Sudah aku katakan, jangan asal mencampuri apa yang aku kerjakan, aku paling tidak suka jika ada orang yang lancang tanpa bertanya. Bukan kah tempo hari kamu sudah aku kasih tau." sambung Airin dengan sedikit kesal.
"Karena gak ada pekerjaan, aku pikir apa salah nya aku bantu. Toh itu juga akan membantu meringankan pekerjaanmu mbak." jawab Maya tak mau kalah.
"Kamu tuh ya, udah aku kasih tahu masih aja bisa alasan. Harusnya kalau kamu memang sudah gak ada kerjaan cari sana di depan barang apa yang kamu bikin cetak tanpa mencampuri apa yang aku kerjakan." geram Airin.
"Dibantuin bukannya bersyukur dan berterima kasih malah marah marah. Gak jelas deh." Jawab Maya sambil ngedumel.
Tanpa mereka sadari, perdebatan keduanya didengar dan dilihat oleh boss mereka. Tidak ingin terjadi pertengkaran lebih lanjut, pemilik toko pun langsung mendekat untuk menengahi.
"Ada apa sih? kenapa ribut?" tanya pemilik toko.
__ADS_1
"Ini ko, Maya berulah lagi. Dia mencetak pesanan yang sudah aku siapin kemarin." Airin mengadu karena sudah merasa sangat jengkel
"Kan bagus, kerjaan kamu jadi berkurang Rin. Kenapa harus marah?" jawab pemilik toko tersebut.
Maya yang merasa mendapat pembelaan dari boss nya pun tersenyum mengejek Airin. Dia merasa sedikit besar kepala.
"Seandainya dia meminta ijin atau paling tidak ber konfirmasi dulu, aku tidak akan marah. Hal seperti ini sudah pernah terjadi, dan aku sudah pernah mengingatkan dia juga. Apa Koko mau kalau aku mencetak dobel dan bahan akan terbuang sia sia? Apa Koko mau kalau ada kerugian bahan lagi? jawab Arin dengan kesal karena merasa terpojokkan.
"Kalau Koko mau hal itu terjadi gak apa apa, aku tidak akan menegurnya, tapi yang pasti akan ada bahan terbuang sia sia." sambung Airin.
"Kamu kan tahu aku paling tidak suka jika ada bahan terbuang. Sedikit apa pun sisa bahan harus bisa dimanfaatkan agar bisa dijual" jawab pemilik toko.
"Nah kan sekarang Koko juga bilang begitu. Tapi kenapa Koko melarang aku menegur dia? dia sudah lancang dan seenaknya sendiri." jawab Airin dengan jari menunjuk pada Maya.
Sambil menahan sesak di dada karena perasaan yang sudah sangat jengkel, dia pun berusaha mengeluarkan unek unek nya yang ia pendam karena kehadiran teman baru yang dianggap lancang olehnya. Sebenarnya bukan karena tak suka dengan teman barunya, tapi karena merasa privasinya terusik menjadikan dia jengkel.
"Bukan gitu Rin, jangan gegabah mengambil keputusan saat emosi. Aku bukan membela Maya, tapi aku gak pingin melihat kalian bertengkar." kata pemilik toko.
Airin yang malas menjawab pun akhirnya meninggalkan ruang cetak kemudian kembali duduk di tempat ia biasanya. Dia mengeluarkan segala amarah yang dia rasakan dengan tangis. Hingga sampai waktu menjelang pulang, dia tak lagi melanjutkan pekerjaannya. Berdiam diri mengabaikan semua pesanan yang ada pada tumpukan nota di depannya.
🌴🌴🌴
Di tempat lain, seorang laki laki yang kesehariannya hanya bekerja dan pulang ke rumah beristirahat di kamar anaknya terlihat begitu lelah. Hari hari yang dia lewati akhir akhir ini tak ada perubahan. Sikap istri yang tak ada tanda perubahan pun juga tak ia jadikan beban pikiran. Baginya, sekali merasa di khianati maka dia akan ada rasa percaya lagi. Egois memang, tapi itulah karakter dia. Sesabar sabarnya sikap yang ia miliki mempunyai batas kesabaran.
Sudah beberapa Minggu suasana rumah di kediaman Brian nampak biasa saja. Tak ada pertengkaran, ataupun adu mulut seperti yang sudah sudah. Suara tawa anak kecil yang menyambut kedatangan papanya setiap pulang bekerja menjadi hal terindah yang Brian dengar setiap harinya. Sang istri yang juga tak pernah ada komentar setelah beberapa kali mendapat penolakan dari Brian.
Perang dingin yang terjadi di keluarga itu tak nampak terlihat di mata orang lain. Ya, memang selama ini Brian yang dikenal warga sekitar sebagai sosok pendiam dan hanya berbicara seperlunya saja.
__ADS_1
Sore itu, ibu mertua Brian berkunjung ke rumahnya. Dia yang kangen dengan cucunya mendatangi dan berniat menginap di rumah Brian. Seperti biasa, sebagai nenek yang sedang kangen karena sudah lama anak dan menantunya tak datang mengunjunginya. Hingga dia memutuskan bahwa dia lah yang akan mendatangi cucunya. Melepaskan rasa kangen dengan bermain bersama cucunya.
Saat malam hari, Brian yang sudah terbiasa akhir akhir ini tidur bersama anaknya harus mengalah karena neneknya bocah yang menginap di situ. Rumah yang hanya memiliki 2 kamar tidur, satu yang terpakai oleh istrinya dan satu lagi untuk kamar anaknya. Karena ia enggan berada di kamar dengan istrinya. Akhirnya dia memutuskan untuk tidur di sofa ruang tamu.
Tengah malam ketika si nenek bangun, dia kaget melihat menantunya yang tidur di sofa. Namun ia tak berani mengganggu tidur menantunya itu.
Waktu terus berputar, hingga pagi pun akhirnya tiba.
Brian yang baru bangun kaget ketika melihat mertuanya yang bangun lebih awal. Ia bingung jika harus mendapat pertanyaan aneh aneh dari ibu mertuanya.
Untuk menghindari kemungkinan pertanyaan itu muncul, ia pun segera membersihkan diri kemudian melakukan kewajibannya sebagai umat muslim. Selepas itu ia sempatkan bermain sebentar dengan putranya sebelum berangkat bekerja.
Pemandangan seperti itu tak lepas dari penglihatan sang mertuanya.
__________________________________________
Bangun tidur terus ketik ketik manja.
Terimakasih yang sudah berkenan menanti dan mampir di karya receh ku. Jangan pernah bosen ya,
hanya ketikan receh. Hahaha...
Bila berkenan, seperti biasa silahkan tinggalkan jejak warisan ya guys.
Warisan cukup LIKE, RATE and COMENT man teman.
Terimakasih 😘😘😘
__ADS_1