
Manusia hanya bisa berencana, namun tetap lah Tuhan yang menentukan kepastian nya. Sama seperti kehidupan yang telah dialami oleh Airin. Jalan hidup yang ia alami bukan seperti yang ia dambakan di waktu kecil. Sebuah proses pendewasaan yang tak pernah terpikirkan olehnya, harus berjuang hidup walaupun masih ada saudara lainya yang sebenarnya bisa menghidupinya. Sikap tak tergantung pada orang lain menjadikanya lebih mandiri. Ia sangat bersyukur dengan semua jalan hidup yang ia lalui.
Di toko itu, ia mendapatkan banyak ilmu secara otodidak. Belajar melayani pembeli, belajar bersikap pada orang lain, belajar menyelesaikan tugas, belajar membagi wakti, dan yang pasti belajar berinteraksi dengan banyak orang. Semua itu ia dapatkan di toko tempat ia bekerja.
Ia sangat bersyukur dengan semua yang ia dapat. Sebagai manusia biasa, rasa jengkel, marah, bahagia, sedih juga ia lalui di toko itu.
Minggu depan tiba waktunya pemilik toko untuk menikah. Ya, selama ini pemilik toko tersebut memang masih lajang, namun calon istrinya setiap hari datang ke toko untuk membantu mengontrol semuanya. Bahkan sang adik calon pemilik toko pun setiap hari juga ada di situ.
Hari hari berjalan seperti biasa. Tidak ada perubahan yang terjadi. Rasa kesal yang dirasakan masih juga tetap ada.
Tepat hari pernikahan sang pemilik toko, semua karyawan diliburkan tiga hari. Bukan untuk menghadiri acara pernikahan bosnya, melainkan memang khusus diberi jatah libur agar bersenang senang. Dengan diberi fasilitas kendaraan untuk liburan bersama seluruh karyawan toko.
Semua kebutuhan mulai kendaraan, sopir, bahkan uang tiket pun juga diberikan oleh bosnya. Karyawan hanya cukup membawa badan dan camilan saja.
Suasana itu tentu dimanfaatkan oleh Airin, pergi bersama teman teman seperjuangannya di toko. Namun suasana yang seharusnya bahagia itu tak benar benar terasa bahagia bagi Airin. Masih ada rasa tak nyaman jika menyangkut salah satu temannya.
Ya, siapa lagi kalau bukan Maya. Orang yang akhir akhir ini membuat mood nya tak bagus.
Semua teman temanya tertawa bersama, menikmati indahnya pemandangan pantai. Namun, berbeda dengan Airin. Ia berusaha menghindari teman teman nya, cenderung ngobrol dengan pak sopir atau malah istirahat di mobil.
"Rin kamu kenapa? ayok sana gabung ma yang lain." kata salah satu temannya.
"Ntar aja, masih pengen istirahat sebentar. N**tar aku nyusul deh." jawab Airin.
"Kamu sakit kah? kenapa diam aja? tanya satu temannya lagi.
"Enggak kok, aku gak apa apa. Cuma masih capek aja. Aku mau merem dulu aja di mobil ya." jawab Airin kemudian melenggang pergi menuju parkiran.
__ADS_1
Teman temanya hanya menatap heran kepergian Airin. Tak ada yang bertanya lebih lanjut. Sesampainya di parkiran, ternyata sopir yang mengantarkannya tidak ada. Entah pergi kemana orangnya. Jadilah Airin yang bingung harus kemana. Mau bergabung dengan temannya ia malas, niat mau tidur di mobil pun ternyata gak bisa. Akhirnya Airin berjalan seorang diri di pinggir pantai. Ia melihat dari jauh teman temannya yang sedang bersenda gurau bermain ombak.
Tiba tiba sebuah pemikiran terlintas di benaknya. Seumpama ia berhenti bekerja gimana ya, apakah kakak yang di rumah akan menanyai macam macam ya. Terus seandainya dia berhenti, mau cari kerja dimana lagi. Pemikiran seperti itu terus saja berputar di kepala Airin. Hingga tanpa sadar ia sampai tertidur di bawah pohon.
Cukup lama ia tertidur. Hingga waktu matahari sampai berada di atas kepala. Itu artinya sudah tengah hari. Ia yang terbangun kemudian membersihkan diri dan Segera mencari makan seorang diri di warung yang berjajar di depan pantai. Dan ternyata ada salah satu temannya yang berada di warung tersebut.
"Rin dari tadi kemana aja? kok gak gabung sih." tanya temannya.
" Lagi tiduran aja di bawah pohon situ sambil lihat ombak." jawabnya.
"Kenapa itu muka lecek banget, harusnya happy donk." lanjut temannya.
"Hehe.." Airin hanya nyengir.
Keheningan terjadi sesaat hingga akhirnya Airin melanjutkan obrolannya.
"Uhuuk.. uhuk.. uhukk.." Lina yang kaget dengan omongan Airin langsung terbaik batuk.
"Pelan pelan woy makannya." omel Airin.
"Kamu sih bikin kaget aja. Emang kenapa mau berhenti? Karena Maya? " tanya Lina dengan menyelidik melihat sorot mata Airin.
"Enggak, aku cuma bosen aja kerja gitu Mulu, pengen nyari yang lain." elak Airin.
"Emang udah ada kerjaan yang baru? tanya Lina.
"Belum sih, ya ntar kan bisa nyari lowongan Lin." jawab Airin.
__ADS_1
"Ya sebenarnya sayang sih kalau kamu berhenti. Gaji mu di situ kan udah lumayan gede, malah lebih gede melebihi aku. Coba kamu pikir pikir dulu." jawab Lina.
"Tapi aku sudah gak nyaman banget, kalau tetep kerja juga ga enak, gak bisa fokus." kata Airin sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Nah kan bener yang aku duga. Udah lah gak usah kamu pikirin tuh anak." sahut Lina.
" Bukannya aku mikirin dia, tapi gimana ya. Sudah males lah pokoknya. Daripada aku kerja gak maksimal kan lebih baik keluar aja." kata Airin.
"Ya sudah terserah kamu. Tapi kalau boleh aku kasih saran, mendingan jangan keluar dulu sebelum kamu mendapat gantinya. Biar ga sampai nganggur." Lina kembali menasehati.
"Iya juga ya. Bener tuh kata kamu. Aku harus nyari lowongan dulu, ntar kalau udah dapat tinggal pamit aja." kata Airin dengan tersenyum karena mendapat ide dari saran temannya itu.
Pesanan makanan pun datang. Ia tak banyak bicara lagi, segera menghabiskan makanan yang ada di piringnya kemudian ikut bergabung dengan lainya. Foto bersama dengan gaya gila gilaan, ikut tertawa lepas. Karena bagi dia berpikiran mungkin ini akan menjadi moment liburan terakhir bersama teman temannya sebelum ia mengundurkan diri.
Waktu terus berlalu, hingga tak terasa saatnya untuk pulang. Dengan membawa beberapa kantong belanjaan yang dia akan bagikan sebagai oleh oleh kepada keluarganya.
Waktu liburan yang diberikan pun usai. Kini Ia harus kembali untuk bekerja. Menatap tumpukan nota yang banyak. Tiba tiba ia teringat dengan obrolannya kemarin waktu berada di warung. Ia harus segera mencari lowongan pekerjaan baru. Namun tumpukan nota itu seakan minta segera diselesaikan. Akhirnya ia bertekad menyelesaikan pesanan yang telah tertunda beberapa hari.
Kurang lebih tiga hari ia habiskan untuk mengerjakan semua orderan yang masuk sebelum liburan. Hingga akhirnya semua nota yang masuk telah beres tercetak olehnya. Masa bodoh dengan karyawan bagian cukit di depan, yang jelas ia sudah menyelesaikan semuanya. Semua warna telah tercetak dan tertata. Tak ada satu nota pun yang tertinggal.
~bersambung~
Makasih guys yang masih berkenan membaca karya receh saya. Semoga kebaikan kalian terbalas tanpa disangka arah datangnya.
Eh jangan lupa tinggalkan jejaknya yes. RATE, LIKE, dan yang pasti KOMEN jangan sampai ketinggalan ya...
Terimakasih🤗
__ADS_1