
Hari demi hari ketidak nyamanan di lingkungan pekerjaan semakin dirasakan oleh Airin. Rasa kesal yang ada pada dirinya mulai dari awal bertemu dengan Maya sampai sekarang masih terasa. Semakin lama selalu saja ada ulah yang membuat hatinya tak nyaman. Entah itu kesengajaan atau hanya dirinya saja yang merasa tak nyaman.
Walaupun dia dan Maya dipisahkan tempat, bahkan dipisahkan pula apa yang mereka tangani. Airin mengerjakan bagian pesanan, sedangkan Maya mengerjakan bagian barang stok toko yang di jual.
Akan tetapi bukan tak mungkin perselisihan tidak akan terjadi, pada kenyataannya masih ada celah yang sangat memungkinkan untuk terjadi lagi. Seperti saat ini, ketika orderan pesanan lagi menumpuk, boss pemilik toko itu bisa bisanya meminta Airin untuk membuatkan satu jenis stiker dadakan karena kebetulan stok di etalase kosong dan ada pembeli yang menginginkan itu.
Sebagai karyawan, tidak ada yang bisa diperbuat olehnya selain menuruti kemauan boss nya. Tanpa banyak ngomong ia langsung memasukkan bahan dan mencetak agak banyak agar tak berulang ulang dimintai tolong lagi. Dia membuat stok 100 biji. gak tanggung tanggung memang. Dan itu disengaja olehnya.
Karena proses cetak agak lama, dan pembeli yang sedang menunggu pun mulai komplain. Tak ayal boss pun mulai ngomel kepada Airin.
"Kenapa kamu bikin banyak sekali, kan jadi kelamaan orangnya nunggu. Harusnya dua atau tiga aja cukup biar cepat jadi duit." kata pemilik toko itu.
"Kalau cuma cetak 3 biji kan yang ada bahan kepotong sampingnya terbuang banyak. Ini aku pas in supaya bahan gak terbuang." jawab Airin santai.
"Iya kan tapi jadi lama. Itu orangnya mulai ngedumel." sambung pemilik toko lagi.
"Bukannya stok toko harusnya pekerjaan si Ayam, kenapa jadi aku yang disuruh. Kenapa gak si Ayam saja?" Jawab Airin dengan kesal.
Ayam adalah julukan panggilan Airin kepada Maya.
"Itu kan tugas dia. Kenapa jadi aku yang disuruh. Masih untung aku cetakin. Salah lagi. huufftt... sambung Airin dengan ngedumel.
Pemilik toko pun hanya menggelengkan kepala melihat sikap Airin yang sudah berubah akhir akhir ini.
Perubahan sikap itu terjadi ketika mulai hadirnya Maya pada toko tersebut.
Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya selesai juga proses percetakan tersebut. Setelah memotong dan diberikan di bagian depan, Airin melanjutkan lagi mengerjakan yang menumpuk di mejanya.
Tak berselang lama, ia mendapatkan panggilan dari bagian depan. Di sana ada salah satu pelanggan yang mengambil pesanan nya. Ketika diambil nota pesannya, dahinya berkerut. Ia tak merasa ada pesanan itu, dilihatnya nomer nota, dan dicocokkan dengan tumpukan di mejanya, tak ada yang cocok.
__ADS_1
Airin yang merasa bingung kemudian menanyakan pada bagian penerimaan. Ternyata memang benar pesanan tersebut ada, bahkan sudah dibayar lunas dan tanggal pengambilannya hari ini.
Tanpa pikir panjang akhirnya Airin mencetak dan segera menyerahkan hasilnya kepada pelanggan tersebut. Di pikirannya hanya beranggapan bahwa nota yang seharusnya ada di mejanya terselip sehingga tak ada. Ia tak ada pikiran buruk sama sekali.
Keesokan harinya, ketika ia mengecek nota pesanan baru, dahinya berkerut. Ia melihat barang yang sama seperti yang ia cetak kemarin. Bahkan nota pesanan yang kemarin ia cari berada pada bungkusan tersebut. Dalam benaknya ia bertanya, bukannya kemarin katanya diambil harus hari itu, kenapa sekarang barangnya masih ada.
Tidak mau menerka nerka, Airin segera membuka dan memastikan. Ia kemudian bertanya pada teman lainya.
"Emang pesanan yang aku bikin kemarin kemarin ga jadi diambil ya sama orangnya?" tanya Airin pada salah satu temanya di bagian depan.
"Sudah kok, kemarin sudah dibawa sama orangnya, kan mau dibawa mudik." jawab teman nya.
"Lah ini apa? kok barangnya masih ada" tanya Airin dengan menunjukkan barang yang ia pegang.
"Oh itu tadi barusan dibawa Koko, kayaknya itu yang mengerjakan si Ayam. Soalnya tadi itu ada di barang barang stok etalase." jawab temanya lagi.
DEG
Tak mau berpikir panjang Airin pun langsung membawa masuk barang tersebut ke ruangan bos nya untuk memastikan.
"Ko, ini yang ngerjain Ayam kah?" tanya Airin.
"O**h iya, aku suruh Maya buat cetak itu. Kan file nya ada, jadi tinggal cetak aja." jawab pemilik toko.
"Orang yang pesan udah ngambil dari kemarin." kata Airin.
"Kan barangnya baru aku bawa tadi pagi." jawab boss nya Airin.
"Kemarin udah aku cetak, terus udah diambil sama yang pesan." jelas Airin.
__ADS_1
"Kenapa kamu cetak? kan jadinya dobel. Ini bukan sticker yang bisa dijual bebas. Ini sticker komunitas." kata pemilik toko agak marah.
"Yang bagi tugas katanya aku suruh bagian cetak barang pesanan siapa? Terus kenapa itu sampai dicetak si Ayam? " Jawab Airin tak mau kalah.
"Kemarin nyuruh nyetak dadakan buat barang dijual, sekarang barang pesanan yang nyetak sana, lama lama bikin pusing. Kenapa gak semua aja di limpahkan ke sana? biar semua dikerjakan sana." sambung Airin.
Ia memang kesal karena beberapa hari ini banyaknya orderan masuk ditambah dengan beberapa kejadian yang suka seenaknya saja si boss menyuruhnya.
Mendengar jawaban Airin, pemilik toko pun merasa kesal. Selama bekerja dengannya tiga tahun lebih, baru kali ini Airin menunjukkan sikap membangkang.
"Kenapa kamu malah marah? Harusnya bersyukur karena pekerjaan kamu ada yang bantu." kata pemilik toko.
"Kalau sudah merasa gak betah, silahkan mencari pekerjaan yang lain." sambung pemilik toko.
Airin hanya diam, ia kaget dengan kata kata boss nya yang terucap. Ia tak menyangka jika boss nya berucap seperti itu. Jenuh memang ia rasakan saat ini.
Tapi dia berpikir, dulu ketika awal mendapatkan pekerjaan masuk di toko ini dengan baik baik. Maka seandainya harus keluar secepatnya pun juga harus dengan baik baik. Saat ini, jika ia mengambil keputusan untuk keluar, ia bingung dengan alasan apa yang akan ia sampaikan kepada kakaknya. Ia jadi menekan egonya untuk mencoba bertahan mengalah pada keadaan.
Pemilik toko pun sebenarnya berpikir sangat disayangkan jika harus kehilangan karyawan seperti Airin. Selama ini dia tak pernah berulah, cenderung cekatan, bahkan toko pun bisa di percayakan padanya.
Terbukti memang gak pernah ada masalah.
Tapi di sisi lain, ia melihat potensi Airin yang masih bisa dan harus dikembangkan. Sangat disayangkan pula jika ia tetap bekerja cuma sebagai karyawan toko. Melihat usia Airin yang masih sangat muda, sebagai orang yang yang merasa iba, ia jadi berfikir bagaimana cara agar Airin bisa mengolah potensi yang ada pada dirinya. Tak harus menjadi pegawai toko selamanya.
~bersambung~
Udah malam guys, waktunya mengarungi mimpi.
Buat yang mampir jangan lupa tinggalkan jejak ya.
__ADS_1
RATE, LIKE, dan KOMEN kalian sangat berarti.
Terimakasih🤗🤗🤗