
Tak hanya cukup satu kota yang di singgahi, setelah pertama ke luar kota dinyatakan berhasil menjalankan tugasnya, Airin kembali lagi dipindah ke kota lainya yang sedang membutuhkan orang. Sama seperti kota sebelumnya, ia harus mengajari anak baru untuk bekerja sesuai dengan standard perusahaan pusat. Hoby nya yang suka akan traveling memudahkannya ketika ia harus dikirim ke luar kota.
Dan saat ini tibalah dia di pindah tugaskan ke kota yang tak terlalu jauh. Bukan kota besar seperti sebelumnya. Di tempat yang baru ini ia harus menjadi anak kost, karena di tempat kerja tidak ada mess untuk karyawan. Namun ia tak perlu memikirkan biaya, walaupun berada di kost luar, biaya tetap ditanggung oleh perusahaan. Bersyukur karena fasilitas itu ia dapatkan. Jadi tidak mengurangi gaji sebagai pengeluaran mendadak.
Setiap Sabtu tengah hari ia pulang ke tempat kakaknya, dan kembali lagi Senin pagi. Jarak tempuh kota yang sekarang sekitar 3 jam dari kota dimana rumah kakaknya berada. Dan itu mengharuskan dia naik bis dan angkutan umum.
Ketika Senin pagi ia harus berangkat jam 04.00 pagi untuk sampai di terminal. Pengambilan bis pertama harus ia lakukan agar tidak terlambat sampai di kantor. Jika sedikit saja terlambat, maka ia harus menunggu lagi bis selanjutnya. Dan itu sekitar tiga puluh menit lebih. Tentunya ia tak mau membuang buang waktu.
Perusahaan tempat ia bekerja menjalin kerjasama dengan pihak aparat. Tentunya tak bisa di jelaskan bagaimana sistemnya. Sebagai karyawan ia hanya menjalankan tugas yang diberikan oleh boss nya. Kali ini dia di pindahkan tugaskan bukan untuk mengajari anak baru. Tapi dia di tempatkan dengan posisi sebagai pengawas cabang. Hal itu mengharuskan memiliki tanggung jawab yang lebih besar dari sebelumnya.
Bonus, tunjangan, tak perlu diragukan lagi. Sudah pasti bisa menambahkan angka pada gajinya. Semua itu sangat ia syukuri. Walaupun dengan resiko jauh dari keluarga tersayang.
🌴🌴🌴
"Wah sekarang jadi sering keluar nih. Emang istrimu udah jinak? hahaha..." goda seorang temannya.
"Biasa aja, cuma kalau lagi pengen nongkrong. **G**ak lebih kok." jawab Brian dengan jujur.
"Awas ntar nyampe rumah dijadiin perkedel baru tahu rasa lon Bri hahaha... " salah seorang teman lainya menimpali.
"Kagak bakal lah..." jawab Brian dengan tersenyum miris.
"Bilang kagak bakal, ntar nyampe rumah ada sandal melayang hahaha..." sahut teman satunya lagi.
Ya, setahu teman temannya memang istri Brian galak. Itu sebabnya selama ini Brian tak pernah bergabung berkumpul sekedar nongkrong. Ia selalu beralasan kangen anak, sehingga lebih memilih pulang. Namun belakangan ini dia sering ikut gabung bersama temannya. Hal itu membuat teman lainnya bertanya tanya. Mereka saling menebak dengan apa yang terjadi pada temanya itu. Walau pun tak setiap malam berkumpul, hanya seminggu sekali atau pas malam libur saja.
Keseharian Brian tak banyak berubah. Seperti biasa, selepas pulang bekerja ia tetap segera pulang ke rumah untuk segera bertemu anak anaknya. Walaupun hubungan dengan rumah tangganya mengalami keretakan, namun ia masih satu rumah dengan istrinya. Jangan tanyakan tentang uang belanja, dia tetap memberikan jatah uang belanja karena masih merasa bertanggung jawab. Secara hukum dia masih diwajibkan untuk memberi nafkah. Dan itu ia patuhi walaupun ia tidak mendapatkan hak nya.
Hari hari berjalan seperti biasa. Brian orang yang cenderung pendiam, tak banyak omong kalau tak penting. Hanya akan berbicara dengan orang yang sudah kenal akrab dengannya. Jika orang belum mengenal sifat aslinya, bisa beranggapan bahwa dia orang yang sombong. Namun sebenarnya dia ada sisi lain yang humoris. Hangat kepada orang terdekat.
__ADS_1
Siang itu dia mendapat tugas untuk pergi ke perusahaan tempat Airin bekerja. Tugas yang biasanya di lakukan oleh Maman teman kantornya. Namun karena Maman pindah bagian, maka tugas dialihkan kepadanya. Tak banyak ngomong, ia segera berangkat menuju perusahaan tersebut dengan membawa dokumen dan data yang telah dipersiapkan sebelumnya.
"Mbak... bisa bertemu dengan pak Hardi?" tanya Brian di bagian penerimaan tamu.
"Maaf mas, dari mana?" jawab wanita di bagian penerimaan tamu.
"Saya gantinya Mas Maman, mau ngasih data sama minta laporan." jawab Brian.
"Oh iya, silahkan pak, nanti bertemu dengan mbak Airin ya." jawab wanita itu sambil mengantarkan Brian pada ruangan Airin.
Sesampainya di ruang Airin, wanita itu kembali balik ke tempatnya meninggalkan Brian di dalam ruang kerja Airin.
"Ada yang bisa dibantu pak?" tanya Airin dengan sopan.
"Saya dari xxxx mbak, mau nganter data sama sekalian totalan." jawab Brian.
"Saya juga baru pertama kali kesini mbak, makanya juga kurang tahu." jawab Brian.
"Oh iya kah?? sama donk. Saya juga baru hari ini masuk di kantor ini." jawab Airin.
Mereka pun akhirnya bekerja sama, meneliti semua berkas, mengecek sekaligus berapa uang setoran yang harus di bayar. Setelah selesai, dan dinyatakan clear tanpa ada perbedaan, Brian pun pamit undur diri. Walaupun sebagai aparat, namun Brian tetap memposisikan diri sebagai relasi yang harus saling menghormati.
Keesokan harinya, kembali lagi Brian ditugaskan untuk pergi ke perusahaan tersebut. Ya, memang ada sebuah kerjasama antara perusahaan tempat Airin bekerja dengan Aparat sekitar. Itu sebabnya mengharuskan setiap hari untuk menghadirkan seorang kurir. Namun bukan kurir sembarang kurir seperti pada kerjasama lainya.
"Mbak Airin asli mana?" tanya Brian disela sela bekerjanya.
"Asli dari xxxxx pak." jawab Airin singkat.
"Jauh ya, jadi anak kost donk di sini." tanya Rudi teman Brian.
__ADS_1
"Iya pak, anak kost jauh dari emaknya" jawab Airin.
Ya, siang itu Brian datang dengan ditemani temannya bernama Rudi.
"Sudah punya pacar pa belum mbak?" tanya Rudi tanpa basa basi.
"Kata emak, ga boleh pacaran dulu, kudu kerja yang bener. Jodoh sudah ada yang ngatur." jawab Airin dengan sok patuh nasihat emaknya.
"Emang mbak Airin usia berapa? kelihatannya masih sangat muda." tanya Rudi dengan gaya sok centil.
"Lah emang saya masih muda pak, belum juga dua puluh lima tahun." jawab Airin sekenanya.
"Pasti sudah punya pacar ya, makanya gak ngaku. hahaha... " Rudi yang sok akrab mencoba berusaha membangun komunikasi.
"Enggak lah pak, kenapa juga harus berbohong." jawab Airin.
Rudi yang merasa ada rasa ketertarikan terus terusan mengajak ngobrol Airin. Brian hanya sesekali memperhatikan. Ia lebih fokus pada lembaran yang ia pegang dan memainkan angka pada kalkulator yang ada di hadapannya.
~bersambung~
Maaf ya teman teman, mungkin ada yang bingung tentang perusahaan apa, dan kenapa bisa bekerja sama dengan aparat. Dan muncul pertanyaan juga kenapa selalu ada total mentotal berhubungan dengan uang. Ya memang semua itu ada dan terjadi. Soo...ikuti saja alurnya, lama kelamaan pasti akan paham kok.
------------------+++++++++++----------------
Terimakasih yang sudah berkenan membaca karya receh ini. Jangan lupa tinggalkan jejak yes.
RATE, LIKE, dan KOMEN pastinya....
terimakasih🤗🤗🤗
__ADS_1