
Habis sudah tumpukan nota yang biasanya ada di mejanya. Tak lupa juga ia menyiapkan penyimpanan file sesuai dengan jenisnya. Semua itu ia lakukan agar jika nanti ia sudah tak berada di tempat itu siapa pun yang menggantikannya tidak kesulitan. Karena ia tak mau ada orang yang kesusahan karena ulahnya.
Menyelesaikan pesanan di nota, memilah file sesuai jenis, membersihkan dan merapikan layar monitor, mesin, serta meja sudah dilakukan semua. Memandangi ruangan itu dengan diam seolah merekam semua sudut sebelum ia tinggalkan. Ia tak akan pernah melupakan segala kejadian di tempat itu sehingga menjadi kenangan.
Tak perlu ada yang disesali, tak perlu juga ada yang ditangisi. Demi kenyamanan yang ia pilih, kini ia benar benar bertekad mengambil keputusan untuk berhenti dari pekerjaan tersebut. Ia percaya Tuhan akan memberikan jalan tanpa mempersulit niat baik hamba Nya. Semua rejeki sudah diatur oleh Nya.
Biasanya kalau sudah waktunya pulang ia langsung pulang tanpa ngobrol dahulu dengan teman temanya. Palingan cuma sekedar pamitan say hello saja. Namun berbeda dengan hari ini. Sore itu, sebelum pulang ia sempatkan untuk mengobrol sebentar dengan teman nya di bagian depan. Airin juga meminta maaf kepada semua temannya. Namun ia tak mengatakan pamit berhenti bekerja. Dia berfikir biarlah besok temanya tahu dengan sendirinya ketika ia sudah tak masuk lagi kerja. Ia tidak mau ada derai air mata sehingga akan menghalangi niatnya untuk berhenti.
"Tumben mbak Rin gak langsung pulang." kata salah satu temannya.
""Ia lagi pengen melihat kalian aja sebentar." jawabnya singkat.
"Maaf ya kalau selama ini aku sering cerewet, semoga kalian gak ada yang tersinggung ya. Jangan diambil hati ya." sambungnya lagi.
"Halah mbak nyantai aja lagi. K**ayak apa ae." sahut teman satunya.
"Ntar kalau aku gak masuk jangan pada nagih cetak ke aku ya. Cari aja di tumpukan bahan itu. Jangan dikit dikit minta cetak. Ntar bos rugi hahaha.." kata Airin.
"E**mang mbak Airin mau kemana? kayak mau keluar aja pakai dipesankan gitu segala." sahut yang lain lagi.
"Gak kemana mana. Ya mungkin aja kalau lagi capek atau sakit kan masuk. Terus kalau aku gak masuk mau minta suruh nyetak kan yang ada gak lucu." jawab Airin.
Lina yang sudah mengetahui maksud Airin hanya diam sambil memperhatikan. Karena Airin memintanya untuk tidak memberitahu yang lain.
Setelah ngobrol sebentar akhirnya Airin sudah tak tahan. Mata yang berkaca kaca dari tadi dia tahan agar supaya tidak menetes. Ia menghela nafas beberapa kali untuk menetralkan detak jantungnya. Ya, dia seperti maling yang lagi ketahuan. Berdegup kencang, seolah takut kalau ketahuan.
Akhirnya tepat jam tutup toko pun tiba. Para karyawan yang lain juga bergegas untuk siap siap ber beres. Ketika semua sudah selesai dan mengunci pintu, Airin tiba tiba menjabat tangan semua teman temannya. Mereka semua pada bingung, namun seakan mengerti dengan apa keputusan yang diambil Airin. Salah satu teman yang paham pun langsung memeluknya. Butiran air mata yang tertahan sejak tadi tak mampu lagi dikondisikan.Terjadi isakan tangis tanpa suara. Satu persatu teman nya memeluknya. Tak ada yang tak menangis.
"Udah kalian kenapa nangis sih?" tanya Airin.
__ADS_1
"Kenapa mbak Airin keluar?" tanya salah satu.
"Kalau mbak Rin keluar, ntar minta cetak siapa?" sahut satunya lagi.
"Udah ga usah bingung, ada Koko kan. Toh kita juga masih berteman. Aku gak kemana mana kok. Kalau mau main juga masih bisa ke tempat kakak ku." jawab Airin.
"Mbak kenapa keluar? dapat pekerjaan baru kah? " tanya salah satu lainya.
"Enggak, lagi pengen istirahat aja kok." jawabnya.
"Oh... kirain udah dapat kerjaan baru." sahut lainya.
Airin hanya menanggapinya dengan senyum. Akhirnya dia mengajak semua temannya agar segera pulang. Berat memang untuk berpisah dengan teman teman yang selama ini selalu ada di sekitarnya. Tapi mau gimana lagi. Keputusan udah bulat, diambil dengan pemikiran yang matang.
Begitu kaki melangkah untuk pulang, Rio yang selalu setia berprofesi sebagai tukang ojeg gadungan sudah menunggu. Menyapa dengan senyum lebar, namun sayang dia bukan siapa siapa. Karena tak ada hubungan diantara keduanya.
Sesampainya di rumah ia segera turun. Ia bingung bagaimana menjelaskan kepada kakaknya tentang keluarnya dia dari pekerjaan. Ya, memang dia mengambil keputusan sepihak. Bahkan kalau dibilang keluar secara resmi pun juga belum, karena ia belum berpamitan kepada bosnya. Ia memang sengaja tak ingin berpamitan dengan alasan gak mau merasa sedih, gak mau jika ditahan juga untuk tetap bekerja.
Mandi, kemudian melihat acara tv sebentar sambil memejamkan mata menikmati rasa lelah. Sang kakak yang memperhatikan pun tahu bahwa adiknya tidak baik baik saja. Pasti ada sesuatu yang ia sembunyikan.
"Kamu kenapa Rin?" tanya kakaknya.
"Gak apa apa, cuma capek aja banyak kerjaan" jawab Airin.
"Mbak... " panggilnya lagi, tapi ia takut melanjutkan kalimatnya.
"Kenapa?" tanya kakaknya.
"Aku cerita tapi jangan marah ya." Airin memulai bicara.
__ADS_1
"Iya, ada apa?" desak kakaknya.
"Aku pingin cari kerja baru. Aku sudah keluar." jawabnya singkat dengan takut.
"Hah??? keluar? kenapa?" pertanyaan dari kakaknya mulai bermunculan.
"Aku capek, bosen, pengen cari sesuatu yang baru." jawabnya.
"Beneran ga ada masalah? lantas kenapa keluar? memangnya sudah ada pandangan mau kerja dimana? kan sekarang susah nyari kerjaan kalau ga ada yang bawa." serentetan pertanyaan masih terus berlanjut.
"Ya besok cari, lihat lowongan di koran kan banyak. Atau tak jadi TKW aja ya."jawabnya.
"Ngawur ae. Emang tadi dapet pesangon berapa mau jadi tkw." pertanyaan yang tak ingin didengar pun muncul.
"Gak dikasih. hehehe... soalnya aku gak pamitan sama Koko." jawab Airin sambil nyengir.
"Lah gimana sih, katanya keluar tapi kok belum pamitan. Gak sopan itu. Masuknya baik, keluarnya juga harus baik baik." jelas kakaknya.
Airin hanya mengiyakan apa yang dibilang kakaknya. Ia mendengarkan banyak nasihat yang keluar dari mulut kakaknya. Dia juga menceritakan apa yang sebenarnya terjadi sehingga memilih untuk keluar.
Keesokan harinya, boss nya mendatangi tempat kakaknya untuk mencari Airin.Ia menanyakan alasan kenapa Airin memutuskan berhenti bekerja. Setelah selesai pembicaraan dengan semua, dengan kesepakatan yang mereka lakukan, Airin diberi gaji dan juga pesangon yang telah disiapkan sebelumnya. Dan resmi sudah Airin menyandang status sebagai pengangguran.
~bersambung ~
Terimakasih yang sudah berkenan mampir.
Maaf kalau banyak typo. Harap maklum ya penulis abal Abal. hahaha...
Jangan lupa tinggalkan jejak RATE, LIKE dan juga KOMEN ya....
__ADS_1
terimakasih🤗🤗🤗