
Hari hari berikutnya berjalan dengan lancar. Tak ada masalah antara Airin dengan rekan kerjanya. Ia sangat menikmati pekerjaan tersebut. Menjalani LDR dengan Budi tak pernah ia anggap masalah. Ya, Budi adalah pacar baru sebelum Airin pindah tugas ke kota yang sekarang.
Flashback
Ketika berada di kantor pusat tempat ia bekerja, Airin setiap harinya pulang ke rumah kakaknya. Kawasan anak kost yang sangat ramai. Sejak berteman dengan Rio, ia juga pernah berkenalan dengan dengan temannya. Sama sama kuliah satu jurusan dengan Rio, namun berbeda kota asalnya. Rio yang berasal dari luar pulau, dan Budi yang berasal tak jauh dari kota asal Airin.
Seringnya berkomunikasi dengan Budi, tak ada kecanggungan lagi diantara mereka. Karena Airin merasa nyaman berteman dengan orang sedaerahnya. Dengan gaya bahasa dan adat yang sama, menjadikan tak ada jarak bagi keduanya.
Secara fisik Budi sangat rupawan. Walaupun belum memiliki penghasilan sendiri, Budi tergolong orang yang rajin. Setiap akhir pekan ketika libur kuliah dia selalu pulang untuk membantu orang tuanya. Jadi bisa dipastikan kalau dia termasuk anak yang tidak hanya berpangku tangan mengharapkan uang dari orang tuanya saja. Hal itu menjadi nilai positif dari sudut pandang Airin.
Tentunya hubungan ketertarikan antar keduanya tanpa sepengetahuan Rio.
Namun ternyata perbedaan agama menjadi faktor yang tidak bisa disepelekan. Sebagai seorang muslim, Airin sudah dididik dan di wanti wanti sejak kecil untuk tidak berpindah keyakinan. Ditanamkan oleh orang tuanya rasa cinta dan setia yang mendalam pada agamanya.
Begitupun dengan Budi. Ia terlahir dari kelurga yang beraneka ragam kepercayaan. Ayahnya dan ibunya menganut keyakinan yang berbeda. Ia ikut neneknya sejak kecil dan beragama nasrani.
Perbedaan itu menjadikan keduanya justru semakin dekat.Rasa penasaran ingin mengetahui lebih jauh juga terjadi. Hingga Airin pernah sesekali diajak untuk ibadah ke gereja. Begitupun Budi, ketika Airin sholat di masjid ia pernah mengantarkan, dan menunggu hingga selesai.
__ADS_1
Namun semua itu hanya sebatas hubungan yang di anggap tidak serius. Entah Airin yang terlalu naif atau terlalu polos. Yang jelas ia hanya beranggapan masih terlalu muda. Sehingga tidak ada pemikiran untuk melangkah menuju serius.
Begitupun ketika ia akan di pindah ke luar kota. Perasaannya ketika meninggalkan kekasih hanya biasa biasa saja. Dia tak menganggap berat hubungan LDR nya.
.
"Ayank lagi apa?" tanya Budi lewat pesan singkat hp nya.
"Biasa, lagi kerja. Emang lagi ngapain lagi" jawab Airin.
"Sabtu depan pulang kan? Yuk nonton mumpung aku gak pulang." jawab Budi lagi.
"Lihat sikon dulu ya, karena ini kerjaan banyak banget. Terus juga ada masalah sedikit yang harus segera diselesaikan." jawab Airin jujur.
"Masalah apa?" tanya Budi dengan khawatir.
"Ini laporan ada yang gak cocok sedikit, harus di benerin dulu sebelum setor akhir bulan." jawab Airin.
__ADS_1
"Oh cuma ngerjain laporan ya, aku kira ada yang serius. Aku cuma kangen saja, lama kita gak jalan bareng" kata Budi.
"InsyAllah deh ntar aku usahain ya, asal kerjaan udah kelar aku pasti pulang. Atau kalau kamu mau sekali kali jemput aku ke sini juga boleh." Jawab Airin.
"Aduh yank kalau aku jemput kamu ke sana ntar yang ada malah capek di jalan. Masa iya aku ke sana terus balik lagi ke sini, kayak setrika aspal aja. hahaha..." jawab Budi.
"iya deh iya, doain aja segera kelar aku nya. Ya sudah aku lanjut kerja dulu ya, ga enak sama teman kalau main hp mulu."
"Okey ay, selamat bekerja sayang." tutup Budi.
Airin pun melanjutkan pekerjaan yang tadinya sempat tertunda karena memegang hp. Dia tak mau menyepelekan pekerjaan. Walaupun di situ dia jauh dari atasan tapi dia tetap menjaga kepercayaan.
Akhirnya yang ditunggu datang. Hari Sabtu hari yang selalu dinanti karena keesokan harinya dia bisa gunakan untuk beristirahat alias libur. Pulang ke rumah kakaknya adalah sebuah pilihan yang dia lakukan. Dengan begitu dia bisa bertemu dengan pujaan hati. Dengan naik bis dia tempuh perjalanan yang lumayan jauh itu selama kurang lebih 3 jam. Tak ada rasa jenuh atau pun rasa malas ketika dia harus berdesakan dengan banyaknya penumpang yang berakhir pekan. Dia justru menikmati momen perjalananya. Baginya pengalaman ini ia nikmati sebelum masa kebebasannya melajang berakhir suatu saat nanti.
Paras manis yang ia miliki menjadikan orang lain yang memandangnya tak jenuh. Menjadikan daya tarik tersendiri bagi kaum lawan jenis. Sehingga pada perjalanan kali ini dia mendapat kenalan. Sikap supel dan tak memilih teman menjadikan dia dengan mudah berteman dengan siapapun termasuk lawan jenis. Tak ada pemikiran yang buruk atas penilaiannya pada orang lain. Sehingga dengan mudahnya dia mendapatkan teman baru walaupun cuma berada di atas kendaraan umum.
Didin alis Udin adalah teman baru kali ini. Usia yang lebih diatasnya tak membuatnya risih untuk berteman. Asal sopan dan menghargai saja dia tak apa.
__ADS_1
Bagi Airin perbedaan usia tak menjadikan penghalang untuk menjalin rasa silaturahmi pertemanan. Tak ada batas usia yang harus ia seleksi untuk menjadi daftar pertemanannya. Karena baginya asal nyaman dan saling menghargai itu lebih penting dan juga jika berteman dengan yang lebih dewasa kita bisa belajar untuk menyikapi suatu masalah dari sudut pandang berbeda.