Jodoh Terbaik Dari Tuhan

Jodoh Terbaik Dari Tuhan
Keputusan Brian


__ADS_3

"Nit, apa rumah tanggamu baik baik saja?" tanya ibu Anita.


"Iya Bu, memangnya kenapa ibu bertanya seperti itu?" jawab Anita dengan pertanyaan.


"Kenapa suamimu semalam tidur di luar? apa kalian sedang bertengkar?" tanya ibu lagi.


"Ooh... semalam aku tidur lebih awal Bu. Sepertinya mas Brian ketiduran gak sempat pindah kamar." jawab Anita beralasan.


"Y**a sudah kalau gitu, lain kali jangan biasakan tidur berpisah. Kayak orang gak akur aja." ibunya Anita memberi nasihat pada anaknya.


"iya Bu." jawab Anita singkat kemudian melanjutkan pekerjaannya.


Kesibukan yang Anita jalani setiap hari tak beda jauh dengan kesibukan ibu rumah tangga lainya. Beres beres rumah, memasak, dan merawat ke dua anaknya.


Seminggu sudah setelah kunjungan ibunya, Anita seperti biasa menghabiskan waktunya di rumah. Sesekali ia juga nimbrung ke tetangga dengan alasan jenuh dan ingin mengajak anaknya supaya tidak rewel.


Siang itu, Anita mendapat telpon dari teman lelakinya yang sudah beberapa hari tak ada kabar. Sikap Brian yang semakin kepadanya menambahkan rasa jenuh semakin meningkat. Tanpa berpikir panjang lagi dia mengiyakan ajakan temanya itu.


"Iya mas nanti agak siangan dikit ya. Aku masih belum beres semua ini." jawabnya pada lawan bicara di telpon.


"Iya iya... aku juga harus nitipin anak anak dulu ke neneknya." sambung nya lagi.


"oke. wa'alaikumsalam....." kemudian Anita menutup telpon tersebut.

__ADS_1


Setelah membereskan semua pekerjaan di rumah, kemudian Anita membawa ke dua anaknya untuk dititipkan ke tempat ibunya (ibu dari Brian). Entah dimana otaknya berfikir, tanpa sungkan dia menitipkan nya.


Merasa di titipin cucunya, sang nenek dengan senang hati menghampiri cucunya. Memang kasih sayang ibu dari Brian tak diragukan lagi sebagai sosok nenek. Dia sangat menyayangi anak dan juga cucu cucunya.


Setelah selesai menitipkan anaknya, tanpa menunjukan sikap yang mencurigakan, Anita bergegas menemui teman laki laki nya. Seperti pertemuan yang sebelumnya, dia selalu merasa bahagia.


Waktu terus berputar, jarum jam tak berhenti berdetak. Hingga menjelang sore, dua insan yang sedang melepas rindu itu lupa akan waktu. Entah karena benar benar lupa akan anaknya atau karena terlalu bahagia Anita tak menyadari kalau seharusnya waktunya ia pulang dari tadi. Dengan tergesa gesa dia mengambil anak nya yang di titipin pada mertuanya.


Sesampainya di rumah, sosok Brian sang suami sudah nampak duduk d sofa ruang tamu. Melihat buah hatinya datang, Ia langsung mengambil alih anaknya. Tanpa bertanya dan tanpa bicara, ia melihat anaknya belum mandi kemudian menggendong anaknya dan memandikannya. Setelah itu seperti biasa dia bermain dengan buah hatinya.


Malam hari setelah anak anaknya tidur, Brian menuju ke kamarnya. Kamar dimana letak istrinya tidur, kamar yang biasanya ia gunakan untuk istirahat sebelum perang dingin terjadi. Tak ingin berlarut larut dengan keadaan, Dia ingin segera menyelesaikan masalah yang ada secepat mungkin.


"Pah... kamu mau tidur sini lagi?" tanya Anita ketika melihat suaminya masuk kamar.


"Bicara apa pa? ada yang penting kah?" tanya Anita, semenjak perang dingin itu Anita tak lagi berkata dengan keras seperti yang dahulu.


"Kita gak bisa seperti ini terus menerus. Mau sekarang ataupun besok tetap tidak akan mengubah keputusan ku" kata Brian dengan santai.


"Maksudnya?" tanya Anita.


"Aku sudah memberikan waktu padamu untuk berpikir tentang kesalahan yang kamu lakukan. Tapi ternyata lagi dan lagi kau ulangi, tidak ada perubahan." Brian men-jeda ucapannya untuk mengambil nafas.


"Apakah pantas rumah tangga yang seperti ini kita lanjutkan? untuk apa kita teruskan hubungan ini jika para pelakunya saja tidak ada usaha untuk memperbaiki. Malah justru melakukan kesalahan yang sama." sambung Brian.

__ADS_1


"Apa maksudnya semua ini?" tanya Anita dengan nada tinggi mendengarkan kalimat dari Brian.


"Aku tidak ingin ada pertengkaran lagi. Dan aku juga tidak ingin masalah ini berkepanjangan. Aku sudah tahu apa yang kau lakukan tadi siang, tak perlu di jelaskan lagi, dan mungkin memang cukup sampai disini garis jodoh diantara kita. Mulai sekarang, kalau kamu mau mengejar kebahagiaanmu silahkan. Aku tidak akan menghalangi. Terserah kalau kamu mau berbuat apa. Yang jelas aku hanya memikirkan anak anak. Sekiranya kamu sudah tak mau merawatnya bilang padaku, akan aku usahakan semaksimal mungkin untuk anak ku." Kata Brian dengan menahan segala emosi yang menyesakkan dada.


Anita hanya diam terpaku. Dia tak mampu untuk sekedar bersuara mengeluarkan apa yang ada di benaknya. Buliran air mata yang tiba tiba menetes saat dia mencerna ucapan Brian. Ia tak menyangka suaminya yang selama ini pendiam dan cenderung mengalah justru berbicara seperti itu.


Entah karena memang dia menyadari kesalahannya atau memang dia tak perduli karena saat ini dia lagi jatuh hati pada laki laki lain sehingga ia pun tak ambil pusing dengan keputusan Brian. Ia justru merasa memiliki kesempatan untuk lebih dekat dengan laki laki yang selama ini bukan apa apanya itu.


Ya, Brian memang mengambil keputusan itu karena dia melihat istrinya menemui laki laki lain lagi. Memang selama ini Brian kelihatan diam dan cuek. Namun semenjak kejadian yang ia lihat tempo lalu dia mulai memantau sang istri. Dengan bantuan banyak teman Brian mengetahui kelakuan istrinya yang sebenarnya. Hingga ia benar benar berpikir mantap untuk mengambil keputusan tersebut.


Jika memang garis jodoh cukup sampai di sini, maka apa boleh buat, keputusan memang harus diambil. Itulah hasil pemikiran Brian. Tak mau terlarut lebih lama pada keadaan rumah tangganya. Dari dulu selalu menjadi sosok pendiam ketika istrinya marah, berbicara keras dan kasar. Namun semua itu tak cukup untuk bertahan dalam sebuah ikatan. Pada kenyataanya istrinya berani mengambil langkah yang tak pantas.


Berbeda dengan Anita, wanita yang sering tak mau mengalah itu justru mendapat angin segar. Demi sebuah fatamorgana yang nampak saat ini, dia tak berpikir dua kali lagi. Seolah mendapatkan ijin untuk kebebasan dia merasa tak ada lagi yang menghalanginya untuk berbuat sesuai kemauan dia.


Keretakan rumah tangga yang terjadi memang bukan salah dari sebelah pihak. Kedua belah pihak memang ikut andil dalam masalah tersebut. Sehingga sebuah kehancuran dari sebuah ikatan yang pernah terjalin kini nampak di depan mata. Mungkin keputusan untuk berpisah memang lebih baik dari pada bertahan tapi saling tersakiti.


Semua hanya bisa berdoa semoga kedepannya akan menjadi lebih baik lagi. Bagaimanapun juga walaupun berpisah, diantara Brian dan Anita ada anak yang akan tetap menjadi penghubung jalan silaturahmi.


~bersambung~


Jangan lupa jejak jejak manja ya gaaess....


LIKE, RATE dan KOMEN pastinya.

__ADS_1


Makasih... 😘😘😘😘


__ADS_2