
"Thanks ya kak, udah jemput gue, di ajak nongki, eh di anterin pula ke asrama" kata Dea sesampainya di parkiran asrama
Ia memang tinggal di Bogor bersama kakaknya. Karna kedua orangtuanya telah tiada. Namun, saat ini ia tinggal di Asrama karna mendapat gratis. Lumayan, hemat ongkos, katanya.
"Elah kaya sama siapa aja" timpal Arumi. "Next time ketemunya kita healing ya. Gue sering loh weekend-an ke Bogor sana. Kalo tau lo di Bogor gini kan gue bisa ajak lo" sambungnya lagi
"Asiap kakakkuu" timpal Dea dengan tangan posisi hormat
"Udah nih gue pamit turun ya?" tanya Dea meminta ijin
"Turun lah. Gue juga mau turun nih. Ada yang mau gue ambil di belakang" kata Arumi mempersilahkan
Ternyata Arumi mengeluarkan makanan sekantong belanja besar dari bagasinya yang memang sengaja ia beli untuk Dea. Arumi selalu happy bersama Dea. Mangkannya ketika bertemu rasanya seperti ke adik sendiri
"Eh apaan sih lo kak? Masih aja.. Gue udah kuliah loh bukan sekolah yang lo bekelin lagi hahahaa" kata Dea ketika Arumi menyodorkan kantong belanjanya
"Justru karna lo kuliah, tinggal di asrama pula. Nih stok camilan yang banyak. Jangan hemat-hemat. Abisin! Makan yang banyak loh, kuliah tuh capek" kata Arumi
__ADS_1
Dea pun memeluk Arumi dengan mata berkaca-kaca. Sosok Arumi memang sangat ia sayangi, karna dengannya ia merasa dengan kakak sendiri yang selalu perhatian dan sayang padanya.
"Udah loh, jangan nangis. Nanti gue nangis nih. Gue gak mau nangis-nangisan loh" kata Arumi mengurai pelukan
Tak lama, Arumi pun pamit. Dea menunggu hingga mobil Arumi tak terlihat.
"Dek, aku tunggu depan gedung Magister ya" kata Abyan melalui panggilan
Ya, Asrama yang di huni Dea berada di gedung paling belakang. Abyan tau Arumi disana, karena sejak Dea bilang sudah mau pulang, ia pun menunggu.
Abyan menghampiri Arumi di pintu kemudi. Arumi yang tadinya hanya menurunkan jendela, tapi pintu mobil di buka oleh Abyan, pertanda Arumi harus berpindah ke bangku sebelahnya.
Arumi tak menolak, membiarkan Abyan masuk dan mengendarai mobilnya. Tak juga bertanya kemana akan ia bawa. Bersama Abyan, adalah moment yang selalu ia nikmati, walau hanya diam.
Abyan membawanya ke Jalan Padjajaran, dan berhenti di sebuah toko roti.
"Kamu tunggu disini aja, biar aku yang turun" kata Abyan yang lalu meninggalkan Arumi
__ADS_1
Ya, Abyan tau kalau roti unyil ini adalah kesukaan Arumi.
Setelah itu, Abyan kembali melajukan mobilnya menuju pintu tol.
"Kamu ada acara lain hari ini?" tanya Abyan membuka obrolan
"Gak ada" jawab Arumi singkat yang memang tidak ada acara setelah ini.
Abyan pun membelokan mobilnya ke arah Puncak.
Ya, sekarang Arumi tau kemana ia akan dibawa. Syukurnya masih jam 2 siang, jadi tidak khawatir kemalaman pulangnya nanti.
Selama di perjalanan, mereka hanya menikmati jalanan yang lancar ditemani suara musik yang sengaja Abyan putar. Sambil sesekali mengobrol. Lebih tepatnya ketika Abyan bertanya, Arumi pun menjawab.
Tibalah di parkiran atas. Ya, di Gantole lah pilihan Abyan membawa Arumi. Bukan tanpa alasan, karna Abyan cukup mengenal Arumi.
Berhubung tadi ia sudah ketemu Dea yang ternyata Arumi menganggapnya adik, jadi tak mungkin Abyan hanya memilih kafe di tengah-tengah kota sebagai tempatnya mengobrol dengan Arumi.
__ADS_1