Jodohku Orang Terdekat

Jodohku Orang Terdekat
Bab 9


__ADS_3

"Sejak kapan kak, sama dia?" tanya Arumi saat Abyan menyodorkan minuman


Ya, saat ini mereka berdua sedang duduk dengan sekeliling yang indah. Duduk dipinggiran lapangan gantole yang mana posisi menurun, terlihat jalanan dikelilingi kebun teh, bahkan kebun teh puncak pas pun terlihat dari sini, juga pemandangan gunung gagah dibelakangnya.


Abyan tak menjawab, kembali menyodorkan makanan yang sudah ia beli di warung.


"Jadi, ini alasan kali ini kakak menghilang?" tanya Arumi lagi


"Dek, kan kamu sudah tau dari mama pas kemarin ketemu. Aku lagi mengusahakan sesuatu yang menghasilkan. Aku cuma gak mau kamu jadi denger keluh kesah aku atas apa yang sedang aku usahakan" jawab Abyan


"Apa menurut kakak, gak boleh berbagi segala hal dengan pasangannya?" tanyanya lagi


"Bukan gitu. Ini adalah usahaku yang akan aku besarkan, untuk kamu juga loh"


"Tapi aku gak minta, kak"


"Tapi aku pengen. Karna aku akan memegang banyak tanggung jawab, dek"


"Termasuk tanggung jawab atas kebahagiaan Nindya?" tanya Arumi sinis


"Apa sih dek" elak Abyan

__ADS_1


"Hfffff" Arumi menghela nafas panjang


"Jadi ini toh alasannya, padahal bilang aja loh kak" kata Arumi


Namun, Abyan memilih tak menjawab. Ia hanya akan mendengarkan apa keluhan-keluhan Arumi padanya.


"Mungkin, memang masih sama kaya dulu. Aku lah yang paling unggul dalam perasaan ini"


"Sakit sebenernya, tapi udah aku prediksi"


"Yah, aku sadar sih. Sejak SMP aja aku kalah"


"Apa aku nyerah aja kali ya?"


"hmmm... Ya Tuhan... Gini banget sih perasaan aku"


"Kalo emang gak sayang tuh bilang dong, kak. Jangan giniin aku, jangan mentang-mentang aku tuh suka sama kakak sejak lama"


"Serius nih kak, kamu gak mau jawab? Mau diem aja? Atau gak denger aku? Bengong aja bengong?"


Sedari tadi Arumi bicara, di jede persekian menit. Abyan hanya mendengarkan. Ia tau apa yang dirasakan Arumi.

__ADS_1


"Beneran gak sayang aku kan kak? Atau kakak ajak aku kesini hanya mau bilang putus? Atau nunggu aku mutusin kaka? Hahaha konyol banget sih rum, perasaan lu!" kata Arumi sambil memaki dirinya.


Hening..


"Kamu bukan Tuhan, dek. Yang tau setiap perasaan orang" kata Abyan angkat bicara


"Ya aku bukan Tuhan, tapi kamu aja gak pernah ngomong!" timpal Arumi kesal


"Gak semua hal mesti di omong. Kamu harusnya bisa menilai" kata Abyan


"Aku udah nilai, malah di kata begitu!"


"Dek, adek sayang. Eh enggak deh. Sayangku.. Buat serius sama kamu itu aku gak bisa tangan kosong. Aku perlu usaha lebih keras sejak sekarang. Seenggaknya, aku harus punya uang lima puluh ribu" kata Abyan


"Kalo cuma 50.000 aku punya, nih aku kasih. Terus kamu mau seriusin aku, gitu?" sambar Arumi


"Gak gitu, dek!"


"Tau ah! Ngomong, enggak. Jelasin, enggak. Tapi berpikir, menilai ini itu, disalahin mulu juga. Heran banget aku. Udah tau aku tuh bloon!" kata Arumi sewot


"Udahlah, jangan sewot-sewot" kata Abyan menarik kepala Arumi agar menyender padanya.

__ADS_1


Ya, sejak tadi mereka duduk bersampingan, menghadap bawah jalanan. Mengobrol sambil menikmati alam. Walau obrolan panas, tapi cukup menyejukan mata.


"Males banget aku dibaein gini. Gampang banget luluh pula" kata Arumi tanpa menolak sandaran


__ADS_2