JUST A CRASH - CROSSING BUTTERFLY

JUST A CRASH - CROSSING BUTTERFLY
16. Yuk main yuk


__ADS_3

Akhir pekan yang ditunggu pun tiba.


Shuji berkaca di depan cermin dan langsung mengucapkan sajak yang tersirat di pikirannya.


"Keindahan cinta itu seperti mekarnya Sakura." dia mengabaikan terusan sajak yang aslinya berbunyi '-singkat dan hanya bisa di nikmati, jauh dari genggaman.'


Shuji menunggu Jingga keluar dari kamar apartemennya dan jalan bersama menuju halte. Karena akhir pekan, banyak penumpang yang berangkat ke tujuan yang sama.


“Sini duduk,” Shuji menarik lengan hoodie Jingga dan mendudukkannya di kursi kosong di samping seorang wanita.


“Kau bagaimana?”


“Tempatnya tidak jauh,” kata Shuji. Dia berdiri di dekat Jingga—sekalipun kursi kosong terlihat, dia tidak bergerak dari posisinya.


Lima belas menit kemudian, keduanya turun. Dan Jingga pun sadar bahwa tempat ini tidak asing untuknya. Kepalanya berputar ke samping, melihat gerbang hutan agrowisata yang pernah dia kunjungi. Sebelum dia sempat berkata-kata, Shuji mendorong pelan bahu Jingga ke gerbang lain.


“Kita kesini.”


“….” Jingga ingin mengangkat topik soal kejadian lalu, tapi waktunya sudah terlewat. Setiap hal yang di lakukan ada momennya masing-masing, kan. Bagaimana kalau saat dia mengangkat topik ini Shuji menangis lagi? Jingga memutuskan untuk melupakannya sementara waktu.


Perempuan itu mengenakan kerudung instan tanpa poni, dengan tali pita di belakangnya. Di bawahnya dia pakai hoodie mocca dan celana panjang serupa. Mungkin kebetulan, karena Shuji mengenakan jaket dengan warna tone serupa.


Keduanya seperti memakai baju couple saat jalan berdampingan.


Shuji berdiri di loket dan memberikan barcode sebagai tanda bookingnya. Setelah di scan, dia dan Jingga masuk ke area.


Di bagian resepsionis, terdapat jajaran perlengkapan dan konter untuk aksesoris. Petugas datang dan menawarkan untuk memberi petunjuk yang di tolak dengan sopan oleh Shuji. Setelah keduanya menerima perlengkapan, Shuji membantu Jingga memasangkan masker dan pengaman.


“Harus pakai ini, ya?” Jingga membetulkan masker di wajahnya dengan kaku.


“Aku dengar ada grup lain yang datang kemari. Meski lokasinya bersebrangan dengan kita, kalau sampai ketemu dan kau di tembak, akan repot jadinya.” Shuji tidak akan main-main dengan keamanan Jingga seremeh apa pun urusannya.


“Tapi aku betulan tidak bisa main paintball. Main game saja aku tidak becus.”


Shuji tertawa pelan mendengar kalimat penuh pesimis Jingga. Sejak kemarin perempuan ini terus berkata tidak, tidak bisa, payah, dan seterusnya. Semua kata-kata itu jelas penolakan, tapi perempuan ini tetap bersedia datang kemari.


Kalau bukan karena Shuji, mana mungkin Jingga mau.


Memikirkannya membuat Shuji senang. “Aku mengerti. Kita cuma main tembak-tembakan saja.”


“Nanti kalau aku melakukan kesalahan, kau jangan malu.”


“Kenapa harus malu.” Shuji merasakan geli menyusupi dadanya, Dia lalu memeriksa perangkat pistol cat dan menyerahkannya ke Jingga. “Tidak akan ada yang langsung bisa, semua ada trial dan error juga.”


Dalam hati Shuji sebetulnya antusias untuk menyaksikan semua hal memalukan yang akan Jingga lakukan.


**


Satu peluru cat melesat ke titik yang di tentukan dengan akurat.


Shuji dari balik kaca maskernya memicingkan mata. Menatap Jingga, pistol, dan sasaran secara bergantian. Tentu saja, sasaran ini Shuji yang tentukan, karena Jingga masih belajar menembak.


‘Mungkinkah aku rabun jauh?’ Shuji menarik pistol Jingga dan memastikan sekali lagi bahwa pistolnya tidak ada kerusakan.


Shuji menarik pistolnya sendiri dan menembakkan cat ke batang pohon tak jauh dari sasaran pertama.


“Coba kau tembak yang itu.”


Jingga mengangkat pistolnya ke depan dada dan menembak dua kali. Dua-duanya langsung menimpa titik sasaran yang Shuji tembak.


“…. Kau sungguhan belum pernah main?”


“….” Jingga sendiri tidak menyangka, ternyata semudah ini, lah? “Aku belum pernah main.”


“Tidak pernah main game tembak-tembakan? Di komputer atau di ponsel misalnya?” Selain yang pertama, semua tembakan Jingga tepat sasaran.


Jingga tidak punya waktu untuk main game. Dan waktu dia belum berangkat kemari, dia juga tidak tertarik dengan main tembak-menembak.


“Ini pertama kalinya.”


Kalau tidak langsung melihat, Shuji tidak akan percaya. Mungkinkah ini yang dinamakan bakat alami?


“Mungkin kau bisa coba latihan menembak sungguhan.” Gumam Shuji pelan yang masih terdengar oleh Jingga.


Melihat tembakannya tepat sasaran, kepercayaan diri Jingga jadi naik. Dia tidak lagi pesimis dan takut membuat malu. “Oke.”


“…..” Shuji kira dia akan menghabiskan waktu lama untuk mengajarkan Jingga menembak, lalu membangun momen romantis bersama. Tapi ini—baru mulai beberapa menit sudah selesai. “Kalau begitu, ayo kita langsung coba PK.”


“Maksudnya?”


“1 versus 1, aku berdiri di ujung dan kita coba menembak satu sama lain.”


“…Oke!” Jingga mengangguk semangat.


“Selain aturan yang tadi aku jelaskan, kita tambah aturan baru karena hanya berdua.”


“Um.”


“Bertahan tiga menit di arena tanpa kena tembakan.”


“Tiga menit?” Jingga mengerutkan kening. Untuk permainan sejenis paintball, tiga menit itu waktu yang sangat lama. Tapi Jingga tidak tahu sama sekali dan berpikir bahwa tiga menit adalah waktu yang sebentar. “Tiga menit, oke.”


Melihat gaya Jingga yang menanggap enteng, Shuji menambahkan.


“Yang kalah ada hukumannya, ya?”


“Hu-hukuman?”


“Iya, tidak asik kalau tidak ada apa-apa. Yang menang dapat hadiah, yang kalah dapat hukuman. Bagaimana?”


Jingga merasa operasi ini mencurigakan, tapi dia tetap menerima dengan jiwa ksatria. “Hukumannya apa?” Perempuan itu tidak bertanya apa hadiahnya, hanya cemas soal hukuman.

__ADS_1


“Hukumannya, terserah yang menang,”


“Oke, asal tidak aneh-aneh, ya?”


Shuji tertawa. “Kau berkata seperti akan kalah.”


Jingga di balik masker hanya cemberut.


“Kita uji coba dulu ya,”


Setelah menjelaskan sedikit teknis, Shuji memasang ponselnya di atas gentong tak terpakai dan menyetel timer. Dia berlari ke ujung area, sekitar tiga puluh meter dari posisi Jingga, kemudian bersembunyi di balik penghalang.


Ketika timer berbunyi, Shuji langsung keluar dan berlari menuju penghalang lain. Dari balik celah, rompi yang di pakai Jingga terlihat dan dia langsung menembak.


“Ah!”


Sepuluh detik game berjalan, Jingga langsung tertembak. Shuji keluar dari posisinya dan Jingga yang masih kebingungan menatap rompinya yang terciprat warna kuning.


“Kau baik-baik saja?”


“Sedikit kaget tapi tidak apa-apa.”


“Bagaimana? Kau mau lanjut?”


“Tentu saja!” Memikirkan dirinya yang tertembak tanpa tahu mata arah membuat darahnya berkobar.


“Oke. Aku akan set ulang timernya. Tapi uji cobanya sudah selesai. Ronde selanjutnya di hitung hadiah dan hukumannya.”


“Hmm, siapa takut.”


Jingga yang biasa terlihat lembut dan halus kini nampak gagah. Tangan Shuji gemetar—gemas ingin melihat ekspresi seperti apa yang ada di balik masker Jingga.


“Oke.” Mengalihkan perhatiannya, Shuji berbalik dan memasang ulang timernya.


Tanpa di arahkan, Shuji dan Jingga langsung mengambil posisi masing-masing. Kali ini Jingga menunggu Shuji menghilang lebih dulu, sebelum memilih posisi start yang berbeda dengan sebelumnya.


Trrrr!!


Jingga merangkak cepat ke arah sebaliknya dan maju secara diagonal. Di belakangnya terdengar piu piu piu berulang, mengikuti langkah kakinya. Baru setelah dia berhasil sembunyi bunyi tembakan itu hilang.


Jingga menarik napas panjang, dalam hati bertanya-tanya apa dia bisa bertahan selama tiga menit?


Apakah sudah terlambat untuk menawar?


“Kalau diam terus, kau tidak akan pernah bisa menembak.” Shuji berseru dari balik maskernya. Dia yang biasa jinak dan penyayang dengan tega menembak penghalang tempat Jingga bersembunyi.


Dari atas, Jingga bisa melihat cipratan cat yang pecah. Jingga mengintip sedikit dan langsung kembali bersembunyi, di susul tembakan cat yang baru.


“Aku kan baru pertama main!” Jingga berseru tidak adil.


“Aku sudah memberimu kesempatan di ronde pertama barusan, kan?”


“!!” Jingga kira Shuji akan mengalah seperti biasanya, tapi dia tidak menyangka laki-laki itu akan begini kejamnya!


“Aku akan tembak satu cat dan menjedanya sebelum menembak lagi, bagaimana?” suara Shuji yang semakin dekat membuat Jingga gelisah. Namun, tawaran itu membuat Jingga kembali mendapatkan harapan.


“Betulan, ya?”


“Em.” Asalkan menghindar dengan cepat, pelurunya tidak akan bisa menembak Jingga.


Benar saja, sedetik kemudian, Jingga berlari ke penghalang lain, berniat untuk membuat jarak di antara keduanya. Jingga pindah dalam tiga langkah, dan Shuji hanya menembakkan peluru cat dua kali.


Keadaan ini membuat Jingga kembali ceria.


Shuji tidak memberikan aturan lain pada Jingga, dan perempuan itu menembak dengan beruntun begitu melihat sosok Shuji. Tapi laki-laki itu berguling ke penghalang lain.


Jingga yang masih beradaptasi langsung menghindar ke samping saat peluru Shuji tembakkan.


Keduanya berlari dan menghindar, saling menembak.


Dari jauh terdengar suara tring nyaring yang berasal dari ponsel Shuji. Menandakan bahwa tiga menit mereka sudah selesai.


Keduanya keluar dari persembunyian dan kembali berkumpul.


“Seru?”


“Seru banget!!” Jingga yang memerah wajahnya di balik masker menjawab dengan semangat.


“Main lagi?”


Jingga mengangguk lagi.


“Tapi kali ini aku akan tembak beruntun?”


“…” Jingga nampak ragu namun tetap setuju. Bagaimana pun, tidak adil kalau hanya dia yang bisa menembak dengan leluasa. Di tambah, semakin lama bermain, Jingga semakin akurat menembak sambil bergerak.


“Sebelum mulai, ada hal yang masih harus kau ingat—” Shuji memaparkan kembali aturan dasar bermain yang beberapa kali Jingga lupakan.


“Aku tidak akan lupa kali ini.”


“Oke.” Shuji memasang timer dan alarm untuk 3 menit mendatang. Keduanya saling berpisah dan bersiap-siap.


Trrrr!


Jingga melesat maju dengan cepat, meninggalkan tembakan peluru bertubi yang menyusulnya di belakang langkahnya.


Bahkan setelah dia sembunyi pun, Shuji tidak berhenti menembak.


Kalau Jingga terus diam, dia hanya akan bisa menunggu di dekati dan kalah.


Mengambil kesempatan Shuji mengisi ulang peluru, Jingga berlari ke depan dan menembak ke arah dimana tembakan Shuji berasal.

__ADS_1


Dududududududu


Terpisah jarak satu line dari penghalang masing-masing, Jingga mengintip keluar.


Fatal! Shuji sudah berjongkok di posisi dengan pistol di depan dada. Moncongnya tepat tertuju ke kepala Jingga yang terlihat.


Jingga pasrah lebih dulu dia akan kalah.


Dudududu!


Sebelum Jingga sadar tembakan itu, Shuji sudah kembali sembunyi ke balik penghalang.


“…Aku tidak menembak!” Jingga berseru dari tempatnya. Meski dia selamat, tapi dia melihat cat yang datang dari arah lain dan menembak Shuji.


Shuji berlari ke penghalang lain yang lebih dekat posisinya dari Jingga.


Keduanya kini berdiri berseberangan, berdiri di balik penghalang masing-masing.


“Aku tahu itu bukan kau.”


“Apa ada orang lain?”


“….Betul.”


Jingga membulatkan mata. “Tapi area main kita masih di tempat yang sama.”


“Mereka yang nyasar kemari.” Shuji berkata sambil mengisi ulang pistolnya.


Melihat itu, Jingga mengikuti.  “Aku rasa mereka juga baru datang karena arah pelurunya dari sana.” Shuji menunjuk area tempat mereka masuk barusan.


“Lanjut main?”


“Lanjut, kenapa tidak?” Jingga meletakkan kembali botol peluru di rompinya. “Mereka  datang kemari dan menembakmu seenaknya. Tentu saja aku harus membalasnya.”


Shuji yang memeriksa maskernya berhenti sesaat sebelum melanjutkan.


“Sini.”


Dengan patuh Jingga menghampiri. Shuji merasa manis dalam hatinya, namun tidak menunjukkan reaksi berarti. Tangannya bergerak memperbaiki posisi masker Jingga, memastikan tidak ada celah. “Masih ingat aturannya?”


Jingga mengangguk. “Pistol jangan di turunkan, masker jangan di buka, finger on…” Jingga memaparkan serentetan aturan singkat yang Shuji jelaskan sebelumnya.


“Oke.”


Keduanya masih mengobrol saat terdengar suara peluru dari jauh.


Shuji menunduk, menatap masker Jingga dan menjelaskan strategi singkat mereka: berlindung, tembak sebanyaknya, ambil kesempatan saat lawan mengisi peluru.


“Kau akurat dalam menembak, jadi bisa terus tembak sambil bergerak. Asal bisa memprediksi posisi lawan,” kata Shuji. "Saat interval nanti kau langsung menembak ke posisi yang aku tunjukkan."


“Oke.”


“Mereka sepertinya sering main kemari.” Jeda peluru dan saat mengisi pelurunya sangat singkat. “Kalau tertembak pun tidak apa, yang penting senang-senang saja.” Shuji berkata menenangkan. Aku yang akan balas dendam nantinya, dia menambahkan dalam hati.


“Aku mengerti.”


Dari lawan terdapat lebih dari dua orang, jelas tidak seimbang. Tapi Jingga dan Shuji tetap bergerak, kembali mendekat ke area paling awal.


Jingga berhasil menembak dua orang. Sebelum menembak orang ketiga, dia tertembak lebih dulu.


Shuji menyusul dan balas menembak orang yang Jingga incar sebelumnya.


Ponsel Shuji yang berdering sejak tadi di abaikan.  Empat menit kemudian, keduanya keluar dari penghalang masing-masing dan berkumpul.


Shuji tertembak pada akhirnya, tapi dia berhasil menembak paling banyak orang.


Dari enam orang lawan, satu bertahan.


Tapi ketika kedua tim bertemu, grup yang menang itu kaget karena hanya ada dua orang dari tim Shuji.


“Oh, sepertinya kita bertemu dengan pro?” orang yang berhasil menembak Shuji itu berkata.


Shuji menunduk menatap satu titik cat merah yang menodai rompinya. Dengan suram dia menggeleng sopan; menolak pujian itu.


Dua  orang yang di tembak Jingga tidak merasa ceria sama sekali. Dari dekat barulah mereka sadar bahwa mereka habis di tembak perempuan.


“Kami minta maaf karena mengganggu kalian.” Kata salah satu dari enam itu.


Shuji tidak mengenali siapa yang menembaknya pertama kali tapi mood baiknya sudah hilang. Seandainya dia menang dia mungkin masih bisa senang.


“Tidak apa-apa. Kami berdua sudah selesai bermain.” Kata Shuji kalem.


“Apa karena kami datang menyela?”


“Tidak sama sekali. Aku kemari untuk mengajari seseorang bermain, dan sekarang sudah cukup.”


“Oh.” Orang yang menembak Shuji itu menggumam, “Pacarmu?”


Shuji menoleh dan menatap tajam. Kenapa orang ini begitu cerewet? “Kau tahu, kencan.” Shuji tidak menyangkal.


“Kalau begitu kami sudah benar-benar mengganggu kalian.” Orang itu memberi sinyal pada teman grupnya. Kelimanya orang itu bergerak memasuki area yang lebih dalam; dan kini tertinggal mereka bertiga.


Pria itu mengenakan rompi biru tua dengan celana PDF. Badannya tegap hanya beberapa senti di bawah Shuji tingginya. Ketika teman setim nya sudah jauh, laki-laki itu membuka maskernya. Di balik masker itu, wajah bersih dan ramah yang akrab terpampang.


“Eh??” Jingga yang sejak tadi diam tidak bisa menahan rasa terkejutnya.


“Oh, Jingga-san. Ternyata benar kau.” Pria itu menarik senyum halus. “Kupikir orang lain, aku hanya bisa menebak dari perawakan dan kerudungmu.”


Jawaban itu membuat Shuji mengeratkan pistolnya, gatal ingin menembak. Apa maksudnya perawakan? Orang ini pastinya sering memperhatikan Jingga kalau bisa sampai kenal hanya dari bentuk badan.


Shuji memicing sementara keduanya mengobrol, dan dia pun akhirnya ingat.

__ADS_1


Ini bukannya polisi sialan waktu itu?


__ADS_2