JUST A CRASH - CROSSING BUTTERFLY

JUST A CRASH - CROSSING BUTTERFLY
30. WAKIL


__ADS_3

“Shuji-san?” suara Kiela terdengar dari seberang telepon. Gadis remaja itu mengenakan seragam putih-abu dan nampaknya hendak berangkat sekolah. Dengan rambut panjang dikucir rendah, tangan Kiela yang memegang pagar berhenti saat melihat dengan jelas wajah di layar.


“Hah, Kakak?”


“Kak Jingga?”


Kiela memekik dan langsung berbalik kembali ke rumah. Gadis remaja itu berteriak mengguncangkan seisi halaman sampai mengagetkan tetangga sekitar.


“Maaa!!! Kak Jingga Maa…! Maaa…” di ujung seruannya Kiela menangis tersedu-sedu. Kacamata yang menggantung di hidungnya mulai beruap karena air mata. “Ma, ma, Kak Jingga…”


Jingga yang tadinya masih tersenyum tenang tiba-tiba merasa ingin menangis juga ketika mendengar adik dan ibunya muncul di kamera dengan mata sendu.


“Ma…,” mendadak rindu, padahal barusan masih biasa saja?


“Oh, putri Mama.” Rosita mengusap dadanya sambil menahan air mata. Wanita itu tersenyum melihat Jingga yang wajahnya sehat kemerahan. Namun perban di kepalanya membuat wanita lima puluhan itu menjatuhkan air mata. “Putri Mama…, Alhamdulillah Ya Allah, kau masih diselamatkan, nak… Kau tidak tahu bagaimana Mama-mu selama disini…,”


Jingga mengangguk-angguk mendengarkan dan sesekali mengusap air matanya. “Iya, Ma.” Jingga tidak cerita bahkan pada Shuji sekali pun. Waktu badai menghantam kapal adalah hal yang paling menakutkan untuknya.


Seniornya pingsan sebelum bisa melakukan sesuatu dan Jingga bergerak tanpa berpikir. Kejadian yang baru saja dia alami itu seperti bukan kisahnya. Tapi luka di kepalanya jelas menceritakan kalau itu bukan mimpi.


Jingga tidak berniat untuk menceritakannya karena tahu kekhawatiran keluarganya dan Shuji. Yang terpenting sekarang adalah dia sehat dan selamat.


Keduanya mengobrol lama sampai Rosita selesai menangis. Wanita paruh baya itu pun tersadar putri keduanya masih duduk di sampingnya.


“Kau kenapa tidak segera berangkat sekolah!?”


“Ala, Ma… Kak Jingga sudah lama Kiela tidak lihat. Kiela tidak akan fokus untuk belajar…,”


“Tidak fokus apanya…, sana berangkat! Kau sekolah belajar yang giat jadi nanti kuliah Teknik!”


“Aduh Ma, kenapa juga Kiela tiba-tiba Kiela belajar Teknik, kemarin suruh Kiela kuliah kedokteran!”


“Teknik biar kau bisa mengerti saat naik kapal nanti.”


Kiela yang duduk di sisi Rosita menggeleng pelan pada Jingga. “Kak, kemarin waktu dengar kakak dirawat, Mama bilang aku jadi dokter. Sekarang Mama suruh aku jadi Teknik. Nanti aku disuruh apa lagi, coba,”


Jingga yang mendengarnya tertawa.


“Kakak lagi dimana?” tanya Kiela. “Ini nomornya Bang Shuji, kan?”


“Mmm.”


Rosita yang diam langsung berdiri kupingnya, siap mendengarkan gosip. Suasana sendu barusan seperti hilang di sapu ombak.


“Laki-laki itu… kalian sudah jadian?” Rosita mengerutkan kening. Selama ini dia selalu mengingatkan pada putri-putrinya untuk senantiasa menjaga diri dan tidak menerima ajakan sembarang pria kecuali orang itu serius.


Tapi kalau Shuji… tidak, dia harus selalu berpegang teguh pada pendiriannya!


“Kapan mau nikah, Nak?” Rosita bertanya terang-terangan. Kalau tidak segera diikat, laki-laki ini akan diambil orang.


Jingga yang masih mendengarkan dengan tenang langsung memerah wajahnya.


“Ma, bicara apa, sih?” Jingga membulatkan mata dan berusaha untuk tidak melirik Shuji.


Untung saja mereka mengobrol dengan bahasa mereka. Kalau tidak, nanti Shuji dengar bisa repot…


“Apanya yang apa? Kau jangan jadi playgirl dan main-main dengan perasaan orang!”


Jingga memejamkan mata pasrah. “Siapa yang playgirl, Ma.”


“Mama sudah lihat siapa itu, Suji… Shuji, iya. Shuji.”

__ADS_1


Menyadari namanya di panggil, Shuji berusaha untuk menyetor wajahnya ke kamera.


“Apa yang kau lakukan? Sana menyetir.” Jingga menyikut Shuji dan menjauhkan kamera dari pandangan.


“Kenapa? Aku dengar Mama memanggilku.”


Jingga: ….


“Mama???”


“Um. Mama.” Shuji mengangguk santai dan memutar kemudi tanpa hilang konsentrasi.


“Itu Mamaku.”


“Aku tahu.” Shuji melirik Jingga aneh, seakan bertanya kenapa mengatakan hal yang sudah jelas.


Jingga: ???


Mungkinkah ini caranya Shuji untuk akrab….?


“Pokoknya Mama setuju kau bersama dengan Shuji. Tapi Mama tidak suka kalau hubungan sebelum menikah… apa itu ya, namanya…. Apa Kiela?”


Kiela yang duduk di samping menjawab dengan wajah datar seakan sudah lelah. “MBA, Ma, MBA.”


“Iya itu, Menikah Because…”


“Itu Marriage By Accident, Ma. Itu bahasa Inggris.”


“Mama-mu ini tidak tahu tapi janganlah teriak!!” Rosita menggebuk punggung Kiela.


“Yang teriak siapa, Maaa..!”


“Maaf, ya, berisik.” Pasti ini pertama kali Shuji melihat keluarga yang barbar seperti miliknya.


“Keluargamu sepertinya menyenangkan.”


“Um.” Jingga mengiyakan.


“Ahem.” Suara Kiela di seberang menyadarkan Jingga. “Siapa sangka kakakku yang udik ini akan punya calon tampan macam anggota boyband.”


“Diam kau.” Jingga mengeritkan gigi dan berbisik pelan.


“Diam kau." Kiela mengejek lalu mengadu. "Ma, dengar, Ma. Kak Jingga berbisik macam perempuan saja dia.”


“Kakakmu memang perempuan, Kiela.” Rosita yang sudah berdiri untuk mengerjakan sesuatu berteriak dari dapur.


“Tapi dia bisik-bisik halus, Ma. Bulu kudukku sampai berdiri!!” Seru Kiela yang disambung gelak tawa.


“Biarkanlah, kakakmu itu lagi jatuh cinta. Perempuan kalau sudah suka dengan laki-laki jadinya lembut.”


Rosita, Kiela dan Jingga mengobrol beberapa saat sebelum panggilan diakhiri. Tanpa melirik ke Shuji, Jingga menyerahkan ponselnya.


“Sudah selesai?”


“Um.” Jingga mengangguk. Dia menemukan mobilnya tidak jalan lagi. “Kita sudah sampai?”


“Sudah sampai dari tadi.”


“Sorry.” Jingga berbisik malu.


“Kenapa kau jadi malu-malu begitu?” laki-laki disampingnya tidak menyerah untuk merayu. Sekali pun Shuji tidak mengerti apa yang di bicarakan, dia tahu Jingga habis di goda oleh keluarganya, dan hal itu ada hubungannya dengan Shuji sendiri.

__ADS_1


“Kau jadi sering menjahili aku.” Jingga berkata cemberut meski matanya berkata sebaliknya. Keduanya keluar dari mobil dan Shuji menyeret koper ke gedung apartemen.


"Kalau aku tidak menjahilimu, aku harus menjahili siapa?"


"Aku tidak mau dijahili."


"....." Shuji menekan tombol lift dan melirik perempuan di sampingnya. "Kalau kusayang, mau?"


"....ngomong apa, sih."


Dengan wajah merah Jingga berpaling, memutuskan untuk berhenti memberi perhatian pada lelaki konyol di sampingnya.


Baru kemarin dia berangkat dan berpikir akan berpisah untuk waktu yang lama, lima hari kemudian dia malah kembali. Setelah pintu apartemen Jingga di bukakan oleh Shuji, perempuan itu langsung menghambur masuk.


Dia memperhatikan tidak ada bau apek sebagaimana rumah yang di tinggal lama. Malah dia mencium aroma segar pembersih lantai.


Jingga mengucap bismillah sebelum masuk dan berlari senang menuju kamar. “Home sweet home!”


“Jangan berlari sembarangan.” Shuji mengerutkan kening dan meletakkan koper di ujung kamar kemudian berbalik sibuk entah mengurus apa.


Mereka bersama selama lima hari ini, tak dapat dipungkiri mereka jadi lebih dekat dari sebelumnya. Jingga sudah menunjukkan sisi udiknya. Selama lima hari ini dia tidak mandi, apa lagi yang memalukan? Shuji..., tidak perlu dijelaskan. Jingga sudah melihat semuanya..., mungkin tidak semuanya, tapi dia sudah melihat banyak.


Manusia itu memang makhluk yang cepat beradaptasi.


Keduanya semakin terbuka dengan satu sama lain.


Jingga mengambil bantalnya untuk pindah ke sofa dan berbaring disana. Menyaksikan Shuji sibuk di dapurnya mengeluarkan beras ke panci dan mencucinya.


“Kau sedang apa?” tanya Jingga, basa-basi.


Shuji yang mendengar pertanyaan itu menunduk, sedikit malu dirinya terang-terangan mengacak dapur orang.


Tata letak dapur ini persis seperti miliknya. Sebenarnya Shuji-lah yang meniru punya Jingga. Meski mangkok dan sebagian posisinya di letakkan berbeda, Shuji hampir merasa ini adalah apartemennya...


“Maaf, aku… aku masakkan bubur untukmu..?”


“Pfft…” Jingga tidak bisa menahan tawanya dan tanpa sengaja urat di kepalanya menegang. Membuat jahitannya terasa sedikit ngilu sampai dia mengaduh.


“Bagaimana bisa kau ceroboh begini?” Shuji mematikan kompor dan mendekat. Pria itu tidak menyentuh kepala Jingga sembarangan melainkan menahan lengan baju gadisnya supaya berhenti bergerak.


Sementara tangannya yang satu mengeluarkan ponsel untuk menghubungi seseorang.


Meskipun Jingga merasa ngilu, rasanya hanya sedetik. Dengan penasaran perempuan itu kembali fokus ke Shuji yang sedang menelepon. Wajahnya yang serius, terlihat tampan. Membuat Jingga betah memperhatikan.


Begitu laki-laki itu mematikan telepon, Jingga langsung bertanya. “Kau telepon siapa?” dari posisinya terdengar seperti suara perempuan… Hmmmm. Shuji bukannya tidak pernah berinteraksi dengan perempuan. Tapi biasanya laki-laki itu tidak akan mengambil inisiatif, kecuali untuk hal tertentu. Misalnya waktu mengobrol dengan perawat sebelumnya...


“Yang akan merawatmu.” jawab Shuji memotong imajinasi Jingga.


“Hah?”


“Hah, apa hah.” Shuji ingin mencubit pipi Jingga tapi menahannya. Perempuan ini tertawa sedikit kepalanya langsung sakit, kalau di cubit pipinya nanti jahitannya terbuka bagaimana?


Tak lama bel pintu berbunyi. Shuji segera bangun dan membukakan pintu.


Jingga ikut bangun dari tidurnya dan melihat wanita berusia empat puluhan di muka pintu. “Nakai-san?”


“Jingga-chan, bagaimana keadaanmu? Tidak perlu berdiri, duduk, duduklah,” Wanita itu masuk melepas mantelnya dan menyerahkan sekeranjang buah pada Shuji, seakan pria itu sudah jadi kepala keluarga di kamar apartemen ini.


Jingga: ....


Dianggap seperti orang pesakitan yang tidak bisa apa-apa, membuat Jingga tidak enak namun karena yang bicara padanya adalah orang tua, perempuan itu pun menurut.

__ADS_1


__ADS_2