JUST A CRASH - CROSSING BUTTERFLY

JUST A CRASH - CROSSING BUTTERFLY
23. Gimana lagi lah ya


__ADS_3

@WikaSangPetualang: Hari ini aku menyambangi negeri sakura demi impianku untuk mencari cinta sejati—coret—untuk berwisata. Tempat ini seperti yang pernah kalian ketahui, dan aku pun terpesona dengan segala yang disuguhkan. Dari tempatnya, orangnya, sampai tanah di tempat ini pun terlihat semenarik berlian #bercyanda. Saking fokusnya kami memperhatikan cowok ganteng, kami kelewatan.. benar, aku dan dua orang yang lain, adik dan sahabatku, kami kelewatan turun stasiun. Kenapa mereka tidak sadar dan harus menunggu mengandalkan aku? Haah… sungguh mengkhawatirkan.


Akhirnya kami pun turun di stasiun antah berantah yang sempat kami kira mungkin yang kita naiki barusan adalah kereta hantu. Kurang horror apa tempat ini, kan? Tidak perlu di ceritakan bagaimana ribetnya urusan kami dengan petugas stasiun saking bodohnya kami…. Sekali lagi, otak kita hanya terpikir untuk menghubungi teman kami yang sudah tinggal di negeri sakura untuk memberi petunjuk. Padahal bisa kita cari di internet sendiri, kan ya? Tapi waktu itu kami merasa, ada temen ini, yaudah ke dia aja? Gitu, loh..


Sahabatku yang di pinggir berceletuk, mumpung sudah disini, kita jalan-jalan saja? Adikku pun juga mengeluh lapar. Aku kalah suara akhirnya ikut ajalah. Sampai kami nyasar dan belum menemukan makanan barulah kami menyesal. Waktu kami mau kembali ke stasiun, kami tidak tahu tempatnya.


Lantas gimana dengan teman kami yang semestinya jadi pemandu disini? Jangan tanya, dia malah bilang untuk kami berpetualang mencari harta karun. Memang teman bejat, iya.


Tapi Alhamdulillah, kami masih di beri petunjuk. Kami bertemu sepasang…. Mungkin entahlah.. intinya satu orang I satunya lagi orang J. Keduanya seperti pasangan tapi seperti bukan. Mungkin masih di proses PDKT.


Yang perempuan asalnya dari I, dan dia bantu kami sampai stasiun. Tapi yang J ini… heleh, yang bilang orang J itu ramah-ramah siapa sih? Ingin kutabok… haha bercyanda.


Memang baik-baik, tapi kebetulan yang ini agak menyeramkan. Tiap aku dekat sedikit dengan si kakak perempuan, si cowok J itu langsung melotot seperti bisa keluar laser dari matanya.


Aku jadi khawatir sama si kakak perempuan sebetulnya…, aku hanya bisa bertukar pandang dengan kawanku sambil terus jalan menuju stasiun.


Kami juga di belikan tiket dan di antar sampai stasiun. Intinya orang asing ini lebih bermartabat dari pada temanku yang sialan itu, hehe. Apa kita sudah bilang bahwa rencana awalnya keliling itu untuk cari makan?


Benar, sampai akhirnya kita tidak sempat makan dan kelaparan.


Tapi apa coba, waktu kita duduk menunggu jadwal kereta, kami menemukan si cowok itu, cowok galak yang dingin itu datang menghampiri dan membawakan kami seplastik roti dan minuman. Cowok itu bergerak masih dengan gaya marah namun dengan sembunyi-sembunyi, seperti tidak ingin ketahuan oleh ceweknya. Aneh banget gak sih???


Mungkin inilah kelebihannya kalau tampan… aku sudah bilang belum cowoknya tampan? Ceweknya juga menggemaskan, gemoy gemoy gimana… gitu.


Karena tampan itulah, kami bertiga jadi lupa dengan sikap garangnya sebelumnya. Mungkin di balik sikap itu dia memiliki alasan lain. Kita positive thinking aja.


Di slide selanjutnya aku sematkan foto yang aku ambil diam-diam(tanpa sepengetahuan SI KAKAK PEREMPUAN, iya, kalau yang cowok sih tahu). Dari sini aku yakin mereka masih pdkt dan cowoknya masih dalam usaha mengejar si kakak cewe.


Meski kalau secara pribadi sih, ya. Aku maunya cowok lucu dan ramah. Gak mau yang garang-garang. Hahahahaha…. maaf ceritanya acak-acakan btw.


4190 suka · 214 komentar · 45 bagikan ·


Di bawahnya berbaris rentetan komentar baik itu soal kejadian mau pun nasib Wika yang menyedihkan. Tapi yang paling kontroversial tentu saja soal di pemuda asal Negara J itu.


Hanya saja, Shuji yang jauh dari keramaian media sosial tidak tahu menahu soal hal ini. Dia sendiri tidak menyangka sikapnya yang ingin pamer justru membuat dirinya jadi terkenal.


Hari ini hari ke-empat Shuji membuat bekal dan dia sudah semakin berpengalaman dalam membuat bento. Tidak hanya dari menunya, sekarang dia terang-terangan mengirim tanda cinta yang setiap kali Jingga buka pasti akan terlihat.


Bahkan melihat sosok Yugani di ujung jalan pun tak lagi membuat Shuji kesal. Dia hanya bisa tersenyum pada pecundang. Karena itu Shuji bermurah hati untuk mengangguk kearah polisi itu—yang tidak terlihat karena jaraknya kejauhan.

__ADS_1


Intinya, dengan kelancaran hubungannya bersama Jingga, tentu saja hal sesulit apa pun akan mudah untuk dilewati.


Tapi kesenangan itu tidak berlangsung lama.


..


Supervisor Sumiye, memanggil Jingga di tengah-tengah shiftnya ketika lansia yang dia jaga sudah tidur siang. Jingga yang bingung mengetuk pintu ruangan dan masuk setelah di persilahkan.


Sumiye duduk di kursi kerjanya dengan sebuah dokumen di tangannya, yang mana dokumen itu merupakan data mengenai Jingga.


“Jingga-san, sini duduk.” Ajaknya ramah. Meski Sumiye memiliki wajah tegas, pekerjaan menuntutnya untuk selalu tersenyum terutama saat berhadapan dengan lansia. Jangan lihat seragam mereka yang senantiasa polos dan kadang  gelap, bahkan pengasuh daycare pun tidak seramah mereka.


“Jingga-san, kau disini sudah hampir setahun tapi kinerjamu sangat memuaskan.” Sebelum Jingga sempat menolak pujian itu, dokumen di serahkan ke hadapannya. “Ini hasil kuesioner dari staf terpilih dan kau mendapatkan nilai hampir sempurna dari segala hal. Kenapa tidak ‘sempurna’ saja? Hal ini untuk pengembangan diri. Kalau mengesampingkan hal tersebut, kau mendapatkan nilai seratus.” Kata Sumiye sambil tersenyum.


“Oh…, ini…” Jingga membaca dokumen di tangannya dan tersenyum.


“Salah satu cabang panti jompo di daerah lain memiliki pekerja asing juga. Mereka masih afiliasi dari perusahaan kita. Sayangnya dua dari lima yang bekerja disana terlibat dalam masalah dan hampir terjadi konflik.” Sumiye berdehem dan mulai menjelaskan tujuan utamanya memanggil Jingga.


“Mendengar ada pegawai asing sepertimu yang bekerja dengan sungguh-sungguh, mereka mengundangmu untuk menjadi pelatih selama empat minggu, paling lama lima atau enam minggu.”


“Ah?” Mendengar hal itu, Jingga langsung kaget.


Jingga yang semula meragu langsung tergerak hatinya. Lagi pula, permintaan ini terdengar kasual, tapi sebenarnya isinya formal. Sumiye mungkin sudah menyetujui hal ini sebagai bagian dari ‘pelatihan’ tanpa perlu pendapat dari Jingga sendiri.


Dia mengerti, ini hanya salah satu itikad baik Sumiye padanya.


“Kapan aku berangkat?”


“Ah, ya, aku hampir saja lupa. Waktu mulainya minggu depan, tapi untuk di perjalanan, kau harus bersiap di akhir pekan ini.”


“…Akhir pekan... sekarang?”


Mendengar pertanyaan itu, Sumiye mengangkat alisnya. “Ya, minggu ini. Apa ada masalah?”


“Ah, tidak, tidak ada.” Jingga segera menggeleng. Setelah Sumiye menjelaskan teknis lebih jauh, barulah dia dipersilahkan meninggalkan ruangan.


Jingga yang menerima perjalanan bisnis pertamanya tidak bisa merasa senang sama sekali.


Akhir minggu ini… dia janji untuk pergi ke festival bersama Shuji.

__ADS_1


“…Mau bagaimana lagi.”


Jingga membuka ponselnya dan mengirim pesan.


..


Jingga tiba di halte di jam yang sama. Perempuan itu berpikir Shuji akan kecewa dan dia akan pulang sendirian. Meski jarak dari apartemen ke halte itu dekat, kalau sudah terbiasa bersama sulit untuk kembali jalan sendirian, kan…


Tapi dia salah.


Shuji tetap berdiri menunggunya di halte. Pemuda itu tersenyum melihatnya turun, meski dari sekitarnya terasa aura kesedihan.


“Tadaima.” Jingga menghampiri setengah berlari dan mendahului menyapa. Shuji tertegun namun segera membalas. “Okaeri.”


“Apa kau sudah menunggu lama?”


“Aku tahu jam berapa kau datang. Jadi tidak lama.” Jawab Shuji. “Beberapa hari yang lalu kau bilang mau coba dimsum, kan? Hari ini aku membuatnya…, meski agak berbeda dengan yang kau kenal.” Kata Shuji. Belum Jingga berkata apa-apa, laki-laki itu sudah bicara panjang lebar mengenai banyak hal.


Setelah sampai di gedung apartemen dan memasuki lift, Shuji kehabisan bahan untuk di ceritakan. Tiba-tiba kecangungan melanda.


“Hei…, aku minta maaf karena kita tidak bisa berangkat.”


Shuji tidak langsung menjawab. Pria itu menunduk beberapa saat dan tersenyum. “Aku tahu. Ini panggilan kerja yang tidak bisa di tolak. Apalagi kau pekerja asing. Setelah kau berhasil mereka pasti akan menuntut lebih. Aku…” jeda. “Aku hanya tidak bisa menahan rasa sedihku.” Ditambah apa katanya, enam minggu? Itu hampir dua bulan.


Mana mungkin dia kuat tidak bertemu dengan Jingga selama itu?


Shuji memperhatikan dari ekor matanya. Perempuan ini mungkin sudah akan lupa padaku ketika sudah disana…


Bagaimana pun, diantara keduanya, Shuji-lah yang paling putus asa.


Tiba-tiba dia merasakan ujung lengan mantelnya di tarik.


“Aku juga sebenarnya…, ingin pergi denganmu…”


Tes, tes, tes….


Shuji: !!!!


“Ja-jangan menangis…!”

__ADS_1


__ADS_2