
Deg, deg, deg.
Bukan hanya Jingga yang berdebar.
Shuji pun sama.
Mata perempuan itu seperti buku terbuka bagi Shuji. Menatap penuh damba demikian… gadis ini benar-benar tidak punya takut.
Shuji menunduk, tangannya di dalam saku mengepal—gatal ingin menggenggam sesuatu. Tapi dia menahan diri. Bisa satu space untuk bernapas dengan Jingga adalah kemajuan kalau dia membandingkannya dengan beberapa bulan yang lalu.
Perempuan di depannya itu tidak bergerak sejak turun dari bus, seperti menunggu dirinya untuk memutuskan. Alhasil keduanya berdiri diam saling berhadapan untuk waktu yang lama.
Kalau di depannya penculik pasti dia akan tertipu. Shuji mendadak merasa bertanggung-jawab.
Dengan perlahan dia mengambil kotak bekal besar yang sempat terlupakan keberadaannya.
“Oh..,” Jingga menyerahkannya. “Kotaknya belum sempat aku cuci…,” dia sibuk makan. Saat waktu istirahat habis dia tidak sempat membersihkannya.
Shuji tersenyum. “Ayo pulang.”
“….Ok.”
Keduanya jalan bersisian dengan jarak sejengkal. Meski tertutup udara luar, Jingga bisa mencium aroma lembut yang berasal dari lelaki di sampingnya.
“…Kau…, habis mandi, ya?” Jingga ingin berkata ‘kau sedang menggodaku?’ tapi kalimat itu terdengar terlalu memalukan. Setiap mereka bertemu, Shuji selalu tampil dengan menawan. Jingga yakin 85 persen laki-laki ini sengaja. Jingga tidak GR, tidak...
“?” Shuji yang mendengar pertanyaan itu diam sedetik kemudian terbahak.
“A-a-apa??”
“Kau khawatir aku tidak mandi?”
“Bukan... bukan itu!”
Di pikir-pikir pertanyaan Jingga sama memalukannya dengan pikirannya, ya?
“Terus kenapa tanya aku sudah mandi atau belum…”
“Karena kau.. kelihatan enak di pandang.”
Shuji yang mendengarnya merasa urat di pikirannya terputus. Menghentikan dirinya untuk tidak memeluk hanya dengan willpower merupakan bakat yang luar biasa. Kalau orang lain mereka sudah jadi binatang buas.
Jingga tidak berkaca.
Dia mengatakan kalimat ambigu demikian dengan wajah merah dan mata berair.
“…Kalau makanan… aku enak seperti apa?” tanya Shuji.
Jingga yang tidak pernah menjalin hubungan mendalam sebelumnya tidak pernah berhadapan dengan pertanyaan eksplisit seperti ini.
Tapi perempuan itu tetap menjawab dengan serius.
“Mungkin… buah apel merah yang baru di petik di pagi hari yang masih ada embunnya.”
Shuji bisa melihat kebingungan di mata Jingga, tapi laki-laki itu memikirkan dengan intens bagaimana Jingga makan apel merah... yang merupakan dirinya. Manis dan menyegarkan.
Ah.
Shuji menghentikan pikirannya dan kembali ke mode virgin.
“Kalau begitu besok mau makan apel?” tapi laki-laki itu tidak bisa menghentikan dirinya untuk menawarkan.
“Boleh.” Jingga balas tersenyum.
__ADS_1
Sungguh perempuan manis. Shuji menggumam gemas dalam hati.
“Tebak hari ini aku masak apa?”
“Eh? Em… entahlah..”
“Aku kasih petunjuk. Menu hari ini berair dan menu yang satunya adalah kesukaanku.”
“A-aku mana tahu kesukaanmu, kan?” meski berkata demikian, otak Jingga langsung berputar cepat memikirkan menu masakan negara J yang Shuji sukai.
“Kau pernah memasakkannya untukku.”
“Oh?” Jingga berhenti berpikir. Dia hanya pernah masak masakan Negara I. “Jamur oseng?”
Shuji tidak menyangka Jingga bisa langsung menebaknya. “…. Dingding.”
Jingga langsung melompat girang, namun baru dua lompatan perempuan itu langsung berhenti. "Kau bisa masak jamur oseng? Hebat sekali!" Jingga berkata sungguh-sungguh, sementara setengahnya demi mengalihkan perhatian dari tingkah kekanakannya barusan.
Shuji menahan senyumnya dan pura-pura tidak peduli.
“Satu lagi menunya hot pot. Tapi ini pertama kali aku buat.” Shuji mengerutkan kening. “Mungkin rasanya tidak enak.”
Jingga menatap Shuji hati-hati. Meski lelaki itu berkata setengah bercanda, dia bisa mendeteksi kegugupan di dalamnya. “Pasti enak. Karena kau yang buat.” Kata Jingga. Masakan penuh cinta itu selalu enak. Kalaupun tidak enak, Jingga akan tetap memakannya. Tentu saja dia tidak akan mengatakannya terang-terangan.
Setelah sampai di apartemen, Shuji membiarkan Jingga masuk lebih dulu.
Di keadaan biasa, Jingga akan bertanya : Kenapa tidak sekalian aku bawa makanannya? Atau pertanyaan sejenisnya.
Tapi perasaan mereka berbalas, Jingga tentu saja ikut menyadari keinginan untuk terus bersama. Kalau bisa bertemu sekali lagi, kenapa tidak?
“Kalau begitu aku duluan, ya?”
“Nanti aku antar makannya… sejam lagi?”
“…Oke.” Sempurna. Jingga bisa mandi dan bersih-bersih dulu.
Hal ini mulai terasa semakin lama Jingga menghabiskan waktu dengan Shuji.
Sejam kemudian keduanya bertemu lagi seperti baru. Jingga memakai body mist lebih banyak dari biasanya yang aromanya meledak begitu pintu terbuka.
“Selamat makan.” Shuji menyerahkan nampan di tangannya. Meski pun wajahnya datar, tangannya sedikit bergetar. Berbeda dengan yang lalu, Shuji bisa melihat tatapan itu di mata Jingga.
Cara perempuan itu menatapnya, benar-benar menyulut sisi gelapnya. Mungkinkah dirinya juga selalu menatap Jingga seperti itu?
Ah, tidak mungkin.
Miliknya jauh lebih menyala.
Akhirnya Jingga menginginkan dirinya.
Kandang di dadanya seperti dirusak satu susuknya, memberi ruang untuk binatang dalam dirinya keluar. Namun dirinya masih menahan.
“Oh iya,” Shuji tidak langsung melepaskan nampan di tangannya meski sudah Jingga terima. “Minggu depan ada festival di kota sebelah. Aku… apa kau mau pergi kesana denganku?”
“Huh? Festival?”
“Festival musim dingin. Kau belum pernah lihat, kan?”
Jingga menggeleng.
“Kalau begitu fix, ya?”
Shuji melihat pintu di depannya tertutup lebih dulu sebelum kembali ke apartemennya.
__ADS_1
Kalau pikirannya di gambarkan seperti alam, saat ini suasananya tenang seperti tengah laut. Tanpa ombak tapi di dalamnya terjadi gejolak hebat.
Shuji merasa dia terlalu overrate soal kekuatan dirinya sendiri. Mengaku bisa mengontrol diri... Shuji, kau sungguh terlalu arogan.
Semakin dia dekat dengan Jingga, semakin dia menginginkan. Ketika Jingga memiliki perasaan yang sama dengannya, Shuji merasa dia siap melompat kapan saja dalam kobaran api.
Dia tidak tahu apakah dia masih bisa menahan dirinya. Dia haus ingin bersentuhan dengan perempuan itu. Ingin mengelus rambutnya, ingin memeluk badan kecilnya, ingin mencumbunya tanpa jeda sampai perempuan itu tersedu-sedu dalam dekapannya…
“Yah..,” Shuji menghela napas pasrah. Kalau dia tidak sengaja kebablasan—misalnya. Membawa Jingga ke kamar, mau bagaimana lagi. Dia hanya bisa memohon nantinya. Saat itu, Jingga mungkin akan marah.
Tapi perempuan itu tidak punya pilihan selain memaafkannya. Ketika perempuan itu memiliki perasaan yang sama dengan dirinya, bahkan Tuhan pun tidak akan bisa menghentikan mereka.
Bercyanda…
Shuji menyalakan tv-nya dan kembali merenung melihat gambar tembok yang familiar di layar tv.
Malaikat: Baru kemarin kau bilang mau melepas kamera ini kan? Kapan kau akan melakukannya?
Setan: Ingat perjuanganmu selama ini. Betapa sulitnya? Perempuan itu akan memberi sejuta toleransi padamu. Ini saatnya memindahkan kamera itu ke tempat yang lebih dalam.
Shuji hampir tergoda dengan bisikan itu.
Malaikat: Kau kira Manis itu bodoh? Kalau dia beres-beres dan ketahuan kau akan mati! Ingat, kesenangan sesaat itu tidak ada apa-apanya di bandingkan videocall langsung. Tidak ada risiko dan juga kalian bisa saling berhadapan satu sama lain!
Shuji mengerutkan kening dan mengangguk setelah memikirkannya secara logika.
Setan: Bagaimana kalau perempuan itu menyembunyikan sesuatu yang tidak kau ketahui? Hanya dengan kamera ini kau bisa tahu. Pindahkan ke kamar tidur atau ke kamar mandi!
Malaikat: Si setan ini idenya bagus tapi dia terlalu tolol. Jangan di dengarkan.
Shuji memiringkan kepalanya dan mendengar bisikan malaikat sekali lagi di kepalanya.
Malaikat: Apakah Manis orang yang suka menyembunyikan sesuatu? Tidak! Kau paling tahu seperti apa watak perempuan itu! Polos dan bodoh! Menyembunyikan apa, dia tidak akan sanggup sebelum mengaku sendiri!
Shuji mengangguk menerimanya. Jingga memang seperti itu. Polos seperti anak-anak… Kalau tidak, mana mungkin perempuan itu bisa dengan mudah di hasut olehnya. Haha.
Setan: Tidak ada yang tahu seratus persen karakter seseorang, kan?
Malaikat: Perlukah kita membicarakan ini? Shuji suka masuk ke apartemen perempuan itu sembarangan, dia bisa memeriksanya sendiri tanpa ketahuan!!
Shuji: …
Setan: …
Malaikat: ...Erm
Pernyataan terakhir itu menghentikan perdebatan dan Shuji akhirnya menemukan jawabannya.
Di saat yang bersamaan ponselnya berdering.
“Halo, Shuji?”
“Em.”
“Kau.. sudah makan?”
“Ah…” Shuji terlalu asik berdebat dan dia masih berdiri di ruang tengah. “Aku habis membalas email kerjaan jadi agak telat. Kau pasti menungguku, hm?”
“…..”
Shuji tertawa melihat ekspresi Jingga di layar dan bergerak untuk mengambil makan malamnya.
Dia meletakkan ponsel di tengah meja makan dan mereka pun mulai makan bersama.
__ADS_1
Shuji pikir, besok, dia akan ke apartemen Jingga untuk mencopot kameranya… dan sekalian memeriksa barangkali… ada barang berbahaya lain.
Dia bukannya mau mencari tahu rahasia Jingga. Bukan.