JUST A CRASH - CROSSING BUTTERFLY

JUST A CRASH - CROSSING BUTTERFLY
26. Angin


__ADS_3

Shuji keluar dari rumah sakit dan menemukan perempuan yang hampir dijodohkan dengannya—Kei, agaknya menunggu supirnya datang untuk menjemput.


Selama dua bulan ini, Kei menghabiskan waktu tinggal di klan Oda untuk beradaptasi dengan sekelilingnya. Sebelumnya, Inaba pernah menikahkan putrinya pada sebuah klan yang 'katanya' terhormat. Tapi ketika telah menikah, kenyataannya klan itu menggilir istri-istri mereka diantara saudara laki-laki untuk 'mengukuhkan hubungan'. Skandal mengerikan ini terjadi lama sekali waktu pemerintahan setempat masih di pimpin samurai. Tradisi ini kemudian diturunkan, dimana calon menantu Inaba akan tinggal di klan tujuan mereka untuk memeriksa apakah klan itu benar seperti aslinya atau hanya rekayasa. Tradisi ini telah menyelamatkan banyak putri Inaba dari tangan-tangan usil dan karenanya diteruskan sampai sekarang.


Kei merasa dua bulan di klan Oda itu hal yang nyaman untuknya. Satu-satunya masalah adalah dia belum bertemu dengan calon suaminya—Shuji.


Katanya Shuji ini sedikit liar dan sulit dikendalikan, tapi bagi Kei hal itu bukan masalah.


Setelah sejauh ini, Kei pikir dia akan benar-benar menjadi bagian dari klan Oda. Dua bulan bukan waktu yang lama tapi tidak dipungkiri, Kei memiliki perasaan tertinggal. Berat untuknya meninggalkan ruangan dengan tekad bulat barusan.


Ketika wanita itu melihat Shuji muncul dari pintu rumah sakit dan berdiri di sampingnya, Kei buka suara.


“Apa tidak apa meninggalkan ruangan begitu saja?”


“Memangnya kenapa?”


“Sepertinya aku mendengar… keributan waktu mau naik lift barusan.”


“Oh.” Shuji diam sejenak. “Penyakit lama pria tua itu kambuh lagi. Bukan masalah besar?” Shuji memiringkan kepalanya.


Kei berusaha untuk mengabaikan namun tak bisa menahan diri untuk buka suara. “Aku tahu kau merasa sakit hati dengan apa yang terjadi padamu.” Kei membuka tutup mulutnya. “Aku tidak tahu bagaimana rasanya jadi aku tak bisa memberi masukan apa apa. Tapi…, kusarankan kau untuk memperbaiki sifatmu itu.”


“Pftt… memangnya sifatku seperti apa?”


“Oda-kun.” Kali ini Kei tidak memanggil Shuji dengan nama depannya. Dan wanita itu bisa melihat dengan jelas ekspresi Shuji yang berubah kusut seketika. “Kenapa denganmu? Aku tidak ingin memanggil nama depan orang asing.” Kei hanya memanggil nama depan untuk suaminya. “Atau kau ingin berubah pikiran?”


“Tidak terimakasih.” Shuji menjawab dingin.


“Aku anggap saja ini nasibku.” Kata Kei dengan besar hati. “Kau menjadi tujuan hidupku beberapa bulan ini, jadi sulit untukku lepas. Kuharap kau memaklumi.” Dedikasi seorang putri klan bukan hal yang bercanda. Saking seriusnya bisa sampai menandingi kepercayaan seseorang pada sebuah agama.


“Kuharap kau mendapatkan laki-laki baik yang kau cintai, dan tidak harus melakukan semuanya demi klan.”


Doa Shuji terdengar seperti khayalan di telinga Kei. Wanita itu hanya tertawa—meski orangtuanya memberikan segala yang Kei inginkan, wanita itu mengerti sejak lama. Semewah apa pun kehidupannya, se-berkecukupan apa pun, dia akan selalu menjadi alat untuk klannya. Mendapatkan suami yang saling menghormati selama pernikahan dan menghargai posisi serta peran masing-masing adalah hal yang patut di syukuri.


Sementara cinta? Hal itu tidak terpikirkan sama sekali.


Tak lama mobil sedan hitam memasuki pelataran rumah sakit dan berhenti di depan Kei. “Kurasa dengan kejadian ini kau akan bebas menjalani kehidupanmu selanjutnya?” Menyaksikan tingkah Shuji barusan, Kei merasa baik Hideaki dan Denji akan najis untuk menghubungi Shuji lagi. Kalau membawa Shuji kembali klan akan membuat kacau, memang lebih baik hidup terpisah.


“Entahlah.” Shuji tidak ambil pusing dengan masa depan. Yang dia pikirkan sekarang adalah Jingga sedang apa.


“Aku harap yang terbaik untukmu.” Kei mengangguk dan masuk ke mobil setelah pintu di bukakan sopir. Mobil hitam itu pergi dengan lenggang tanpa sedikit pun penyesalan—seperti pemiliknya.


*


Berhubung dia sudah di Ibukota, Shuji berniat untuk makan sesuatu yang enak(mahal) karena sudah lama. Shuji memasuki salah satu restoran yang terkenal dengan menu wagyu panggangnya. Setelah memesan dan duduk barulah Shuji ada waktu untuk memeriksa ponselnya.


Lima pesan tak terbaca di kirim Jingga.


[Jingga: Aku sudah sampai di Pelabuhan.]


[Foto]

__ADS_1


[Jingga: Feri-nya lumayan besar..]


[Foto]


[Jingga: Lautnya cantik. Bagaimana dengan urusanmu? Lancar?]


Dengan segera Shuji membalas satu persatu pesan yang masuk. Mengomentari setiap foto dan memeriksa jam terakhir Jingga mengirim pesan.


Pukul dua siang.


Sudah lewat dari setengah jam yang lalu dan Shuji merasa bersalah karena tidak langsung memeriksa ponselnya.


Shuji menyadari pesan yang dia kirim memiliki tanda ceklis satu.


Aneh. Mungkinkah di kapal tidak ada sinyal?


Tapi Shuji melihat foto laut yang Jingga kirim, sudah jelas kapal sedang berlayar dan tidak ada masalah dengan sinyal, kan?


Shuji mengirim pesan sekali lagi, kali ini melalu SMS. Bersamaan dengan itu menu yang dia pesan datang.


“Mungkin sedang ada urusan…?” Shuji menggumam. Meski perasaannya gelisah karena tidak bisa terhubung, dia tetap mencoba berpikir jernih. Shuji memutuskan untuk makan lebih dulu.


Selesai makan, Shuji berniat untuk kembali ke stasiun dan pulang. Rencananya malam ini adalah untuk tidur di apartemen Jingga; dia tidak ada niat untuk bermalam di sini. Sambil berjalan, dia masih mencoba untuk menghubungi Jingga.


Anehnya, sudah lebih dari satu jam dan nomor Jingga masih tak bisa di hubungi. Shuji jalan sambil menunduk. Nomor yang sama di tekan sekali lagi dan di tempel ke telinganya.


Di depannya berkerumun orang-orang, berhenti sejenak untuk menyaksikan sesuatu.


Dengan kesal Shuji mencoba lewat untuk menembus keramaian. Matanya saat itu teralihkan pada gambar kapal di layar tv yang di pajang sebuah toko.


[Hidrofoil Feri tujuan pulau S hilang komunikasi]


Ngiiiing


Dengung nyaring memenuhi telinga Shuji dan dia berusaha fokus untuk mendengarkan berita yang masuk.


Pulau S? Kapal Feri?


Shuji menelan ludah.


Bukankah itu lokasi Manis berangkat siang ini? Apa yang terjadi?


Shuji sekali lagi menekan nomor telepon dan menempelkannya di telinga dengan gamang.


Wajahnya nampak pucat. Dia mengharapkan tebakannya keliru.


[Kapal feri yang berangkat menuju pulau S siang ini tiba-tiba kehilangan komunikasi di tengah perairan. Pulau S terletak di ujung selatan dari Kota N dan merupakan salah satu wilayah perkembangan yang mana perairannya terkenal dengan badai beku-nya yang mematikan. Selama ini badan prediksi gempa dan cuaca telah memperkirakan bahwa perairan masih aman untuk di lintasi sampai pertengahan musim dingin mendatang sebelum suhu semakin turun. Pemirsa dapat melihat garis kuning di layar, adalah salah satu titik dimana kapal fery ini terakhir terlihat. Titik ini berbeda dengan titik munculnya badai beku yang biasa terjadi, sehingga masih ada anggapan bahwa terputusnya komunikasi ini di sebabkan hal lain. Di antara penumpang yang menaikinya, tercatat ada lima belas orang asing dan ...{} Petugas juga telah dikerahkan ke sekitar…{}]


Bersamaan dengan itu suara operator terdengar dari ujung telepon.


[Nomor yang anda tuju tidak tersambung.]

__ADS_1


“Tidak…”


Di pikiran Shuji wajah Jingga yang menangis ingin pergi bersamanya kemarin terlintas.


“Tidak, tidak… Manis.” Shuji menarik napas panjang dan berusaha menenangkan pikiran. Benar, saat ini dia harusnya langsung pergi ke pusat penanganan. Atau… atau dia langsung saja ke pelabuhan.


“Apa… apa nama pelabuhannya?” Shuji keluar dari kerumunan dan segera mengetikkan nama pelabuhan di ponselnya dengan tangan bergetar.


Beberapa kali jarinya terpeleset dan setelah mengetik lama baru hasilnya muncul.


“Kota N… stasiun XX..,” Shuji mengulang-ulang tempat yang tercantum seakan mengucap doa. Dia melangkah satu kali sebelum tersungkur—tanpa dia sadari kakinya sudah melemas.


“Anak muda, kau baik-baik saja?” seorang pria berbadan besar melihat keadaan Shuji dan membantunya berdiri. Berpikir pemuda itu punya penyakit tulang langka sampai jatuh tiba-tiba.


“Terimakasih, terimakasih…, Kota N..”


“Kau mau ke kota N?”


Shuji mengangguk cepat dan berdiri tegak untuk ke stasiun.


“Anak muda, kau perlu bantuan?” pria itu seorang mantan tentara, dan mengerti dengan sekali lihat bahwa keadaan Shuji mirip dengan gejala panik. Mau pergi kemana pemuda ini sampai bersikeras untuk berangkat di keadaan demikian?


Shuji menggeleng cepat dan segera berlari, memaksa kakinya untuk bergerak.


Si pria berbadan besar itu menatap sosok Shuji yang menghilang di balik keramaian. “Kota N….” dia lalu melihat berita yang di putar ulang di toko elektronik. Di tv yang di pajang, berita siang ini kembali bergema membuat orang-orang menggeleng kasihan mendengarnya.


"Pria malang...,"


Shuji sampai di stasiun dan mencari tiket cepat untuk ke Kota N.


Tapi petugas yang berjaga menggeleng dengan menyesal. “Kejadian siang tadi membuat tiket keretanya terjual habis. Ada jadwal kosong di pemberangkatan ke tiga, waktunya tiga jam lagi. Apa kau mau?”


“Kereta biasa, bagaimana?” Shuji bertanya penuh harap. Meski lebih lama, akan lebih cepat daripada menunggu selama tiga jam.


“Tiketnya juga sudah di habis…,”


Shuji mengeritkan giginya. “Beri aku tiket dengan jadwal tercepat.”


“Jadwal tercepat masih tiga jam lagi...”


“Aku ambil.” Shuji berkata setengah pasrah. Dia membayar dengan uang tunai yang agak kusut sebelum berbalik mencari sepatunya yang lepas tertinggal saat naik tangga barusan.


Shuji tidak menemukan sepatunya.


Dengan sebelah alas kaki dia duduk di tepi tangga tak jauh dari stasiun. Mungkin yang tadi itu prank dan sebetulnya hanya kesalahan teknis.


Mungkin sinyalnya yang mati tiba-tiba. Bagaimana bisa kapal yang belum berlayar jauh itu hilang komunikasi? Shuji mengeritkan giginya geram, petugas tidak becus, tolol, tak berotak.


Dia ingin menyumpahi mereka untuk mati, tapi berhenti seketika saat wajah Jingga terlintas. Petugas ini masih di perlukan, dia tak boleh sembarangan.


Berkali-kali tangannya me-refresh untuk mencari tahu berita terbaru kapal feri menuju pulau S.

__ADS_1


Berkali-kali juga dia di kecewakan.


“Kenapa… kenapa bisa seperti ini?”


__ADS_2