
Selama bersama dengan Shuji, Jingga terus dibombardir dengan kata dan gerakan penuh cinta. Laki-laki itu mengungkapkan perasaanya dengan terbuka, yang mana membuat Jingga jadi melakukan hal yang sama.
Kemarin Shuji sudah semangat menceritakan tiket dan lokasi yang sudah dia siapkan. Buku travel Shuji yang jarang dia tunjukkan nampak penuh dengan rute dan rencana kegiatan untuk mereka lakukan di akhir pekan.
Dua hari sebelum berangkat tiba-tiba dia tidak bisa berangkat…
Shuji tidak menunjukkannya terang-terangan kekecewaannya dan hanya tersenyum… hal itu membuat Jingga jauh lebih sedih.
Perempuan itu sendiri merasakan keinginan langka untuk jalan bersama dengan seseorang di kesempatan ini.
“… Aku juga ingin pergi denganmu…” Jingga tidak mengatakannya, tapi dia sengaja beli pakaian baru demi berangkat bersama Shuji. Dia yang tidak pernah peduli soal style kini mencoba gaya berpakaian yang tidak pernah dia lakukan.
“… maaf, ya… hiks.”
Bersamaan dengan itu pintu lift berdenting. Satu orang masuk sementara mereka berdua keluar dari lift.
“Jangan menangis.” Shuji tanpa sadar melembutkan suaranya. Dengan hati-hati lelaki itu mengusap air mata Jingga dengan lengan bajunya.
“Hmmm.” Perempuan itu tidak menjawab dan hanya berdehem.
Shuji yang tadinya sedih tiba-tiba merasa gemas. “Tiketnya bisa di refund dan kita bisa merencanakan kegiatan baru kedepannya. Mungkin aku sedikit kecewa, tapi bukan padamu. Kau mengerti kan?”
Jingga diam sejenak dan mengangguk.
Sepertinya perempuan ini jadi semakin cerdas setelah lama bersamaku, Shuji menggumam. “Aku sedih karena kita tidak bisa bertemu untuk waktu yang lama. Mungkin aku bisa berkunjung beberapa hari tapi kita tidak akan bertemu setiap hari seperti ini…,” membayangkan halte yang kosong tanpa Jingga membuat Shuji merasa sendu sekali lagi.
Tapi karena ada perempuan yang menangis di depannya, Shuji mengontrol emosinya. “Kita jalan-jalan di waktu berikutnya, oke?”
Jingga mengangguk.
“Disana kau bisa beritahu aku kapan liburnya… nanti aku akan merencanakan perjalanan kesana.”
Mengangguk lagi.
“Kita bisa videocall-an.., atau telepon juga bisa. Kalau kesepian kau tinggal kirim pesan padaku. Aku selalu disini.”
Angguk-angguk.
“Kau terus mengangguk, seperti ayam.” Goda Shuji.
Jingga tidak mengangguk lagi dan ganti memelototi yang terlihat lucu di mata Shuji.
“Baiklah, sudah jam segini kau pasti lelah. Pulang, mandi, nanti aku antar makanannya?”
“Oke…,” Untuk saat ini mereka hanya bisa berusaha menghabiskan waktu sebanyak mungkin.
Belum mereka bersama, sudah di tantang dengan LDR. Shuji menghembuskan napas dalam-dalam.
..
Hari keberangkatan Jingga pun tiba. Shuji sebenarnya ingin secara pribadi mengantarnya. Tapi katanya, perempuan itu akan berangkat bersama atasannya.
Karena ini berhubungan dengan pekerjaan, Shuji tidak ingin mengganggu dan membuat kesan Jingga jadi jelek di mata rekan kerjanya hanya karena membawa Shuji.
Setelah bento penuh cinta itu menyebar, tentunya mereka akan melihat Shuji sebagai kekasihnya Jingga.
Shuji melambaikan tangan pada Jingga yang sudah duduk di bus. Jingga akan berangkat dari tempat kerjanya bersama satu orang lainnya—mereka akan naik van sampai pelabuhan kemudian lanjut naik feri selama sepuluh jam.
Benar. Feri.
__ADS_1
Jingga menaiki kapal karena tempat yang dia tuju berada di pulau lain dan tidak ada bandara sama sekali disana.
Dia tidak bisa membayangkan se-terbelakang apa tempat yang akan Jingga sambangi.
Kasihannya Manisku. Dia pasti akan kesepian.
Shuji gatal ingin mengantarkan… Tapi dia menerima panggilan mendadak yang tidak bisa dia abaikan.
Bagaimana bisa kebetulan ini seperti memaksa dia dan Jingga berpisah?
Entah berapa kali Shuji mengumpat dengan wajah penuh senyum beberapa hari terakhir ini. Tapi apalah yang bisa dia lakukan? Dia hanya bisa sabar.
Enam minggu, paling cepat satu bulan. Shuji memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam demi menenangkan pikirannya untuk tidak langsung berlari ke apartemen Jingga dan berbaring di kasurnya.
“….Aku adalah seorang gentleman.” Bullshit, Shuji.
Ding.
[Jingga: Aku berangkat.]
Ding.
[Mio: Kakekmu sudah menunggu kedatanganmu sejak tadi.]
Dua pesan ini benar-benar mewakili perasaan Shuji yang naik turun. Dengan berbunga Shuji membalas pesan Jingga dan mengabaikan yang satunya.
Kalau bukan karena pesan dari Mio ini, Shuji sudah akan terbang ke alam mimpi di apartemen Jingga.
Laki-laki itu berbalik menuju stasiun kereta dan memesan tiket menuju ibu kota dengan shinkansen. Dia ingin menyelesaikan urusannya dengan segera dan kembali secepat mungkin.
Jam satu siang Shuji sampai di rumah sakit yang Mio beritahu. Tempat dimana kakeknya di rawat dan katanya terus memanggil namanya. Shuji mendengus dan berjalan masuk..
Kenapa pria tua itu begitu mendesaknya untuk segera datang? Shuji menebak gamang.
“Kau sudah datang. Ayo..,” Mio hendak menarik tangan Shuji yang dengan halus lelaki itu hindari.
“Dari kapan kalian sudah disini?” sepertinya semua anggota keluarga datang kemari. Untuk apa? Mungkinkah pembagian warisan? Apakah pria itu akhirnya akan mati juga?
Keduanya naik lift dan sampai di lantai yang di tuju. Di luar dia melihat sekelompok orang yang mengenakan kimono dan yukata. Beberapa mengenakan jas dan sepertinya hanya Shuji saja yang pakai pakaian kasual.
Beberapa orang dia kenal, tapi sebagian lain dia jarang bertemu. Tapi Shuji memperlakukan semuanya sama, mengabaikannya dan langsung bergerak ke kamar inap. Mio tidak ikut masuk dan menunggu di luar bersama yang lain.
Shuji membuka pintu, di dalam berbaring kakeknya, Denji. Di sampingnya duduk seorang pria paruh baya yang sudah lama tidak dia temui—Shuji melirik sekilas pada ayahnya, Hideaki, dan fokus pada satu orang lain yang mana satu-satunya perempuan di ruangan itu.
Perempuan itu duduk di sisi lain ranjang Denji dengan rapi. Rambutnya di gelung sempurna tanpa ada satu pun helaian yang lepas. Tegak seperti bambu dengan wajah netral yang tidak menunjukkan perasaan berarti.
Manis masih yang terbaik dari segala sisi.
Gadisnya akan langsung bereaksi pada sedikit godaan, ada masalah langsung di ungkapkan, selalu jujur dengan yang di rasakan.
Tidak seperti orang-orang ini. Bersembunyi seperti manusia baik padahal di balik selimut menyembunyikan pisau.
Shuji tidak ingin memulai, tapi kalau dia tidak bicara, tidak akan ada suara di ruangan ini. “Cepat katakan ada apa.”
“Begini caramu bersikap pada kakekmu? Tidak ada sopan santun sama sekali?” Hideaki yang sejak tadi memejamkan mata langsung membuka mata dan melotot ke arahnya.
Shuji mencibir dalam hati. Selama kehidupan dirinya dan gadisnya baik-baik saja, tidak ada yang bisa menggoyahkan ketenangannya.
Sekali pun pak tua dan orang-orang disini bersama-sama membuat keributan, dia akan setenang seperti batu.
__ADS_1
“Asal kau tahu kerjaanku sangat banyak…,”
“Hmph.” Hideaki mendengus. “Kerjaan? Kau kira aku tidak tahu selama ini kau melakukan hal tidak berguna? Keluar dari kerjaanmu dan jadi pengangguran. Masih belum punya pencapaian apa-apa. Memalukan saja. Keluar dari klan kau malah jadi sampah, datang kemari sekarang masih banyak gaya juga?”
Aku adalah batu, Shuji mengingatkan dirinya sendiri.
Dia menahan kedutan bibirnya dan berusaha tersenyum.
“Kalau sudah tua, ketinggalan zaman itu biasa. Sekarang orang tidur pun bisa punya banyak uang.” Kata Shuji santai.
“Memangnya kau salah satunya? Jangan menilai dirimu terlalu tinggi.”
“Kenapa, apa dengan aku pengangguran duitmu jadi berkurang? Tidak, kan? Mau aku jadi gelandangan pun tidak ada urusannya denganmu.”
Hideaki yang bertukar kata dengan Shuji seperti sudah mengepul uap panas dari kepalanya. “Jaga ucapanmu. Kau seorang Oda.”
Shuji yang masih ingin memanasi tiba-tiba hilang ketertarikan.
“Ah, ya. Oda. Kalau bisa ganti sudah kulakukan dari waktu di rahim.”
“Kau!!!”
“Uhuk, uhuk, uhuk.” Denji di ranjang menyela dengan suara batuknya, yang mau tak mau menghentikan keduanya.
“Hideaki-san, sebaiknya kau menenangkan dirimu.” Kata wanita yang sejak tadi diam dan memperhatikan sambil membetulkan letak selimut. “Kakek, apa kau baik-baik saja? Mau kupanggilkan dokter?”
Denji di ranjang menggeleng lemah.
Shuji mengabaikan ketiganya dan menghitung detik—kalau sampai detik sepuluh masih tidak jelas juga, Shuji akan hengkang dari sini.
“Shuji-kun.” Dengan suara serak dan lemah Denji berkata, “Aku mengerti masih ada luka dalam dirimu dan hal itu pasti menyakitkanmu. Tapi kita semua melakukan yang terbaik untuk klan.”
Di kalimat pertama Shuji sudah agak tersentuh. Tapi kalimat terakhir itu membuatnya sadar seketika.
Shuji, oh, ketololanmu tidak terobati.
Shuji berdiri tegak seperti pinus. Wajahnya tanpa ekspresi seakan yang kini bicara padanya adalah orang lain—bukan, tapi tembok.
“Ini Kei. Inaba Kei.” Denji menepuk punggung tangan Kei—wanita itu mengangguk ke Shuji sebagai balasannya.
“Dia istri barumu?” Shuji tidak bisa menahan dirinya.
Hideaki yang mendengarkan tiba-tiba terbatuk dan melotot ke arah Shuji.
Oh, bukan rupanya. Shuji terang-terangan menunjukkan wajah ‘sayang sekali’ yang membuat ketiga orang di depannya kesulitan berkata-kata.
“Kei ini berasal dari klan Inaba, yang sudah lama menjalin hubungan dengan kita.”
“Hmm.” Karena tidak di persilahkan duduk, Shuji bersandar ke salah satu kabinet dan melipat kedua tangannya. Mengabaikan urat di dahi Hideaki yang seperti hendak putus saking kesalnya—gelagat Shuji persis seperti orang yang bersiap mendengarkan dongeng. Hanya saja ekspresi laki-laki itu terus terang datar tanpa ekspresi, membuat reaksi yang keluar dari mulutnya seperti di buat-buat. Orang tak tahan ingin memukul hanya dengan melihat wajahnya.
“Shuji, ini saatnya kau berkontribusi pada klan dan menunjukkan kebanggaanmu.” Kata Denji.
Akhirnya selesai. Shuji menghela napas dalam hati. Bisakah dia pergi sekarang?
“Kali ini, Oda dan Inaba menyatukan dan menguatkan hubungan melalui pernikahan. Aku dan ayahmu setuju bahwa Kei merupakan kandidat yang paling sempurna untukmu.”
Tunggu— “Apa?”
Kandidat? Menikah? Siapa? Dia???
__ADS_1
Dia hanya akan menikahi Jingga, hello.