
Di media sosial Negara I, sebuah video yang diunggah seorang pekerja migran mendadak viral. Video amatir itu bermula ketika pengunduh berniat untuk menunjukkan cara membeli tiket di negara J. Di tengah-tengah video, terdengar keributan begitu dekat dari posisinya. Saat kamera di putar, di depannya lewat seorang petugas stasiun yang bergegas menahan satu orang yang hendak menerobos ke kereta.
“Waduh, guys, sepertinya ini sedang ada yang mau bundir ini, guys.” Si pengunggah berasumsi. Karena kejadian seperti ini terjadi tidak sekali-dua kali. Beberapa saat dia mendengar diskusi dari sekitar dan si pengunduh pun berbaik hati menjelaskan.
“Aku salah temen-temen. Ternyata dia bukan mau loncat ke rel, tapi dia mau masuk ke dalam kereta. Dia ingin naik kereta yang berangkat saat ini, tapi tidak punya tiketnya. Nah, kalian dengar tidak suara orang itu? Dia terdengar seperti desperate sekali. Kira-kira ada apa, ya?”
Pelanggan stasiun di video kembali melanjutkan kegiatannya dan demi kelancaran di stasiun, si pengunduh tidak diam berlama-lama.
“Semoga urusan apa pun yang si abang itu ingin selesaikan segera selesai ya guys.”
1980 suka ·219 komentar · 59 bagikan ·
Komentar netizen ramai mendoakan sampai satu komentar terlihat mencolok diantara yang lain.
@WikaSangPetualang: aku yang buta atau memang mirip abang garang ya itu? @PritaPecicilan @GheaGe
Mengingat postingan Wika sebelumnya, netizen pun menyelidiki. Sayangnya, wajah si lelaki di postingan akun WikaSangPetualang tidak terlihat sama sekali. Dan selain Wika, sahabat dan adiknya, tidak ada yang tahu seperti apa wajah Shuji jelasnya.
Isu itu membuat video ini kembali naik dan orang pun sibuk mencari informasi. Sementara si pengunduh, mengetahui videonya viral, segera menambah mozaik pada wajah si pria yang sempat terekam. Hanya saja video murninya sudah di salin ke banyak akun. Wajah Shuji pun jadi dikenal meski hanya sekilas.
Sementara alasan lain kenapa berita ini masih menarik perhatian, sekiranya benar si pria itu adalah orang yang sama dengan yang WikaSangPetualang ceritakan, apakah ada hubungannya dengan wanita asal Negara I itu?
Sayangnya tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi dan orang-orang hanya menebak.
*
Waktu keberangkatan kereta Shuji akhirnya tiba. Shuji tidak sempat meneruskan permusuhannya dengan Yasu dan orang-orang di stasiun karena yang dia pikirkan saat ini hanyalah Jingga. Menarik napas dalam, Shuji menenangkan diri dengan membaca ulang isi chat-nya dengan Jingga dari awal sampai akhir.
Setengah jam kemudian, kereta sampai di Kota N.
Begitu turun dia langsung mengambil taksi ke pelabuhan. Dia yang sebelumnya terus merasa di hambat, menyaksikan kini perjalanannya lancar tanpa hambatan.
Ding
Shuji mendengar dering notifikasi yang akrab beberapa jam ini dan segera membaca.
[BREAKING NEWS]
[Korban Feri Berhasil diselamatkan Petugas Satuan Keselamatan]
Shuji menarik napas dalam-dalam beberapa kali dan memejamkan mata, sebelum membukanya dan membaca isi berita.
__ADS_1
[Petugas berhasil menemukan kapal yang berlayar di tengah perairan dengan mesin mati. Bersama kapal itu di dalamnya tergabung penumpang dari feri lain dan...{}]
Sungguhan selamat?
Shuji merefresh sekali lagi tapi dia tidak mendapatkan informasi baru. Tidak ada nama-nama korban yang diselamatkan. Meski begitu, Shuji merasa dia memiliki harapan.
"Sudah sampai," supir di depan membuyarkan lamunan Shuji.
Pria itu berhenti di pelabuhan dan menemukan banyak satuan penyelamat yang tersebar. Ambulans dan mobil polisi berbaris di sambung reporter yang berlari dengan kameranya. Polisi berjaga di pos sibuk melapor lewat radio. Shuji berjalan melewati semuanya menuju ke sebuah gedung hotel yang dari luar terlihat keluar-masuk petugas medis.
Dia mengantre di meja administrasi dengan gugup.
Setelah dua orang di depannya selesai melapor, Shuji mendekat dan bertanya. “Ada penumpang atas nama Jingga Manis, dia orang asal Negara I.”
Petugas itu mendengarkan dan tertegun. Dia lalu menyortir dokumen. “Jingga Manis, bukan begitu? Tadi juga ada kerabatnya yang kemari. Boleh tahu anda adalah siapanya…?”
Mendengar itu Shuji mengerutkan kening. “Manis tidak memiliki kerabat siapa-siapa di sini. Semua anggota keluarganya ada di Negara I.”
Petugas itu memperhatikan Shuji dan memutuskan bahwa pernyataannya jujur. “Kalau begitu yang barusan itu…?”
“Apa nama orang itu adalah Yugani?” potong Shuji.
“Aku tunangan dari Jingga Manis.” Shuji berbohong tanpa berkeringat. “Yugani tetangga kami.” Tapi dia tidak berniat untuk membuat keributan yang melibatkan Jingga. “Aku datang terlambat dan dia sampai lebih dulu untuk menjenguk.”
“Kau tunangannya?” petugas itu mengangkat alisnya ragu. Setelah tertipu sekali kini dia tidak lagi mudah percaya.
“Tanggal lahirnya….{} Dia bekerja di perusahaan….{} Hari ini dia berangkat untuk panggilan dinas pertama…. “ Shuji menceritakan hal-hal mendasar untuk meyakinkan si petugas.
“Baiklah.” Si petugas mengangguk serius. “Beritanya belum di kirim ke media dan mungkin baru akan disiarkan di berita malam.” Melihat keadaan yang sudah tidak terlalu sibuk, petugas itu berdiri dan menyerahkan Shuji ke salah satu perawat yang lewat.
Tempat mereka berada saat ini adalah hotel sederhana di tepi pelabuhan yang di jadikan sebagai rumah sakit sementara.
“Bawa dia ke ruangan R02.” Kata si petugas.
Perawat itu mengangguk dan memandu Shuji ke lantai dua yang lebih sepi. Melewati koridor, keduanya berjalan menuju ruangan paling ujung. Suara langkah yang teredam karpet membuat perasaan Shuji tidak lebih baik. “Apa artinya korban sudah diselamatkan?” Shuji tak bisa menahan diri untuk bertanya.
Perawat itu melirik Shuji dan mengangguk. “Satu dari dua kapal feri yang berangkat hari ini hancur karena badai ekstrem. Beberapa penumpang berhasil diselamatkan oleh kapal yang satunya saat berlalu. Aku tidak tahu kejadian detailnya. Tapi tidak semua orang beruntung…. Kau... jangan bersedih hati.” Si suster mendengar bahwa pria ini adalah tunangan dari pasien yang sedang dia antar.
“Tunanganmu membantu menyelamatkan banyak orang. Terjadi kecelakaan saat proses…, tapi kau bisa tenang. Nyawanya tidak dalam bahaya dan kondisinya sudah stabil.” Si suster lalu membuka pintu kamar.
Jantung Shuji yang tadinya mengambang seperti di lepaskan mendengar kalimat terakhir itu. Di dalam kamar itu ada tiga pasien lain yang sedang tidur. Di ujung, Shuji menyaksikan wajah yang selama ini membayangi benaknya.
__ADS_1
Jingga terbaring di ranjang dekat jendela. Perempuan itu memejamkan mata tanpa tahu kepanikan seperti apa yang sudah di buat olehnya. Shuji jalan hati-hati dan melihat gadisnya terbaring selamat di sini, di depan matanya, bukan di tengah lautan. Shuji tak bisa menahan tangisnya.
Shuji mengusap kepala Jingga yang di balut perban. “Ternyata kau tidak botak atau di cat…,” kata Shuji tercekat. Dia melepas syalnya dan perlahan menutupi kepala Jingga dengan hati-hati, karena dia mengerti gadisnya tidak akan ingin rambutnya di lihat sembarang orang.
Yah, sudah terlambat. Shuji sudah melihatnya.
“Maafkan aku.” Shuji duduk di tepi ranjang. Jarinya dengan bergetar mengait kelingking kecil Jingga. “Ups, aku melakukannya.” Shuji berbisik, tapi matanya menangis. “Syukurlah."
"Aku sangat bersyukur kau selamat.”
“Syukurlah…. Syukurlah…” Shuji menundukkan kepalanya khidmat ke telapak tangan Jingga.
Hari ini sungguh menantang baginya.
Dia yang kemarin masih berpikir makan apa, yang pagi tadi masih berpikir akan mengunjungi Jingga di pulau, tidak pernah menyangka akan ada kejadian seperti ini.
Shuji tidak tahu apa yang akan terjadi kalau Jingga benar-benar…
Dia tidak berani memikirkannya.
“…Tuhan, terima kasih.” Shuji berbisik dengan suara halus, kali ini dengan perasaan berserah diri yang tulus.
**
“Oh, si penipu datang.” Shuji melipat tangan di dada, menyaksikan Yugani yang baru kembali dari membeli makan malamnya. Meski hanya nasi kepal dan air mineral.
Mendengar sapaan sarkastik itu, Yugani membeku beberapa detik sebelum melanjutkan langkahnya. Melihat Shuji yang duduk begitu dekat dengan Jingga, wajah Yugani berubah hitam seperti pantat panci.
“Kau yang mengaku sebagai tunangannya Jingga?”
“Aku memang tunangannya Manis.”
Tapi karena di ruangan itu tidak hanya ada mereka, keduanya berdebat dengan suara kecil.
“Teruslah berbohong. Di dunia ini akan selalu ada orang yang tahu dengan bualanmu.” Yugani memicingkan matanya. Karena kursinya kini di pakai Shuji, dia tidak bisa duduk dan hanya bisa berdiri.
Shuji tidak peduli sama sekali. "Di dunia ini, Jingga akan selalu percaya padaku."
Yugani mendengus dan memalingkan wajahnya. Ketenangan pun kembali di dalam ruangan.
Keduanya sepakat untuk mengabaikan masing-masing wajah bengkak dan mata merah mereka.
__ADS_1