JUST A CRASH - CROSSING BUTTERFLY

JUST A CRASH - CROSSING BUTTERFLY
27. Bakti


__ADS_3

Uap dingin keluar setiap Shuji bernapas. Orang-orang sekitarnya menatap kearahnya aneh, orang gila mana yang duduk di luar di suhu dingin begini?


Meski pakai mantel dan syal tetap saja.


Ding


Ding


Ding


Notifikasi berita yang di setel olehnya datang bersahutan. Shuji membaca satu demi satu tapi keseluruhan memberitakan informasi yang sama. Jumlah pengunjung, prediksi cuaca, dan seterusnya.


Shuji duduk di tangga stasiun tanpa memedulikan sekitar. Matanya terpaku pada layar ponsel yang tidak berubah selama apa pun dia menatap. Entah sudah berapa lama waktu terlewat.


Mungkin satu, dua jam?


Apakah ini saatnya keretaku berangkat? Shuji menggumam.


Ding!


Dengan cekatan jarinya menekan dan dia membaca seakan kesetanan.


[Jejak puing feri di temukan. Para petugas bergerak menuju lokasi yang di…]


Shuji mengulang judulnya sebelum membaca isi berita seakan jantungnya terjebak di tenggorokan.


Shuji terlonjak, matanya merah membaca tiap kata yang tertulis. “Tidak…,” setiap hurufnya seperti mengoyak langsung hatinya.


[ …. Badai beku yang tidak pernah terjadi sebelumnya menghantam kapal. Puing-puing kapal mulai terlihat namun petugas kesulitan mencari di tengah cuaca yang ekstrem.]


“…Tidak… Manis, Oh.” Shuji bersimpuh di sisi tangga dengan tangis tersendat. “Pasti ini candaan.” Shuji merefresh beberapa kali tanpa perubahan.


Masa depan yang telah dia nantikan penuh harapan tiba-tiba berubah gelap tanpa disangka.


Shuji beringsut berdiri dan berlari masuk ke stasiun. Tanpa tiket dia berusaha menerobos gate.


“Pak, tolong jangan sembarangan!”


Petugas stasiun yang melihat gerak-gerik Shuji dengan mata jeli-nya langsung bertindak.


“Aku sudah beli tiket, biarkan aku naik sekarang. Aku harus naik sekarang!” gadisnya menunggu di sana. Dia tidak bisa mengandalkan petugas itu untuk mencari. Shuji tidak bisa melakukan banyak hal, tapi dia bisa melakukan apa saja demi perempuan yang di cintainya. Dia yakin dirinya lebih becus daripada orang-orang itu.


Dia harus kesana dan mengawasi dengan mata kepalanya sendiri.


Petugas yang menahan Shuji menyadari keadaannya yang tak biasa. Dia kira lelaki ini menerobos untuk bunuh diri.


“Pak, kami akan biarkan anda masuk. Tapi kenapa harus menerobos?” Sebenarnya, meskipun jadwal kereta belum sampai, orang tetap bisa masuk ke dalam gate asal ada tiket; kapan pun jam-nya. Sudah jelas orang ini mengerti tapi kepanikan membuatnya bersikap ceroboh.


“Cek, cek, ini tiketku.” Shuji segera menyodorkan ponselnya. Hampir mendorongnya ke hidung si petugas. Tapi yang penjaga itu lihat di layar ponsel hanya muka berita yang terjadi siang ini.


Seketika petugas itu mengerti.


“Pak, kami mengerti.” Petugas itu langsung memberi sinyal pada petugas yang lain. Dari jauh terdengar suara pengumuman shinkansen yang akan sampai.


Shuji tidak menunggu petugas itu dan berusaha kabur.


“Pak, tunggu sebentar!”


“Aku tidak bisa menunggu!!” Shuji setengah teriak. Meski pun jarang terjadi kekacauan di stasiun, yang Shuji lakukan tidak membuat orang-orang berkerumun. Mereka masih keluar-masuk dan memproses perjalanan tanpa hambatan. Beberapa hanya berhenti karena penasaran sebelum kembali berjalan.


Begitu dingin dan menyesakkan.


Shuji berusaha berlari ke dalam kereta namun di halangi. Dia hanya tinggal maju beberapa langkah untuk bisa masuk ke dalam.

__ADS_1


Kenapa?


Kenapa disaat dia ingin berusaha seperti ini justru alam semesta menghalanginya?


Hal yang ingin dia peluk erat-erat seperti hendak lepas dari genggamannya; dan dia tak berdaya untuk mempertahankannya.


Kenapa tidak biarkan dia saja yang kecelakaan? Kenapa harus gadisnya?


Mungkinkah itu Engkau? Tuhannya Manis?


Mungkinkah?


Shuji menyaksikan pintu kereta terbuka dan orang-orang keluar. Dia tinggal mengerahkan tenaga untuk lepas dari kekuatan penjaga ini dan melesat masuk ke dalam. Dan dia akan semakin cepat sampai ke Jingga.


Tapi sekuat apa pun dia berusaha lepas, orang-orang ini tidak membiarkan dirinya.


“Lepas! Kalian orang-orang bodoh tidak mengerti! Aku harus pergi sekarang, dia menungguku!” Shuji menggeliat sampai pakaiannya tak karuan. "Aku akan duduk dengan baik, sumpah! Biarkan aku masuk ke kereta!"


“Kenapa lama sekali!” salah satu petugas berseru. Siapa yang akan percaya kau akan duduk dengan baik dalam keadaan ini?


Tidak ada yang mendengarkan seruan Shuji.


Sekali pun Shuji di biarkan masuk, keadaannya tidak memungkinkan untuk bersama orang-orang di ruang publik. Tiga petugas yang menahannya sudah di hajar hidungnya karena tonjokkan Shuji.


Bagaimana bisa pria kurus ini memiliki tenaga yang begitu besar?


Seorang petugas medis mendekat dan menyuntikkan sedatif ke lengan Shuji. Dengan penuh dendam Shuji menatap si petugas medis, menakutinya sampai gemetaran.


"Beraninya kau." Shuji menunjukkan gigi taringnya yang langsung dapat tamparan oleh salah satu petugas di kepalanya.


"Aku sudah disuntik kau masih memukulku!" Shuji berseru tak terima.


"Otaknya masih baik-baik saja." melihat energi Shuji yang masih tinggi, petugas itu mengangguk pada rekan-rekannya dan satu persatu melepaskan cengkeraman mereka.


Beginikah? Aku tak bisa berbuat apa-apa.


Siapa yang bisa menolongku jika bukan aku sendiri?


Bagaimana dengan Manis? 


Shuji bertanya nanar dalam hati.


Kau Tuhannya Manis, jangan diam saja.


Selamatkan Manis.


Aku akan bayar dengan apa saja.


Jiwa pun aku korbankan.


Aku berjanji akan menjaga Manis dengan sepenuh hati. Aku berjanji akan menjadi manusia baik di muka bumi ini.


Tolong, tolonglah… Jika Kau, Tuhannya Jingga sungguh Ada, selamatkan dia dan biar aku bersumpah menjadikanMu Tuhanku juga.


**


Yasu bertukar informasi dengan rekannya di kantor stasiun melalui walkie-talkie.


Di depannya, duduk pria yang sebelumnya membuat kerusuhan dan berhasil di amankan. Di samping pria itu berdiri bawahannya yang menjaga dengan hidung di sumbat.


“Kenapa hidungmu?” tanya Yasu. Bawahannya yang bernama Sachihiro tidak menjawab dan menatap pria yang duduk di kursi. Membayangkan beberapa waktu lalu, Sachihiro masih bisa merasakan sakit di tulang hidungnya. Tanpa suara dia mengganti tisu yang sudah merah dengan yang baru.


Yasu tidak perlu penjelasan. Bawahannya terkena tonjokan maut dari pria ini.

__ADS_1


“Jadi, namamu Shuji?”


Pria yang di panggil itu tidak menjawab. Keadaannya yang berada dalam panik akut langsung di tenangkan dengan sedatif. Tapi dosisnya sangat rendah dan hanya mengurangi kekuatannya saja. Pria di depannya bahkan masih bisa berjalan—hanya dia tidak akan bisa menendang atau memukul penuh semangat seperti sebelumnya.


Sachihiro melaporkan informasi yang dia terima sebelumnya, salah satu kenalan pria bernama Shuji ini mungkin terlibat dengan kecelakaan di kapal pelabuhan Kota N. Datangnya badai beku yang mendadak membuat semua orang kaget dan kelabakan. Selama delapan tahun ini badai beku selalu datang dengan ciri yang sama.


Suhu laut bahkan belum sampai ke titik terendah dan badai itu sudah menghantam.


Yasu menghela napas dan segera mengetikkan di komputer untuk mengecek tiket keberangkatan Shuji menuju Kota N.


“Tidak ada kursi yang kosong. Semua orang yang membeli tiket di waktu-waktu ini memiliki kekhawatiran yang sama.” Yasu menghela napas panjang. Dimana-mana bencana alam itu selalu membuat orang kesusahan. Harus banyak-banyak bersyukur.


“Jadwal keberangkatanmu masih satu jam setengah lagi.” Kata Yasu, yang mana berhasil menyadarkan Shuji dari lamunannya.


“Satu jam setengah?”


“….Ya.” Yasu diam sejenak. “Apa kau bisa menunggu? Untuk saat ini kapal masih sedang masa pencarian.” Dia berusaha membujuk. “Sekali pun kau datang kesana, kau tidak akan bisa melakukan apa-apa. Hidrofoil feri adalah kapal yang kuat, kau tahu kan.” Yasu tidak berani memberikan kepastian karena dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Dan ada lebih dari satu feri yang berangkat siang itu, ada kemungkinan lain di lapangan jadi kau tidak boleh gegabah.” Tapi kalau tidak ada harapan, manusia akan kehilangan arah.


“….Aku mengerti.” Shuji menjawab setelah waktu yang lama. Dalam keadaan ini dia sudah putus asa. Satu-satunya yang dia harapkan adalah entitas tak pasti itu. Shuji memejamkan mata sejenak. Yasu melihatnya dan membiarkan. Asalkan orang ini tidak membuat kekacauan, mau tidur pun boleh.


Saat itu pintu di buka. Shuji tidak membuka mata sama sekali sampai dia merasakan aura menjijikkan yang entah kenapa berdiri di dekatnya.


Shuji mengangkat matanya perlahan dan melihat Yugani. Bibir Shuji berkedut dan kesenduannya berganti iritasi.


“Kenapa kau disini?”


Polisi itu seperti pahlawan yang muncul di saat genting. Tapi penampilan Yugani saat ini tidak membuat Shuji bahagia sama sekali. Pria di depannya lebih terlihat seperti penjahat daripada pahlawan.


“Kau yang tadi membuat keributan?” Yugani menarik sebelah alisnya dan menilik penampilan Shuji yang berantakan. "Ah, aku disini untuk menyapa seniorku.” Sambung Yugani, bermurah hati menjelaskan kemudian menyapa Yasu.


Shuji mengerutkan kening dan menyaksikan interaksi keduanya.


“Senior, aku… ada sesuatu yang terjadi. Aku ingin tahu apakah kau bisa menjual tiket ke Kota N padaku…”


“Ah.” Yasu berpikir sejenak dan membuka laci mejanya. “Kau mau mengunjungi Pelabuhan di Kota N, bukan begitu?”


Yugani nampak terkejut. “Kau tahu?”


“Berita yang terjadi ini, mustahil membuatku tidak tahu.” Yasu lalu memberikan tiket fisik miliknya. “Tadinya mau aku simpan untuk keperluan darurat, tapi karena kau datang…” Bagaimana pun yang meminta bantuan padanya kali ini adalah Yugani. Dan Yasu berhutang budi sebelumnya pada junior ini.


“Kuharap urusanmu lancar.”


“Terimakasih senior.” Yugani lalu keluar dari kantor.


Pertukaran itu terjadi di depan muka Shuji, yang mana membuat lelaki itu membulatkan mata.


“Kau…!” Shuji menunjuk Yasu setelah Yugani melayangkan tatapan kasihan padanya.


Yasu tidak tahu ada konflik apa antara Yugani dan pria bernama Shuji ini, tapi ini pertama kalinya dia melihat juniornya terang-terangan mempermainkan orang.


“Kau seorang kepala stasiun, bagaimana bisa kau menyalah-gunakan kekuasaanmu seperti ini?” Shuji berkata geram. “Aku akan menuntutmu!” dadanya naik-turun. Kalau bukan karena badannya yang masih lemas, Shuji sudah merampok isi meja di depannya. Barangkali ada tiket lain yang disimpan?


Yasu juga mengerti bahwa sikapnya tidak terpuji. Dia mengeritkan giginya. “Aku punya hutang budi pada Yugani.” Dia menghela napas, dunia ini sungguh sempit. “Dan yang kuberikan itu adalah tiket pribadiku. Kau tidak bisa menyalahkanku pada siapa aku memberikannya.”


“Tapi tetap saja…!”


“Tidakkah kau berkaca? Lihat bagaimana Yugani meminta padaku dan kau sendiri? Membuat keributan dan mengancam orang. Bagaimana orang bersedia membantumu?”


Shuji tidak mendengarkan sama sekali dan menatap pintu penuh kesumat. Kalau bahunya tidak di tahan Sachihiro saat ini, dia sudah menghambur keluar mengejar Yugani.


“Sabar dan tunggu giliranmu.”


Bencana alam terjadi hampir setiap waktu di setiap belahan dunia. Memberikan hak istimewa pada setiap orang yang panik hanya akan membuat aturan berantakan. Yasu duduk di mejanya dan melanjutkan pekerjaannya, pura-pura tak menyadari tatapan tajam yang terarah padanya.

__ADS_1


__ADS_2