JUST A CRASH - CROSSING BUTTERFLY

JUST A CRASH - CROSSING BUTTERFLY
31. Selamat Tinggal


__ADS_3

Keluarga Nakai adalah pemilik dari gedung apartemen yang mereka tinggali. Pasangan Nakai tinggal di lantai pertama sebagai pemilik sekaligus pengawas apartemen.


“Tadi dia tertawa kuat sekali sampai kepalanya sakit. Tolong periksa jahitannya.” Kata Shuji serius.


“Serahkan padaku.” Nyonya Nakai mengangguk dan mengajak Jingga dengan serius ke kamar untuk di buka perbannya.


“Aku akan pergi ke supermarket sebentar.” Kata Shuji lagi.


Setelah Shuji pergi, tinggal Nyonya Nakai dan Jingga di ruangan. “Apa aku merepotkanmu?” Jingga membuka pembicaraan.


“Jangan konyol.” Nyonya Nakai melepas kerudung Jingga dan membuka perbannya dengan hati-hati. “Shuji-kun meneleponku dua hari yang lalu dan memintaku untuk merawatmu.” Wanita paruh baya itu sudah banyak makan garam. Suaranya terdengar berat dan menenangkan. Jingga pelan-pelan mulai rileks.


Sehari setelah mendengar berita kecelakaan Jingga, Nyonya Nakai dan penghuni sekitar yang kenal sempat berencana untuk pergi ke pelabuhan N dan menjenguk. Mereka berpikir Jingga yang merupakan orang asing pastilah sangat kesepian. Tidak ada keluarga, gadis malang itu tidak akan ada yang merawatnya sama sekali.


Nyonya Nakai yang memiliki anak seusia Jingga merasa paling khawatir. Tapi sebelum dia bertindak, Shuji menelepon lebih dulu.


Laki-laki yang terkenal muram itu memang sering terlihat dengan Jingga. Dan tetangga pun sempat khawatir dengan gadis asing itu, takut di tipu. Namun setelah beberapa hari mengamati…, berminggu-minggu, dan berbulan, akhirnya mereka menerima keberadaan Shuji.


Waktu itu, seperti apa dia mendengar suara Shuji? Daripada minta tolong, kata-kata dan nadanya lebih seperti memohon.


“Nakai-san, aku tidak bisa membantu Manis dalam beberapa hal karena keyakinan yang dianut olehnya. Aku sangat berharap kau bisa membantuku di saat tertentu.” Bukan membantu Jingga, tapi membantu-ku, yang mana adalah membantu Shuji.


Laki-laki itu menganggap perempuan asing itu sebagai bagian dari tanggung-jawabnya dan Nyonya Nakai menemukan hal ini cukup menarik.


“Katakan, apa yang bisa kulakukan.”


Kebetulan wanita paruh baya itu memiliki riwayat sebagai asisten dokter sebelumnya, yang mana membuat Shuji lega.


“Manis memiliki beberapa hal yang—” Shuji menjelaskan panjang dan perlahan. Setelah selesai dia bertanya hati-hati apakah perlu untuknya mengulang, yang di tolak Nyonya Nakai.


“Nakai-san, terimakasih banyak atas bantuanmu. Aku tidak akan melupakannya.”


“Jingga-chan adalah penghuni apartemen dan aku sudah menganggapnya seperti keponakanku sendiri. Jangan terus berterimakasih, kau membuatku tidak enak.”


“Baiklah, aku mohon maaf. Tapi, tetap saja, biarkan aku mengatakannya. Aku sangat bersyukur memiliki tetangga dan punya pemilik apartemen sepertimu.” Shuji melempar pujian tanpa lelah sampai Nyonya Nakai malu sendiri.


Tentu saja Shuji memberi bayaran, meski Nyonya Nakai menolaknya berkali-kali, lelaki itu membujuknya dengan begitu lihai.


“Lukamu mengering dengan baik. Aku akan ganti perbannya sekarang, ya.” Kata Nyonya Nakai setelah memeriksa. “Kau tenang saja dan pulihkan kesehatanmu dengan baik. Tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa, semuanya sudah diurus oleh Shuji-kun.”


Jingga tidak langsung menjawab. Perempuan itu memainkan jemarinya gugup, dan berkata ragu. “Dia sudah melakukan banyak hal, aku... tidak ingin terus membebaninya.”

__ADS_1


“Oh, kau.” Nyonya Nakai menggeleng pelan dan melilit kepala Jingga dengan tangan terampilnya. “Shuji-kun selalu kelihatan muram dan pendiam. Tapi selama bersamamu, dia terlihat begitu berenergi. Dan puncaknya adalah sekarang. Aku bisa melihat binar di matanya saat dia bilang mau ke supermarket. Hal yang menurutmu jadi beban, untuk Shuji adalah sesuatu yang membahagiakan.”


“…Benarkah…?” Shuji bahagia mengurusinya? Tidak merasa dibebani?


“Aku tidak mengatakan tidak ada lelahnya. Tapi yang pasti Shuji senang, dan dia terlihat jauh lebih hidup ketika melakukan hal yang berkaitan denganmu. Dia juga bilang….”


Jingga mengangkat matanya penasaran, karena kepalanya tidak bisa di gerakkan.


“Katanya, dia tidak boleh melihat rambutmu atau menyentuh sedikit pun kulitmu sebelum menikah. Makannya dia minta bantuanku. Tradisi ini….” Sebelum Nyonya Nakai selesai bicara, dia melihat wajah Jingga memerah seperti tomat.


“Ara-ara, jangan terlalu bersemangat, nanti kepalamu sakit lagi.”


“T-tidak begitu.”


“Aku tahu. Kalian sudah merencanakan pernikahan dan aku bisa melihat keseriusan Shuji-kun.” Nyonya Nakai menghela napas panjang. “Tapi katanya kalian tidak akan menikah disini dan akan menikah di negaramu?”


Jingga: ???


Menikah? Siapa? Dia?


Kenapa aku tidak tahu akan menikah? Jingga meragukan memorinya. Mungkinkah waktu masih terbaring di sakit sebelumnya dia menjanjikan sesuatu pada Shuji yang membuat laki-laki itu salah paham? Jingga merasa berkeringat, aku harus tanggung jawab.


Tidak apa, Shuji akan mengerti kalau dijelaskan. 


Jingga tidak menjawab dengan pasti dan hanya menyambung dengan deheman atau senyum diam.


Ketika kepalanya selesai di perban, Nyonya Nakai berpamitan.


“Aku ingin masak makan malam sekalian, tapi Shuji-kun, oh, dia akan marah kalau aku mengambil alih teritorinya.” Gumam Nyonya Nakai sambil membuka pintu.


Jingga tidak mengerti dengan kalimat itu dan hanya tersenyum.


Tak lama kemudian, Shuji mengirim pesan.


Setelah menerima konfirmasi dari Jingga, pintu apartemen di buka dan pria itu masuk dengan sekantung belanjaan.


Jingga duduk di sofa bersama bantal di pangkuannya. “Kukira kau mau masak bubur?” perempuan itu memiringkan kepalanya.


“Aku beli untuk stok makan tiga hari ini.”


“Oh.” Jingga tiba-tiba tersadar dan berpikir, hubungan mereka sudah sejauh ini dan dia sudah tidak begitu keberatan untuk makan bersama.

__ADS_1


“Aku akan masak dan menyimpannya di kontainer. Nanti saat Nakai-san datang dia bisa menghangatkannya di microwave untukmu dan kalian bisa makan sama-sama.”


Tunggu dulu— “Nakai-san?” kenapa tiba-tiba membawa nama orang lain?


Shuji yang mendengar pertanyaan itu sama-sama bingung. Dari konter dapur keduanya saling berpandangan dan laki-laki itu tiba-tiba menarik senyum. “Apa kau pikir kita akan makan bersama?”


Mendengar nada godaan itu Jingga jadi salah tingkah. Malu sekali bisa salah paham, kesannya seperti dia mengharapkan...


“Bukan, bukan begitu…” Jingga memegang kepalanya namun menahan diri karena takut menyentuh area luka.


“Aku tahu.” Shuji menghentikan aktivitasnya dan berjalan menghampiri Jingga. Perempuan itu mengira Shuji akan menggodanya lagi, tapi tidak.


Laki-laki itu bersimpuh di depan sofa, menghadap Jingga dan bertanya dengan keseriusan yang membuat Jingga gugup.


Kenapa kesannya seperti hendak… melamar? Mungkinkah?


Jingga menelan ludah, dan obrolan bersama Nyonya Nakai sebelumnya kembali terngiang.


Untungnya, Jingga tidak mendeteksi sedikit pun perasaan berat dalam hatinya.


Tinggal bilang yes, I will. Jingga mengingatkan dalam hati.


“…Nis. Manis?”


“Ah, ya?”


Shuji yang selesai bicara menyadari perhatian Jingga yang terpencar. Laki-laki itu tersenyum ragu, “Aku bicara nanti saja.”


“Jangan..!!” Jingga menghentikan dengan segera. “Aku—aku tadi, kurang fokus. Tolong diulang, kali ini aku akan dengarkan dengan sungguh-sungguh.”


“…Baiklah.” Shuji berdehem dan memulai. “Aku… berniat untuk kerja keluar kota.”


“…..”


Jingga: ???


Bukankah dia barusan mau melamar?


Kenapa malah tiba-tiba kerja keluar kota?


Bukankah mereka baru bersama lagi?

__ADS_1


Mungkinkah dirinya sudah jelek setelah kecelakaan?


Nakai-san, kau salah. Shuji lelah mengurusiku dan sekarang... dia mau kami berpisah. 


__ADS_2