
Shuji ingin mendengarkan sampai akhir tapi semakin di biarkan, kalimat orang-orang ini semakin tidak patut.
“Pak tua, tahan sebentar.” Shuji mengangkat telapak tangannya kemudian beralih pada Kei. Meski wajah wanita ini berusaha netral, matanya menunjukkan penolakan atas sikap Shuji. Sejak pertama datang, Shuji bersikap seenaknya, siapa yang tidak kesal?
“Nona Kei, kau boleh keluar tapi kau boleh juga duduk mendengarkan. Izinkan aku bicara beberapa kata.”
Shuji berdehem.
“Pertama, aku sudah lama tidak tinggal di kediaman klan Oda. Begitu lulus SMA… sekitar 9 tahun yang lalu aku pergi—dan kami tidak pernah lagi bersambung kontak.” Shuji masih menebak kenapa Mio datang mengunjunginya beberapa waktu lalu. Mungkin untuk memeriksa keadaan Shuji…, pastilah ini siasat si rubah tua. Shuji berpikir demikian sambil melayangkan tatapan rendah pada Hideaki.
Tapi agaknya Mio tidak bilang bahwa Shuji punya ‘pacar’. Orang-orang klan ini masih berpikir bahwa kekasih bisa di simpan dan di buang seenaknya. Bagi orang-orang ini, status kekasih tidak ada harganya jika di bandingkan calon istri. Tidak peduli sedalam apa hubunganmu dengan kekasih itu.
“Intinya, aku tidak menganggap diriku sebagai bagian dari klan Oda selain marga.”
“Shuji-san.” Kei yang diam tiba-tiba buka suara.
“Seorang anak tidak akan pernah menjadi orang asing bagi orang tuanya.” Perempuan itu berkata perlahan. Dia bisa melihat bahwa kalimat terus terang hanya akan membuat Shuji semakin menolak. “Sekali pun kau bertahun-tahun tidak pulang dan tiada kabar, orang tua pasti akan selalu merindukan anaknya.” Kei menundukkan kepalanya, dan wajah kedua orang tuanya terlintas di benak wanita itu. “Yang diinginkan klan adalah demi masa depan kita semua. Kau mungkin tidak suka, tapi kenapa menolak dengan begitu keras? Kau bisa coba untuk mengenalku lebih dulu. Aku yakin kita bisa menjadi pasangan yang saling menghormati satu sama lain.”
Shuji menatap Kei tanpa ekspresi, lalu laki-laki itu tiba-tiba tersenyum.
“Nona Kei, apa kau punya kembaran?”
“Ya?” tiba-tiba?
“Shuji.” Hideaki mengingatkan.
Shuji tersenyum miring dalam hati melihat reaksi itu. “Kau tidak tahu? Oda klan selalu menyiapkan rencana cadangan untuk setiap urusan. Misalnya yang terjadi 26 tahun yang lalu. Demi menguatkan klan, pewaris klan Oda saat itu menikahi salah satu putri dari klan lain.
“Sayang sekali, setelah melahirkan seorang putra, dua tahun setelah pernikahan, putri klan tersebut terkena sakit keras. Datanglah adik dari putri klan ini untuk merawat kakaknya. Mungkin bisa di bilang ini adalah takdir. Satu waktu pewaris klan ini—"
“Oda Shuji!!” Hideaki menyebut dengan kuat nama Shuji untuk memperingatkan yang mana di abaikan.
“Dengan penuh cinta, si pewaris klan ini—menjalin hubungan pada suatu malam yang indah di bawah selimut bulan purnama bersama adik dari si putri klan. Mereka tidak tahu tingkahnya di saksikan oleh si anak dan si putri klan yang terbaring sakit. Inilah kenapa seseorang tidak semestinya mabuk.
__ADS_1
“Menyaksikan itu, si putri klan ini meninggal di tempat karena syok, sementara si penerus klan ini melanjutkan kisah cintanya yang menggebu-gebu dengan adik dari si putri klan…”
Plak!
Shuji belum sempat menceritakan ******* dari kisah itu dan merasakan pipinya memanas. Dia meraba pipi bagian dalamnya dengan lidah dan merasakan rasa amis.
Hideaki, oh, Hideaki, kau memang tidak pernah menahan diri.
Kalau ada pisau, dia mungkin sudah menusuk Shuji.
“Jadi, Nona Kei, aku tanya apakah kau punya seorang adik? Atau saudara kembar misalnya? Katanya si adik dari putri klan ini memiliki wajah serupa, makannya si pewaris klan ini salah mengenali orang ketika mabuk. Atau itulah alasannya. Ah, Kalau pun kau tidak punya kembaran…”
Plak!
Hideaki tidak menahan diri dan menampar Shuji sekali lagi.
“Kenapa tidak dijelaskan, apakah memalukan? Pewaris klan itu sampai punya anak bongsor terang-terangan.” kata-kata itu Shuji lontarkan pada Kei, tapi matanya menatap Hideaki dengan penuh hina. "Klan mengagumkan apanya, ini sih klan tidak tahu malu namanya."
Sebelum Hideaki melayangkan tangannya lagi, Shuji sudah menangkap lengan itu. “Pak tua, jangan besar kepala. Aku membiarkanmu menamparku supaya orang lain melihat betapa busuknya kau di balik penampilan rapi-mu itu.” Shuji mengusap ujung bibirnya yang mengeluarkan darah. “Bukannya untuk menghajarku seenaknya.”
Sementara Kei yang duduk di kursinya, nampak terguncang mendengar berita itu.
“Mio-san… bukan ibumu?” wanita itu bertanya bergetar.
Shuji memperhatikan ekspresi Hideaki yang penuh rasa kalah. Rupanya mereka bertekad untuk menyembunyikan berita ini? Tidak heran memang.
Tapi Shuji dengar soal klan Inaba. Meski klan ini mementingkan kesuksesan keluarga di atas segalanya, mereka tidak akan mengorbankan putri-putri klan seenaknya. Putri dari klan Inaba adalah bunga di gunung tertinggi yang di junjung banyak orang.
Inaba sendiri tidak akan berani menerima pinangan dari klan Oda jika mereka tahu ada kisah seperti ini.
Klan Oda bisa dengan mudah menggantikan status seorang putri dari klan lain dengan adiknya—meski mereka berasal dari klan yang sama, hal itu tetap tak bisa di terima.
Ketradisionalan bentuk sebuah klan adalah hal yang di pegang erat-erat. Tindakan tidak bermoral seperti ini sama seperti skandal yang menodai klan itu sendiri. Kalau di sembunyikan tentu bukan masalah. Tapi sekarang Shuji membeberkannya, mereka bisa apa?
__ADS_1
Ibunya Shuji, meninggal di kasurnya menyaksikan percintaan suami dan adiknya malam itu. Karena Klan-nya tidak lebih besar dan tidak lebih berkuasa dari Oda, mereka bahkan tidak ada usaha untuk melakukan sesuatu. Nama ibunya Shuji terhapus begitu saja seakan dia orang yang tak pernah ada.
Shuji kecil di paksa untuk mengakui Mio sebagai ibunya tiba-tiba, membuatnya bertanya-tanya siapakah orang yang berbaring di kasur sebelumnya kalau ini adalah ibunya?
Setelah kelahiran Morie setahun kemudian, Shuji menemukan dia tidak memiliki tempat di keluarga tiga orang itu.
Shuji menjalankan tugasnya sebagai calon pewaris klan setelah Hideaki, tapi hal itu semata-mata dia lakukan karena ketidak-pastian.
Setelah berhasil melarikan diri waktu SMA—yang mana klan sendiri ketahui hanya tidak mencari—Shuji akhirnya bisa bebas.
Bagi klan, menghilangnya satu Shuji tidak masalah. Masih ada Morie.
“Biar kutebak.” Kata Shuji. “Yang mulanya akan menikahi Nona Kei adalah Morie, bukan begitu? Tapi peraturan klan Inaba menegaskan bahwa putri keluarga klan hanya akan menikahi calon penerus klan. Dan sayangnya mereka tahu tentang keberadaanku sebagai putra sulung yang tidak bisa kalian sangkal,”
Shuji melirik Kei yang sudah berdiri dari duduknya. Tangan perempuan itu memegang erat tas kecil seakan geram ingin merobeknya. “Terima kasih Shuji-san, sudah menjelaskan hal ini. Inaba selalu membalas sekecil apa pun kebaikan…..” Kei yang tadinya gadis baik dan patuh melempar tatapan nista pada Hideaki dan Denji. Perempuan itu tidak percaya orang yang di ceritakan Shuji adalah calon mertuanya. Sungguh menjijikkan.
Matanya berkilat dingin dan wajahnya tidak berekspresi. “Ketidak-jujuran ini Inaba putuskan sebagai sebuah penipuan. Atas kerugian ini aku dan klan akan menuntutnya, klan Oda bisa mempersiapkan diri saat waktunya tiba. Selamat siang.”
Kei segera pergi dari situ dan di saat yang bersamaan, layar monitor berbunyi beep beep beep kencang. Sebelum Hideaki bisa menghajar Shuji, dia sudah di kacaukan dengan keadaan.
Siapa sangka batalnya jalinan hubungan ini langsung membuat Denji syok.
“Ayah!!” Hideaki segera berlari ke tepi ranjang Denji dan menekan tombol untuk memanggil dokter.
Shuji membetulkan letak mantelnya. Dia kemudian membuka pintu dan dengan wajah panik dia berseru. “K-kakek dalam bahaya! Semuanya!”
Seruan itu menambah kepanikan.
Beberapa dari mereka melihat Kei, wanita yang dipastikan untuk dinikahkan ke klan Oda justru bergegas keluar dengan wajah gelap, entah karena alasan apa. Orang-orang penasaran dengan yang terjadi di dalam.
Mereka tidak meragukan sama sekali seruan Shuji. Satu demi satu berebut masuk ke dalam ruangan lebih dulu. Satu berteriak ‘Kakek’ dan 'Ayah' lebih kencang dari yang lain. Para wanita mengeluarkan sapu tangan dan segera mengusap wajah mereka—mungkin untuk mengusap air mata atau untuk menyembunyikan sesuatu.
Yang kelas kekacauan itu sudah tak ada hubungannya lagi dengan Shuji.
__ADS_1
Lelaki itu keluar dengan santai.