
Jingga membuka kotak makannya. Karena bentuknya yang besar, mustahil untuk staf lain tidak melihatnya. Sekali pun mereka sudah makan, tetap saja penasaran. Bagaimana bisa Jingga yang sederhana itu datang membawa kotak makan elok bertingkat.
Hanya orang lokal yang tahu berapa harga kotak bekal di tangan Jingga. Kotak makan itu terbuat dari kayu yang di poles dengan teknik khusus. Bentuk pohon dan bunganya timbul menggunakan pirografi. Dari pengrajin yang sama, di produksi juga series Mikia, Mikiala, Mikita, Mikiyo, Mikki, Mikkie, Mikko. Yang ada di tangan Jingga adalah series Mikkiya, meski model ini yang paling sering ditemukan, untuk mendapatkannya tetaplah sulit.
Belum lagi ketika di buka, isinya begitu cantik, menunya seperti kotak bekal dari resto mewah.
“Waaah…, Jingga-san, kau buat sendiri?” Ryoko adalah staf lansia yang baru bergabung minggu kemarin. Dia yang sudah makan merasa lapar lagi melihat tatanan makanan yang menggugah selera di dalam kotak. Dia belum banyak tahu soal Jingga—hanya tahu dia orang luar negeri. Tapi karena Jingga banyak membantunya, gadis itu tidak banyak sungkan saat mengobrol.
“Aku meragukannya.” Yuka disampingnya mengerutkan kening. Salah satu menu di kotak itu merupakan makanan tradisional. Jingga orang luar negeri. Dia paling tahu Jingga. Satu-satunya makanan lokal yang pernah di buat adalah nasi kepal. Siapa pun mungkin bisa membuat tempura, tapi ikan cod hitam bumbu miso? Bagaimana bisa terpikir menu itu?
Dia saja jarang terpikir untuk membuatnya.
“Varian menu ini... sudah pasti lama menyiapkannya.”
“Benar juga.” Sebagai pegawai yang tak kenal lelah, mereka akan menghabiskan waktu untuk tidur daripada membuat bekal makan siang yang ribet. Banyak juga dari mereka yang beli atau makan di pantijompo.
Jingga memiliki kriteria tertentu untuk makannya. Karena takut merepotkan, makannya dia sering membawa bekal sendiri.
“Laki-laki itu membuatkannya?” Kebanyakan dari mereka tahu soal Jingga yang di dekati pria lokal terang-terangan. Ditambah pria itu ikemen juga, sekali pun ada yang tidak melihat langsung, mereka pernah mendengar beritanya. Ryoko sendiri pernah mendengarnya.
Di tempat ini, hal paling menarik selain anekdot para pasien lansia mereka, berita soal pegawai juga sama menariknya.
Jingga yang meneliti isi kotak makan tertegun mendengar celetukan Yuka. Wajahnya kemudian memerah dalam sekejap, memancing seruan orang di sekitarnya.
“Maa, Maa. Kalian ini kurang kerjaan sekali menggoda Jingga-san.” Pintu ruang istirahat di buka, dan supervisor mereka segera menggerakkan pegawai yang sudah waktunya bekerja untuk kembali ke pos masing-masing.
“Jingga-san, jangan lupa bagi-bagi hadiah kalau sudah jadian. Itu tradisi disini.” Namun sebelum kembali kerja, supervisor itu tak lupa juga untuk menggoda.
Jingga hanya tersenyum dan mulai makan. Kadang orang sini bisa sangat acuh tapi kalau sudah dekat, kepo-nya tidak berbeda jauh.
Mendengarkan komentar dari staf lain barusan, pastilah Shuji bangun sangat pagi untuk menyiapkan menu ini?
Pantas saja matanya sampai menghitam begitu.
Dia yang awalnya keberatan jadi bersemangat untuk menghabiskan makan siangnya. Sekali pun perutnya sudah tidak kuat, memikirkan Shuji, dia seperti bisa makan terus sampai ke dasar kotak.
--
Ding!
[Jingga: Perutku penuh sekali.]
[Foto]
Shuji yang menerima pesan itu tentu saja senang. Melihat kotak makan yang kosong sampai remah pun tak bersisa, adalah penghargaan terbaik untuknya.
__ADS_1
Tapi dia tidak bisa mengabaikan masukan dari Jingga.
[Shuji: Besok aku akan masak lebih sedikit.]
[Jingga: Besok mau buat lagi?]
[Shuji: Tentu saja.]
Jingga yang membacanya hendak menolak namun berhenti. Shuji akan selalu mengikuti kemauan Jingga sekiranya sesuatu itu memang tidak bisa di lakukan.
Gantinya, di saat Shuji bersikeras soal hal yang bisa ditolerir, Jingga kesulitan menolak.
Tapi dia juga tidak bisa membiarkan Shuji bangun pagi untuk menyiapkan banyak porsi seperti ini. Tadi saja sebagian dia bagikan ke yang baru istirahat.
[Jingga: Kalau begitu besok pakai kotak bekalku.]
[Shuji: Hmm ☹]
[Jingga: Tadi makanannya ada yang aku bagi ke orang lain.]
[Jingga: Kotak bekalku yang biasa sudah pas porsinya.]
[Shuji: Kau membaginya?]
[Jingga: Kubagi cuma sedikit..]
[Shuji: Besok aku buat yang banyak biar bisa di bagikan ke yang lain, bagaimana?]
Shuji belum memikirkan sama sekali dirinya yang akan kelelahan. Dia hanya ingin pamer hubungannya dengan orang sekitar saat ini.
Sementara Jingga di seberang memegang kepalanya yang berdenyut. Kenapa laki-laki ini semakin lama semakin rupa-rupa? Tapi anehnya, Jingga justru semakin bisa membaca Shuji dengan jelas.
[Jingga: Aku mau kau masak untukku saja.]
[Jingga: Tentu saja aku bisa membagikan masakanmu ke orang lain.]
[Jingga: Tapi sesekali saja, tidak akan setiap waktu.]
Shuji yang membacanya seperti di panah dewa asmara dari jauh sampai raganya terlempar ke awan.
“Hehehehehe.”
[Shuji: baiklah.]
Shuji mendapat inspirasi mendadak dan dia langsung mengetik draft baru untuk artikel selanjutnya.
__ADS_1
[…Kalau kalian mengalami hal ini, jangan bimbang. Bahan di menu yang kutulis ini tidak akan hilang cita rasa murninya. Kalau kalian belum pernah mencoba masakan Negeri T, kalian bisa coba ini. Sekali pun kalian primitif soal makanan ini, kalian pasti akan jatuh cinta dengan rasanya.
Untuk besok, aku akan membuat menu sederhana berasal dari Negeri I. Kalian tahu negeri I? Tidak? Ahem. Aku membuat menu ini berdasarkan permintaan tetanggaku…. Aku sudah pernah menceritakan soal tetanggaku, kan? Menu favoritku adalah jamur putih oseng. Dan aku akan mencoba recreate menu ini untuk mengejutkan tetanggaku.]
Shuji mengetik panjang.
Tidak selesai di artikel pertama, dia melanjutkannya ke artikel ke dua. Blognya kebanyakan berisi tentang makanan yang di selingi kegiatan sehari-harinya.
Dia juga membaca setiap komentar yang beragam—satu diantaranya menarik perhatiannya.
_KokiJouen: Bos sejak kau berbicara tentang tetanggamu, beberapa bahan di menu sepertinya di ganti. Aku hampir tidak pernah menemui bahan baku [babi] dan sake.
Shuji menaikkan sebelah alisnya dan lanjut membaca.
_KokiJouen: Aku yakin kau bukan vegan karena kau masih masak menu daging ayam dan sapi. Aku tidak tahu apakah kau pernah dengar soal makanan [halal]; aku mencobanya waktu main ke timur tengah dan sekarang aku membawa salah satu pegawainya kemari untuk menjalankan restoranku, hahahahaha! Bos, coba main ke restoku dan cicipi menunya!
[Peta]
Shuji memeriksa lokasi dan melihatnya tidak terlalu jauh dari tempatnya. Dia bisa sampai dengan berganti satu kereta. Dari situ dia tinggal berjalan.
“Hmmm.” Shuji memeriksa lokasi sekitar, ada Kawasan rekreasi dan akan ada festival musim dingin di minggu mendatang. Shuji jadi tertarik menjadikannya sebagai spot kencannya selanjutnya.
Setelah membalas komentar dan membalas email yang masuk, barulah Shuji berhenti dan beranjak untuk membuat menu makan malam. Dia menghitung waktunya cukup sampai Jingga pulang.
Pukul lima lewat sedikit, Shuji membereskan kembali dapurnya. Di konter terdapat dua porsi makanan yang masih hangat. Yang satunya di masukkan dalam kontainer untuk diantar pada Jingga.
Shuji langsung pergi mandi untuk menghilangkan bau masakan dan bersolek. Dengan tampan dia keluar apartemen untuk menjemput Jingga di halte.
Ketika Jingga turun dari bus dengan rasa penat dan lelah, matanya di suguhkan dengan pemandangan yang cemerlang. Shuji berdiri di bawah halte dengan puitisnya, di bawah remang lampu dan langit yang mulai menggelap—pria itu berdiri tegak. Matanya yang hitam nampak sendu menatap sekeliling.
Tatapan itu lalu berhenti ke Jingga, yang membuat perempuan itu berdebar jantungnya tak karuan.
“Okaeri.”
Jingga yang masih beberapa langkah dari Shuji bisa membaca gerakan bibir lelaki itu meski tak bersuara.
Dengan pipi memerah karena dingin dan malu, Jingga membalas ketika dia sudah berdiri dekat.
“Tadaima…?” Ugh, kenapa terasa memalukan? Aku sudah gila.
Mereka sungguh terlihat seperti pasangan…
Mendengar balasan Jingga, Shuji tidak bisa menahan senyumnya. Di bawah cahaya senja, senyum itu bersemi sendirian, di tengah dingin.
Jingga mendengar suara jantungnya berdetak semakin cepat. Begitu dekat di telinganya, menggantikan suara keramaian di sekelilingnya.
__ADS_1