JUST A CRASH - CROSSING BUTTERFLY

JUST A CRASH - CROSSING BUTTERFLY
29. Clean N Clear


__ADS_3

Tidak seperti Shuji yang bisa memilih kapan untuk bekerja, Yugani tidak sebebas itu. Setelah bermalam satu hari, pria itu terpaksa kembali karena pekerjaan yang menuntutnya. Shuji tidak mengantar ke pintu sama sekali.


Hari kedua dia disini, Jingga bangun untuk sesaat. Mereka sempat bertukar hai, bagaimana perasaanmu? Kau baik-baik saja? Selebihnya mereka hanya saling memandang sampai Jingga kembali tidur.


Kali berikutnya Jingga terbangun, perempuan itu menanyakan ponselnya.


“Aku sudah memberitahu keluargamu.” Kata Shuji tanpa berniat sedikit pun menyerahkan ponsel pada pemiliknya. Cepat atau lambat, keluarga Jingga akan tahu, baik itu dari kedutaan, atau dari perusahaan tempatnya bekerja sekarang. Saat ponsel Jingga penuh baterainya dan dinyalakan, Shuji langsung menerima panggilan dari keluarga Jingga.


Jingga diam beberapa saat, dia merasa seperti masih mengambang di tengah laut. Perempuan itu masih belum bisa berpikir panjang dan hanya bisa mengangguk, “Mereka pasti ribut sekali. Kau... mungkin akan kerepotan.” Setengah bercanda gadis itu berkata. Meski masih lemah, Jingga tidak kehilangan senyumnya.


Melihat gadisnya berbaring di kasur dengan lemah, Shuji merasa sakit hati. "Tidak repot sama sekali." Laki-laki itu kemudian tersenyum.


Ketika Jingga tertidur lagi, Shuji menyibukkan dirinya untuk mengurus formalitas yang belum selesai. Dia meminta pengacara untuk menagih hak Jingga dari perusahaan tempatnya bekerja, juga dari kedutaan negaranya. Keduanya tidak mempersulit dan bekerjasama dengan baik. Beberapa dokumen akan diserahkan setelah Jingga baikan, jadi dia tidak perlu buru-buru.


Dia juga menyewa seorang suster khusus untuk bantu urusan Jingga ketika ke kamar kecil dan untuk urusan yang tidak bisa Shuji lakukan.


Setelah selesai, Shuji akan bergulat dengan kamus untuk merangkai kalimat yang akan dia sampaikan pada pihak keluarga Jingga di seberang.


Hari kelima, keadaan Jingga sudah membaik dan dia memilih untuk pulang ke apartemen. Selain pasien yang  keadaannya gawat, semuanya tinggal di rumah sakit sementara. Shuji salah satu keluarga korban yang paling di kenal dan paling antusias. Kebanyakan petugas dan perawat disini pernah di tanyai olehnya untuk hal-hal ringan yang berkaitan dengan kesehatan pasien.


Sebelum pamit, Shuji mendatangi suster yang sebelumnya menangani Jingga. Dengan serius lelaki itu mendengarkan arahan suster apa saja yang perlu di hindari selama di rumah.


“Selanjutnya pemeriksaan rutin di lakukan minimal seminggu sekali.”


“Baik.” Meski sudah ingat, Shuji tetap menyalinnya di buku catatannya. Jingga bersandar di tembok dengan tangan terlipat. Sebetulnya keadaan Jingga sudah membaik, dia bahkan merasa dia bisa melompat saat ini juga. Hanya perban di kepalanya saja yang membuatnya terlihat parah.


Tapi apalah yang bisa dia lakukan, dengan lelaki yang super khawatiran ini, Jingga hanya bisa menurut.


Dia menyaksikan semuanya dari awal, bagaimana Shuji mengurus segala keperluannya. Selain ke kamar mandi dan ganti baju, laki-laki itu menolak orang lain untuk melakukannya. Beli pakaian dalam pun dia itu yang lakukan. Memikirkannya Jingga merasa malu setengah mati.


Jingga pikir dia akan sendirian ketika awal membuka mata, tapi Shuji duduk disisinya, tersenyum dengan tangis yang sangat jelek. Tapi momen itu adalah momen paling menyentuh bagi Jingga.


Mungkin dia satu-satunya perempuan yang sudah pernah melihat segala sisi dari Shuji. Memikirkannya, Jingga tak bisa menahan diri untuk terkekeh.


Waktu Jingga terbangun kedua kalinya, dia mengingatkan Shuji untuk membeli alas kaki karena laki-laki itu memakai sebelah sepatu selama ini. Tapi apa yang laki-laki itu bilang?

__ADS_1


“Oh, tenang saja, aku bereskan ini dulu.” Bagaimana bisa laki-laki itu mengenakan sebelah alas kaki sementara cuaca dingin begini? Kalau tidak Jingga ingatnya, kakinya mungkin sudah kena frosbite.


Saat itu Shuji masih mengurusi dokumen Jingga. Ketika belanja keperluan, barulah pria itu membeli sepatu baru.


Jingga menatap laki-laki di depannya yang serius mencatat pesan dari perawat. Shuji yang dulu enggan untuk bertukar kata kini justru tertawa dan tersenyum pada perawat di depannya dengan ramah.


Saat Shuji berbalik, dia melihat gadisnya tersenyum cantik dengan pipi gembil yang dia rindukan.


“Kenapa tersenyum?” tanya Shuji setelah mendekat dan membetulkan letak mantel. “Kenapa kau memakainya miring begini?” Shuji mengerutkan kening dan mengeratkan syal. “Apa kau tidak tahu di luar dingin sekali? Satu tiupan dan tulangmu akan langsung beku!” bisiknya menakut-nakuti.


“Kau jadi aneh.” Jingga berkata dengan mata memicing. Meski begitu di nadanya tersemat senyuman.


“Apanya yang aneh.”


“Kau jadi suka menasehati aku seperti ke anak kecil.”


Mendengar itu, Shuji tersedak udara. “Apa maksudmu?” Mungkinkah aku sudah berlebihan?


“Maksudnya, aku senang mendengarnya.” Jingga mengaitkan lengannya dan setengah bersandar untuk menuruni tangga di bantu Shuji.


“Aku mau duduk di depan.”


Mendengar itu Shuji langsung melotot dingin.


“Kau memelototi aku?” Jingga berkata dengan nada lengket penuh ratapan.


Shuji langsung memejamkan mata dan menarik napas dalam.


“Kau mau menyetir sampai rumah, aku mau duduk di depan menemanimu.” gurat sedih nampak di raut wajah Jingga. Tanpa ekspresi sedih pun, hanya dengan melihat perban di kepalanya, Shuji tidak akan berani untuk memasang wajah keras.


Setelah membujuk sebentar, karena udara dingin, Shuji akhirnya setuju. Mobil sudah di panaskan sejak beberapa menit lalu. Jadi ketika Jingga duduk, tidak perlu waktu lama untuknya merasa hangat.


Shuji naik ke kursi kemudi setelah meletakkan koper di bagasi. Sementara koper lama Jingga sudah menghilang di tengah kapal, koper barunya ini adalah barang yang Shuji koleksi selama Jingga di rawat.


“Pasang sabuk pengaman...” sebelum Shuji selesai berkata, Jingga sudah menunjukkan sabuk di perutnya yang melekat sempurna.

__ADS_1


“….” Laki-laki itu akhirnya berhenti mengomel.


Mobil melaju perlahan diiringi instrumen dari salah seorang pianis ternama.


Ponsel Shuji yang tersambung ke port USB mobil berdenting dan notifikasinya langsung terlihat di layar dasbor.


“Huh? Kiela?” Jingga memiringkan kepalanya. Kenapa dia seperti kenal nama ini?


“Itu adikmu.” Kata Shuji setelah melirik sekali. Setelah pindah gigi, sebelah tangan lelaki itu bergerak untuk membetulkan selimut tipis Jingga yang merosot.


Jingga: …..


Mendadak tersipu.


“Kalian sering tukar pesan?” tanyanya lagi.


“Tidak sering.” Shuji mengintip ekspresi Jingga hati-hati. “Keluargamu khawatir dan hanya adikmu yang bisa bertukar bahasa denganku. Jadi aku bertukar berita dengan dia.”


“Kiela memang jago bahasanya, sih.” Jingga mengangguk lagi, mengakibatkan selimutnya sekali lagi merosot yang Shuji betulkan tanpa terlewat.


“…..” Jingga berdehem malu dan berusaha mengabaikan. “Aku belum mengobrol dengan keluargaku…”


Selama lima hari ini, Shuji hanya mengirim informasi dan video soal Jingga. Perempuan ini mungkin tidak terlihat parah, tapi salah sedikit saja, luka di kepalanya bisa merenggut nyawa dan Shuji tidak berani main-main. Dokter mengatakan bahwa Jingga hampir tak terselamatkan ketika operasi berlangsung. Selama di rawat, Jingga tidak di biarkan bersentuhan dengan alat elektronik kecuali mesin monitor.


Kelihatannya berlebihan, tapi yang Shuji lakukan beralasan dan tidak ada yang menentangnya.


“Kau bisa menelepon mereka sekarang.” Kata Shuji dengan senyum kecil. Dia sendiri sempat berpikir sikapnya keterlaluan. Tapi kekhawatiran Shuji hampir tidak bisa di bendung. Jingga seperti menyadari ada sisi lain yang ingin Shuji sembunyikan. Lelaki di sampingnya jelas memiliki posesif akut, tapi berlagak biasa saja.


Sikapnya yang berusaha untuk menghargai Jingga benar-benar menyentuh hatinya. Karena dia pikir, hal ini tidak mudah untuk Shuji lakukan.


“Oke.” Mata Jingga berbinar dan dia mengambil ponsel… Shuji.


“?” Shuji bingung namun fokus ke jalan. “Itu ponselku?”


“Aku tahu.”

__ADS_1


Menggunakan nomor ponsel Shuji, Jingga menghubungi keluarganya.


__ADS_2