Kamu Adalah Milikku

Kamu Adalah Milikku
Chapter 37


__ADS_3

"Hati-hati dijalan ya kak." Seru Timor sambil melambaikan tangannya kepada Indo. "Jaga dirimu Indo." Sahut PFI juga. "Iya, Pasti Indo akan menjaga diri Indo baik-baik!"


Indo lalu melambaikan tangannya sekali lagi sebelum akhirnya ia beranjak dari sana.


"Disini senang...Disana senang... Dimana-mana hatiku senang..." Didalam perjalanannya Indo terus bernyanyi. Ya saat ini suasana hatinya sedang senang.


"Chat Lombok ah." Indo langsung mengetik percakapan di ponselnya.


Tringgg!


Suara notifikasi masuk. Lombok langsung membuka hpnya. "Selamat pagi, Lombok!" Ucap Indo didalam percakapannya. "Selamat pagi juga, Negaraku. Bagaimana kabarmu? Aku merindukan kedatanganmu (≧▽≦)" Jawab Lombok.


"Aaa...Aku juga merindukanmu!♥️ Padahal kita baru bertemu beberapa hari yang lalu. Alhamdulillah, Aku sehat. Apa kau sudah sarapan pagi ini?"


"Sudah dong. Hati-hati saat dijalan ya~! Maaf aku tidak dapat menjemputmu." Indo pun terkekeh, "Tidak apa-apa kok. Kalau misalnya aku lelah, aku tinggal terbang saja. Oh sudah ya, Aku akhiri percakapan ini." Indo langsung mematikan hpnya. "Semangat Indo. Kalau kamu nggak kebanyakan ngeluh pasti cepat sampai. Eh...tergantung deh (´-﹏-'). Udah yang penting semangat aja."


Lombok mematikan hpnya juga. Ia lalu menghampiri NTT yang saat itu juga turut serta ikut membantunya.


"Terima kasih karena telah sudi membantuku~" NTB lalu menjawab, "Iya, sama-sama Lombok. Tugas seperti ini, tidak harus semuanya kamu tanggung sendirian."


"Wih, lagi pada sibuk nih." Sapa NTT yang datang bersama dengan Bali. "Oh hai Bro, Sis!"


"Bali juga mau membantu kalian. Waktu itu kalian juga pernah membantuku, jadi sekarang gantian. Kau tidak keberatan kan?"


NTB pun tertawa, "Iya...iya, masa begitu saja aku harus keberatan. Justru aku malah senang. NTT, tumben nggak bawa komodo-komodomu kesini?"


NTT pun menoleh, "Iya, nggak apa-apa. Berat tau bawa-bawa mereka dari sana kesini. Kalau misalnya mereka jalan sendiri, nanti takut mereka ketinggalan. Lagi pula aku kesini kan buat bantuin kamu bukan buat jalan-jalan."


"Ya udah. Bali kamu bantuin Lombok disana, terus aku sama NTT bantu beres-beres disebelah sana."


"Siap Bos!"


🥀


"Sampai saat ini, belum ada kabar dari Polisi..." Vietnam menunjukkan wajahnya yang lesu. "Iya nih." Thailand menghela nafasnya. "Kira-kira kapan ya Indo bisa ditemukan?"


"Entahlah..." Lanjut Vietnam.


"Guys, kok aku merasa akhir-akhir ini kelas agak sepi karena Indo nggak ada ya?" Seru Phil tiba-tiba.


"Betul lah. Kelas ni senyap sangat." Sahut Brunei sambil menggambar benang kusut di buku tulisnya.


"Lama-kelamaan kelas ini menjadi sepi. Taruh jangkrik disini boleh nggak?" Ucap Myanmar. "Nggak, nanti malah nggak kedengaran kalau guru lagi jelasin." Singapore yang dari tadi nyimak akhirnya ikut bicara.


"Pak Ketua kelas, tumben nih diam aja dari tadi." Balas Malay seraya menaruh kepalanya di atas meja. "Bukannya udah biasa ya kalau aku lebih pendiam dari pada kalian semua."

__ADS_1


"Nggak juga tuh...menurutku."


Keadaan di keraton.


"Akhirnya nyampe juga dong. Yeayy! Aku kangen kasur." Girang Petrus sambil berlari masuk kedalam keraton.


"Yeayy...Aku kembali menjalankan tugasku dan mengurus adik laknat (PKI)." Jawab TNI nggak niat. "Sabar ya kak..."


"Iya. Terima kasih Indosila."


Petrus hendak membuka pintu kamarnya, namun ia mendengar dari suara dari ruangan yang ada di sebelah kamarnya.


"Tumben kamar itu di rapikan jam segini? Biasanya 3 jam lagi baru dirapikan." Petrus mendekat ke kamar itu dengan hati-hati.


"Itu PKI? Eh tapi nggak mungkin. Dia kan sudah banget kalau disuruh merapikan kamarnya. Terus itu siapa dong? Tapi kalau dari sini terlihat seperti PKI."


TNI dan Indosila melihat Petrus yang sedang mengintip di ruangan sebelah. "Bang Petrus ngapain ngintip-ngintip seperti itu?" Panggil Indosila sehingga membuat Petrus menoleh.


"Eh...bisa kesini sebentar nggak?" Pinta Petrus sambil memanggil TNI dan Indosila untuk mendekat.


"Memangnya ada apa sih?" Tanya TNI. "Kumohon, kesini dulu sebentar." Akhirnya TNI dan Indosila mendekat ke arah Petrus.


Petrus lalu menunjuk ke arah orang yang dilihatnya. "Itu PKI bukan?"


"Huh...Akhirnya aku selesai juga merapikan kamarku." PFI hendak keluar dari kamarnya, namun sungguh terkejutnya ia saat melihat kedua abangnya dan adiknya ada disana.


"I-ini, aduh mataku salah lihat." Petrus mengucek-ngucek matanya tanda tidak percaya.


"Abang!" PFI langsung memeluk TNI. "Aku kangen Abang berdua."


"Ini serius kan. Ini beneran PFI?" Tanya TNI yang matanya sudah berkaca-kaca. "Iya...ini beneran PFI kok."


"Eee...Bang TNI dan Bang Petrus, kenal orang ini?" Tanya Indosila yang dari tadi berdiri diambang pintu.


"Apa kau Indosila?" Kata PFI balik bertanya. "Eeh...Urhm...iya, Aku Indosila."


"Wah ternyata adikku sangat cantik ya~"


"Eh?! Adik?! Maksudnya?"


"Indosila." Panggil TNI seraya tersenyum simpul kepada Indosila. "Dia ini kakakmu setelah PKI, PFI namanya."


"PFI? Bukannya dia yang pernah dibicarakan oleh ayah?! Dia abangku?"


"Iya itu benar." Sahut Petrus. PFI lalu langsung memeluk Indosila. "Apa kau sudah ingat?"

__ADS_1


"I-iya...A-aku sudah ingat...hikd..." Indosila menangis dipelukan PFI. "Tidak sangka, Abangku masih hidup. Aku senang dapat pertama kali melihat Abang keempat ku."


"Abang juga senang kok dapat melihat adik perempuan ku. Saat itu kamu masih ada didalam perut Ibunda saat aku menghilang."


"Ehem..." TNI memotong momen haru ini "Oh ya ngomong-ngomong, kapan kamu datang kesini?"


PFI meleraikan pelukannya. "Oh beberapa hari yang lalu, tapi belum lama sih. Masih di Minggu ini. Aku datang kesini bersama dengan Indo dan Timor."


"Kamu sudah tau Indo dan Timor?!" Kaget Petrus. "Sudah, karena mereka berdua lah aku bisa pulang ke keraton kembali."


"Mereka meminta cuti rupanya. Nggak biasanya mereka minta cuti pas lagi masuk sekolah begini. Apa mungkin mereka ingin bolos? Tapi bisa juga sih sekolah mereka sedang libur. Sekarang mereka kemana?" Ujar TNI lagi.


"Kalau Indo dia sedang berlibur ke Lombok, Timor sedang tidur di kamarnya ketika ku lihat tadi. Kalau PKI...ya biasalah, sedang pergi main."


"Main mulu tu anak bisanya. Haduhh..."


Tetapi Sebenarnya...


Nii...Noo...Nii...Noo...


"Udah...Udah, Pada bubar. Ngapain sih tawuran melulu." Teriak Polri yang kelelahan membubarkan sekelompok anak laki-laki yang tadi ikut tawuran.


"Yah Bang Polri, kok dibubarkan. Kan seru tau bang. Coba deh Abang ngerasain. Dijamin bakalan seru deh."


"Aduh. TNI, kenapa adikmu yang satu ini bandel banget sih, malah aku disuruh ikut tawuran juga."


Polri terus membubarkan semuanya yang berada di kejadian setempat. Belum lagi para reporter yang sedang menyiarkan berita tentang kejadian tersebut.


"Dah selesai tawurannya. Mendingan sekarang kamu pulang. Bosen aku lihat kamu mulu. Kamu udah puas kan?"


"Belum Bang. Nanti bilangnya disebelah sana ada demo. PKI nanti mau i- Eh keceplosan...kenapa dikasih tau ya. Aduh PKI..." PKI menepuk jidatnya.


"Ketahuan kamu ya. Udah, cepat sekarang pulang ke rumah!"


"Ke rumah siapa bang? Ke rumah Abang?"


"Aduh...ya ke rumah kamu lah, Ke keraton. Masa iya ke rumah Abang. Udah cepetan balik."


"Huh...iya. PKI balik. Seneng kan? Pasti seneng." PKI menuruti kata-kata Polri dan meninggalkan tempat kejadian.


"Sekarang aku mau patroli dulu." Polri langsung menaiki mobilnya untuk melanjutkan patrolinya.


"Bagus. Bang Polri sudah pergi. Bang Polri mudah banget di bohongi. Ck...ck...ck...Ok Lanjut lagi!"


🥀

__ADS_1


__ADS_2