Kamu Adalah Milikku

Kamu Adalah Milikku
Chapter 41


__ADS_3

Balik lagi ke Sekolah Para Negara.


N.K kembali duduk di kursinya dan memakan makanannya. "Kau kenapa, N.K? Sebelum kau pergi tadi, wajahmu tidak pucat begitu." Tanya Macau yang bertanya duluan.


N.K mengangkat sedikit kepalanya. "Tidak ada apa-apa." Seperti biasa ia menjawab dengan singkat.


Suasana di meja itu menjadi hening sampai bel masuk berbunyi. N.K merapikan mejanya lalu membuang sampah-sampah pada tempat sampah yang tersedia.


N.K merogoh-rogoh saku celananya dan mendapati sebuah jepitan rambut yang tadinya ingin ia berikan kepada Indonesia.


Tanpa berfikir panjang lagi, N.K langsung membuang jepitan rambut tersebut ke dalam tempat sampah. "Percuma aku membelinya." N.K langsung berlari ke dalam kelasnya untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.


Sedangkan anak-anak Asia Tenggara baru saja mendapatkan waktu Istirahat. Walaupun ada satu hari dimana semua kelas dapat waktu istirahat yang sama.


"Yeayy! Kali ini Brunei mau jajanin kita!" Seru Phil sambil menepuk bahu kanan Brunei.


"Iya-iya, kan aku udah janji tadi."


"Oh asyik! Setidaknya aku bisa mengirit uang jajanku." Sahut Laos sambil memastikan uang jajannya.


"Ah iya benar juga ya. Kakakku masih belum mengirimkan aku uang jadinya aku harus banyak ngirit. Tapi untung Brunei mau jajanin. Aku jadi tertolong." Ucap Myanmar ikut-ikutan.


"Nggak mungkin kan kalau aku terus terus ngikutin kalian. Begini aja deh, mending aku kasih uang sama rata ke kalian. Kecuali ke Singa."


"Oh nggak apa-apa. It's okay. Aku ngerti kok." Jawab Singa dengan santuy.


"Hm...iya-iya..."


Skip pas di kantin.


"Hai guys! Aku dah balik." Sapa Thailand yang datang bersama dengan Vietnam. "Oh hai kalian. Cepet amat dah perasaan." Cambodia lalu menyuruh Vietnam duduk di sebelahnya. "Ah...iya nih, untung masih belum rame banget. Soalnya anak-anak Eropa masih banyak yang belum keluar."


"Oh." Jawab Cambodia seadanya.


🥀


"Apa kau mau mampir terlebih dahulu, Pales?"


Pales tersenyum sambil menggeleng, "Maaf bukannya aku ingin menolak, tapi aku harus pulang sekarang."


"Pales, janji yang tadi...kau harus mengingatnya..."


"Aku akan berusaha."


Pales lalu berjalan lurus meninggalkan tempat dimana ia dan Indonesia bermain tadi.


NTB lalu menyenggol lengan kanan Indo. "Indo, kau suka dengan Pales ya?" Tebaknya.

__ADS_1


"Eh tidak...aku tidak suka dengannya."


"Masa? Terus siapa negara yang kamu suka? Kasih tau dong. Please...Aku janji deh nggak akan ngasih tau siapa-siapa."


Indo memasang kode pura-pura berfikir. "Kasih tau nggak ya? Hum...nggak mau kasih tau ah~ Rahasia gitu loh."


"Ih siapa? Ciri-cirinya deh kasih tau. Nanti aku yang tebak." Rengeknya sedikit memaksa.


"Hum...ya udah deh. Dia itu cukup tinggi terus tsundere."


"Hum...Russia yak."


"Hah?! Emang Russia tsundere! Bukan dia."


"Eh-eh apaan sih. Aku ikutan dong." Lombok ikut nimbrung. "Aku lagi nyoba nebak siapa negara yang di sukai sama Indo. Bilangnya sih dia itu cukup tinggi terus tsundere. Siapa ya?" Ucap NTB.


"Nggak mungkin kan sama Belanda. Soalnya Belanda bukan tsundere." Tebak Lombok.


Indo langsung menyela. "Tapi hubunganku dengannya sedang tidak baik kali ini..."


"Eh?! Kenapa?"


"Hah...karena mungkin dia sangat kecewa kepadaku..."


....


....


"Jangan-jangan kau menangis tadi karena itu?" Balas Lombok dengan yakin. Indo mengangguk. Ia pun menangis kembali.


"Hikd..." Indo langsung berjongkok seraya menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.


"Eh?! Gimana dong ini, Lombok?" Seru NTT yang kepanikan. "Kamu aja bingung, apalagi aku. " Balasnya sambil berlari muter-muter nggak jelas.


"Aduh...malah tambah pusing deh aku. Nanti setelah ini aku mau beli Baygon buat meredakan sakit kepalaku. Eh...kok Baygon?! Otakku auto nggak waras nanti. Paramex maksudnya. Huhu...Aku jadi ketularan nggak jelas dah."


Lombok berhenti berlari dan langsung menjatuhkan dirinya ke tanah. "Aduh pusing...capek..."


NTT lalu melihat Lombok yang sudah tepar di tanah. "Lagian...ckckck." NTT menyilangkan tangannya di dada.


"Hey kalian berdua." Panggil Indo yang sudah berhenti menangis. "Kalau mau minta maaf bagusnya kek gimana?"


NTT mengangkat sebelah alisnya, "Maksudnya kek gimana?"


"Ya mungkin kasih kartu ucapan, hadiah, atau yang semacamnya gitu."


"Bagusnya sih, menurut Lombok ya. Hum...Minta maaf terus kasih kartu ucapan sekaligus hadiah. Kalau dia masih nggak mau juga, rayu-rayu sedikit sampai dia merasa luluh. Tapi merayunya jangan berlebihan. Tergantung sikapnya dulu. Kalau dia agak pemarah, sebaiknya jangan terlalu dipaksakan."

__ADS_1


"Tapi aku takut dia masih marah sama aku. Nanti dia malah nggak mau melihatku." Jawab Indo ragu.


"Bagaimana kalau kasih surat dulu aja. Terus minta dia buat membalasnya. Kalau surat itu tidak dibalas-balas, berarti dia masih marah. Kalau dia balas suratnya, mungkin dia merasa sedikit segan tapi mau untuk datang."


"Ok aku akan pakai cara dari NTT dulu lalu baru pakai caranya Lombok. Terima kasih ya^^"


"Ah iya sama-sama."


Di saat Indo agak lengah, NTB lalu berbisik kepada Lombok. "Selama Indo masih disini, kita harus tetap menghiburnya agar dia merasa lebih baik. Mengerti."


"Ok aku mengerti."


🥀


"Akhirnya aku bisa balik ke negaraku!" Timor lalu berlari ke arah rumah lamanya. "Jadi kangen tidur disini lagi deh."


Timor mengambil kunci rumahnya dari dalam tas dan membuka pintu tersebut. "Walaupun berdebu, aku harus merapikannya."


Timor menaruh tasnya di kursi lalu mengambil sapu dan pengki/serokan. "Mulai dari ruangan paling ujung."


Ruangan yang paling ujung adalah dapur sedangkan yang paling depan adalah ruang tamu. Setelah beberapa menit menyapu, akhirnya ruangan pun sudah bersih.


"Disapu sudah. Ngepel berarti." Diambilnya ember dan kain kecil untuk mengepel. Di isikannya air sedikit untuk membasahi kain. Kenapa Timor memakai kain? Karena dia tidak punya kain pel.


Pelan-pelan ia membersihkannya agar tidak kotor lagi. Walaupun itu cukup melelahkan tapi itu masih tidak apa-apa dibandingkan ia harus terus-menerus bersin karena debu-debu yang sudah banyak.


"Fyuhhh...akhirnya selesai juga." Timor memandang hasil kerja kerasnya yang sudah membuat rumahnya bersih kembali.


Walaupun di keraton ataupun asrama ASEAN ia terlihat seperti anak yang polos, namun sebenarnya ia juga bisa bersikap mandiri.


"Oh iya, Aku harus memberi tahu Bang TNI kalau aku sudah sampai beberapa menit yang lalu."


Timor mengambil ponselnya dan menekan nomor TNI.


"Selamat Siang kak. Timor sudah sampai beberapa menit yang lalu. Maaf ya baru memberi tahu sekarang.


[Suara percakapan]


"Iya-iya, Timor tutup lagi ya. Timor janji kok akan menjaga diri Timor saat disini."


[Suara percakapan]


"Sudah ya Bang. Dah~" Timor mematikan ponselnya kembali. "Sekarang aku mau buat apa ya?" Tanyanya pada diri sendiri.


"Oh iya, telpon kak Indo!"


🥀

__ADS_1


Selamat Memasuki Bulan Ramadhan. Selamat berpuasa (bagi yang menunaikan).


__ADS_2