Kamu Adalah Milikku

Kamu Adalah Milikku
Chapter 35


__ADS_3

"Tolong ya pak. Tolong temukan anak saya."


"Tenang pak. Kami pasti akan menemukan anak bapak."


ASEAN sudah melaporkan hal ini ke pihak kepolisian agar pencarian tidak memakan waktu yang lama.


"Papa, Aku takut Indo kenapa-kenapa." Thailand menarik-narik tangan ASEAN dengan wajah yang sedikit pucat.


ASEAN menoleh ke arah anaknya seraya mencoba membuat anaknya tenang. "Jangan fikirkan hal itu. Doakan saja bahwa Indo pasti baik-baik saja."


"Hikd...iya papa..."


Disini lain, Malay menangis paling terisak. Walaupun Indo dan Malay sering bertengkar, tetap saja jika ada salah seorang mereka pergi tentu saja akan membuatnya kesepian.


"Sudahlah Malay, kalau kamu nangis terus...aku jadi ikutan nangis juga." Ucap Phil sambil merangkul sahabatnya yang masih tidak henti-hentinya menangis.


"Hikd...kalau kau nak nangis, nangis je lah. Tak payah cakap pon. Biarkan jer, kenapa kau yang sibuk....Hikd Indo..."


"Sudah lah Phil, biarkan jer Malay nangis puas-puas. Aku pon sedih jugak tau." Sahut Brunei yang matanya berkaca-kaca.


Beberapa anak-anak Asia juga turut serta di sana. "Indo-san, kenapa kau tiba-tiba menghilang..." Kata Japan dengan suara pelan.


N.K yang juga ada disana hanya bisa diam. Entah apa yang sedang ia fikirkan saat ini.


'Kalau Indo pergi...Bagaimana hubunganku dengannya? Apa hanya cukup sampai disini saja? Tapi aku tidak ingin seperti itu. Aku sudah menyatakan perasaanku kepadanya dan dia juga sudah menerimanya. Apa cinta ini hanya bertepuk sebelah tangan?'


Polisi lalu meninggalkan mereka semua untuk melaksanakan pencarian.


"ASEAN, Ayo kita masuk dulu." Ajak Africa Union. ASEAN hanyalah mengiyakan. Ia tidak tau harus berkata apa lagi saat ini. Kepalanya sudah pusing dan juga terlihat lesu.


ASEAN mengajak anak-anaknya untuk masuk, walaupun ada yang keras kepala yang masih ingin menunggu diluar.


"Malaysia, jom lah kita masuk." Ajak Singapore. "Tak nak. Malay nak tunggu kat luar jer." Jawabnya keras kepala.


Singa sudah kesal melihat temannya yang satu ini. Tanpa berpikir panjang, Singa langsung menyeret Malay. "Eh...eh...apehal kau ni?! Lepaskan aku cepat! Kalau tak--!"


"Kalau tak ape?! Kau x boleh macam ni. Aku tahu kau ni sedih sangat kerane Indo hilang. Kau fikir aku tak sedih juga ke?! Aku sedih juga tau. Tapi aku x berlebih-lebih sangat macam kau tu. Kalau kau macam ni terus, keadaan boleh tambah teruk. Lebih baik jangan banyak cakap! Singa x nak lepaskan, kalau Malay x nak masuk kat dalam rumah lagi."


Singa terus menyeret Malay tanpa memperdulikan alasan yang Malay katakan. "Haish...Kesal betul lah..." Gerutu Malay tidak terima dirinya diseret-seret seperti ini.


"Brunei, siapkan tali cepat!" Teriak Singapore sambil mendudukkan Malay di kursi.


Tidak berapa lama kemudian, Brunei datang sambil membawa tali. "Phil, boleh bantu Brunei?" Pinta Singapore sambil duduk di lantai.


Phil langsung membatu Brunei mengikat Malay dengan tali. "Dah siap! Sekarang Malay tak boleh pegi dari kerusi lagi. Duduk je diam-diam eh." Seru Brunei dengan puas.

__ADS_1


'Apesal aku kena ikat macam ni? Dah lah macam kena tangkap je. Kalau pencuri selipar je x lah sampai ni macam. Huh...sabar je lah...'


🥀


Dikamarnya, Indo sedang memasuk-masukkan beberapa pakaiannya kedalam tas.


"Akhirnya, besok sampai beberapa hari kedepannya...aku tidak ketemu dengan Abang Laknat. Seneng banget aku!"


Setelah semua barang-barangnya masuk, Indo segera keluar dari dalam kamarnya.


"Indo, kau sudah selesai?" Tanya boneka Anabelle yang berada diluar. "Sudah kok. Oh ya Mba Kunti sama Bang Ocong mana? Tumben aku nggak melihat mereka dari tadi. Mereka nggak gentayangan nakutin orang-orang kan?"


"Hum...Anabelle juga tidak tahu kalau itu. Coba Indo cek aja sendiri." Saran Anabelle sambil menggunakan pose berfikir.


"Cari kemana? Negara kita ini luas banget. Masa aku harus nyari dari Sabang sampai Merauke. Aduh...nggak sanggup deh. Udah malam, diluar gelap dan dingin pula. Udahlah nggak usah dicari. Palingan juga nanti pulang."


"Ya sudah kalau begitu. Anabelle permisi dulu." Anabelle lalu pergi meninggalkan Indo.


Tiba-tiba Indo teringat sesuatu. "Oh iya! Pop Mie, aku belum masukkan itu ke dalam tas." Indo segera bergegas berlari ke dapur.


🥀


Di Pulau Kalimantan


Kalsel duduk disamping Kalbar sambil memegang senternya. Mereka berdua ada jadwal ronda malam. "Sambil ronda malam, kita ngopi dulu bos!" Tawar Kalsel membuka percakapan.


Setelah kopi sudah di tuang ke dalam gelas, barulah air panas diluncurkan. "Kopinya harum banget." Puji Kalsel yang sudah tidak sabar.


Kalbar lalu memberikan salah satu kopinya. "Ayo kita minum!"


Mereka membaca doa terlebih dahulu sebelum menyeruput kopinya. "Minum kopi pas lagi ronda memang mantap."


Kalbar mengiyakan, "Itu benar."


Tidak jauh dari mereka, terdengar suara tukang siomay. "Siomay...Siomay..."


"Eh...kamu mau beli nggak? Mumpung lagi ada." Lanjut Kalbar. "Boleh deh. Keknya enak makan yang hangat-hangat."


Mereka berdua lalu menghampiri Abang Siomay nya. "Bang, kami mau pesan Bang."


Abang Siomay itu cuma diam. "Bang, kami mau pesan Bang." Panggil Kalsel lagi.


Hasilnya tetap saja sama. 'Eh si Abangnya kenapa sih tuh?' Bisik Kalsel sambil menyenggol lengan Kalbar. 'Aku juga nggak tau.' Balas Kalbar berbisik.


Karena penasaran Kalsel memanggil Abang Siomay nya sekali lagi. "Abang! Abang tidur kah?"

__ADS_1


Abang Siomay itu mengangkat kepalanya.


"Ka-kalbar, k-kok...mu-mu...ka abangnya nggak...ada sih?" Tanya Kalsel tergagap-gagap.


"Entah...ke-kenapa mukanya datar gitu. Jangan-jangan..."


1...


2.....


3.....


"Setan! Woy cepet kita cabut woy!" Teriak Kalbar sambil berlari duluan. "Eh...eh...tungguin. kaki ku nggak bisa gerak." Panggil Kalsel yang sudah terlanjur takut.


"Nggak jadi beli siomaynya, dek..." Panggil Abang Siomaynya. "Eh...eh...gimana dong? Udahlah cabut aja." Kalsel lalu berlari menyusul Kalbar yang sudah tertinggal jauh.


"Hihihi...Aku berhasil..."


Blettakk!


Satu pukulan tiba-tiba datang ke arahnya. "Woy anak magang! Nggak ada kerjaan lain apa selain nakut-nakutin orang?" Marah Mba Kunti.


"Eh...lah...kok...kenapa Mba Kunti ada disini?"


"Kasian tuh, orang mau ronda kamu takut-takutin. Udahlah  cepet balik ke keraton."


"Huwaaa...nggak mau..."


"Udah cepet balik! Nggak usah bandel deh. Si Ocong kemana lagi? Di cariin dari tadi kagak ketemu-temu."


Di atas pohon


"Mba Kunti, Bang Ocong turunnya gimana ini...Udah di atas pohon lagi. Bang Ocong kan takut ketinggian..." Teriak Bang Ocong meminta bantuan.


"Hosh...hosh...Aduh capek. Hantu muka datarnya nggak ngejar kita lagi kan?" Ujar Kalbar terengah-engah. "Keknya nggak deh." Jawab Kalsel sambil mengatur nafasnya.


"Bagaimana kalau aku minta bantuan ke mereka berdua." Bang Ocong lalu memanggil-manggil dari atas.


"Eh denger ada yang minta tolong nggak?" -Kalsel.


"Denger...denger, tapi dari mana ya? Kedengarannya sih dari atas." -Kalbar.


Mereka lalu melihat ke atas. "Kenapa ada pocong di atas pohon? Biasanya kuntilanak!" Seru Kalbar yang gemetaran. "Nggak tau. Imejing, apa dia pernah makan odading dan ketemu Ironmen?"


"Tolongin dong..." Pinta Bang Ocong yang memanggil sekali lagi. Karena ketakutan, Mereka berdua pun pingsan.

__ADS_1


"Lah...kok malah pingsan? Terus aku turunnya gimana?"


__ADS_2