Kamu Adalah Milikku

Kamu Adalah Milikku
Chapter 34


__ADS_3

"Seperti biasa, hari ini sepi." Ujar Papua yang sedang duduk di kursinya sambil menikmati teh yang barusan ia buat.


"Teh yang hangat dengan pemandangan yang indah nan damai, membuat suasana hati menjadi tenang." Papua menyeruput tehnya yang diberikan sedikit perasaan lemon. "Enak..."


Tiba-tiba salah satu burung cendrawasih hinggap di rumah Papua. "Selamat siang, Cece (Nama burung cendrawasih milik Papua)."


Cece lalu hinggap di pundak Papua. "Hehehe...apa kau ingin bermain dengan ku?" Ucapnya sambil terkekeh geli.


Lalu seseorang datang ke rumahnya, "Hai Papua!" Sapa tetangganya pulau Halmahera. "Oh hai juga, Halmahera!" Jawabannya sambil melambaikan tangan.


Halmahera berlari ke arahnya, "Apa aku boleh duduk sini?"


"Oh iya silahkan. Duduk saja." Halmahera lalu duduk di sebelah Papua.


"Wah ada Cece. Kau lucu ya~ Ih gemes deh!" Halmahera langsung mengelus-elus Cece yang masih hinggap di pundak Papua.


Papua hanya tertawa kecil. "Oh ya Cece, kamu main sama teman-teman mu dulu ya. Kita kan masih bisa main nanti."


Cece segera terbang dari sana. "Papua, apakah kamu merasa bosan?" Tanya Halmahera lagi.


"Hum...tidak. Aku dan Papua Barat baru saja pulang dari gunung Jaya Wijaya. 3 orang dari keluarga baginda raja Nusantara sedang berkemah disana."


"Oh..."


"Eh bagaimana kalau kita masuk ke dalam saja. Masa tamu duduk di luar." Papua langsung menarik tangan Halmahera untuk masuk ke rumahnya.


Dari kejauhan, ada 2 orang yang dari tadi memperhatikan Papua dan Halmahera.


"Hm...Semuanya berjalan dengan baik. Kenapa ya kakanda memberikan tugas seperti ini kepada kita." Keluh salah satu adiknya Nusantara yang bernama Sriwijaya.


"Aku juga tidak tahu. Padahal adiknya kakanda itu banyak, tapi kenapa kita yang dipilih." Sahut Majapahit mengiyakan.


"Mungkin kita berdua sudah nasib." Ucap Sriwijaya lagi. "Apa Kita? Kamu aja kali. Aku mah nggak ya." Jawab Majapahit tidak setuju.


"Ku santet juga ni anak." Ujar Sriwijaya dengan kesal. "Dah lah ayo kita pergi dan laporkan hasil tugas kita kepada kakanda." Lanjutnya.


"Ya udah ayo." Majapahit dan Sriwijaya pergi dari sana untuk melaporkan hasil pengamatan mereka ke keraton.


🥀


"Assalamualaikum! Kami sudah balik!"


"Wa'alaikumussalam, Raden Timor dan Putri Indonesia." Sambut para pelayan keraton.


"Bibi, Abang PFI sama Abang Laknat kemana?" Tanya Indo pada salah satu pelayan.


"Abang Laknat siapa?"


"Eh maksud Indo, Bang PFI dan Bang PKI."


"Oh, mereka sepertinya sedang pergi keluar."

__ADS_1


"Oh pergi keluar." Jawab Indo santai. Tiba-tiba Indo menyadarinya, "Eh apa?! Main keluar?! Timor, kita harus cari Bang PFI. Bisa-bisa sifat baiknya Bang PFI bisa dicuci sama Abang Laknat yang kagak ada akhlak itu. Ayo kita cari!"


Indo langsung menarik tangan Timor sambil berlari. "Eh kak...bentar kak...bentar...Timor mau minum dulu!" Rengek Timor minta dilepaskan.


"Nanti aja. Ini lebih penting dari itu! Ayo gerak cepat!"


Akhirnya Sriwijaya dan Majapahit sudah sampai di Keraton.


"Akhirnya nyampe juga kita. Huh...huh..." Sriwijaya dan Majapahit baru saja sampai di Keraton dengan terengah-engah. Indo melihat Sriwijaya dan Majapahit ada di depan mereka.


"Eh ada paman berdua. Maaf ya paman, kami lagi buru-buru. Kalau kangen Indo...tinggal telpon Indo aja nanti. Kami pergi dulu paman."


"Ih kak Indo sabar dikit napa!"


"Tuh anak napa sih buru-buru amat udah kek orang yang ketelatan deadline."  Ucap Majapahit. "Nggak tau. Udah ayo kita masuk aja."


Sriwijaya dan Majapahit lalu masuk kedalam Keraton. Banyak para penjaga yang berjaga disana. Ketika mereka melihat Sriwijaya dan Majapahit datang, mereka berniat untuk menyambut.


"Selamat datang di Kera--!"


"Udah...udah...entar aja nyambutnya. Kalau begitu kami masuk dulu."


Para penjaga kebingungan dengan kedua adiknya Nusantara ini.


"Tamu nggak berterima kasih. Pas kagak disambut protes. Udah disambut protes juga. Serba salah deh..." Kata salah seorang pengawal. "Iya nih serba salah." Jawab temannya.


"Assalamualaikum! Kami berdua dah balik!" Seru Majapahit dan Sriwijaya saat sudah bertemu Nusantara.


Majapahit langsung menjawab, "Sudah. Capek tau. Ada Nutri Sari kagak? Aku mau minum itu...keknya enak."


"Iya Nutri Sari. Kalau nggak ada Jas Jus juga boleh. Yang apel juga enak." Sahut Sriwijaya.


"Aduh...kalian ini kan sudah dewasa tapi kenapa kalian sikap kalian seperti anak Sekolah Dasar sih. Kalau Ibunda Pertiwi masih hidup, Pasti Ibunda sedih melihat ini."


"Udahlah nggak usah bahas itu. Nih, hasil kerja kami berdua." Majapahit lalu memberikan hasil kerja mereka kepada saya kakak.


Nusantara lalu menerima hasil kerja keras kedua adiknya. "Terima kasih. Nah sekarang kalian berdua boleh langsung pulang."


"What?! Kita nggak dijamu dulu gitu. Kita kan capek." Ungkap Sriwijaya.


"Emang kalian mau dijamu apa?"


"Ya semisalnya dikasih minuman atau makanan gitu." Lanjut Sriwijaya lagi.


"Ya udah. Kalau begitu ambil sendiri aja di dapur."


"Udahlah kita pulang aja. Di Keraton kita lebih enak, bisa sekalian main PS 5. Lebih seru kan." Sambar Majapahit.


"Ya udah kalau begitu. Hati-hati dijalan."


"Hm...Iya." Sriwijaya dan Majapahit lalu pergi dari keraton untuk ke kerajaannya masing-masing.

__ADS_1


"Ada-ada aja punya adik." Nusantara kembali duduk di singgasananya.


🥀


"Hai gaes, kenalin ini saudara kembar ku namanya PFI." Ujar PKI dengan bangga.


"Aip...sejak bila kau ada saudara kembar?" Tanya MPAJA. "Sejak dulu, namun kami berdua terpisah."


Kedua temannya mengangguk mengerti. "Salam kenal! Namaku MPAJA, Pemberontak di tanah Malaya dan anaknya kesultanan Malaka. Tapi aku dah insaf."


"Aku Kuya Martial Law, panggil saja Martial. Aku sebagai Pemberontak di Philippines sekaligus anaknya KKK."


"Salam kenal juga. Senang bertemu dengan kalian berdua!"


PKI bedehem, "Ok bagaimana kalau sekarang kita--!"


"Kak PKI!!!" Tiba-tiba seorang negara berwarna merah putih membuat rusuh di sekitar.


"PKI, adik-beradik kau tu datang." Bisik MPAJA. "Ih ngapain sih mereka datang. Jangan-jangan aku mau diintrogasi lagi."


Indo lalu berjalan ke arah mereka. Wajah Indo terlihat tidak senang. "Bang PKI, aku pinjam Bang PFI dulu ya~" Ucap Indo dengan gaya bicara yang manis.


MPAJA dan Martial tercengang.


"Ada apa denganku?" Tanya PFI bingung. "Nggak ada apa-apa kok Bang. Indo cuman pengen main aja sama Abang. Dah yok bang kita pergi."


"Nanti..." PKI langsung menahan Indo. "Aku tau...pasti kamu pencurigai ku ya?" Bisik PKI di telinga Indo.


"Lah sok tau deh." Jawab Indo tegas. "Hum...aku tidak yakin." PKI masih tetap mencurigai Indo.


"Ya udah iya, Indo ngaku. Bang PKI boleh ngajak main Bang PFI, Tapi jangan ngajak-ngajak Bang PFI buat tawuran."


"Ih iya-iya. Ya udah sono balik lagi ke Keraton."


"Dih ngusir. Ya udah...Timor ayo kita pulang."


"Untung sabar. Ya udah iya." Kasihan Timor, udah tadi kehausan. Pas udah nyampe harus balik lagi.


"Ya udah yok kita pergi." Ajak PKI sambil mengajak kembarannya dan Kedua temannya.


"Kak, beli minum dulu ya."


"Ya udah boleh, sekalian kakak juga belikan ya."


"Iya." Jawab Timor singkat. 'Akhirnya bisa minum juga.' Timor langsung bergegas ke warung dan membeli 2 buah minuman.


"Nih kak Indo." Timor menyodorkan sebotol minuman kepada Indo. "Terima kasih. Kalau udah selesai minum, kita lanjut jalan lagi."


Timor menghabiskan minumannya lalu membuang sampahnya di tempat sampah.


"Dah ayo kita jalan lagi."

__ADS_1


__ADS_2