
Phil, Barang ni ko nak suh aku letak kat na?" Tanya Malaysia sambil membawa sekotak berisi barang milik Philippines.
"Taruh aja dimana pun kamu mau." Jawab Phil yang masih sibuk dengan tugasnya.
"Ok!" Dengan senyuman ceria, Malay lalu membuang barang milik Phil ke dalam tempat sampah.
"Sudah! Kan tadi dia suruh aku letak je barang dia tu kat manapun aku nak. Nah aku letak je kat sini. Lagi best kan!" Malay lalu kembali masuk ke dalam kelas dan langsung duduk di tempat duduknya.
"Akhirnya selesai juga! Sekarang waktunya untuk berIstirahat." Phil lalu berjalan ke meja Malay yang tepat berada di samping kanannya.
"Malay, barang yang tadi aku minta tolong ke kamu--!"
"Oh...dah aku simpan..." Jawabnya singkat. "Kamu taruh dimana? Di belakang?" Tanya Phil penasaran.
"Kat dalam tong sampah." Jawabnya santai. "Tong sampah?!" Phil langsung bergegas berlari ke luar dan mengambil barangnya yang ada di dalam tong sampah. "Fyuhh...untung aja. Ish, temen nggak ada akhlak."
Phil kembali masuk ke dalam. "Nah, Ada kan." Ujar Malay sambil tertawa. "Huh...iya ada. Tapi nggak di tempat sampah juga kali."
"Aip...tadi ko kata 'letak je manapun ko nak' Jadi aku letak lah barang kau kat sana."
"Ih tapi nggak gitu juga kali."
"Hehehe...maaflah. Aku main-main je tadi."
"Hm...iya."
"Phil, Semenjak cikgu besar suruh kita semua sekolah saat cuti macam ni... rasanya tak best lah..."
"Ya mau bagaimana lagi. Kita di suruh masuk walaupun ini hari terakhir. Hiks...yang lain udah pada pulang dari tadi, tapi kita belum juga."
"Ha'ah, dah tu tinggal kita berdua je lagi." Malay dan Phil melihat sekelilingnya yang sudah pada kosong. "Dah lah tu, Jom kita balik kat rumah."
"Ya udah ayo." Mereka berdua meraih tas mereka lalu berlari meninggalkan kelas. "Kita lomba ya siapa yang nyampe rumah duluan." Phil menambah kecepatan larinya sehingga membuat Malay cukup tertinggal jauh.
"Wihh...Cepat sangat lah dia lari tu." Malay takjub melihat temannya dapat berlari dengan sangat cepat.
"Hahaha...Malay kejarlah! Masa gitu aja nggak bisa!" Ledek Phil yang berada di depan. "Baik. Mari sini kau!" Terjadilah kejar-kejaran lagi.
"Duh...capek..." Lirih Phil dalam hati. Malay langsung mengambil ancang-ancang untuk berlari cepat. Phil pun berhenti sambil berjongkok sedangkan Malay membalapnya.
"Nah, siapa kata aku x boleh kejar kau." Malay masih terus berlari tanpa melihat ke depan. Tanpa ia sadari ia nyaris menabrak negara lain.
"Eh Malay, awas!" Phil berteriak dari belakang. Malay langsung menabrak negara tersebut.
"Aduh sakit..." Rengek Malay sambil memegang bokongnya yang terasa sakit. "Malay, kamu nggak apa-apa kan?" Phil lalu membantu Malay untuk berdiri.
"Haish...jatuh tu mana ada x sakit. Semua yang jatuh mesti sakit. Aduhh..."
"Aduh, maaf Saudara. Aku tau aku itu emang nyusahin." Ucap negara itu dengan suara pelan.
"Eh..?!" Phil tidak bisa berkata-kata.
"Eh, kan aku yang tak hati-hati. Kenapa kau yang minta maaf--"
"Tapi emang aku yang salah kan karena udah nyusahin kalian dan papa."
"Indonesia..."
🥀
"Ok, berkumpulnya kita disini untuk membicarakan sesuatu." Jakarta memulai pembicaraan serius di depan semua temannya.
"Kita mau membicarakan apa ya?" Tanya Papua. "Kita mau membahas tentang kondisi di negara kita ini."
"Saat ini negara kita tanpa disadari di jajah secara halus. Kita di jajah oleh Amerika, Tiongkok, dan negara-negara lainnya. Tidak hanya itu, Korupsi dimana-mana. Padahal aku udah mengingatkan kepada seluruh masyarakat kita supaya tidak melakukan itu. Tapi tetap aja koruptor dimana-mana."
"Ya, aku setuju kalau itu." Jawab Kaltim.
"Jadi aku meminta kepada kalian, tolong sebutkan penghambat-penghambat selain yang telah ku sebutkan tadi. Tolong angkat tangan jika ada pendapat."
"Aku Jaka." Jabar berseru.
__ADS_1
"Bagus. Itu salah satu contohnya. Ada yang lain?"
Beberapa provinsi lain nampak menahan tawa mereka saat mendengarnya. 'Huh aku kan mau beri pendapat. Dikira, dia aku penghambat apa 💢." Gerutu Jabar nggak terima.
"Lebih baik kita kelola sendiri saja hasil kekayaan kita." Usul Babel. "Itu yang aku inginkan. Tapi rakyat kita tuh yang susah."
"Kalau misalnya kita ingin mengekspor barang, sebaiknya jangan barang mentah langsung saja barang setengah jadi." Ucap Maluku.
"Mereka mungkin merasa dengan hidup seperti ini adalah hal yang biasa-biasa saja. Padahal kalau terus-menerus bisa-bisa perekonomian kita bangkrut. Pengen deh aku seperti negara Turki. Hutang negara mereka sudah lunas."
"Memang ya jaman sekarang ini para pemimpin-pemimpin hanya mementingkan dirinya dan keluarganya saja tetapi rakyatnya tidak." Sahut Yogyakarta.
"Kita hanya bisa berdoa dan berusaha agar negara kita ini dapat berubah menjadi lebih baik lagi. Di niatkan lalu dikerjakan. Jangan baru saja niat pas mau dikerjakan malah oleng."
Jakarta melanjutkan pembicaraannya, "Kita akan lanjutkan nanti." Jakarta merapikan tumpukan kertasnya lalu memasukkannya ke dalam tas.
"Main yuk!" Ajak NTT. "Yuk! Tapi main apa ya?" Pikir Jatim. "Polisi Maling." Usul Kepri. "Nggak mau. Lagi puasa lari-larian malahan bikin haus." Jawab Bangka.
"Aku suka heran deh sama orang-orang." -Gorontalo.
"Heran kenapa?" -Papua Barat.
"Kan dia bilang 'Aduh sakitnya hatiku' tapi dia megangnya tuh ke jantung bukan ke hati. Hati kan dibawahnya paru-paru."
"Tapi kalau nanti dia bilang 'Aduh sakitnya jantungku' nanti dikira sakit jantung." -Yogyakarta.
"Bener juga sih. Air yang kita minum aja padahal warnanya bening malah disebut putih." -Bali.
"Iya, kalau di negeri Jiran namanya air kosong. Mungkin maksud mereka kosong itu nggak ada warnanya kah?." -NTB.
"Kosong itu nggak ada warnanya." -Riau.
"Semuanya! Ayo kita masuk lagi. Ditunggu ya." Panggil Jakarta dari arah lain. "Iya." Jawab semuanya serempak.
🥀
"Hyung, Besok kita bisa pulang!" Seru S.K dengan girangnya. "Udah tau." Jawab N.K singkat. "Nggak sekalian bawa Indonesia buat ngenalin ke Ayah dan Ibu nih~"
"Sebenarnya sih udah ada. Tapi aku tuh...malu ah bilang ke dia." S.K langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Palingan juga nanti aku cerita aja kek gimana Indo. Tapi masalahnya itu kalau di tanya 'Ada fotonya nggak?'. Nah itu tuh masalahnya. Aku belum siap walaupun hanya sekedar foto."
"Hm...ya udah terima aja apa pun yang akan terjadi. Sebagai saudara yang baik, aku mah dukung aja."
"Ya udah deh. Kalau gitu aku masuk ke kamar dulu." N.K berdiri dari sana dan berjalan ke arah kamarnya.
"Aku pikir Hyung sudah tau kalau aku suka dengan...Aduh nggak kuat bilang. Melihat wajahnya aja aku udah nggak biasa ngomong apa-apa."
"S.K..." Panggil seorang negara perempuan dengan suara pelan. "Urhm...kau menjatuhkan pulpenmu saat kau pergi dari kamarku tadi. Maaf ada perlu apa ya sampai datang ke kamarku?"
S.K membalikkan badannya.
"Ya ampun Manisnya...Auto kena diabetes diriku setelah ini..." Gumam S.K dalam hati.
"Nggak ada apa-apa kok. Aku tadi cuman iseng-iseng aja. Kalau kamu merasa terganggu, ya udah maaf deh."
"Eh nggak kok. Uhhh..." Negara perempuan itu lalu mengusap-usap kakinya yang kesakitan. "Taiwan, Kenapa? Ada apa dengan kakimu?" Tanya S.K khawatir.
"Tidak apa-apa. Kakiku hanya sedikit terkilir, nanti juga bakalan sembuh kok." Elak Taiwan.
Tanpa berfikir panjang, S.K langsung mengambil perban dan obat merah dari kotak P3K lalu ia berjongkok di hadapan Taiwan untuk mengobatinya.
"S.K, S-Sudah ku bilang jangan."
"Maaf aku sudah terlanjur menyukaimu, jadi bagaimana pun aku tidak akan membiarkan dirimu terluka." Tanpa S.K sadari ia baru saja menembak Taiwan secara terang-terangan.
Setelah selesai mengobati Taiwan, S.K menawarkan diri untuk mengantarkannya. "Maaf jadi merepotkan. Tapi kenapa kau menyukaiku? Bukankah banyak gadis yang lebih cantik dariku? Kenapa dari sekian banyaknya perempuan di sini kau memilih diriku?" Tanyanya bertubi-tubi.
"Memangnya tidak boleh ya?" Jawab S.K polos. "Lupakan saja..." Jawabnya hampa. "Apa kau sudah sarapan pagi ini? Kau terlihat pucat." S.K berusaha mengubah topik pembicaraan agar tidak menjadi canggung.
Taiwan menggeleng lemah. "Aku tidak ada niatan untuk makan." S.K melihat Taiwan dengan rasa kasihan. "Kalau begitu aku akan mengantarmu sampai ke ruang makan."
__ADS_1
Dengan hati-hati S.K membantu Taiwan untuk berjalan. "Apa harus aku ambilkan tongkat untuk membantumu berjalan?"
"Sepertinya tidak usah." Sahut Taiwan yang sepertinya tidak berniat untuk berbicara lagi.
Mereka sudah sampai di ruang makan. S.K lalu menduduki Taiwan di salah satu kursi yang tersedia. "S.K-Kun, Taiwan kenapa?" Japan berlari ke arah mereka berdua. "Taiwan bilang kakinya sakit, jadi aku membantunya untuk berjalan."
S.K lalu pergi ke arah kulkas lalu mengambil sekotak kecil berwarna pastel. "Aku membeli kue ini kemarin malam bersama Hyung. Kau bisa makan kue ini. Tidak apa-apa. Hyung pasti mengerti."
S.K lalu mengambil piring serta garpu dan pisau kecil dan diberikannya kepada Taiwan. "Japan bisa kau membantuku membuka kotak ini. Nanti kau juga boleh mengambil beberapa potong kue."
Japan tersenyum kecut, "Sebenarnya tidak kau kasih pun tidak apa. Tapi ya sudahlah...rezeki tidak boleh ditolak." Japan membuka selotip yang merekat pada kotak kue setelah itu membuka tutupnya dengan perlahan.
"Eksterior yang sangat indah." Puji Japan kagum. "Stroberinya sangat gemuk dan aku suka daun pepermin di atasnya. Aku harap rasanya sama luar biasanya seperti dekorasinya."
Taiwan yang melihatnya juga merasa takjub. "Iya, Hiasannya sangat menarik." Wajah Taiwan menjadi lebih ceria dari yang sebelumnya. S.K menarik nafas lega sedikit. S.K lalu mempersilahkan Taiwan untuk mencicipi kuenya terlebih dahulu.
"Baiklah jika itu yang kau mau." Taiwan menarik bibir merahnya yang cerah menjadi senyuman. Dia mengambil piring serta pisaunya dan memulai memotong kuenya dengan sangat berhati-hati.
"Bahkan setelah dipotong kuenya masih terlihat sangat cantik. Kue sifon sangat ringan, dan buah serta selai diantara lapisan kuenya benar-benar sangat manis."
Taiwan mengangkat sepotong kecil kue dengan pisau lalu menusuknya dengan garpu. "Aku akan memakannya." Taiwan memasukkan potongan kue itu ke dalam mulutnya.
Kedua temannya hanya dapat berharap kue itu rasanya enak. Mungkin mereka bisa menjadi langganan kalau rasanya benar-benar enak. Taiwan menelan kue sepenuhnya dan dengan gembira ia membuka mulutnya untuk mengatakan, "Stroberinya sangat segar, dan tekstur krimnya sangat indah. Manis sempurna. Stroberi yang asam bertemu dengan krim yang manis, membuat rasanya sangat cocok. Sebaiknya kue ini jadi hidangan penutup saat makan malam."
"Wow...bagaimana kalau es krim sorbet. Itu juga manis kan." Ujar Macau yang tiba-tiba sudah berada disana. "Ya ampun, kau mengagetkanku saja. Kapan kau berada disini?" Ucap Japan sambil berkacak pinggang.
"Sejak kalian sedang fokus memperhatikan rasanya. Aku yang penasaran pun akhirnya tertarik untuk menghampiri kalian."
Japan: ...Gitu aja -_-
Macau: Iya.
"S.K...kau juga harus mencoba kue ini. Tidak sangka ya, kau bisa memilih kue seenak ini." Taiwan tersenyum manis ke arah S.K alhasil membuat S.K merona di pipinya.
"Erkh...Sebenarnya yang memilih kue ini adalah Hyung. Aku mah iyain aja karena bagiku semua kue itu enak. Mulai dari yang kue kering sampai kue bolu."
"Kau tidak berfikir biskuit itu tidak enak kan." -Japan.
"Biskuit itu enak tetapi tidak membuat kenyang. Cukup itu menjadi camilan. Walaupun sebenarnya kue seperti bolu mungkin bagi sebagian orang itu juga tidak membuat kenyang."
"Yang nggak kenyang-kenyang itu kuaci. Udah capek, nggak bikin kenyang lagi. Tapi anehnya aku masih lanjutin makan walaupun itu nggak bikin kenyang." -Macau.
"ã…‹ã…‹ã…‹...Bener banget tuh." Jawab S.K sambil tertawa.
🥀
"Kau sedang apa disana, Saudara Jabar!" Teriak Jakarta dari bawah. "Udah aku bilang, Aku bukan saudaramu!" Sahut Jabar dari atas pohon asam.
"Astaghfirullah...nih anak keknya harus di ajarkan lagi deh. Itu kan bahasa tempoe doloe. Masa dia kagak ngerti sih." Jakarta menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Saudari Jateng, Apa kau tau bagaimana cara membuat Saudara Jabar turun dari sana?"
"Maaf, Aku sendiri pun bingung." Sahut Jateng yang berada disana. "Sial banget emang. Hpku iPhone, eh...malah kecebur ke air. Nah sekarang jadi mati total kan." Jabar berusaha menyalakan hpnya yang sudah tidak bisa nyala lagi.
"Udah relakan saja, Bro. Mungkin kalian memang tidak berjodoh." Kata Jatim dari bawah. "Au ah..." Dengan kesal Jabar melempar kembali hpnya ke dalam air.
"Kalau ujung-ujungnya kamu lempar lagi tuh hp ke dalam air, ngapain kamu capek-capek ngambil bahkan sampai bajumu basah kuyup gitu, Pinter." Jakarta menepuk jidatnya.
"Kalian kira beli tuh hp udah kek beli bakso tukang lewat yang harganya 5 rb-an. Itu tuh hasil nabungku selama beberapa tahun lamanya. Huhu..."
"Udahlah, Nanti kalau ada rezeki lagi kamu kan bisa beli lagi. Tunggu, Bukannya hpmu lebih dari 1 ya." Sahut Yogyakarta.
"Iya, tapi hp itu yang paling sering ku pakai."
"Sekarang kamu mau ngapain lagi masih nangkring di situ. Udah cepetan turun." Perintah Banten.
"Masalahnya aku lupa caranya turun dari pohon..."
"Ya Allah..."
🥀
__ADS_1