
"Hati-hati di sana ya. Semoga perjalananmu lancar besok." Pesan Indonesia saat N.K bertemu dengannya.
"Bagaimana kalau sebelum besok aku pergi, Aku mentraktirkanmu? Kau bisa memesan makanan yang kau mau." Ucap N.K dengan senyuman tipis. "Anggap saja sebagai perpisahan kita walau hanya sebentar."
Indo terdiam seribu bahasa. Ia tidak tau harus berkata apa sekarang. "...Traktir?" Tanya Indo, dan di beri anggukan oleh N.K dengan sangat yakin.
"Terserah Korut saja deh." Jawab Indo cepat. Mereka lalu pergi ke toko terdekat untuk mencari makanan.
"Bagaimana kalau di sini?" Indo menunjuk salah satu toko. "Akan ku patuhi perintahmu, Tuan Putriku yang manis." Jawab N.K sambil membungkukkan badannya layaknya sang pangeran dari negeri dongeng.
Kata-kata terakhir N.K membuat wajahnya menjadi agak merah. N.K masuk ke toko itu terlebih dahulu lalu di ikuti oleh Indo.
Ketika Indo masuk, N.K sudah selesai memesan makanannya. N.K sudah tau persis makanan kesukaan Indo tanpa harus bertanya terlebih dahulu.
"Aku sudah memesannya." N.K lalu memilih meja yang hanya tersedia 2 kursi. Indo pun duduk berhadapan oleh N.K.
Indo melirik N.K yang dari tadi melihat ke arah jendela. Indo ingin menegurnya, namun niatnya di urungkan.
"Ini, Silahkan." Makanan telah datang. Perempuan itu lalu memberikan sepiring Nasi Goreng yang dari baunya saja sudah menggunggah selera siapa pun yang memakannya. "Terima kasih." Perempuan itu lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"N.K tidak memesan?" Tanya Indo. "Tidak. Aku tidak ingin. Kau saja yang makan."
Indo segera mengambil sendok dan menyendok nasi goreng tersebut. Indo menyuap nasi goreng itu, sedang N.K hanya memperhatikan Indo yang sedang menikmati makanannya.
Merasa sedang di perhatikan, Indo mendongak. Dan benar saja, Iris mata merah rubynya bertemu dengan iris mata biru safir remaja laki-laki di hadapannya.
"K-Korut mau?" Tanyanya canggung.
"Hm, Tidak. Tapi aku sudah kenyang."
Indo menaiki sebelah alisnya. Kemudian melanjutkan sesi makannya. "Kalau Korut ingin, Aku bisa kok berbagi." Lanjut Indo.
"Eh tidak usah. Sungguh aku sudah kenyang." Ucap N.K. Indo terkekeh pelan melihat sikap N.K yang sedikit kalang kabut. Setelah itu terciptalah keheningan.
__ADS_1
"Hanya dengan melihat Indo dari dekat..." N.K menggantung perkataannya. Indo menatap lurus ke arah N.K. "Sudah membuat perasaanku kenyang."
Indo hampir tersedak oleh makanannya saat mendengar ucapan N.K. Bagaimana perasaannya bisa kenyang hanya dengan memperhatikannya?
"Itu Fakta. Fakta bahwa Indonesia selalu menemaniku di kala aku sedang ke susahan maupun aku sedang bahagia, baik siang ataupun saat hari sudah gelap." Sahut N.K. "Perasaan yang membuatku selalu ingin memberikan tempat khusus untuk Indonesia di dalam lubuk hatiku~♡"
Wajah Indo memerah padam. Bisa-bisanya dia berkata demikian di tengah sesi makan!
"A-Aku tau." Ucap Indo sambil menenangkan detak jantungnya. Indo lalu melirik N.K lagi. Di lihatnya N.K sedang membuka penutup matanya. Di taruhnya penutup mata itu di saku celananya.
"Maaf selama ini aku tidak pernah menunjukkan wajahku kepada Indo."
Indo sedikit terbelalak. Indo langsung memegang dadanya. 'Ya Allah, Kenapa Korut tiba-tiba jadi ganteng banget. Seperti ada cahaya Illahi yang tiba-tiba muncul. Tidak ku sangka, Korut juga bisa tersenyum layaknya seperti orang pada umumnya, senyumannya sungguh manis...'
N.K melihat makanan Indo yang masih bersisa dan tinggal satu suapan lagi. N.K mengambil sendok dari atas piring, lalu menaruh sesuap nasi di atasnya.
Ketika merasa agak tenang, Indo mengangkat kepalanya yang tadinya menunduk. "Apa kau tidak mau menghabiskan makananmu?" Tanya N.K berpura-pura.
"Mubadzir kalau tidak di habiskan. Kau sendiri kan yang mengatakannya kepadaku waktu itu. Indo mulai terdiam. "Buka mulutmu."
Indo lalu melihat sekitar. Untung saja orang-orang sudah pada pergi dan hanya tersisa beberapa orang. Dengan menahan rasa malu, Indo pun membuka mulutnya dan sesuap terakhir itu telah membuat adegan yang romantis.
Indo langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Sedangkan N.K menaruh sendok itu kembali ke atas piring.
"Uh Korut." Panggil Indo. "Ya." Balas N.K singkat. "Tiba-tiba saja aku ingin ke toilet. Aku permisi dulu ya." Indo berlari kecil ke arah kamar mandi.
Klecck!
Indo menutup pintu kamar mandi. "Dari tadi jantungku berdetak tidak karuan. Kenapa hari ini sungguh berbeda dari hari-hari biasanya?" Indo pergi ke wastafel dan mencuci wajahnya dengan air sebanyak 3 kali.
"Setidaknya sekarang lebih baik."
Indo lalu membetulkan kedua karet rambutnya dan membiarkan rambut panjangnya terurai. Indo lalu mengucirnya kembali. Sepertinya biasa, di kucir 2. Setelah selesai Indo kembali membuka pintu kamar mandi dan melihat N.K sedang membayar di tempat kasir.
__ADS_1
Indo memilih untuk pergi dan menunggu di luar toko. Dari kejauhan terlihat Netherlands sedang berjalan-jalan santai bersama Belgium dan Luxembourg.
"Holland..." Sapa Indo sambil berlari ke arahnya.
"...Bakery!"
Belgium dan Luxembourg tertawa mendengarnya. Sedangkan Netherlands tidak peduli dengan itu.
"Indies, Kau dari mana?" Tanya Neth. Indo agak segan untuk mengatakan yang sebenarnya karena ada yang bilang bahwa Netherlands juga menyukai Indo.
"Aku di sedang berjalan-jalan bersama Timor. Tapi Timor sedang ke belakang sebentar."
(Timor: Jalan-Jalan Ndasmu!)
Netherlands hanyalah ber-oh-ria. 'Kesempatan untukku. Indies pasti akan menjadi milikku sebentar lagi setelah aku menghalangi siapapun yang ingin memiliki Indies, Apalagi si Russia itu.' Batinnya.
"Indies, Bagaimana kalau aku mengajakmu pergi--!"
"Maaf tidak bisa. Aku sedang ada urusan dengan Indo." Jawab N.K yang tiba-tiba datang untuk menyelamatkan Indo.
"Iya, Aku sedang ada urusan dengan Korut. Aku permisi dulu ya, Belanda." Indo dan N.K berjalan cepat pergi dari sana.
"Kali ini kau gagal, Broer (Kakak Laki-laki)." Ucap Luxembourg. Netherlands membuang nafasnya.
"Korut, Terima kasih telah menyelamatkanku. Sepertinya kita harus berpisah di sini."
Indo hendak pergi namun N.K memanggilnya. "Ini...I-Ini untukmu..." N.K menyodorkan sebatang permen lollipop coklat yang di belinya tadi. "Tadi aku agak lama karena membeli ini terlebih dahulu. Terimalah. Kalau kau tidak mau-"
"Aku mau kok." Indo cepat-cepat memotong. "Terima kasih ya, Korut." Indo mengambil coklat tersebut dari Korut. "Kalau begitu sampai berjumpa lagi. Hati-hati ya!"
Indo berlari meninggalkan N.K yang sedang mati gaya. "Sampai jumpa lagi, Indo..."
🥀
__ADS_1