KANAREL

KANAREL
27.Pacar?


__ADS_3

Selasa,07 Februari


...Jangan pernah membiasakan seorang wanita tanpa kehadiran mu atau kembali mu tak lagi berguna untuknya....


...***...


Farel yang melihat ada kilatan cahaya harapan di mata Qhila langsung melepaskan tangannya.


"Makasih,"ucap Farel singkat.


Farel tidak ingin terlalu banyak mengucapkan kata-kata di hadapan gadis lain yang bukan menjadi miliknya. Farel malas jika nantinya gadis-gadis merepotkan seperti Qhila datang lebih banyak dan mengganggunya dalam bekerja. Farel paling tidak menyukai bila ada orang yang mengganggu pekerjaannya.


Qhila mengangguk dan tersenyum manis menanggapi ucapan terimakasih yang di berikan oleh Farel.


"Maaf,bos. Klien dari Eropa minta bertemu dengan boss saat ini juga,"ucap Frans yang tiba-tiba datang.


Farel yang baru saja hendak menyuapi makanan yang di bawa Qhila untuknya menjadi terhenti. Tatapan Farel menatap dengan tajam ke arah Frans kemudian menghela nafasnya dalam.


Bagaimanapun kepentingan perusahaan harus lebih diutamakan jika hanya di bandingkan dengan kepentingan pribadinya. Seorang pengusaha mana yang ingin mengalami sebuah kerugian? Tentunya tidak akan akan pengusaha yang rela rugi sampai saat ini.


"Saya akan menyusul ke bawah,"ujar Farel formal.


Frans yang hendak pergi kembali di hentikan oleh Farel lagi.


"Apa kau sudah makan?"tanya Farel masih dengan raut wajah datar.


Frans mendadak kaget dengan pertanyaan yang tak di duga keluar dari mulut bosnya yang berwajah dingin seperti gurun es ini. Sudah bertahun-tahun dia bekerja dan ini adalah kali pertamanya Farel berkata-kata demikian kepadanya. Apakah ini sebuah keajaiban?


Frans terdiam sambil menatap bosnya ini dengan tatapan terharu. Ini adalah hal yang paling membahagiakan untuk Frans.

__ADS_1


"Apa kau tidak punya mulut untuk menjawabnya?"tanya Farel kesal.


Hanya menjawab satu pertanyaan saja begitu lambat. Bagaimana bisa dia memiliki kaki tangan seperti ini?


Farel sangat tidak menyukai seseorang yang terlalu membuang-buang waktu. Bagi Farel Laskara Abnibrata, waktu itu sangat berharga dan tentu saja tidak boleh di buang-buang begitu saja. Namun semuanya akan di kecualikan jika sudah berkaitan dengan ibu atau pujaan hatinya.


"S-saya belum makan bos,"jawab Frans gugup.


Mendapatkan perhatian dari bosnya setelah bertahun-tahun adalah hal yang sangat membahagiakan untuknya. Tentu saja dia tidak boleh asalan berkata jika tak mau semua kesenangannya ini hancur begitu saja. Frans tidak ingin semua hal yang dia dambakan saat ini hancur begitu saja oleh ulahnya sendiri.


Farel yang awalnya berniat untuk memakan makanan ini langsung menghapus semua niatnya.


"Kana pasti tidak suka jika aku memakan makanan dari wanita lain,"ucap Farel dalam hati.


"Makanlah makanan itu,"titah Farel.


Farel langsung pergi dari sana usai berkata demikian. Farel tahu kalau kaki tangannya ini tidak akan berani untuk menolak kemauannya. Ya, setidaknya itu yang di ketahui Farel selama ini. Tidak ada seorangpun bawahannya yang berani menolak sesuatu jika hal itu sudah menjadi kemauannya.


"Ternyata pintu hati bos muda telah terbuka...hiksss,"tangisnya dengan haru.


Bagaimana tidak? Selama ini dia hanya selalu mendapatkan amarah dan wajah datar saja dari sang bosnya ini. Ini adalah kali pertamanya bos berkata sedikit lembut dan malahan memperhatikannya. Ini sungguh-sungguh hari yang sangat baik sekali untuk Frans.


Farel terus melangkah pergi tanpa memperdulikan Frans.


"Ini semua aku yang masakin buat kamu,sayang."ucap Gia dengan semangat.


Kana menatap datar makanan yang telah di sajikan oleh Gia saat ini. Semua makanan ini memang tampaknya menggugah selera tetapi makanan ini sangat tidak baik untuk kesehatan Moji. Kana dapat menduga bahwa Gia dan Moji berpacaran belum terlalu lama. Pantas saja gadis ini tidak mengetahui hal apapun tentang Moji.


Raka merasa senang karena baru saja dia di terima oleh Kana. Tetapi ada api cemburu yang membakar hatinya saat melihat pandangan peduli Kana pada Moji.

__ADS_1


"Pertama, Moji gak bisa makan pedes. Kedua, Moji alergi udang. Ketiga, makanan yang lo buat terlalu berminyak dan Moji lagi batuk."


Gia langsung terdiam dengan semua hal yang di ucapkan oleh Kana. Sepertinya Kana sangat mengetahui Moji melebihi dirinya yang berstatus pacarnya.  Hal ini tentu saja memicu kecemburuan untuk muncul di hati Gia. Bagaimana bisa dia menerima kalau ada gadis lain yang lebih mengerti pacarnya daripada dia?


Moji ingin membenarkan semua yang di katakan oleh Kana tetapi saat melirik raut ketidaksukaan dari Gia membuatnya berubah pikiran.


"Gak usah sok peduli! Lo gak berhak! Siapa lo ngelarang gua dan pacar gua?"sinis Moji pada Kana.


Raka yang menyaksikan ini semua merasa sangat tidak terima jika kekasih barunya ini di intimidasi tepat di depan matanya. Meskipun Kana adalah kekasih keduanya, tetap saja tak tidak terima kekasihnya diperlakukan tak adil seperti ini.


"Santai brodi, pacar gua cuma takut lu mati lebih cepat aja kok!"jawab Raka sinis.


Raka memegang pinggang Kana dengan posesif. Raut wajah yang di keluarkan oleh Raka saat ini sangat tak bersahabat sekali.


"Pacar?"tanya Gia dan Moji hampir bersamaan.


Kana yang melihat pengakuan dari Raka langsung menatap Moji. Bagaimana reaksi Moji saat mengetahui ini semua?


Kana yang melihat tatapan tajam dari Moji menjadi sedikit takut dan menyembunyikan dirinya ke dalam dada bidang milik Raka. Raka merasa nyaman saat kepala gadis itu menempel pada dadanya. Tanpa Raka sadari, sepertinya dia mulai merasa nyaman saat berada di dekat gadis ini. Tidak salah jika Raka menjadikan gadis ini sebagai kekasih ke-2 nya.


"Santai brodi, jangan bikin pacar gua ketakutan dong!"ujar Raka sinis.


Moji merasa heran dengan apa yang terjadi di hadapannya saat ini. Apakah ketakutannya telah terjadi? Kedua pemain hati ini bersama? Ini bukanlah yang baik sama sekali. Moji merasa bahwa akan ada masalah yang rumit nantinya jika hubungan dua orang pemain hati ini terus di biarkan.


Moji juga merasa heran dengan semuanya. Mengapa bisa dua pemain hati ini bersatu dalam waktu dekat?


"Yaudah,kita makan di luar aja yuk!"ajak Raka.


Kana masih enggan beranjak dari tempat berdirinya saat ini juga. Raka yang melihat kondisi Kana saat ini langsung berinisiatif.

__ADS_1


Semua orang menjadi kaget saat Raka tiba-tiba saja menggendong tubuh Kana. Mulut Kana menganga lebar saat ini. Perlakuan Raka memang benar-benar di luar perkiraan semua orang. Siapa sangka Raka akan seberani ini? Raka hanya menunjukkan senyuman manisnya saat melihat Kana yang kaget dengan tingkahnya.


"Tunggu!"cegah Gia saat Raka hendak keluar dari pintu hotel.


__ADS_2