
Hari minggu.
Hari ini adalah hari sidang cerai Dion dan Karina. Mereka pergi ke pengadilan Agama untuk sidang perceraian mereka. Karina datang dengan di dampingi oleh keluarga dan bayinya yang ikut serta. Orang tua Dion juga hadir di persidangan, Tapi mereka menjaga jarak dari putranya.
Dion menatap Karina yang menggendong bayi laki-laki. Ada perasaan yang tak bisa ia jelaskan. Di dalam lubuk hatinya yang terdalam ia merasakan sakit hati. Tapi, ia tepis dengan bayangan Susan yang memenuhi pikirannya.
Dion dan Karina saling pandang, mereka berdua terhanyut dalam pikirannya masing-masing.
Sang Ibu dan bapaknya terlihat sedih karena harus melihat perceraian anaknya ini.
Karina teringat momen indahnya bersama Dion. Dulu ketika mereka Masih sama-sama saling mencintai. Sebelum adanya susan di tengah-tengah kebahagiaan mereka.
Karina tak menyangka jika semua itu akan berakhir hari ini. Dion dan Karina duduk menunggu giliran persidangannya.
Hingga Hakim menyuruh mereka untuk maju ke depan. Ibu pun mencoba menguatkan hati Karina. Pak surya menatap karina dengan pandangan sedih. Tapi, mereka tidak bisa mencegah Anaknya yang telah di kuasai hati yang gelap.
Mereka melangkah dan saling menatap satu sama lain. Dion dan karina berjalan bersama beriringan sama seperti adegan pernikahannya mereka dulu.
Bedanya dulu mereka akan menikah. Tapi, Hari ini mereka akan bercerai.
Mereka duduk di depan hakim dan di sana ada banyak orang yang menyaksikan perceraiannya. Pak Darsa menahan gejolak amarahnya yang memuncak sedari ia melihat menantu. Dia tak menyangka jika putri kecilnya itu harus melewati hari kelam karena menantunya Dion. Menyaksikan putri yang ia jaga hatinya dan ia sayangi hingga menjadi seorang istri. Lalu hatinya di hempas hingga tak berbentuk seperti semula.
***
Mereka pun di berikan berkas perceraiannya untuk di tanda tangani. pernikahannya akan berakhir hari ini karina menunduk lesu. Hakim agung telah membacakan semua isi di dalam berkas di depan semua orang.
__ADS_1
Karina lagi-lagi mengingat hari-hari bersama saat belum ada pihak ke tiga. Kini semua hanya tinggal kenangan saja.
Semua tak lain karena hadirnya susan di tengah kehidupan mereka. semua kebahagiaan dan cinta karina telah hancur berkeping-keping.
Dion mulai menandatangani surat cerai itu tanpa ragu, lalu dia memberikan pena dan berkasnya kepada karina.
Karina menerimanya dan menatap berkas dengan pandangan kosong. Lalu ia menatap Suaminya beberapa detik lalu kembali menunduk. Tangannya mengambil pena, Tangannya bergetar saat menandatangani surat cerainya dengan perasaan sedih. hingga akhirnya dia menandatangani nya, satu tetesan air mata terjatuh di berkas cerai itu. Seolah menandakan jika ia sah menjadi mantan istri.
Hakim mengatakan jika kini, Mereka telah resmi bercerai. Dion dan Karina bukan lagi suami istri. Karina menangis karena hatinya yang begitu hancur. Tidak ada lagi yang mampu dia pertahankan dari hubungan ini.
Orang tuanya menghampiri dan menenangkan hati karina. Sementara itu tak ada yang perduli dengan Dion. Bapak dan ibunya tak menghampiri putranya. mereka enggan berbicara atau pun memberikan dukungan pada Dion.
Dion pun pergi melangkah meninggalkan semuanya. Kini sudah tidak ada yang tersisa lagi, Dia sudah meninggalkan semuanya bahkan hasil buah cinta bersama Karina pun ia tinggalkan. Bayi tak berdosa itu yang telah menyaksikan ke dua orang tuanya itu berpisah.
***
"Untuk apa kamu memanggilnya. Biarkan dia pergi Karina. "
"Karina ingin bicara dengan Mas Dion sebentar bu. "
"Untuk apa? kalian sudah selesai dan baru saja kamu dan dia telah menandatangani surat cerainya. "
"Tapi bu, Hanya sebentar saja. "
Tapi pak Darsa bicara membiarkan anaknya menyelesaikan masalah nya. "Biarkan Karina bicara dengan Dion untuk yang terakhir kalinya, Bu. "
__ADS_1
"Tapi pak, Untuk apa? "
"Bu, Sudah biar karina bicara dan selesaikan urusan nya hari ini. Nak pergilah, jika kamu ingin bicara dengan Dion. Pesan bapak hanya satu! Jangan menangis di depan dia. "
Karina mengangguk dan melangkah mendekati Mantan suaminya. Mereka berhadapan dan saling menatap.
Mereka Terdiam untuk beberapa saat, hingga akhirnya Karina memulai pembicaraan nya.
"Hari ini kita telah menjadi orang asing Mas. " Kata Karina. "Sekarang, Kau bebas untuk melakukan apa pun tanpa diriku lagi.. Dan kau tak perlu berbohong lagi dan tak perlu bersembunyi lagi dengan dia.
Aku sudah mencoba bertahan dengan semua kelakuan mu dan perlakuan mu terhadap ku. Tapi, kau tetap memilih berpisah dengan ku dan lebih memilih bersama wanita lain.
Selamat Atas kebebasan mu, Semoga kau bahagia bersamanya. Sekarang Hidupku untuk miliku dan Hidupmu untuk milikmu. Oh ya,,Kau jangan khawatir dengan kehidupan ku bersama anak yang kau tinggalkan. Dia akan menjadi seorang anak yang hebat dan kuat di masa depan. "
Dion tersenyum sinis saat karina bicara soal kelakuannya.
"Karina,,Karina, Aku tidak bisa menjaga hati. Apa lagi menyangkut kebutuhan biologisku. semua ini juga kesalahan mu yang selalu tak bisa menjadi apa yang aku mau. " Dion mencoba mengelak dari kesalahan.
"Tidak Mas, ini bukan salah apa yang kau mau. Dan aku yang tak bisa menjadi apa yang kau mau. Tapi, masalah kita muncul saat kau telah menemukan wanita di luar sana.Jika kau sedikit bersabar dan tak meladeni dia semua ini tidak akan terjadi. Tapi itu juga sudah berlalu kita sudah berakhir, Aku juga tidak butuh pemimpin seperti mu untuk diriku dan anak-anak ku. ingat ucapan ku ini Mas, Suatu saat nanti kau akan menyesal telah melukaiku dan anakku. Permisi. "
Karina pergi meninggalkan Dion yang mematung dengan kata-kata yang ia ucapkan barusan. Dion melihat kepergian karina dengan perasaan yang begitu tak bisa digambarkan. Dia menekankan dadanya yang terasa sakit. Lalu ia melangkah mendekati mobilnya yang terpakir tak jauh dari mereka berbicara.
šššš
Bersambung....
__ADS_1