Karna Itu Kamu

Karna Itu Kamu
Episode 2


__ADS_3

Malam pun tiba, seperti biasa setelah menghitung hasil hari


ini dan memeriksa keamanan minimarket aku pun bersiap untuk pulang, ku lihat


kak Bastian didepan pintu sedang memperhatikan hp nya.


Kayaknya berantam lagi nhe…


Aku pun mendekatinya, “kak gak pulang?” tanyaku ketika sudah


berada disampingnya, “nunggu kamu, ayo aku antar seperti biasa..” jawabnya


sambil berjalan pelan, aku pun mentup dan mengunci pintu depan setelah


memastikan aman, ku samakan iringan langkah kaku dengan kak Bastian.


Ah, senangnya walau pun Cuma jadi adik tak pa yang penting bisa selalu disamping kakak..


Jarak rumahku sekitar 30 menit dari tempat ku bekerja jika


ditempuh dengan berjalan kaki, namun karena setiap malam kak bastian


mengantarku dengan motornya, kami hanya membutuhkan 15 menit saja. Tak ada yang


berbicara sepanjang jalan hanya diam dan deru kendaraan yang menemani, hingga


sampai di depan rumah sederhana yang lampunya belum dihidupkan bertanda tidak


ada penghuninya, suara mesin kendaraan itu berhenti.


“makasih ya kak..” kataku setelah turun dan menyerahkan helm


yang teah dilepas, kak Bastian hanya tersenyum manis dan bersiap menghidupkan


mesin nya kembali, “kak semua pasti akan baik-baik saja.. jadi kakak gak usah


khawatir cukup terus tersenyum ya..” kataku menyemangatinya.


Tampaknya kata-kata ku kali ini berdampak pada kak Bastian,


dia mematikan kembali mesin motornya dan menatapku dalam, “kami selesai


Diandra, dia menghianatiku, dia…” kata kak Bastian terputus, entah karna senang


atau merasa harus menghiburnya, tanpa sadar badanku bergerak dengan sendirinya


memeluk dan menepuk pelan punggungnya, “tak apa, semua pasti akan berlalu..”


kataku.


Saat itu lah, kurasakan pundakku basah dan suara isakkan


terdengar ditelingaku. Untuk pertama kalinya setelah hampir setahun bersamanya


aku melihat dan mendengar kak Bastian menangis, ia memeluk erat tubuhku dan


menjadikan nya sebagai sandaran.


Tak apa, karna semua akan berlalu kak..


seperti angin, seperti badai yang lewat...


jadi menangis lah, aku kan disini untuk kakak...


 


Daniel pov

__ADS_1


Pagi ini aku harus bangun lebih awal dan melanjutkan


pekerjaan yang tertunda semalam.


Ah… aku lelah..


Kemarin malam aku hanya tidur 2 jam, kakak iparku menitipkan


istrinya dirumah sehingga rumah serasa penuh dengan 2 ponakanu yang super aktif.


Mungkin ini, yang terkadang membuatku nyaman berada dirumah karena dikelilingi


orang-orang yang menyayangi. Walau aku harus capek dan lebih lelah dari


biasanya, kan tidak setiap hari aku seperti ini.


Setelah pekerjaan selesai, aku bersiap-siap untuk ke kantor


padahal kan mau rebahan dan tidur saja. Tapi hari ini ada meeting penting yang


tidak bisa kutinggalkan, setelah selesai aku turun dan disambut oleh ponakan


dan kakak pertamaku, “udah mau berangkat?” Tanya kak Tasya yang direpotkan


dengan kandungan nya yang mulai besar dan si sulung yang merengek dari tadi,


aku mendekat si sulung dan mengendongnya untu menjauhi sang ibu yang kerepotan,


“ iya kak, dah siap belom sarapannya? Kalau lama lagi aku sarapan dikantor


aja..” jawabku, “om.. aku gak mau sekolah..” kata Dimas ponakan yang saat ini


ku gendong.


 “kenapa? Kan sekolah enak banyak kawannya..” tanyaku bingung dan memilih duduk di kursi dekat meja


ayah, tapi papa gak datang nanti aku di ejek teman-temanku..” jawabnya dengan


kembali merengek pada kak Tasya.


Aku baru ingat bahwa bang Raka suami kak Tasya telat pulang


karna penerbangan yang tertunda akibat badai. Pasti Dimas kesal banget sama


papanya


“udah gini aja, jam berapa tandingnya?” tanyaku menghentikan


rengekan Dimas, “ jam 11 siang ini, karna pagi kami harus mempersiapkan drama


dan lomba lainnya.” Jawabnya sambil menatapku dengan wajah penuh air mata, ku


lap air matanya dengan tisu dan ku lihat jam yang melingkar di tangan ku


Meeting kali ini sepertinya tidak akan lama mengingat aku


sudah menyiapkan semuanya, dan jadwalku selanjutnya juga setelah makan siang..


“ok, nanti jam 11 om akan kesekolah kamu gantiin papa kamu


gimana?” kataku dengan mendapat senyuman lebar dari Dimas, “janji..” katanya


sambil memberikan jari kelingkingnya padaku, “janji..” kataku sambil mengaitkan


jari kelingkingku ke jari kelingkingnya, “ sekarang siap-siap, biar bisa pigi


sama om kesekolahnya..” kataku padanya sambil melepaskan gendonganku, Dimas pun

__ADS_1


mengangguk ia turun dari gendonganku dan lari kekamarnya.


“kamu ini terlalu manjain ponakan kamu, nanti dia susah


untuk mandiri” kata kak Tasya sambil menaruk semangkok besar nasi goreng yang


baru selesai dan bertepatan dengan datangnya ponakan ku yang kedua, Dino adiknya


Dimas yang baru saja bangun dan langsung duduk disampingku.


Aku yang melihatnya tersenyum dan mengusap kepalanya pelan,


“om gak kelja?” tanyanya, “ kerja, ini mau sarapan sekalian tunggu kakak kamu


siap-siap sekolah” jawab ku “ohh” katanya dengan mulut berbentuk o bulat sambil


mengambil piring yang telah diisi nasi oleh sang ibu.


Setelah sarapan aku dan Dimas berpamitan untuk berangkat,


mengantar Dimas bukanlah hal jarang aku lakukan, hampIr setiap ada waktu luang


selalu ku sempatkan untuknya mengingat sang ayah si bocah jarang berada dirumah


dan setiap akan pergi dinas baik keluar kota maupun negeri bang Raka selalu


menitipkan keluarga nya padaku, sehingga aku seperti ayah pengganti untuk Dimas.


Setelah mengantar Dimas aku melajukan mobilku kekantor, menjadi


seorang Direktur Utama bukanlah hal mudah dimana aku miliki tanggung jawab


besar terhadap perusahaan dan karyawan. Diusia yang terbilang muda tentu banyak


hal yang harus ku perhatikan apalagi banyak pemegang saham lain yang kurang


menyukai.


Sesampainya dikantor setelah memarkirkan mobil aku langsung


masuk lift untuk sampai keruangaku dan di sambut sekretaris bawelku, “ pagi pak


bos.. ngomong-ngomong makasih ya untuk semalam” katanya sambil cengengesan dan


memegang lenganku.


“kamu tau Laras, aku malu sekali semalam…” kataku padanya


dengan wajah kesal, “bilang sama tunanganmu itu untuk mengurus kamu dengan


baik, dan jangan jadikan aku kambing hitam mu untuk segala urusan yang tidak


penting itu..” kataku lagi. Mendengar itu wajah Laras menekuk dalam dan melepas genggamannya.


“ada apa?” tanyaku yang melihat ekspresi dari sekretaris


sekaligus sahabat ku ini, yang kudengar hanya isakan pelan dan mulai bersamaan


dengan jatuh nya air di dagunya. Melihat itu ku pegang bahunya, “ada apa? Apa


yang terjadi? Ahh..” seru ku mulai tak sabaran, suara tangis nya pun mulai


terdengar jelas dari yang tadi, tubuhnya bahkan bergetar dan dengan sigap ku


bawa tubuhnya dalam dekapanku.


Jangan menangis, aku akan merasakan sakit yang lebih lagi jika kau menangis…

__ADS_1


BERSAMBUNG~


__ADS_2