
Malam pun tiba, seperti biasa setelah menghitung hasil hari
ini dan memeriksa keamanan minimarket aku pun bersiap untuk pulang, ku lihat
kak Bastian didepan pintu sedang memperhatikan hp nya.
Kayaknya berantam lagi nhe…
Aku pun mendekatinya, “kak gak pulang?” tanyaku ketika sudah
berada disampingnya, “nunggu kamu, ayo aku antar seperti biasa..” jawabnya
sambil berjalan pelan, aku pun mentup dan mengunci pintu depan setelah
memastikan aman, ku samakan iringan langkah kaku dengan kak Bastian.
Ah, senangnya walau pun Cuma jadi adik tak pa yang penting bisa selalu disamping kakak..
Jarak rumahku sekitar 30 menit dari tempat ku bekerja jika
ditempuh dengan berjalan kaki, namun karena setiap malam kak bastian
mengantarku dengan motornya, kami hanya membutuhkan 15 menit saja. Tak ada yang
berbicara sepanjang jalan hanya diam dan deru kendaraan yang menemani, hingga
sampai di depan rumah sederhana yang lampunya belum dihidupkan bertanda tidak
ada penghuninya, suara mesin kendaraan itu berhenti.
“makasih ya kak..” kataku setelah turun dan menyerahkan helm
yang teah dilepas, kak Bastian hanya tersenyum manis dan bersiap menghidupkan
mesin nya kembali, “kak semua pasti akan baik-baik saja.. jadi kakak gak usah
khawatir cukup terus tersenyum ya..” kataku menyemangatinya.
Tampaknya kata-kata ku kali ini berdampak pada kak Bastian,
dia mematikan kembali mesin motornya dan menatapku dalam, “kami selesai
Diandra, dia menghianatiku, dia…” kata kak Bastian terputus, entah karna senang
atau merasa harus menghiburnya, tanpa sadar badanku bergerak dengan sendirinya
memeluk dan menepuk pelan punggungnya, “tak apa, semua pasti akan berlalu..”
kataku.
Saat itu lah, kurasakan pundakku basah dan suara isakkan
terdengar ditelingaku. Untuk pertama kalinya setelah hampir setahun bersamanya
aku melihat dan mendengar kak Bastian menangis, ia memeluk erat tubuhku dan
menjadikan nya sebagai sandaran.
Tak apa, karna semua akan berlalu kak..
seperti angin, seperti badai yang lewat...
jadi menangis lah, aku kan disini untuk kakak...
Daniel pov
__ADS_1
Pagi ini aku harus bangun lebih awal dan melanjutkan
pekerjaan yang tertunda semalam.
Ah… aku lelah..
Kemarin malam aku hanya tidur 2 jam, kakak iparku menitipkan
istrinya dirumah sehingga rumah serasa penuh dengan 2 ponakanu yang super aktif.
Mungkin ini, yang terkadang membuatku nyaman berada dirumah karena dikelilingi
orang-orang yang menyayangi. Walau aku harus capek dan lebih lelah dari
biasanya, kan tidak setiap hari aku seperti ini.
Setelah pekerjaan selesai, aku bersiap-siap untuk ke kantor
padahal kan mau rebahan dan tidur saja. Tapi hari ini ada meeting penting yang
tidak bisa kutinggalkan, setelah selesai aku turun dan disambut oleh ponakan
dan kakak pertamaku, “udah mau berangkat?” Tanya kak Tasya yang direpotkan
dengan kandungan nya yang mulai besar dan si sulung yang merengek dari tadi,
aku mendekat si sulung dan mengendongnya untu menjauhi sang ibu yang kerepotan,
“ iya kak, dah siap belom sarapannya? Kalau lama lagi aku sarapan dikantor
aja..” jawabku, “om.. aku gak mau sekolah..” kata Dimas ponakan yang saat ini
ku gendong.
“kenapa? Kan sekolah enak banyak kawannya..” tanyaku bingung dan memilih duduk di kursi dekat meja
ayah, tapi papa gak datang nanti aku di ejek teman-temanku..” jawabnya dengan
kembali merengek pada kak Tasya.
Aku baru ingat bahwa bang Raka suami kak Tasya telat pulang
karna penerbangan yang tertunda akibat badai. Pasti Dimas kesal banget sama
papanya
“udah gini aja, jam berapa tandingnya?” tanyaku menghentikan
rengekan Dimas, “ jam 11 siang ini, karna pagi kami harus mempersiapkan drama
dan lomba lainnya.” Jawabnya sambil menatapku dengan wajah penuh air mata, ku
lap air matanya dengan tisu dan ku lihat jam yang melingkar di tangan ku
Meeting kali ini sepertinya tidak akan lama mengingat aku
sudah menyiapkan semuanya, dan jadwalku selanjutnya juga setelah makan siang..
“ok, nanti jam 11 om akan kesekolah kamu gantiin papa kamu
gimana?” kataku dengan mendapat senyuman lebar dari Dimas, “janji..” katanya
sambil memberikan jari kelingkingnya padaku, “janji..” kataku sambil mengaitkan
jari kelingkingku ke jari kelingkingnya, “ sekarang siap-siap, biar bisa pigi
sama om kesekolahnya..” kataku padanya sambil melepaskan gendonganku, Dimas pun
__ADS_1
mengangguk ia turun dari gendonganku dan lari kekamarnya.
“kamu ini terlalu manjain ponakan kamu, nanti dia susah
untuk mandiri” kata kak Tasya sambil menaruk semangkok besar nasi goreng yang
baru selesai dan bertepatan dengan datangnya ponakan ku yang kedua, Dino adiknya
Dimas yang baru saja bangun dan langsung duduk disampingku.
Aku yang melihatnya tersenyum dan mengusap kepalanya pelan,
“om gak kelja?” tanyanya, “ kerja, ini mau sarapan sekalian tunggu kakak kamu
siap-siap sekolah” jawab ku “ohh” katanya dengan mulut berbentuk o bulat sambil
mengambil piring yang telah diisi nasi oleh sang ibu.
Setelah sarapan aku dan Dimas berpamitan untuk berangkat,
mengantar Dimas bukanlah hal jarang aku lakukan, hampIr setiap ada waktu luang
selalu ku sempatkan untuknya mengingat sang ayah si bocah jarang berada dirumah
dan setiap akan pergi dinas baik keluar kota maupun negeri bang Raka selalu
menitipkan keluarga nya padaku, sehingga aku seperti ayah pengganti untuk Dimas.
Setelah mengantar Dimas aku melajukan mobilku kekantor, menjadi
seorang Direktur Utama bukanlah hal mudah dimana aku miliki tanggung jawab
besar terhadap perusahaan dan karyawan. Diusia yang terbilang muda tentu banyak
hal yang harus ku perhatikan apalagi banyak pemegang saham lain yang kurang
menyukai.
Sesampainya dikantor setelah memarkirkan mobil aku langsung
masuk lift untuk sampai keruangaku dan di sambut sekretaris bawelku, “ pagi pak
bos.. ngomong-ngomong makasih ya untuk semalam” katanya sambil cengengesan dan
memegang lenganku.
“kamu tau Laras, aku malu sekali semalam…” kataku padanya
dengan wajah kesal, “bilang sama tunanganmu itu untuk mengurus kamu dengan
baik, dan jangan jadikan aku kambing hitam mu untuk segala urusan yang tidak
penting itu..” kataku lagi. Mendengar itu wajah Laras menekuk dalam dan melepas genggamannya.
“ada apa?” tanyaku yang melihat ekspresi dari sekretaris
sekaligus sahabat ku ini, yang kudengar hanya isakan pelan dan mulai bersamaan
dengan jatuh nya air di dagunya. Melihat itu ku pegang bahunya, “ada apa? Apa
yang terjadi? Ahh..” seru ku mulai tak sabaran, suara tangis nya pun mulai
terdengar jelas dari yang tadi, tubuhnya bahkan bergetar dan dengan sigap ku
bawa tubuhnya dalam dekapanku.
Jangan menangis, aku akan merasakan sakit yang lebih lagi jika kau menangis…
__ADS_1
BERSAMBUNG~